[Alter Ego II: Irina] Distance

Distance.jpg

| Even only look at you, it hurts |

| Oneshot | Irina | Friendship, Romance, Love, Life |

-=-

“Aku memesan bubble tea dengan topping agar-agar untukmu,” ujar pria itu sambil memberikan satu dari dua gelas yang ia bawa sejak meja kasir.

“Terima kasih,” kata Irina, mengambil gelas itu dari tangan pria tersebut. “Kau tidak lupa minuman kesukaanku. Terima kasih untuk itu juga.”

Pria itu tersenyum kecil, lalu mengangguk. Mereka sibuk menikmati bubble tea masing-masing hingga akhirnya pria itu buka suara.

“Apa kau ada rencana berlibur bulan ini?”

“Tidak,” Irina menggeleng. “Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu ke pantai besok, atau lusa, atau waktu kau tak ada pekerjaan.”

“Sekarang?”

“Aku tidak masalah.”

“Bagus. Ayo, kita pergi sekarang.”

-=-

Irina membuka pintu mobil, keluar tanpa sepatu dan menginjak pasir pantai dengan kaki-kakinya. Gadis itu tertawa senang, lalu berlarian di pasir pantai. Sementara pria yang sejak tadi menyetir bersamanya membawa sepatu gadis itu dengan sabar dan menikmati pemandangan Irina berlarian itu dengan senyum senang.

“Sudah lama tak ke pantai?” tanya pria itu begitu Irina kembali mendekati mobil.

“Sejak kita putus, aku tak pernah kembali ke pantai lagi.”

Topik yang sensitif. Irina dan pria itu tetapi tak pernah menganggap isu putus mereka sebagai sesuatu yang sensitif. Mereka dimulai dari persahabatan, dan setidaknya bisa berakhir dalam persahabatan juga.

“Aku juga sama. Ini pertama kalinya aku kembali ke pantai setelah kita putus,” balas pria itu sambil tertawa kecil. “Terlalu banyak kenangan sepertinya, kan?”

“Ya, terlalu banyak. Kita bermain di pantai sejak kecil, jatuh cinta pada pantai, dan bisa dibilang saling jatuh cinta karena pantai. Kau dan pantai adalah sebuah kenangan yang aku tak bisa hindari ataupun hapus.”

“Aku tidak tahu apa itu hal yang baik atau tidak.”

“Menurutku itu hal yang baik,” putus Irina tanpa pikir panjang. “Maksudku, coba kau lihat orang lain. Sahabat, lalu kekasih, putus, dan tidak ada yang baik-baik lagi. Mereka berubah dari sangat dekat, menjadi sangat jauh. Aku tidak berpikir itu menyenangkan.”

“Mungkin kau benar. Aku juga tidak ingin seperti itu. Kekasih bisa putus, tetapi sahabat akan selamanya menjadi sahabat.”

Irina duduk di pasir pantai, tak peduli akan pasir-pasir itu menempel di celananya nanti. Ia, seperti yang dulu-dulu, menulis di atas pasir.

“Jangan menulis di atas pasir,” kata pria itu, persis sama seperti di masa lalu ketika Irina mengatakan perasaannya di atas pasir. “Air laut akan datang dan menghapus tulisan itu.”

“Ada beberapa hal yang tanpa kita sadari telah kita tulis di pasir. Salah satunya adalah pertengkaran-pertengkaran kita yang kita lakukan selama menjadi kekasih. Kenangan buruk itu terhapus oleh air laut yang datang, menyisakan pasir baru untuk ditulis lagi. Dan seperti itulah kita sekarang.”

Tanpa sadar, pria itu mengangguk mengerti, memahami Irina lebih dari siapapun di dunia ini. Irina sahabatnya, dan status itu tak mudah berubah. Wanita silih berganti, tapi Irina adalah satu-satunya yang mengisi hatinya secara tetap, secara statis, secara permanen.

“Kita pernah memiliki jarak di antara kita. Dan mungkin setelah semua ini, jarak di antara kita akan semakin besar.”

“Tidak akan,” kata Irina mantap. “Aku janji bahwa kita akan menjadi sahabat dekat untuk selamanya. Meskipun kita bertambah tua, kita memiliki keluarga masing-masing, kita tetap menjadi sahabat. Aku yakin itu.”

Pria itu membungkuk, duduk di samping Irina. Hati-hati, ia memakaikan sepatu Irina ke kedua kaki gadis itu.

“Aku pegang janjimu,” jawab pria itu sembari membantu Irina berdiri dan membersihkan sisa-sisa pasir di celana Irina.

Mereka menatap matahari terbenam dan pria itu mengantar Irina kembali ke rumahnya.

-=-

Malam sudah gelap ketika mobil pria itu berhenti di depan rumah Irina. Irina turun dari mobil, diikuti pria tersebut dalam diam.

“Terima kasih untuk hari ini,” kata Irina sembari tersenyum manis.

“Tak masalah,” pria itu menjawab sambil memeluk Irina erat. “Kalau kau ada waktu, kita bisa pergi ke sana lagi.”

“Hati-hati di jalan, ya,” kata Irina sebelum melangkah ke arah pintu.

“Irina,” panggil pria itu, membuat Irina menoleh lagi.

“Ya?”

“Selamat untuk pernikahanmu. Semoga kau berbahagia selamanya.”

“Terima kasih. Aku juga mendoakan kebahagiaanmu.”

Irina masuk ke dalam rumah, menyisakan pria itu sendirian di depan rumahnya. Hening menemani pria itu, bersama sebuah hamparan pasir tanpa tulisan yang siap untuk ditulis lagi. Dan ia hanya menikmati kenangannya yang kadang menyakitkan namun membuat bahagia.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s