Love Around the World: Yangzhou

Yangzhou.jpg

| It’s sad when people you know become people you knew |

| Oneshot | Xian Lai, Feng Jun | Angst, Love, Romance, Friendship, Travel |

-=-

Yangzhou, Jiangsu, China

Taman Yechun, salah satu tempat turis dan wisata terkemuka di Yangzhou, nampak cerah hari itu. Matahari bersinar manis, menandai musim semi sudah tiba. Mungkin seperti nama taman itu yang berarti laki-laki dan perempuan berjumpa di musim semi.

“Hai, apa kabar?”

Ucapan itu bagaikan satu tetesan air di tengah hamparan danau taman yang luas. Ia hampir tak memiliki suara, nyaris-nyaris tak terdengar kalau Xian Lai tidak menajamkan telinganya untuk mendegar suara itu.

“Kau hanya ingin mengatakan hal itu setelah jauh-jauh memanggilku ke sini?” Xian Lai berkata tak habis pikir sambil menatap bayangan dirinya di danau.

Gadis itu lantas menatap pria di sampingnya, pria yang hanya mengatakan sedikit kata sejak awal mereka bertemu di Taman Yechun dan tidak melakukan apapun.

“Apa kabar?” tanya Feng Jun lagi sambil berusaha tersenyum.

Xian Lai menghela napas keras, membuat poni panjangnya tertiup tanpa sengaja. Gadis itu menyilangkan tangan di dada, menatap Feng Jun dengan mata sinis.

“Apa aku bisa menjawab bahwa aku baik-baik saja?” balas Xian Lai ketus. “Aku tadinya baik-baik saja, sebelum kau mengajakku bertemu di sini.”

“Kenapa nada bicaramu seperti itu padaku? Bukankah… kita ini teman baik?”

“Aku tidak pernah berpikir seperti itu setelah dua tahun berlalu,” balas Xian Lai sambil membuang muka. “Aku sudah bahagia dengan kehidupan kuliahku yang baru. Jadi jangan pernah menghubungiku seperti ini lagi.”

“Apa kehidupan kuliahmu semenyenangkan itu?” balas Feng Jun menjawab dengan pertanyaan.

“Universitas Yangzhou adalah tempat kuliah yang menyenangkan karena tak ada kau di sana. Aku bertemu dengan ketua salah satu organisasi mahasiswa di sana dan ia sangat baik padaku.”

“Sungguh?” Feng Jun tiba-tiba tertarik. “Ceritakan tentang dia.”

“Memangnya kau punya waktu untuk mendengar celotehku?” Xian Lai tak tersenyum sama sekali. “Ia pria yang baik dan selalu mendengarkanku. Ia mengantarku pulang ke rumah kalau kami rapat hingga larut dan kadang ia mengajakku pergi di akhir pekan.”

“Terdengar menyenangkan,” kata Feng Jun sambil tersenyum. “Percintaanku sangat menyedihkan bila dibandingkan denganmu. Aku ditolak dua kali.”

“Itu karena kau membosankan,” sambar Xian Lai tanpa pikir panjang. “Membosankan, aneh, tak seru, tak menyenangkan, tak bisa diajak melakukan sesuatu yang gila.”

“Tapi kau berteman denganku waktu itu ketika kita sekolah. Kenapa?”

“Aku kasihan padamu. Kau… menyedihkan. Kau pria menyedihkan,” Xian Lai menekankan kata-kata itu dengan sengaja, seolah ingin membuat Feng Jun marah.

“Aku jadi merindukan masa lalu ketika mendengarmu berbicara tentang masa sekolah. Dulu kau sangat cerewet, suka bicara, dan berisik. Kau tiap hari tertawa dan membuat lelucon gila tanpa henti. Tapi sepertinya sekarang tidak lagi.”

“Iya, aku berubah. Pria suka wanita yang kalem dan pendiam, kan?”

“Tidak semua.”

“Kupikir semua. Kau,” tunjuk Xian Lai pada Feng Jun. “Lalu ketua organisasi itu juga lebih memerhatikan aku kalau aku diam. Memang menyenangkan ketika kita tidak jadi diri kita sendiri. Semua orang menyukai kita.”

Wajah Feng Jun berubah kecewa, dengan guratan sedih di dalamnya. Ia menatap Xian Lai tak percaya hingga mengedip beberapa kali. Tapi Xian Lai bertahan dengan wajah kerasnya, wajah yang tak Feng Jun kenali lagi.

“Apa kau punya banyak teman ketika kau tak jadi dirimu sendiri?”

“Ya,” tegas Xian Lai. “Mereka menyukai sikapku yang diam dan selalu menurut.”

“Mereka bukan teman sejatimu. Mereka hanya memanfaatkanmu.”

“Aku juga memanfaatkan mereka. Tenang saja,” Xian Lai tersenyum sinis lagi. “Aku tidak sudi menjadi teman yang hanya dijadikan tempat berkeluh kesah lalu ditinggal. Kebanyakan temanku yang dulu seperti itu.”

“Maaf,” ujar Feng Jun pelan setelah sadar betul bahwa Xian Lai hanya menyindirnya. “Aku tidak tahu kalau kau dulu… terluka. Maaf kalau aku pernah memperlakukanmu seperti itu.”

“Oh, kau merasa pernah melakukannya? Dan kau tidak tahu kalau dulu aku terluka? Mungkin kita memang tidak sedekat itu, ya?”

Entah sudah berapa kali kata-kata sinis terlontar dari mulut Xian Lai. Kaki gadis itu sudah gatal, ingin cepat-cepat pergi dari sana, dari hadapan Feng Jun.

“Kita dulu sangat dekat, Xian Lai.”

“Ah ya, kau benar. Dulu kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari.”

Feng Jun seperti tertusuk di dada, terlalu perih dan sakit tanpa sempat ia sadari.

“Kau… kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah kita ini sahabat? Kalau kau membenci sesuatu dariku, kau seharusnya mengatakannya. Tapi kau malah menghilang dariku, tak ingin menemuiku.”

“Kita bukan sahabat, bukan juga musuh,” Xian Lai berkata sambil menatap bayangannya di danau. “Kita hanya orang asing dengan kenangan yang sama,” tambah gadis itu kini sambil melirik wajah Feng Jun.

“Aku minta maaf kalau aku melukaimu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku rindu padamu, Xian Lai. Aku ingin melihatmu, melihat tawamu, menanyakan kabarmu. Tapi yang kudapatkan malah tatapan sinis serta kata-kata penuh penghakiman seperti itu darimu. Apa salahku?”

“Salahmu? Kau bertanya salahmu?” Xian Lai menaikkan nada bicaranya dan matanya berkaca-kaca. “Salahmu adalah menghubungiku, dasar pria bodoh!”

Tertegun, Feng Jun tak dapat bicara. Ia menatap Xian Lai yang sudah siap menangis di hadapannya. Tangannya hendak meraih jemari Xian Lai, tetapi gadis itu menghindar dengan cepat.

“Aku… tidak mengerti.”

“Dengar, Feng Jun,” kata Xian Lai. “Melupakanmu tidak semudah itu. Aku butuh berjuang keras, menangis sepuasnya sebelum memutuskan bahwa aku harus melepasmu. Kau tidak pernah menyukaiku, apalagi mencintaiku. Kau hanya memanfaatkan aku. Aku berjuang selama dua tahun untuk melupakanmu dan akhirnya hidup dengan bebas. Tapi sekarang… kau menghubungiku seperti ini. Apa yang bisa kulakukan?”

Feng Jun menatap Xian Lai dalam diam. Matanya beradu dengan mata Xian Lai yang berkaca-kaca. Feng Jun hanya bisa menelan ludahnya, berpikir jawaban apapun tak ada yang masuk akal.

“Kalau dulu kau menyukaiku, kenapa kau tidak mengatakannya?”

“Itu karena aku tahu kau tidak menyukaiku,” dan tangis Xian Lai pecah. “Dengan sekejap, semua usahaku untuk melupakanmu pun kacau. Semua perjuanganku untuk melepasmu harus rusak karena kau memaksa untuk bertemu denganku saat ini. Apa kau tahu betapa sulitnya melupakanmu?” Xian Lai berkata di antara tangisnya.

“Aku menyesal,” kata Feng Jun pelan. “Aku sangat menyesal. Bisakah kita kembali seperti dulu?”

“Tidak bisa,” jawab Xian Lai tanpa pikir panjang. “Aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan berurusan denganmu lagi untuk selamanya. Aku tidak bisa menganggapmu teman lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah berubah. Orang berubah, kan? Begitu juga aku.”

“Xian Lai,” tegur Feng Jun cepat. “Jangan seperti itu. Kembalilah seperti temanku yang dulu.”

Xian Lai menggeleng pelan, lalu mundur selangkah ketika menyadari Feng Jun mendekatinya. Mata Xian Lai menatap pepohonan yang sedikit tertiup angin, menggugurkan dedaunan ke arah danau.

“Xian Lai,” panggil Feng Jun lagi.

“Jangan dekati aku.”

“Dengar, aku belum selesai bicara.”

“Jangan hubungi aku lagi. Jangan pernah menghubungiku hanya untuk bertanya kabarku. Aku tidak baik-baik saja. Dan itu semua karena dirimu.”

“Xian Lai.”

“Berhenti mencariku, Feng Jun. Aku sudah bahagia tanpa dirimu. Kenangan akan dirimu sudah kuhapus. Aku bahagia sekarang.”

Seorang pria muncul dari belakang Xian Lai, merangkul gadis itu dan menatap Feng Jun dengan hati-hati.

“Kak Min Shou?” ujar Xian Lai kaget. “A-aku sudah bilang untuk menungguku di dekat pintu masuk. Aku tidak apa-apa.”

Pria itu, Min Shou, menatap Xian Lai dengan hangat sambil tersenyum kecil. Lalu ia balik melihat Feng Jun dan mulutnya berkata-kata pelan.

“Kalau kalian sudah selesai, aku ingin mengantar Xian Lai pulang.”

Dan seketika Feng Jun tahu bahwa Min Shou adalah ketua organisasi mahasiswa yang tadi Xian Lai ceritakan. Pria yang Xian Lai sukai, yang berhasil menghapus Feng Jun dari ingatan Xian Lai.

“Kami… sudah selesai,” jawab Xian Lai sepihak tanpa bertanya pada Feng Jun. “Aku pulang dulu, Feng Jun.”

Feng Jun tak berkata-kata, melihat punggung Xian Lai berbalik. Gadis itu dirangkul oleh Min Shou, mengobrol dengan Min Shou sambil berjalan pergi. Sementara Feng Jun, ia hanya menatap sisa-sisa kenangannya yang berlalu. Karena sesungguhnya ia tak pernah menyadari seberapa besar hal yang ia miliki sampai ia akhirnya kehilangan.

Mungkin setelah ini, Feng Jun tak akan kembali lagi ke Taman Yechun. Terlalu menyedihkan.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s