The Lone Flower [3/4]

The Lone Flower

When I touch your world, I awaken |

| Continue | Chanyeol EXO, Irina | Life, Love, Romance, Comedy, Songfic |

-=-

“Kau terluka,” ujar tangan indah itu sambil menyentuh lengan atas Pangeran Chanyeol yang mengeluarkan darah.

Keduanya beristirahat di dekat sebuah danau, menanti matahari terbit setelah pertarungan sengit semalam dan Chanyeol berhasil meloloskan diri.

“Aku baik-baik saja. Sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Savaagio.”

Tetapi gadis cantik itu menyetuh lengan sang pangeran, membuatnya meringis kesakitan.

“Jangan banyak bergerak.”

Ia menutupi luka Pangeran Chanyeol dengan kedua tangannya, lalu memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kerajaan Lanthathera punya tujuh orang putri yang sangat luar biasa. Mereka memiliki talenta dan bakat yang tak biasa. Tetapi, putri termuda memiliki bakat yang berbahaya. Ia menguasai ilmu sihir. Ketika Raja dan Ratu mengetahui hal ini, mereka ketakutan dan mengira sang putri bungsu akan mengacaukan kerajaan. Karena itu, mereka tega mengutus orang untuk membunuh sang putri.”

Pangeran Chanyeol menekuk alisnya dalam-dalam, merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lukanya. Ketika tangan gadis itu terangkat dari lengan Pangeran Chanyeol, tak ada luka apapun di sana tersisa. Hanya ada bekas darah yang menempel di lengan bajunya.

“P-putri itu… dia…”

“Aku,” jawab gadis itu mantap. “Bunga itu adalah wujudku ketika aku melarikan diri dari kerajaan. Awalnya, tak banyak yang tahu bahwa bunga ajaib itu dapat menyembuhkan segala penyakit. Tiba-tiba, seorang dari petani yang mengetahui keberadaanku melaporkanku pada ayahku. Karena itu aku bersembunyi di gua tersebut, menantang siapapun yang berani untuk menemukanku.”

“Apa kau tidak ingin melarikan diri?”

“Aku lelah melarikan diri,” jawabnya pelan. “Tetapi, bersamamu tadi, itu menyenangkan,” ia tertawa manis pada Chanyeol. “Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.”

“Aku tidak tahu bahwa berada dalam ancaman maut bisa membuatmu merasa bahagia.”

“Entahlah,” ujar gadis itu sambil berdiri dan mendekati Erk. “Mungkin, karena ada dirimu di sana, Pangeran.”

Chanyeol berdiri menghampiri gadis itu, lalu menatapnya dalam-dalam.

“Istirahatlah. Besok, kita akan melanjutkan perjalanan ke kerajaanku.”

-=-

Here we go, danger, it is dangerous

Figures of light lingering in the darkness

Hurry, faster, before the day breaks

I will bring you to my side before anyone else

Lower your head and follow my shadow burning white

Briefly close your eyes to the slowly sharpening moment on our orbiting ship

-=-

“Bahaya! Bahaya!”

Suara itu seperti sebuah peringatan keras di kepala Irina. Gadis itu membuka matanya, mendapati Chanyeol tengah tiduran di kasur, tepat di sampingnya. Mata Chanyeol terpejam, nampak tak terpengaruh oleh sinar matahari yang menembus masuk ke kamar. Sementara Irina harus menelan rasa gilanya diam-diam, tak percaya bahwa lagi-lagi Chanyeol menginap di rumahnya.

“Park Chanyeol,” panggil gadis itu sambil mendorong pelan Chanyeol. “Hei, kau ini tidur atau mati?” imbuhnya separuh berdesis seperti nenek sihir jahat.

“Hmmmmm… sebentar lagi… Aku masih mengantuk…”

“Tolong sadar, Chanyeol. Rumahku bukan penginapan gratis.”

“Iya, iya, aku tahu. Aku akan membersihkan kamar mandimu nanti.”

“Bukan itu saja,” potong Irina. “Kau harus membantuku mengecat ruang tamu.”

“Karena kau pendek, kau butuh bantuan, kan?”

Irina meniup poninya kesal dan menendang Chanyeol dari kasurnya.

“Sadarlah, Park Chanyeol!” Irina menyumpah tanpa sadar. “Dan berhentilah tidur di kamarku!”

“Hei, kau seharusnya bersyukur,” ujar Chanyeol sambil berdiri dan merapikan rambut baru-bangun-tidur style miliknya. “Wanita lain menangis berlutut supaya aku berada di sisi mereka ketika mereka bangun tidur. Tapi aku melakukan secara sukarela padamu.”

“Itu karena kau menyukaiku, Bodoh,” Irina balas tertawa puas. “Akhirnya, setelah sekian lama, ada pria brengsek yang menyukaiku.”

“Apa selama ini hanya pria baik-baik yang menyukaimu? Payah.”

“Diam dan cepat bangun!”

-=-

Tertawa, Irina mencoret cat biru di jemarinya pada pipi Chanyeol dan membuat Chanyeol berseru heboh tanpa pikir panjang.

“Hentikan, Irina!”

“Tidak akan!”

Irina kembali menambah satu coretan di dagu Chanyeol, membuat pria itu lari ke dapur demi menghapusnya dengan air.

“Ugh, tidak bisa hilang!”

Akhirnya Irina menaruh kuas di lantai dan menghampiri Chanyeol di dapur. Tangan gadis itu membasuh dagu Chanyeol, membantu Chanyeol menghapus cat di dagunya sebelum kering.

“Rendahkan kepalamu, Tinggi.”

“Maaf, Pendek.”

Keduanya tertawa bersama saat air di tangan Irina menyibak wajah Chanyeol. Chanyeol tak mau kalah dan mengepak jemarinya sehingga wajah Irina terkena air. Dan mereka akan terus seperti itu, lupa bahwa tujuan awal mereka adalah mengecat tembok ruang tamu Irina.

-=-

“Ganti bajumu,” ujar Irina sambil menyodorkan kaos yang menurutnya cukup besar.

“Kau tidak punya kaos lain?” Chanyeol bertingkah. “Setiap kali aku meminjam kaosmu, kau selalu memberikan yang ini.”

“Ini satu-satunya kaosku yang besar. Sudahlah, pakai saja,” sodor Irina lagi.

Chanyeol membuka kaosnya dan melemparkannya ke sudut ruangan. Pria itu melirik tangan Irina yang masih menyodorkan kaos baru itu. Mata Chanyeol beralih ke wajah Irina, membuat Irina sadar bahwa Chanyeol menatapnya dalam. Keduanya beradu pandang sejenak, entah apa yang melintas di pikiran mereka. Jemari Chanyeol bergerak, bukannya menyentuh kaos di tangan Irina, tetapi memegang pergelangan tangan gadis itu.

“Apa aku akan menjadi pria paling sialan di dunia ini kalau aku menarikmu hingga kita jatuh ke kasur sekarang juga dan menciumi bibirmu?” tanya Chanyeol tanpa basa-basi.

Irina terdiam, lalu tak ragu untuk menjelajah wajah Chanyeol dengan matanya.

“Kau sudah menjadi pria paling sialan di dunia ini sejak kau masuk ke hidupku.”

“Kalau begitu, kau tak bisa marah bila aku menarikmu saat ini,” ujar Chanyeol separuh mengambang. “Karena aku memang sialan,” tambahnya.

Satu detik, Chanyeol menghentak tubuhnya hingga jatuh ke kasur di belakangnya. Irina tertarik, jatuh menimpa badan Chanyeol yang tak tertutup apa-apa. Kepala gadis itu jatuh di bawah leher Chanyeol, dan tangannya masih diborgol jemari Chanyeol.

“Maaf,” kata Chanyeol rendah, membuat Irina mengangkat kepala sedikit untuk melihatnya.

“Kenapa minta maaf?”

“Karena aku sialan.”

Tiba-tiba saja, jemari Chanyeol ada di pipi Irina. Chanyeol memajukan kepala, menciumi bibir gadis di atasnya itu dengan dalam. Tangan lain Chanyeol terselip di rambut Irina sementara gadis itu menautkan jemari di leher Chanyeol. Tak ada basa-basi, tak ada permisi. Mereka hanya perlu untuk seperti ini sebentar saja.

Sebentar saja, sampai penanda bahaya di kepala Irina berteriak nyaring.

“Sudah gila! Kau pasti sudah gila! Ini bahaya! Bahaya! Bahaya!”

Chanyeol tahu bahwa Irina kehabisan napas. Karenanya, ia melepaskan gadis itu dengan tak rela. Irina terengah pelan, lalu menyandarkan kepala di bahu terbuka Chanyeol.

“Kau mau lagi?” suara Chanyeol menawarkan.

“Brengsek! Tampar dia sekarang juga, Irina! Pria ini sudah menginjak harga dirimu sebagai wanita. Apa kau mau disamakan dengan wanita-wanita yang ia bawa ke kamar itu? Pakai otakmu, Irina. Kau itu-”

“Iya,” Irina memberontak dari suara-suara di kepalanya. “Aku mau lagi.”

Langsung, Chanyeol membalik posisi hingga ia berada di atas Irina. Gadis itu tak sempat memekik ketika menyadari Chanyeol ada di atasnya. Hanya tangan Irina bergerak, menggantung di bahu bidang Chanyeol yang dingin. Mereka bertukar pandangan yang cukup panjang hingga Chanyeol mengganti objek bidiknya menjadi bibir Irina.

“Pilihan bijak,” Chanyeol berkomentar singkat sebelum menghabisi napas Irina.

Keduanya kehilangan sesuatu yang penting di kepala mereka, yakni akal sehat. Jemari-jemari Irina memainkan rambut Chanyeol dengan lembut, merasakan tiap-tiap helainya sepenuh hati. Sementara Chanyeol seperti orang lupa diri, menguasai apapun yang bisa ia kuasai saat ini.

Tapi tiba-tiba Chanyeol melepaskan Irina tanpa isyarat. Pria itu menjauh, memandang Irina yang mengalami black out pada otaknya.

“Aku… tidak bermaksud menyamakanmu dengan gadis-gadis yang kutiduri,” ujar Chanyeol tiba-tiba. “Aku hanya ingin merasakanmu. Merasakan kehadiran dirimu, kehangatan darimu, merasakan… apa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.”

“Kau tahu bahwa sebelum kau meminta persetujuan dariku, aku sudah setuju. Karena setahuku, kau bukan tipe pria yang akan permisi lebih dulu ketika menelanjangi seorang wanita.”

Chanyeol tersenyum tipis. Bukan senyum menggoda yang biasa ia perlihatkan, ataupun senyum agak nakal yang di waktu normal berhasil membuat wanita manapun bertekuk lutut.

“Kau adalah pengecualian,” bisik pria itu perlahan. “Dan setahuku, kau bukan tipe wanita yang membiarkan pria brengsek sepertiku meniduri dirimu.”

Irina bangun, duduk berhadapan dengan Chanyeol. Hati-hati gadis itu mendekati Chanyeol, menatap mata Chanyeol sedalam yang ia bisa.

“Kau… adalah pengecualian.”

Dan akal sehat mereka hanyalah debu yang berhamburan di lantai. Mereka membuat pengecualian atas sebuah alasan yang tak pasti.Mereka menaruh keinginan di luar sadar sebagai sebuah tameng agar tak ada yang tahu apa isi hati mereka. Seperti sebuah kebetulan, mereka adalah dua orang yang sama-sama menghindari rasa.

-=-

Pangeran Chanyeol termenung, menatap kolam kerajaan yang begitu indah berhiaskan teratai. Mata pangeran bungsu itu menatap refleksi dirinya di ambang kolam, mencari sesuatu yang tidak benar di sana.

“Jadi… kakakku akan menikahimu?”

Ia tak berbicara sendiri. Tepat di belakangnya, seorang gadis yang amat cantik tengah memandang penuh takjub pada tumbuhan rambat di dekat kolam.

“Aku tidak tahu, Pangeran.”

“Apa… kakakku jatuh cinta padamu selama proses penyembuhan dirinya?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa kau bisa menolak pernikahan ini?” tanya pangeran bungsu itu sambil berdiri dan mendekati gadis di belakangnya dengan frustasi.

“K-kenapa?”

“Aku akan menikahi dirimu.”

Lalu writer block. Gadis itu tak tahu lagi apa yang harus ia tulis. Mungkin benar, Chanyeol sudah merusak segalanya.

-=-

Chanyeol mendorong keranjang belanja sambil bersenandung kecil. Sementara Irina berjalan di sampingnya, membawa selembar kertas berisi daftar barang yang harus dibeli.

“Susu… lalu gula pasir. Apa gula pasir sudah diambil?” tanya Irina.

“Belum. Gula pasir ada di barisan sebelah.”

“Aku akan ambil. Kau tunggu di sini.”

Irina berjalan menuju koridor lain supermarket itu. Sandal ungu muda di kakinya berbunyi ketika menginjak lantai. Gadis itu melihat gula pasir favoritnya ada di rak teratas. Ia berjinjit, hendak mengambil gula itu. Tetapi karena tidak begitu tinggi, ia tak mendapatkannya.

“Butuh bantuan?”

Suara berat itu membuat Irina merinding. Chanyeol sudah berada di sampingnya tiba-tiba. Pria itu menjulurkan tangan, mengambil gula pasir di rak teratas dengan mudah. Ia tak menyadari bahwa tubuhnya berhadapan langsung dengan Irina, membuat Irina bisa menghirup bau sabun pria itu. Otomatis otak Irina mereka ulang kejadian malam itu, malam ketika ia dan Chanyeol berubah jadi sepasang manusia gila di jagat raya.

“Bau sabunmu sangat enak,” puji Irina, tentu tanpa sadar.

“Aku akan meminjamkannya padamu kalau kita mandi bersama di rumahku.”

Mata Irina membesar kaget, lalu ia menoleh ke kiri dan ke kanan, hendak memastikan bahwa koridor itu sepi sehingga tak ada satu orang pun yang mendengar kata-kata Chanyeol.

“Sudahlah. Kau bayar semuanya. Aku tunggu di luar,” ujar Irina akhirnya.

-=-

Chanyeol membawa plastik belanjaan dan mendapati Irina berdiri di depan supermarket. Pria itu memandang pakaian Irina dari jauh, lalu mendekati gadis tersebut dengan sebuah pemikiran di kepalanya.

“Hei,” panggil Chanyeol pelan seraya menatap Irina dari kepala sampai kaki. “Lain kali kau bisa memakai baju yang lebih tertutup. Itu tidak seperti dirimu.”

Bingung, Irina mengangkat alisnya. Ia mengamati dirinya sendiri, berpikir bahwa pakaiannya sangat manis. Kaos putih lengan pendeknya berpadu sangat serasi dengan celana jeans pendeknya.

“Kenapa?”

“Terlalu terbuka. Aku takut semua orang melihat padamu nanti.”

“Jangan konyol. Celana yang kupakai ini sedang terkenal.”

“Kau pasti tidak mau aku merusaknya, kan?” balas Chanyeol santai sambil membuka pintu belakang mobil.

Irina kehilangan kata-kata. Wajahnya jadi seperti orang terbodoh di dunia ini. Ia nyaris melempar plastik belanjaan karena terlalu mengigil geli akibat kalimat Chanyeol.

“Sekarang aku benar-benar mempertanyakan akal sehatku.”

“Kau sudah kehilangan akal sehatmu,” Chanyeol membalas lagi. “Kau menyetir,” tambah pria itu sambil melempar kunci mobil pada Irina.

“Baik, Yang Mulia,” gerutu Irina.

“Ah, bicara tentang Yang Mulia, apa kabar novelmu?”

Irina mendengus, menyalakan mesin mobil dan mulai menyetir dengan seenaknya, seperti biasa. Dan Chanyeol harus ekstra tabah ketika melihat Irina menginjak rem sesuka hati, atau nyaris membuat mobilnya lecet karena berkejaran dengan motor di jalanan.

“Berantakan, kacau. Seperti diriku.”

“Apa itu salahku?”

“Separuhnya iya. Kau yang menggangguku akhir-akhir ini hingga aku tak punya waktu untuk mengerjakan novelku.”

Tangan Irina memutar kemudi dengan cepat, dan tiba-tiba saja mobil Chanyeol sudah terparkir rapi di halaman rumah Irina.

“Turunkan semuanya. Jangan ada yang tertinggal,” ujar Irina sambil mematikan mesin mobil dan hendak turun dari mobil.

Tapi tangan Chanyeol memegang pergelangan tangan Irina, membuat gadis itu tak jadi keluar.

“Sebentar,” bisik Chanyeol, membuat Irina menatap pria itu.

“Kenapa?”

Chanyeol mencium Irina tepat di bibir hingga gadis itu mundur dan menabrak pintu. Irina berusaha menekan Chanyeol balik dan mencium pria itu. Tangan Chanyeol menekan klakson tanpa sengaja, mengagetkan mereka berdua.

“Sialan,” desis Chanyeol.

“Iya, kau memang sialan,” balas Irina santai sambil keluar dari mobilnya, mengambil satu plastik dan membawanya.

“Karena aku menciummu?” teriak Chanyeol dari tempatnya.

“Karena kau mengagetkanku, Bodoh!”

Irina masuk ke rumah setelah berteriak. Sementara Chanyeol hanya menatap gadis itu dari jauh, tertawa kecil dan turun dari mobil sambil membawa plastik yang tersisa.

-=-

Irina sibuk di depan laptop, tidak peduli ketika Chanyeol berjalan ke dapur dan ke ruang makan, memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.

“Hei, memangnya aku ini pembantu?” Chanyeol berkata sambil menaruh tangan di pinggang.

Tetapi Irina hanya terkikik geli. Ia mematikan laptop dan mendekati Chanyeol yang memakai celemek pink lucu bergambar Hello Kitty.

“Kau tidak mendapat ciuman gratis lagi kalau tidak menyiapkan makan malam.”

“Tapi tolong, Irina,” Chanyeol menunjuk celemeknya. “Kau tidak punya celemek lain yang lebih jantan? Apa aku harus memasak sambil telanjang agar bisa terlihat lebih jantan?”

“Silahkan,” balas Irina cuek. “Dan jangan salahkan aku kalau asetmu kebakaran,” imbuh gadis itu sembari menunjuk bagian bawah pinggul Chanyeol.

“Aset?”

“Karena setahuku, kau tak punya aset lain selain itu. Kau tak bekerja, tak punya penghasilan. Wanita hanya ingin merasakanmu sesaat, tetapi tak betah lama-lama denganmu.”

“Aku punya perusahaan yang bergerak di bidang travel. Dan aku adalah bosnya. Apa sekarang kau kaget dan ingin pingsan?”

Jujur, Irina mau pingsan saja, tak kuasa menahan malu kalau teman tidurnya baiknya selama ini adalah orang-hebat-berpenghasilan-tinggi-beruang-banyak-maka-jangan-mengacau-dengannya. Kalau Irina tahu hal itu-

“Kalau aku tahu hal itu, aku akan tidur denganmu lebih awal.”

Chanyeol tersedak liurnya sendiri, terbatuk-batuk sampai hampir hilang kesadaran.

“Kau serius?”

“Oh, tentu,” Irina mengangkat bahu tak peduli. “Dengar, ya. Aku butuh pria kaya untuk kunikahi agar aku bisa membuka percetakan sendiri dan menerbitkan novelku.”

Hilang kata-kata, Chanyeol menunjuk makanan di atas meja, lalu melihat Irina dengan wajah tolol favoritnya.

“Sepertinya kau butuh makanan agar otakmu sehat kembali.”

“Ya, terima kasih.”

-=-

Keduanya tiduran sambil menatap langit-langit kamar Irina dalam sisa-sisa kesenangan. Ada perasaan yang tak biasa di sana, tapi tak ada yang tahu alasannya. Mungkin mereka terlalu bodoh, atau kepala mereka terlalu keras untuk mengerti.

“Pernahkah kau berpikir kalau suatu hari kau punya anak?”

Chanyeol tidak tahu kenapa Irina bisa mengeluarkan pertanyaan se-random itu. Yang Chanyeol ingat, ia bergidik kecil membayangkan wujud bernama anak itu muncul di kehidupannya.

“Aku tak bisa membayangkannya. Dan aku tak sanggup melakukannya.”

“Kalau begitu, pernahkah kau berpikir kalau suatu hari nanti kau menikah?”

“Dan memiliki istri?!” sambar Chanyeol lebih cepat dari roket. “Jangan sampai!”

“Benar-benar pria benci komitmen,” Irina berdecak dengan nada kagum-mengejek.

“Kau berharap aku menikahimu?” balas Chanyeol akhirnya.

“O-ow,” Irina melempar bantalnya pada Chanyeol, tepat mengenai bahu telanjang pria itu. “Aku tidak suka pria tanpa komitmen. Jadi jangan berharap,” Irina berkata sembari turun dari ranjang dan memunguti pakaian di lantai sebelum melemparnya ke keranjang baju kotor.

“Hei, ke mana-”

“Mandi,” potong gadis itu.

“Aku ikut.”

“Serius?!”

“Sangat.”

-=-

Irina duduk di ruang tunggu rumah sakit itu bersama Chanyeol. Sesekali Irina bisa melihat beberapa anak kecil berlarian di ruang tunggu itu, tak bisa duduk tenang karena ibu mereka menggendong adik mereka yang masih bayi. Beberapa ibu lain juga nampak sedang hamil, yang mana tidak aneh karena di depan pintu kamar rumah sakit itu terdapat tulisan dokter kandungan di sana.

“Kau tidak hamil, kan?” Chanyeol berkata dengan mata menyipit.

“Park Chanyeol, aku bersumpah akan menggigitmu kalau kau menanyakan hal itu lagi. Pemeriksaan ini normal dilakukan wanita dewasa sepertiku. Kalau kau terus menanyakan hal itu, sebaiknya kau tak usah ikut. Menyusahkan saja.”

“Aku hanya jaga-jaga. Bisa saja kau hamil.”

Dan Irina sudah siap melayangkan tinjunya ke kepala Chanyeol kalau saja namanya tidak dipanggil. Ia buru-buru berdiri, diikuti Chanyeol di belakangnya.

“Kau tak usah ikut masuk,” cegah Irina.

“Aku ingin ikut.”

“Seperti anak kecil saja,” gerutu Irina. “Tunggu di sini. Hanya sebentar.”

-=-

Saat Irina keluar dari ruang pemeriksaan, gadis itu nyaris serangan jantung melihat Chanyeol duduk tenang memangku seorang anak laki-laki yang mungkin masih berusia lima tahun. Anak itu mengobrol dengan Chanyeol sambil sesekali tertawa.

“Anakmu?” tanya Irina dengan wajah sok tahu.

“Menurutmu?”

“Lalu?”

“Ibunya sedang membayar obat untuk tantenya. Dia dititipkan padaku. Lima menit lagi ibunya kembali. Itu ibunya,” tunjuk Chanyeol pada seorang wanita paruh baya yang sedang mengantri tak jauh dari sana.

“Park Chanyeol?”

Baik Irina maupun Chanyeol menoleh karena seruan itu. Seorang wanita yang sangat cantik tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Irina berani sumpah kalau ini déjà vu karena ia pernah mengalaminya. Seorang wanita cantik muncul, lalu menagih sesuatu dari Chanyeol, pertengkaran kecil, lalu Chanyeol menciumnya, lalu-

Sudahlah, lupakan saja.

“Siapa, ya?” tanya Chanyeol.

“Irina juga… Oh, kalian…” kata-kata wanita itu bertumpuk bingung, dan matanya menangkap anak yang dipangku Chanyeol. “Oh… astaga, ini anak kalian? Lucu sekali… Aku sudah menebak sejak sekolah dulu bahwa kalian akan menikah. Kalian cocok satu sama lain.”

“Claire?” tembak Irina.

“Iya, aku Claire, ketua kelas kita dulu. Kalian tidak mengundangku ke pernikahan kalian?”

“Kami… kami… kami tidak menikah,” bantah Irina cepat.

Kalimat yang jelas salah karena Claire membekap mulutnya tak percaya dan wajah shock menghias aura dirinya.

“O-oh… begitu, ya… T-tapi, memang di masa kini, tinggal bersama juga sudah wajar. Jadi, aku tidak terlalu kaget.”

“Tidak terlalu kaget, katanya,” ejek Chanyeol sambil tertawa kecil, membuat Irina berdecak melihat tingkahnya. “Padahal wajahmu tadi sangat kaget.”

Claire tertawa kecil, lalu menepuk bahu Chanyeol.

“Senang bertemu kalian di sini. Hei, Park Chanyeol, baik-baiklah pada Irina, oke? Aku sudah menyaksikan nilai jelekmu di masa sekolah dulu dan satu-satunya orang yang mau membantumu hanya Irina. Kau harus baik-baik padanya, oke?”

“Apa kau sekarang sedang bermain peran sebagai ketua kelas?”

“Tidak, tidak. Tapi, hei, Irina, apa Chanyeol masih suka main-main?”

“Kalau main perasaan, aku anggap masih.”

“Parah sekali,” Claire geleng-geleng tak percaya. “Sesulit itu melupakan dirimu sampai ia harus terbang jauh dan mencari wanita untuk pelampiasan.”

Irina mendongak tak percaya, begitu juga Chanyeol yang hampir-hampir pingsan mendengarnya.

“Apa?” tanya Irina. “Apa maksudnya?”

Claire tampak kaget dengan dirinya sendiri.

“Ups… Sepertinya aku harus pergi dari sini. Salam untuk keluarga kalian.”

-=-

“Apa Yang Mulia Pangeran Chanyeol mencintai diriku?”

Pangeran Chanyeol lepas kendali, mendekati wanita cantik itu, dan menciumnya tepat di bibir. Setelah beberapa detik, ia melepaskan wanita itu.

“Sangat.”

-To be continued-

<Inspired by EXO’s Lightsaber>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s