[Alter Ego II: Rachel] Café Terrace at Night

Café Terrace at Night.jpg

| Oneshot |

| Rachel |

| Love, Romance, Fluff |

Rachel menaruh kepalanya di meja café, memandang pria yang duduk berhadapan dengannya sembari berdecak kecil. Tangan Rachel mengetuk kayu meja beberapa kali, membuat beberapa orang menoleh padanya, termasuk pria di hadapannya.

“Kenapa?”

“Hanya… menunggu,” balas Rachel kecil sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, seorang pelayan café datang sambil membawa nampan berisi minuman jus jeruk dan kopi. Pelayan itu menaruh jus jeruk di hadapan Rachel, dan tentu saja kopi untuk pria di hadapan Rachel.

“Musim panas di Arles sudah mulai dekat, dan kau masih saja minum kopi,” Rachel berkata dengan aksen Prancis yang dibuat-buat.

“Kapan kau akan berhenti memakai aksen Prancis untuk bahasa Indonesia?” balas pria itu sambil menghirup kopinya. “Itu membuatmu terdengar-”

“Seksi,” potong Rachel. “Terima kasih.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Sama-sama.”

Pria itu terkekeh pelan, lalu membuka majalah yang sejak tadi mengalihkan perhatiannya dari Rachel. Hal ini membuat Rachel tak senang lagi, dan mencari cara untuk menggagalkan rencana diam pria itu.

“Hei, apa kau tahu tempat kita duduk saat ini?”

“Café?” jawab pria itu tanpa menoleh.

“Ini bukan café biasa. Van Gogh-”

“Pernah melukis café ini. Ya, aku tahu.”

“Nah, kan. Jiwa kolektor senimu muncul lagi. Kau pasti tahu detailnya.”

“Tentu,” pria itu menutup majalah. “Tahun seribu delapan ratus delapan puluh delapan, tipe oil on canvas, saat ini ada di Belanda. Tepatnya di Kröller-Müller Museum.”

“Kau tahu banyak tentang Van Gogh?”

“Lumayan,” jawab pria itu sambil menerawang. “Seingatku, Kröller-Müller Museum adalah museum dengan koleksi lukisan Van Gogh yang paling banyak di dunia. Atau lebih tepatnya, setelah Van Gogh Museum itu sendiri.”

“Bukankah keduanya di Belanda?” pikir Rachel. “Kenapa kau masih berkeliaran di Prancis kalau kau bisa ke Belanda hanya dalam dua jam?”

“Aku mengajakmu ke Belanda tapi kau masih ingin tinggal di Prancis. Apa yang bisa kulakukan? Qu’est-ce que je peux faire pour toi?

Rachel tertawa singkat, tak ingin repot-repot menjawab dalam bahasa Prancis meskipun sebenarnya ia bisa saja melakukannya. Sebaliknya, ia melontarkan pertanyaan lain.

“Kenapa kau harus bergantung denganku?”

“Mungkin seharusnya aku melukismu dan membawa potret itu ketika berpergian. Jadi aku tak perlu membawamu.”

“Jangan mulai, deh. Tu plaisantes!

“Aku tidak bercanda, kok. Seandainya kau ingin ikut aku ke Belanda dan pindah ke sana, aku akan mencari rumah atau tempat tinggal untuk kita berdua. Aku janji.”

“Tunggu, tunggu,” Rachel memundurkan badannya hingga bahunya terbentur kursi. “Kenapa kau harus mengajakku ikut serta dalam petualanganmu itu? Aku sudah betah di Prancis, tak ada niat untuk beradaptasi lagi di Belanda, oke?”

“Karena itu aku tidak pindah ke Belanda, oke? Tak ada kau di sana.”

“Oh, jadi intinya kau ingin ada di tempat aku berada?”

“Sip,” pria itu mengacungkan jempol. “Seratus persen benar.”

“Kenapa kau harus berbelit-belit hanya untuk mengatakan hal seperti itu? Kalau kau bilang dari awal, aku akan ikut denganmu ke Belanda dan meninggakan… Arles.”

“Tuh, kan. Kau sedih ketika memikirkan akan meninggalkan Arles. Aku tidak bisa pindah kalau begini caranya.”

“Baiklah, baiklah, aku akan meninggalkan Arles.”

“Kenapa? Aku bisa menemanimu selamanya di Arles, kok. Tak perlu khawatir. Kita bisa ke Belanda untuk liburan kalau musim panas sudah tiba.”

Rachel diam, mencoba berpikir tentang keinginan pria itu untuk pindah ke Belanda. Pria itu memang pecinta seni, bekerja di sebuah perusahaan kolektor seni, dan kerap berpindah-pindah kota hanya untuk melihat museum dan barang seni di Eropa.

“Kalau kau pindah ke Belanda, perusahaan itu akan senang menerimamu. Jadi aku pikir tak ada salahnya ikut denganmu ke Belanda.”

“Kau yakin?”

“Yakin,” jawab Rachel mantap.

Pria itu tersenyum, dan Rachel tahu bahwa itu adalah senyum senang yang sangat tulus. Tangan pria itu mengambil pena dan menarik tisu di meja. Ia menulis sesuatu di atas tisu itu dan menunjukkannya pada Rachel.

What would life be if we had no courage to attempt anything?” Rachel membacanya cepat. “Kata-kata Van Gogh. Terima kasih sudah mengingatkan.”

“Itu untukmu,” kata pria itu sambil mencoret tulisannya sendiri. “Dan ini untuk kita.”

Tangan pria itu menulis lagi dengan cepat, lalu memperlihatkannya pada Rachel.

I dream of painting and then I paint my dream. Apa maksudnya untuk kita?”

“Kita sedang melukis mimpi kita, sama seperti dia yang melukis mimpinya,” pria itu menunjuk langit-langit café sebagai kata ganti Van Gogh. “Hebat, kan?”

“Hebat,” kata Rachel pelan. “Sekarang aku mengerti alasanmu tidak bisa lepas dari Eropa hingga detik ini. Kau terlalu tergila-gila dengan seni.”

“Aku tidak tergila-gila. Aku hanya tertarik. Kalau tergila-gila, aku tergila-gila padamu sepertinya.”

Dan Rachel harus menahan diri agar tidak menumpahkan jus jeruk di hadapannya.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s