Love of My Life [1]

Love of My Life2

| You have my whole heart for my whole life |

| Continue | Kyungsoo, Hyunrae, Suho, Kyuhyun, Jaemin | Life, Love, Romance, Family |

Hyunrae menatap kanal Venice dengan wajah sedih. Gadis itu menyaksikan beberapa gondola melintas, membawa orang-orang yang sedang beraktivitas di tengah hari. Suara air bersenandung pelan, tetapi tidak nampak penghiburan sedikit pun di diri Hyunrae.

“Nona,” panggil seseorang, membuat gadis itu sadar dari lamunannya.

“Ya, Do Kyungsoo?” jawab Hyunrae sambil berbalik.

“Semua sudah siap. Kita ke bandara Roma sekarang.”

Kepala Hyunrae mengangguk kecil, dan ia berusaha tersenyum pada Kyungsoo. Tetapi senyumnya bergetar, matanya juga berkaca-kaca. Tak ada kekuatan untuk mengenakan topeng apapun lagi. Hyunrae pun menangis, meneteskan air mata meski itu adalah sesuatu yang jarang dia lakukan.

“Nona Hyunrae,” panggil Kyungsoo sambil berjalan maju dan memeluk Hyunrae. “Semua akan baik-baik saja. Percayalah, Nona Hyunrae. Saya dan Jaemin akan menunggu Anda di teras. Tapi tolong jangan lupa bahwa pesawat akan berangkat pukul tiga nanti.”

Mata Hyunrae melirik seorang anak yang berdiri dua meter di belakang Kyungsoo. Anak laki-laki itu balas menatap Hyunrae dengan senyum kecil. Matanya mengedip sesekali, nampak tak memahami situasi yang terjadi pada Hyunrae saat ini.

“Aku baik-baik saja,” ujar Hyunrae. “Kau dan Jaemin tak perlu menungguku. Aku sudah siap untuk berangkat.”

Hyunrae menghampiri Jaemin, anak laki-laki itu. Gadis itu mengambil sebuah buku yang tergeletak di meja dan memberikannya pada Jaemin. Lalu, Hyunrae berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Jaemin.

“Mama punya hadiah untuk Jaemin,” kata Hyunrae sambil memberikan buku itu.

Jaemin tersenyum senang, lalu mengambil buku itu dari tangan Hyunrae. Ia buru-buru membaca judul sampulnya. Tetapi senyumnya hilang pelan-pelan ketika membaca sampul buku itu.

“Untuk Jaemin?”

“Iya, untukmu.”

Hyunrae berlalu untuk mengambil tas dan kopernya. Sementara Jaemin hanya menatap buku itu, bergantian dengan tatapannya pada Kyungsoo. Jaemin mengedip bingung beberapa kali pada Kyungsoo, membuat Kyungsoo balas melihatnya.

“Papa,” ujar Jaemin separuh berbisik menahan tawa. “Apa Papa sudah bilang pada Mama kalau aku ingin buku karangan Alaine Machin?”

“Sudah,” angguk Kyungsoo serius. “Memangnya, apa yang Mama berikan padamu?”

Jaemin mengangkat buku itu dengan tangan kanan, memperlihatkan sampul depannya pada Kyungsoo. Dan jelas-jelas Kyungsoo mengangkat alisnya tak percaya ketika melihat judul buku itu.

“Bisnis untuk Pemula, dalam bahasa Inggris dan Prancis. Kurasa Mama salah dengar. Atau bisa jadi, Papa salah mengatakan judul buku itu pada Mama.”

-=-

Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan melintas melewati awan yang cukup tebal. Kami himbau para penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman dan tidak berdiri dari tempat duduk Anda. Terima kasih.

Kyungsoo menatap Jaemin yang tertidur pulas di kursinya, tak mendengar pengumuman dari pramugari barusan. Tangan pria itu memasang sabuk pengaman Jaemin dengan hati-hati agar tidak membangunkan anak itu.

“Dia tidur?”

“Ya,” balas Kyungsoo sambil menatap Hyunrae yang duduk di samping jendela. “Saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda. Ini tentang Jaemin.”

Mendengar itu, Hyunrae menutup buku yang ia baca dan melihat Kyungsoo dengan serius.

“Kenapa?”

“Saya pikir saya sudah mengatakan pada Anda bahwa Jaemin ingin buku karangan Alaine Machin, novel Prancis yang terkenal itu. Tapi kenapa Anda memberikan buku yang lain?”

“Tidak ada gunanya membaca novel fantasi seperti itu. Buku yang kuberikan padanya lebih berguna bagi talentanya. Kalau dia bisa membaca buku-buku Alaine Machin yang sulit dan berbahasa Prancis itu, buku yang kuberikan padanya akan sangat mudah baginya.”

“Sepertinya Anda terlalu cepat mengenalkan bisnis pada Jaemin. Dia baru sepuluh tahun.”

“Sepuluh tahun sudah cukup untuk belajar, Do Kyungsoo,” jawab Hyunrae. “Saat usiaku sepuluh tahun, aku sudah membaca buku-buku bisnis yang diberikan padaku.”

“Bukan berarti Anda harus melakukan hal yang sama pada Jaemin. Dia tidak terlihat memiliki ketertarikan untuk bisnis. Dia suka sastra dan bahasa. Bukan bisnis. Akan lebih baik kalau Anda memberikan buku-buku sastra untuknya.”

“Dengar, Do Kyungsoo,” putus Hyunrae akhirnya. “Kau ayahnya. Kalau kau ingin dia membaca buku-buku sastra, kau bisa membelikannya buku-buku itu. Kau tak perlu menyuruhku untuk melakukannya. Aku melakukan apa yang aku mau. Dan kau, lakukan apa yang kau mau.”

“Itu membuat Anda terlihat seperti ibu yang tak peduli pada kesenangan anaknya.”

“Aku lebih peduli pada masa depannya dibanding hal-hal yang menyenangkan sesaat.”

-=-

Bandara Incheon nampak lebih ramai dari biasanya. Berbagai macam jurnalis, kamera televisi, liputan acara berita maupun gossip dan entertainment berdatangan ke bandara hari itu. Mereka berdiri di belakang garis pembatas dan jajaran kepolisian yang siap di sana.

“Pemirsa, setelah sepuluh tahun, Cho Hyunrae dari Chasing Diamond akhirnya kembali ke negara asalnya.”

“Banyak orang menduga kepulangan Cho Hyunrae kali ini adalah untuk memimpin Chasing Diamond secara langsung kembali setelah selama sepuluh tahun di Italia dan mengawasi perusahaan dari jauh.”

“Selama sepuluh tahun, banyak perubahan terjadi di Chasing Diamond.”

“Banyak orang menanti kepulangan ratu berlian ini.”

“Do Kyungsoo, pria yang selalu disebut-sebut sebagai wakil Hyunrae dan asisten pribadi Hyunrae juga akan kembali kali ini.”

“Pesawat dari Roma telah mendarat sekitar lima menit lalu.”

“Dan sepertinya-”

Semua orang menoleh ketika pintu kedatangan terbuka dan Hyunrae muncul di sana dengan anggun. Gadis itu memakai blus hijau muda yang dipadu apik dengan celana panjang broken white. Seperti seorang public figure pada umumnya, Hyunrae tersenyum manis pada para wartawan dan semua orang yang menantinya. Sementara Kyungsoo membimbing Jaemin dan mereka berdiri di belakang Hyunrae.

“Lihat! Itu pasti anaknya Cho Hyunrae!”

Seruan itu membuat semua mata menuju Jaemin. Kamera-kamera terarah pada Jaemin, dan semua orang menunjuk Jaemin dengan wajah tak percaya.

“Harap tenang, teman-teman semuanya,” ujar Hyunrae sambil tertawa dan melambaikan tangannya pada para wartawan.

“Nona Hyunrae, apa anak laki-laki itu benar anak Anda?”

“Nona, siapa ayahnya?”

“Apa Do Kyungsoo adalah ayahnya?”

“Anda selama ini tinggal bersama dengannya di Italia?”

Hyunrae tertawa tenang mendengar semua todongan pertanyaan itu. Ia tak kelihatan bingung atau grogi di hadapan semua pemangsa berita tersebut. Malah, gadis itu merangkul Jaemin dan membawanya untuk berdiri di sampingnya.

“Aku akan mengatakan semua secara resmi di konfrensi pers nanti. Tetapi, untuk saat ini, aku tak sabar untuk mengenalkan anggota keluargaku yang sudah menemaniku selama sepuluh tahun. Kedua pria ini, Do Kyungsoo dan Jaemin, adalah keluargaku. Kyungsoo adalah pendamping hidupku, dan Jaemin adalah putra tunggal kami yang berusia sepuluh tahun.”

“Whoaaaaaaa!”

Semua orang berseru-seru heboh, disertai suara kamera yang membidik wajah keluarga Cho Hyunrae. Jaemin agak terkejut dengan sambutan yang tak biasa itu, sedikit mundur ke belakang tanpa sadar. Tetapi Hyunrae memegang bahu Jaemin erat-erat, ingin agar Jaemin tetap berdiri di tempatnya.

“Tersenyumlah,” bisik Hyunrae pada Jaemin. “Mama akan membelikan buku karangan Alaine Machin kalau kau tersenyum manis.”

Mendengar itu, Jaemin berdiri tegap dan tersenyum manis. Ia bahkan ikut melambai kecil pada kawanan pemburu berita yang sempat membuatnya takut itu.

“Anak baik,” puji Hyunrae pelan.

-=-

Suho menatap Hyunrae dengan mata membesar dan mengedip beberapa kali seperti orang konyol. Ia menepuk telinganya sendiri beberapa kali, membuat Hyunrae balik berdecak sembari menggeleng pelan.

“Saya pasti salah dengar,” kata Suho.

Tapi Hyunrae menggeleng tegas dan tertawa kecil sesudahnya.

“Kau tidak salah dengar. Aku ingin kau menjadi gurunya Jaemin.”

“Kacau,” desis Suho. “Anda seharusnya menyuruh Athenais mengajar anak itu.”

“Ayolah, Suho,” gerutu Hyunrae. “Athenais terlalu sibuk dengan istrinya yang lebih merepotkan dari meretas dunia.”

Suho tertawa keras sampai terbatuk-batuk. Hal ini jelas membuat Hyunrae bergidik ngeri, tak menyangka bahwa kata-katanya bisa selucu itu.

“Nona mungkin tidak tahu. Tapi Athenais baru saja mengirimkan foto dirinya di tempat berliburnya di Jepang. Wajahnya sangat-sangat menyedihkan, seolah dunianya sudah hancur tanpa ada alasan untuk kembali lagi.”

“Dasar konyol. Kenapa dia mau-maunya menikah dengan wanita Jepang itu?” kata Hyunrae sambil geleng-geleng. “Jelas-jelas dia tidak tertarik pada kehidupan pernikahan. Dia jauh lebih tertarik pada urusan yang menguntungkannya. Pernikahan jelas tidak menguntungkan Kyuhyun.”

“Istrinya bahkan tidak membiarkan Athenais pergi bersama saya untuk sekadar minum kopi atau olahraga bersama. Payah sekali,” imbuh Suho. “Tetapi itu sudah pilihannya. Dan mungkin ia akan terjebak selamanya.”

Hyunrae mengangkat bahunya saja, antara setuju dan tak setuju. Wanita itu melirik sekitarnya, memastikan tak ada orang di dekat tempatnya dan Suho berada saat ini.

“Apa masalah Chasing Diamond saat ini?” tanya Hyunrae.

Suho terdiam sebentar, lalu menjelaskan semampunya.

“Athenais dan aku menemukan adanya jejak kasus di Chasing Diamond. Selama ini petinggi Chasing Diamond tahu bahwa Anda memimpin dari jauh, menerima laporan dari saya dan Athenais. Hal ini memicu adanya pemberontakan dan percobaan untuk menyingkirkan Anda. Baik saya maupun Athenais sudah mencoba meredam ini. Tetapi, bila Anda tetap berada di jarak jauh, kami khawatir bahwa kasus ini semakin luas.”

Hyunrae mengangguk mengerti, mencoba mencerna semuanya dalam otaknya.

“Tolong berikan padaku semua data terlengkap dari petinggi Chasing Diamond saat ini. Dan tandai orang-orang yang menurutmu mencurigakan. Aku ingin besok malam data itu sudah sampai di ruang kerjaku.”

“Baik, Nona Hyunrae.”

-=-

Jaemin menatap kamar barunya dengan wajah takjub. Mata anak itu menjelajahi seluruh sudut ruangan, memerhatikan segala perabotan dan barang-barang yang tersusun rapi. Sementara di belakang Jaemin, Kyungsoo dan seorang wanita pengurus rumah berdiri dengan senyum kecil karena tingkah Jaemin.

“Ini kamarku, Papa?” tanya Jaemin sambil menoleh pada Kyungsoo.

“Iya, ini kamarmu,” jawab Kyungsoo. “Papa dan Mama setuju untuk memberikanmu kamar di lantai dua agar kau bisa melihat pemandangan dari balkon.”

“Balkon?” Jaemin sontak menoleh ke arah jendela kamar, melihat pintu balkon ada di dekat sana. “Bagus sekali, Papa.”

“Jaemin senang di sini?”

Molto lieto. Sangat senang, Papa.”

Buono. Baguslah kalau kau senang. Sebentar lagi kita makan siang di bawah dengan Mama dan Suho. Jangan terlambat, Jaemin.”

“Suho? Dia temannya Mama, kan?”

“Iya, benar. Mama ingin agar Suho menjadi mentormu selama di rumah. Kau akan belajar banyak hal dengan Suho. Dia orang yang baik dan menyenangkan. Kau akan senang belajar dengannya.”

“Apa aku harus belajar bisnis juga?”

“Ya, kau harus.”

“Aku tahu.”

“Kalau kau sudah tahu, kau tak perlu bertanya.”

Jaemin tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Tawa itu membuat matanya sedikit menyipit, persis seperti Hyunrae yang matanya tak terlalu besar. Setelah Kyungsoo memerhatikan lebih dalam, Jaemin memang jauh lebih mirip Hyunrae dari dirinya.

“Aku hanya mencoba keberuntunganku. Kalau saja Mama berubah pikiran dan mengirimku ke sekolah biasa. Aku pikir itu akan jauh lebih menyenangkan.”

Kyungsoo berdeham, mendengar topik yang Jaemin bicarakan adalah isu sensitif. Pria itu melirik pengurus rumah yang berdiri tak jauh darinya, secara tak langsung meminta wanita itu keluar. Setelah hanya berdua di kamar, Kyungsoo langsung duduk di kasur dan menyuruh Jaemin duduk di sisinya.

“Kau ingin pergi ke sekolah?”

“Ya, sangat ingin. Dulu Maria sering bercerita tentang sekolahnya di Venice. Itu menyenangkan. Aku juga ingin pergi ke sekolah,” ujar Jaemin. “Tapi, kalau Mama tak memperbolehkannya, aku tak akan membantah. Mama tentu tahu yang terbaik untuk Jaemin.”

“Papa akan mengirim Jaemin ke sekolah,” putus Kyungsoo akhirnya. “Mama juga akan setuju dengan Papa.”

“Sungguh?” Jaemin tersenyum senang, memberi binar pada matanya.

“Sungguh,” Kyungsoo mengangguk pasti. “Sekarang kita makan, oke?”

-=-

Hal pertama yang Kyungsoo dan Jaemin dapati di ruang makan adalah Hyunrae sedang menatap sebuah foto yang terpajang di tembok ruang makan. Foto besar itu diambil di studio, dengan Tuan Cho yang duduk di kursi dan Hyunrae yang berdiri di belakangnya dengan senyum cerah.

“Mama,” panggil Jaemin, menyadarkan Hyunrae dari lamunannya.

“Kalian sudah datang? Suho sebentar lagi datang,” jawab Hyunrae sambil menarik kursi utama, tempat dulu kakeknya sering duduk.

Kyungsoo memilih tempat di sisi kiri Hyunrae, bersama Jaemin yang selalu mengekor ayahnya tanpa lelah. Tak lama kemudian, Suho datang terburu-buru sambil mengantongi handphone dan memilih duduk di seberang Kyungsoo. Pria itu tersenyum sebentar pada Jaemin, lalu mengangguk kepada Kyungsoo.

“Halo, Tuan-”

“Jaemin,” potong Jaemin cepat. “Panggil aku Jaemin,” tambahnya sambil tersenyum lebar. “Dan aku akan memanggilmu Paman Suho. Bagaimana?”

Suho tertegun sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk kecil.

“Tak masalah, Jaemin.”

Beberapa pengurus rumah bergantian masuk ke ruang makan, membawakan makanan untuk santapan keluarga Hyunrae dan Suho.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu selama sepuluh tahun terakhir di Chasing Diamond?” tanya Hyunrae basa-basi pada Suho.

“Sangat baik, Nona Hyunrae. Tetapi tentu akan lebih menyenangkan kalau Anda dan keluarga Anda berada di sini,” Suho menjawab tak kalah menggelikan sampai-sampai ia bisa melihat Kyungsoo menelan makanan sambil menahan diri agar tidak berdesis. “Athenais akan kembali ke Seoul karena Anda di sini. Mungkin ia akan tiba esok malam. Kebetulan ia datang sendiri, tanpa istrinya.”

Hyunrae hanya mengangguk, lalu menghabiskan makanannya. Ia melirik Jaemin yang mulai pilih-pilih makanan, tak terbiasa dengan menu Asia di hadapannya. Tapi tetap saja wanita itu tak berkomentar, enggan menegur Jaemin.

“Jaemin,” panggil Kyungsoo pelan separuh berbisik. “Habiskan sayurannya,” ujar pria itu pelan.

Jaemin separuh mengerang, mencoba menelan makanan itu kuat-kuat. Tetapi lidahnya tak bisa menerima rasa kimchi yang nyaris tak pernah ia makan selama di Italia.

“Tidak enak, Papa. Non mi piace. Aku tidak suka.”

Non scherzare. Tidak usah main-main, Jaemin. Habiskan,” ujar Hyunrae datar dari tempatnya.

Mendengar itu, Jaemin buru-buru tersenyum cerah pada ibunya dan tertawa kecil.

“Baik, Mama.”

“Setelah ini, Jaemin boleh istirahat di kamar dan tidur.”

“Oke, Mama.”

Dan tak lama kemudian, Jaemin menghabiskan semua kimchi di piringnya. Ia melirik ayahnya yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Jaemin. Tetapi Jaemin hanya tersenyum kecil, lalu tertawa statis pada ayahnya.

“Kenapa kau harus menunggu Mama yang berbicara, Jaemin?” gumam Kyungsoo pelan.

“Karena Mama menyeramkan,” bisik Jaemin tak kalah pelan.

“Jaemin,” tegur Hyunrae. “Mama bisa mendengarmu dari sini.”

“Maaf, Mama. Mama tidak menyeramkan. Mama cantik.”

“Permintaan maaf diterima,” jawab Hyunrae lagi-lagi tanpa nada. “Sekarang habiskan airmu dan kembali ke kamarmu.”

-=-

“Jadi, apa saya harus tidur di sofa seperti dulu?”

Hyunrae meringis, sebenarnya tak ingin menanggapi Kyungsoo sama sekali karena candaan itu terlalu di luar dugaan.

“Kalau kau ingin bercanda, setidaknya jangan gunakan wajah datarmu itu.”

Kyungsoo tersenyum tipis, lalu duduk di sofa tanpa berkata apapun.

“Sepertinya Jaemin memang keturunan Anda seratus persen. Ia jauh lebih pintar bercanda dari saya. Itu seperti Anda, kan?”

“Aku? Pintar bercanda? Kapan?”

Hyunrae menjawab tak peduli. Gadis itu melompat ke atas kasur dan langsung mengambil sisi kanan dengan cepat. Ia menguap sekali, lalu menarik selimutnya sampai ke leher.

“Anda akan tidur sekarang?”

“Apa aku terlihat seperti orang yang akan tidur tahun depan? Sudahlah, aku mengantuk. Kau matikan lampu kalau sudah ingin tidur. Dan kau boleh tidur di sofa kalau kau mau.”

Dan wanita itu benar-benar memejamkan matanya, tak mempedulikan lampu yang masih menyala. Tetapi berbeda dengan Kyungsoo, pria itu seolah termakan oleh kenangan. Ia memandangi Hyunrae yang telah terlelap sembari tersenyum kecil.

“Selalu seperti itu. Anda tidur, dan saya terjaga untuk memastikan bahwa Anda tidur dengan baik,” ujar Kyungsoo pelan. “Yah, apapun itu, selamat malam.”

Kyungsoo beranjak, mematikan lampu, dan naik kasur.

-=-

Kyungsoo tidak menemukan Hyunrae di sampingnya ketika ia terjaga. Yang ada hanya sisa-sisa keberadaan Hyunrae di ruangan tersebut. Tidak ada suara dari kamar mandi, pertanda Hyunrae memang sudah bangun lebih pagi dari dirinya. Akhirnya Kyungsoo turun dari kasur, keluar dari kamarnya untuk mencari Hyunrae.

“Apa Nona Hyunrae pergi?” tanya Kyungsoo pada pengurus rumah yang sedang membersihkan lantai keramik tangga.

“Nona berada di tempat latihan menembak.”

“Sejak pagi?”

“Sepertinya sejak dua jam lalu. Sejak pukul lima pagi.”

Mengangguk, Kyungsoo menuruni tangga dan menuju tempat latihan menembak. Pintu tempat latihan sedikit terbuka, membuat Kyungsoo bisa melihat Hyunrae dari celah pintu. Sementara Hyunrae masih konsentrasi membidik papan-papan target, mencetak poin yang luar biasa. Setelah pelurunya habis, barulah Kyungsoo membuka pintu dan masuk ke ruang latihan.

“Apa kau mengintipku latihan seperti dulu?” ujar Hyunrae sambil melepaskan penutup telinga.

Kyungsoo hanya mengangkat alisnya sambil mendekati Hyunrae. Ia melepaskan kacamata pelindung dari wajah Hyunrae dan menaruhnya di meja.

“Kenapa Anda tak menunggu saya bangun tidur lebih dulu dan bernostalgia sendirian di sini? Setidaknya Anda bisa ajak saya berlatih bersama.”

“Kau terlihat lelah. Aku tak mau mengganggumu.”

“Tapi tak menyenangkan rasanya ketika saya membuka mata dan Anda tidak ada bersama saya di sisi saya.”

“Apa kau sedang merayuku untuk sesuatu atau itu memang dari hati yang terdalam?”

“Terserah Anda ingin menganggapnya sebagai apa,” balas Kyungsoo singkat sambil melangkah maju mendekati Hyunrae, membuat Hyunrae mundur selangkah karena terkejut.

Kyungsoo maju selangkah lagi, dan Hyunrae tak bisa mundur karena meja ada tepat di belakangnya. Kedua tangan Kyungsoo bergerak, mendarat di meja seolah tak ingin Hyunrae bergerak lagi. Pelan-pelan, pria itu menunduk dan mencium bibir Hyunrae singkat.

“Selamat pagi Nona Hyunrae.”

“Selamat pagi Do Kyungsoo.”

Lalu keduanya tertawa kecil sebelum Kyungsoo mencium Hyunrae lagi. Kali ini sedikit lebih lama.

-=-

Jaemin menyenggol kaki Kyungsoo di bawah meja beberapa kali, membuat Kyungsoo menyipitkan matanya pada Jaemin. Tapi anak itu pura-pura tak tahu dan menghirup susunya dengan santai. Setelah beberapa detik, anak itu mulai menyenggol kaki Kyungsoo lagi, seolah memberi kode. Kyungsoo berdesis pelan, meminta Jaemin berhenti bertingkah.

“Tolong hentikan permainan kalian,” ujar Hyunrae tiba-tiba. “Apa yang kalian rencanakan?”

Pura-pura, Jaemin mengangkat bahu. Ia memakan buah di piringnya, lalu tersenyum pada ibunya dengan wajah agak konyol.

“Buahnya enak, Mama.”

“Jaemin, katakan pada Mama. Apa yang kau rencanakan dengan Papa?”

“Tidak ada,” Jaemin geleng-geleng dengan kuat, membuat rambutnya melayang.

“Dia ingin bersekolah,” sahut Kyungsoo cepat.

“Apa?” Hyunrae menghentikan tangannya yang sedang menyendok buah. “Kau ingin sekolah? Bukankah pendidikan dasarmu sudah selesai?”

“Sekolah menengah, Mama,” Jaemin tersenyum manis. “Aku ingin sekolah di sekolah biasa. Tidak di rumah seperti dulu.”

“Tidak perlu. Kau tidak usah meminta hal yang aneh-aneh.”

“Tapi, Mama-”

“Jaemin, Mama sudah mengatakan padamu bahwa sekolah biasa tidak ada bagusnya untukmu. Kau punya kemampuan di atas rata-rata. Kau bisa menghemat waktumu dengan sekolah di rumah dan belajar bersama Suho. Mulai minggu depan, Suho akan mulai mengenalkanmu pada bisnis.”

“Bukankah latar belakang Paman Suho adalah polisi?”

“Suho belajar dengan baik selama sepuluh tahun lebih. Dia berhasil mencapai posisinya saat ini bukan karena Mama memberikannya. Tetapi karena ia pantas mendapatkannya.”

“Mama…, sekali ini saja, Jaemin ingin Mama memberikan hal yang Jaemin minta. Jaemin tidak marah kalau Mama selalu memberikan hal-hal yang tidak Jaemin minta. Tapi sekali ini saja, Jaemin ingin pergi ke sekolah biasa, Mama.”

“Apa kau sekarang merajuk karena Mama tidak memberikan buku Prancis yang kau inginkan? Tak masalah. Katakan pada Sopir Lee untuk mengantarkanmu ke toko buku siang nanti dan beli buku itu. Mama sudah janji bahwa Mama akan memberikannya kalau kau tersenyum pada pers di bandara.”

“Bukan begitu, Mama,” Jaemin menjawab putus asa sambil menaruh alat makannya di meja.

“Lalu?”

Jaemin menelan ludah, menatap Kyungsoo di depannya yang hanya diam memerhatikan. Sepertinya Jaemin berharap bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu. Tetapi sayangnya, Kyungsoo hanya menjadi penonton dari percakapan Jaemin dan ibunya.

“Aku tidak ingin buku itu lagi.”

“Kenapa?”

“Aku ingin ke sekolah,” ujar Jaemin singkat sambil berdiri. “Terima kasih untuk sarapannya. Aku sudah selesai.”

Anak itu menunduk sopan pada kedua orangtuanya, lalu berjalan meninggalkan ruang makan.

“Siapa yang mengajarinya seperti itu?” tanya Hyunrae sinis pada Kyungsoo. “Kau? Aku? Suho? Sepertinya kau tidak bisa mendidiknya dengan baik, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo menjilat bibirnya sendiri, lalu sedikit menunduk pada Hyunrae.

“Maaf, ini tidak akan terjadi lagi, Nona Hyunrae.”

“Aku harap begitu.”

“Tapi, Nona Hyunrae,” lanjut Kyungsoo lagi tanpa aba-aba. “Bisakah sekali ini saja, Anda biarkan Jaemin pergi ke sekolah biasa?”

-To be continued-

Advertisements

4 thoughts on “Love of My Life [1]

  1. Dyorodeu says:

    Setelah 2x baca…. Rasanya do kyungsoo nya di cerita ini pengorbanannya gila bangetttt 😭😭😭
    Sisss kyungsoo nya dimanusiakan dikit doongg jangan panggil hyunrae pake “nona” di depan anaknyaaa…. Hueheheh

    • bener bngt do kyungsoo pengorbanannya emang gila… itu yang bikin hyunrae milih dia.
      soal sebutan “nona”… hmmm… aku bakal masukkin penjelasannya ke cerita di part-part selanjutnya. bukannya gak manusiawi, tetapi karena ada alasannya… makanya tetap ikutin terus yaaaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s