The Lone Flower [4/4]

The Lone Flower

When I touch your world, I awaken |

| Continue | Chanyeol EXO, Irina | Life, Love, Romance, Comedy, Songfic |

-=-

Spilling forth like stars, defying the darkness

It’s time for me to make you bloom

I will make your hidden tears shine

The dawn has come

Everything is going back in place

Now I will give you everything

-=-

“Apa maksud Claire tadi?” tanya Irina dalam hening ketika mobil Chanyeol berhenti di lampu merah. “Kau suka padaku sejak kita sekolah?”

Chanyeol tak menjawab, atau setidak-tidaknya, ia tak ingin menjawab. Matanya sibuk melirik kaca spion, seolah sedang konsentrasi menyetir. Tapi Irina tahu kalau Chanyeol sedang mencari alasan yang masuk akal, setidaknya menurut pemikiran narsis Irina.

“Apa menurutmu kata-kata Claire itu benar?”

“Tidak tahu. Satu-satunya yang tahu itu kau.”

“Menurutmu?”

“Kalau menurut akal sehatku, tentu saja tidak benar,” sanggah Irina. “Maksudku, coba lihat deretan dan jajaran wanita yang pernah kau gunakan untuk mengisi hari-harimu. Mereka beraspek sebagai berikut: tinggi, cantik, seksi, indah, lincah, gemulai, dan-”

“Kau mulai mengada-ada,” potong Chanyeol cepat. “Tapi sepertinya aspek-aspek itu benar.”

“Oh, dan jangan lupakan ini, mereka sepertinya kurang cerdas.”

Chanyeol menginjak rem mendadak.

“Maksudmu?”

“Ya, maksudku… kalau mereka sedikit saja lebih pintar, mereka tidak akan mau dipermainkan oleh pria sepertimu. Reputasimu sebagai kolektor wanita tak perlu dipertanyakan lagi. Kupikir wanita di Alaska dan sekitarnya pun tahu hal itu.”

“Kau tak punya cermin?”

“Untuk?”

“Berkaca,” kata Chanyeol sambil mendekati wajah Irina. “Apa kau sekarang menjadi sama dengan wanita-wanita itu?”

“Tidak,” Irina tersenyum tenang, tak terpancing kata-kata Chanyeol. “Kalau aku sama dengan wanita-wanita itu, kau pasti sudah meninggalkan aku. Ada sesuatu yang membuatmu… bertahan di sisiku, kan? Apa itu? Kau suka padaku? Jatuh cinta padaku?”

“Jangan harap. Pendek, kecil, terlalu kurus dan tak punya pengalaman bukan tipeku.”

“Tukang selingkuh sepertimu juga bukan tipeku,” kata Irina enteng membuat Chanyeol terbatuk.

“T-tukang s-selingkuh?” ulang Chanyeol tak percaya. “Dari sekian banyak kata di dunia ini, Irina. Dan kau memilih kata-kata itu untuk menggambarkan aku? Hah, aku tak percaya ini. Kau bisa menggambarkanku sebagai penakluk wanita atau sebagainya.”

Irina mengetuk dashboard mobil beberapa kali, lalu menyuruh Chanyeol menjalankan mobilnya.

“Terima saja kenyataan itu. Dan cepat antarkan aku pulang.”

-=-

“Kau tunggu di sini, oke?”

Irina tiduran saja di kasur Chanyeol, tak ingin membalas karena sudah terlalu malas. Ia menguap saja, lalu menggunakan bahasa isyarat untuk menyuruh Chanyeol pergi. Akhirnya Chanyeol keluar dari kamarnya dengan membawa handuk, alias ingin mandi.

“Mari kita lihat,” pikir Irina kecil sambil duduk di karpet dan menatap deretan album foto Chanyeol yang tertata rapi di raknya.

Tangan Irina mengambil buku album foto semasa sekolah menengah dulu, lalu membuka satu demi satu. Ada foto Chanyeol dengan Chen dan Baekhyun menghiasi awal-awal halaman. Mereka dulu memang terkenal selalu main bersama meski beda jurusan. Baekhyun si calon arsitek itu mengambil fisika dan ilmu-ilmu seni, sementara Chen yang hobi bisnis mengambil jurusan management.

Dan Chanyeol… yeah, si brengsek itu, ia menyerah saja ketika gurunya menaruh Chanyeol di kelas sastra, bersama Irina yang bercita-cita jadi penulis dan segelintir anak-anak lain.

“Apa kabar anak-anak itu sekarang?” gumam Irina tanpa sadar. “Seingatku Chen sudah punya perusahaan entertainment sendiri dan Baekhyun sudah bekerja di firma luar negeri. Mungkin mereka sudah menikah malah.”

Jemarinya membalik halaman ke halaman berikutnya. Hanya ada beberapa foto Chanyeol dengan anak-anak angkatan mereka di pesta kelulusan dan acara-acara lain. Hingga akhirnya, tangan Irina membeku ketika ia membalik halaman ke halaman terakhir.

“Ini…”

Gadis itu mengambil salah satu foto yang terselip di sana, mengeluarkannya hati-hati dan menatapnya dengan penuh keterkejutan.

“Hei, Irina,” pintu kamar Chanyeol terbuka tiba-tiba, dan Chanyeol muncul di sana dengan celana panjangnya tanpa kaos apapun. “Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu sambil mendekati lemari untuk mengambil baju.

“Apa kau… benar-benar menyukaiku sejak kita sekolah dulu?”

“Pertanyaan random itu lagi,” Chanyeol pura-pura menggerutu.

Tapi Irina tak tertawa. Ia malah menunjukkan foto di tangannya pada Chanyeol. Pria itu bukannya tak kenal foto tersebut. Foto Irina saat masih sekolah menengah dengan seragamnya, termenung di tempat duduknya sambil melihat papan tulis dengan tatapan kosong.

“Kalau tidak, kenapa ini ada di album fotomu?”

Chanyeol tak bisa mengelak lagi. Ia merebut foto itu dari Irina, dan menatap Irina dalam-dalam.

“Kalau aku membenarkan hal itu, apa kau pernah menganggap aku serius?”

“Maksudmu?”

“Kau pasti akan menganggapku main-main dan menyumpahiku untuk masuk ke neraka saja, kan?” kata Chanyeol pelan.

Mata Irina menatap Chanyeol dalam-dalam. Ia menghela napas pelan, lalu mencoba untuk tetap tenang meski ini sudah kegilaan tingkat akhir dunia baginya.

“Sepertinya aku ada di neraka sekarang. Ini… terasa gila.”

Gadis itu hampir melangkah ke pintu kalau Chanyeol tak menahan tangannya, memaksa Irina berbalik dengan cepat.

“Aku menyukaimu. Sejak sekolah menengah dulu.”

“Kau gila. Dan aku tidak suka pria gila.”

Irina keluar dari ruangan itu, neraka kecilnya.

-=-

Chanyeol mengacak rambutnya kesal, menatap foto yang tergeletak di kasurnya. Ia mengambil foto itu, menatapnya seolah menatap masa lalunya dan masa sekolahnya. Masa itu, kamera di handphone belum sebagus masa kini. Untuk mencetak foto dari handphone juga sangat panjang ceritanya karena harus dipindahkan ke komputer dulu, lalu dipilih, lalu dihubungkan dengan-

Kenapa jadi membahas ini?

“Arggghhhh!” Chanyeol berseru kesal sendiri seperti seekor gorilla lepas yang lagi naik darah.

“Sialan, gadis itu,” maki Chanyeol lagi.

“Dia sangat susah untuk dimengerti!”

“Sejak sekolah menengah hingga saat ini, dia masih serumit itu!”

“Kenapa dia harus serumit itu, hah?!”

Terakhir, Chanyeol melempar dirinya ke kasur, menatap langit-langit kamarnya jengkel.

“Gadis sialan, tapi aku tak bisa membencimu.”

-=-

Irina menatap file The Lone Flower yang terpampang di layar laptopnya. Segala fiksi itu tentang Pangeran Chanyeol dan si wanita jelita kini jadi debu. Tak mau pikir panjang, Irina menekan delete dan menghapus file itu, sebagaimana ia mencoba untuk men-delete Park Chanyeol dari otaknya. Dan terutama, dari hatinya.

“Pria sialan,” gumam Irina kesal. “Memangnya aku ini wanita murahan, hah? Apa dia tidak bisa melakukan hubungan kasual saja tanpa harus melibatkan perasaan? Ini hanya membuat semuanya jadi lebih rumit. Dia merusak pekerjaanku!”

Lalu, seperti orang konyol, Irina membuka folder sampah di laptopnya dan mengeluarkan file novel The Lone Flower dari sana.

“Benar-benar pria brengsek! Merusak hidupku, merusak otakku!”

-=-

“Apa Yang Mulia Pangeran Chanyeol mencintai diriku?”

Pangeran Chanyeol lepas kendali, mendekati wanita cantik itu, dan menciumnya tepat di bibir. Setelah beberapa detik, ia melepaskan wanita itu.

“Sangat.”

“Bagaimana kalau… keluarga Pangeran menentang pernikahan ini karena mereka ingin agar pewaris kerajaan menikah denganku?”

“Maka aku akan melepas statusku sebagai anggota keluarga kerjaan dan berusaha merebutmu dari hukum tak jelas itu.”

Wanita itu tersentuh, lalu membiarkan Pangeran Chanyeol menciumnya tanpa henti.

“Aku percaya padamu, Pangeran.”

Lalu sumpah serapah dan ratusan kata makian keluar dari mulut Irina.

-=-

“Irinaaaaaa!”

Gadis itu tersentak, bangun dari tidurnya dan merasakan sinar matahari masuk lewat jendela. Jam di kamarnya menunjukkan pukul delapan pagi, dan ada suara gila membangunkannya dari istirahat nyamannya setelah semalam tak bisa tidur.

“Siapa yang berani-beraninya menggangguku?”

Tangan Irina menyingkirkan tirai jendela, mendapati mobil yang sangat akrab di matanya. Tentu saja karena ia pernah beberapa kali naik mobil itu, beberapa kali tidur dengan pemilik mobil itu, dan beberapa kali punya insiden sinting dengan si pemilik mobil itu.

“Aku tahu kau sudah bangunnnnn!”

“Berisik, Park Chanyeol!” Irina balas berteriak dari kamarnya sambil meraih kunci pintu dan lari ke pintu depan. “Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini?!”

“Mencarimu. Aku ada urusan tak terselesaikan denganmu, Nona Cantik.”

“Whoa,” Irina memutar mata tak percaya. “Kupikir aku bukan tipemu.”

“Bukan pintunya dan kita bicara, oke?”

Irina memutar kunci dan pintu terbuka. Park Chanyeol melangkah masuk dan mencium Irina tanpa basa-basi seperti biasa.

“Setidaknya ucapkan salam dulu,” gerutu Irina saat Chanyeol melepaskannya.

“Itu salam dariku, Irina. Jangan bertingkah seolah kau baru kenal denganku.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Sarapan denganmu. Apa kau masak sesuatu?”

“Dengar. Ini rumah, bukan café. Anda salah alamat. Tempat makan terdekat ada di ujung jalan, lurus saja dari sini, lalu sedikit belok ke kanan. Jalan lima puluh langkah, dan Anda akan sampai di sana. Kalau masih tidak melihatnya, gunakan google map, oke?”

Humor murah, tapi tetap saja Chanyeol tertawa. Jadi tak bisa dibilang terlalu murahan, kan?

“Terima kasih, tapi aku lebih suka rumahmu.”

Tepat saat Chanyeol hendak melangkah, Irina menghalangi pria itu dengan tangannya.

“Ini tidak benar,” Irina menggeleng kuat-kuat. “Kau, aku, perasaan kita, dan semua kegilaan ini. Ini tidak benar. Ayo kita berhenti di sini, Park Chanyeol. Kalau tidak, aku akan menghubungi polisi.”

“Kau wanita ke tujuh puluh delapan yang ingin melaporkanku pada polisi. Sebelum ini, berbagai wanita ingin melaporkanku ke polisi atas tuduhan menyakiti hati. Konyol, kan?”

“Memang seharusnya negara ini membuat undang-undang untuk melindungi wanita dari pria seperti kau. Pria yang mudah menyakiti wanita dan tidak punya komitmen harus dijatuhi sanksi.”

“Mungkin nanti, kalau kau sudah jadi presiden.”

“Sudahlah! Kau pulang saja! Membuatku mual pagi-pagi.”

“Kau mual?” Chanyeol mengangkat alis tinggi-tinggi, lebih lancip dari busur gunung gambar anak-anak sekolah dasar. “Jangan-jangan… kau… hamil… dan…”

“Hentikan, Park Chanyeol. Tidak lucu. Kalau aku sampai benar-benar hamil, itu juga tak ada urusannya denganmu,” balas Irina kesal. “Aku sibuk. Jangan ganggu aku.”

“Bagaimana kabar novelmu?”

“Aku sudah menghapusnya, sebagaimana aku menghapus dirimu dari hidupku.”

“Secepat itu? Dalam satu malam?!”

“Sudahlah, Park Chanyeol. Aku tidak ingin bermain-main denganmu lagi. Apa ini pertama kalinya kau diusir oleh seorang wanita sampai-sampai kau tidak tahu bahwa aku mengusirmu sejak tadi?”

“Bisa dikatakan begitu. Biasanya wanita memohon-mohon agar aku tetap bersama mereka.”

“Ah, begitu. Pantas saja kau nampak tidak terima ketika aku menolakmu.”

“Itu yang ingin kutanyakan. Apa kau punya alasan masuk akal untuk menghapusku seperti sebuah tulisan yang salah?”

“Karena kau memang sebuah tulisan yang salah dalam hidupku. Dan sebelum semua kesalahan ini bertambah banyak dan kacau, aku lebih baik cepat-cepat menghapusmu.”

Chanyeol menautkan alisnya, memandang Irina dengan pandangan mengintimidasi.

Kau tidak boleh kalah, Irina. Biar saja dia mencoba menatapmu seperti itu, atau memojokkanmu bagaimana pun caranya. Kau tidak boleh kalah!

“Kau tidak bisa menghapusku semudah itu, Irina. Aku pria pertama yang mengajakmu berdansa, menciummu, dan berbagi segalanya denganmu. Kau tidak mungkin menghilangkan aku.”

“Jadi yang pertama bukan berarti jadi yang terakhir juga,” jawab Irina diplomatis. “Pria seperti dirimu bertahan dengan wanita hanya sesaat, setelah itu berlalu seperti angin. Aku tidak bisa serius denganmu karena aku tahu kau tidak bisa serius juga.”

“Aku tak mungkin tak serius denganmu,” tandas Chanyeol tanpa pikir panjang. “Jika aku tak jatuh cinta padamu, aku tak punya alasan untuk menciummu ketika pesta perpisahan sekolah dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Waktu itu aku ingin mengatakan perasaanku saat pesta perpisahan sekolah. Tapi kau sudah lebih dulu menolakku sebelum aku berkata-kata. Jadi aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya.”

“Kau tahu alasannya, kan?” Irina bertanya balik. “Kau bukan tipeku.”

“Kalau aku bukan tipemu, tak ada alasan bagimu untuk menghabiskan hari-hari denganku.”

“Dan sekarang aku menyesal telah membuang hari-hariku denganmu.”

“Hei,” potong Chanyeol cepat. “Pikirkan lagi. Satu minggu, dan aku akan menanyakannya lagi, oke?” tawar Chanyeol seperti orang di pasar tradisional.

Irina berdecak, hendak mengusir Chanyeol lagi sebelum pria itu menahannya dan berkata-kata.

“Aku akan memasak untukmu. Kau pasti belum makan, kan?”

Dengan sigap, pria itu berlalu ke dapur dan memakai celemek girly milik Irina.

-=-

Keduanya duduk berhadapan di ruang makan Irina. Chanyeol membuat sarapan sederhana yang tertata tampan seperti wajahnya. Roti, bacon, telor, serta sedikit saus untuk melengkapinya.

“Selamat makan,” ujar Chanyeol pelan, meski ia tahu bahwa Irina sepertinya tak punya selera makan karena pengakuan pagi-pagi buta yang ia buat.

Irina mengunyah sesuap, dalam hati menyumpah karena makanan itu sangat enak. Chanyeol tahu betul cara mengolah bahan-bahan sederhana menjadi spesial. Satu nilai lebih kalau memiliki Chanyeol sebagai pembantu suami.

Hei! Apa-apaan pikiranmu itu?!

Seperti biasa, suara otak Irina membentak cepat, menyuruh Irina sadar bahwa Chanyeol bukan yang terbaik ataupun yang tepat untuknya. Akal sehatnya juga selalu mengatakan bahwa Chanyeol adalah pria yang akan menyakitinya nanti, melukainya, dan meninggalkannya ketika bosan seperti sebuah mainan lama. Mungkin saat ini Chanyeol belum meninggalkannya karena ia belum bosan. Tapi tunggu saja sebentar lagi, ia pasti akan kabur.

“Kenapa melamun?”

Tersadar, Irina menggeleng kuat.

“Aku hanya sedang berpikir.”

“Makanannya tidak enak?”

“Enak. Tak masalah. Kau memang jagonya membuat makanan enak.”

“Apa kau memikirkan kata-kataku?”

“Kata-kata yang- ugh… itu lagi,” gerutu Irina kesal. “Tidak bisakah kita tetap menjalani hubungan kasual seperti dulu tanpa ada kata-kata dangkal seperti kekasih?”

“Aku pikir kau lebih suka komitmen.”

“Tergantung prianya. Kalau prianya itu kau, kau tidak bisa diajak komitmen.”

“Aku akan berubah untukmu.”

Dan Irina tersedak.

“Sudahlah, Park Chanyeol. Berhenti mengada-ada.”

“Aku tidak mengada-ada. Apa susahnya percaya padaku? Kau berikan aku kesempatan, semuaa akan baik-baik saja. Kita bisa menjadi sahabat yang baik dan kekasih yang baik.”

Benar, Irina. Berikan dia kesempatan.

“Diam,” desis Irina lebih pada dirinya sendiri, dan Chanyeol tahu itu karena pria itu terkikik pelan melihat tingkah Irina yang sangat aneh.

“Habiskan sarapanmu dan pulanglah. Kau harus bekerja, kan?”

“Tidak perlu. Aku akan menghabiskan waktuku di sini seperti dulu, seperti biasa.”

“Pulanglah. Aku janji bahwa aku akan memikirkan kata-katamu kalau aku sedang sendirian.”

“Kapan kau mau menemuiku?”

“Satu minggu lagi, oke?”

“Kau gila?!”

-=-

Tiga hari berlalu, tak ada yang baik-baik saja. Irina pikir, dia sudah gila dan harus menghubungi Jo, teman sekolahnya yang kini bekerja menjadi psikolog serta menikahi anak orang kaya. Tapi Irina berani bertaruh, psikolog mana saja akan mengatakan pada Irina untuk menemui Chanyeol dan bicara baik-baik dengan anak sialan itu ketimbang menghindarinya. Menghindari Chanyeol sama saja dengan lari dari kenyataan. Dan lari dari kenyataan adalah sebuah lomba lari yang tak mungkin dimenangi.

“Sialan! Sialan! Sialan!”

Irina menghapus satu paragraph tulisannya, lalu mengetiknya lagi, lalu menghapus lagi, lalu akhirnya, ia benar-benar membuang naskah itu ke tempat sampah virtual alias icon recycle bin di layar laptopnya. Bukan baru sekali atau dua kali ia melakukan ini. Tapi berkali-kali.

“Kenapa aku harus berurusan dengan dia?! Tadinya aku baik-baik saja!”

Tiba-tiba handphone Irina berdering kencang, membuat gadis itu meloncat kaget dan hampir jatuh terjungkal.

“Kenapa pula Chanyeol menghubungiku?! Aku sudah bilang, satu minggu!”

Cepat-cepat Irina menekan tombol merah, tak mau menjawab. Tapi sepertinya telepon genggam itu sedang dalam masa berisik hingga akhirnya berdering lagi. Menyerah, Irina menjawab.

“Maaf, Irina sedang tidak ada.”

“Nona Irina? Apa Anda bisa ke rumah sakit Hwayeong sekarang? Teman Anda, pemilik handphone ini sedang berada di ruang gawat darurat.”

Irina membanting tutup laptopnya sambil berteriak.

“APA?!”

-=-

Perang bukanlah jalan keluar, melainkan jalan pintas. Pangeran Chanyeol menghunus pedangnya, berhadapan dengan kakaknya sendiri.

“Berani-beraninya kau, Pangeran Bungsu, adikku yang kucintai sepenuh hati. Tak pernah aku duga bahwa kau akan berkhianat demi seorang wanita.”

Chanyeol menyiapkan pedang dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Ini bukan sekadar seorang wanita. Ini wanita yang kucintai lebih dari apapun. Tolong lepaskan dia, kakakku. Maka aku akan pergi dari kerajaan bersamanya.”

Pangeran bungsu itu menatap ke arah lain, melihat wanitanya ditahan oleh tiga prajurit. Wanita itu berlutut, ketakutan setengah mati hingga nyaris menangis.

“Sudahlah, Pangeran Chanyeol,” pinta wanita itu. “Lepaskan saja aku. Kau mengalah saja. Aku tidak apa-apa selama kau tidak apa-apa.”

“Tidak akan,” geleng Pangeran Chanyeol, terdengar jelas oleh kakaknya yang murka.

“Kau membantahku?! Matilah kau!”

Keduanya berhadapan dalam jarak beberapa meter, lalu memacu kuda yang mereka tunggangi. Kedua kuda itu berlari menuju musuh mereka. Bersamaan dengan itu, baik Pangeran Chanyeol maupun kakaknya menghunuskan pedang ke arah satu dengan lain. Suara tebasan pedang terdengar dan teriak kesakitan itu meraung di udara.

“Pangeran Chanyeol!”

Wanita itu berteriak kaget sambil membekap mulutnya. Ia melepaskan diri dari tiga prajurit yang menahannya dan berlari ke arah Erk, kuda kesayangan Chanyeol. Tubuh pangeran bungsu itu jatuh ke tanah, tepat ke peluk hangat wanitanya.

“Pangeran… Pangeran…,” bisiknya sambil memegangi luka di bahu Pangeran Chanyeol.

“Cintaku,” jawab pria itu lemah sambil memegang pipi wanitanya. “Maafkan aku.”

“Jangan seperti itu, Pangeran.”

“Kalau aku mati, aku ingin mati dalam dekapanmu, Cintaku.”

-=-

Tangan Irina gemetar setengah mati sampai-sampai ia tak bisa menekan tombol kunci mobilnya. Kalah dengan rasa shock, Irina melempar kunci mobil itu ke teras dan berlari keluar rumah untuk menghentikan taksi kosong mana pun yang kebetulan lewat.

“Rumah sakit Hwayeong, tolong,” kata Irina panik saat sudah duduk di taksi.

Irina menatap handphone di tangannya dengan ketakutan. Ia nyaris-nyaris menangis, merasakan matanya kabur tertutup air mata.

“Dasar bodoh,” umpat Irina pada handphone di tangannya. “Baru tiga hari tak melihatku, kau sudah memutuskan untuk bunuh diri. Apa sebegitu besarnya cintamu padaku, Park Chanyeol?”

Irina pikir, lampu merah adalah satu-satunya alasan taksi yang ia tumpangi tak bergerak. Ketika Irina mengangkat kepalanya, ia mendapati jalanan dipenuhi mobil, alias macet. Gadis itu tambah panik, mengerluarkan selembar uang dan menyodorkannya pada pengendara taksi. Buru-buru ia membuka pintu taksi.

“Kembaliannya?”

“Ambil saja!”

Ia berlari di trotoar, nyaris-nyaris menghantam beberapa orang. Rumah sakit Hwayeong terlihat di matanya, tetapi sebenarnya masih jauh.

“Park Chanyeol, jangan mati tanpa melihatku.”

-=-

“Aku tidak akan membiarkanmu mati, Yang Mulia Pangeran Chanyeol. Kalau kau mati, aku akan mati bersamamu.”

“Relakan aku, Putri.”

“Tidak akan.”

Tangan wanita itu menyentuh luka Chanyeol. Ia memejamkan mata, mengumpulkan kekuatannya untuk menyembuhkan orang yang dicintainya. Tetapi tak bisa. Luka Chanyeol terlalu dalam, terlalu mematikan, terlalu sulit disentuh.

“Putri, jangan buang tenagamu sia-sia.”

“Tidak, Yang Mulia,” ujarnya lemah. “Aku akan menyembuhkanmu.”

“Kau sudah menyembuhkanku. Aku tadinya sendirian, kesepian, tak punya siapa-siapa untuk dicintai. Itu adalah lukaku yang terdalam. Bersamamu, luka itu sembuh dengan sendirinya, Putri.”

Wanita itu menangis sedih, merasa begitu tersentuh dengan kata-kata Pangeran Chanyeol.

“Terima kasih, Pangeran,” jawab wanita itu lemah. “Karena Pangeran sudah mengeluarkan aku dari sebuah kesendirian yang menyakitkan. Pangeran mengubahku dari sebuah bunga yang kesepian menjadi bunga yang mekar dan indah. Aku merasa dihargai dalam hidupku karenamu, Pangeran.”

Napas Pangeran Chanyeol semakin memendek. Pria itu memeluk wanitanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

“Cintaku, maafkan aku… Jika kita tak bisa bersama sekarang, mungkin kita akan bertemu di surga nanti.”

Bersamaan dengan itu, hujan turun deras dan langit menjadi gelap.

“Pangeran Chanyeol! Aku mencintaimu, Pangeran! Bawa aku bersamamu, Pangeranku.”

“Doamu akan terkabulkan, Cantik.”

Wanita itu merinding ketakutan, menoleh ke atas dan melihat sebuah pedang siap menghunusnya. Ia memejamkan mata dan mendengar suara tebasan pedang.

“Aku akan menemuimu di surga, Pangeran.”

Dan segalanya berakhir.

-=-

Irina menatap pintu ruang gawat darurat dengan sedih. Sudah dua jam berlalu, tak ada satu kepastian pun ia dapatkan. Akhirnya seorang dokter muncul dengan muka serius, membuat Irina tambah ketakutan dan siap menangis.

“Dokter, bagaimana dengan Park Chanyeol?”

“Teman Anda… mengalami keracunan di alat pencernaannya.”

“Maksud dokter?”

“Ia diduga menelan susu basi dan mengalami keracunan. Kami harus memompa perutnya agar susu basi itu keluar dari tubuhnya.”

“Susu basi?” Irina mengangkat alisnya tinggi-tinggi sambil menahan mual akibat kata-kata perut dipompa (yeah, maklum saja karena dia itu penulis, bukan dokter). “Aku tidak tahu bahwa ada metode bunuh diri dengan meminum susu basi.”

“Saya juga baru tahu,” jawab dokter itu serius sambil mengangguk. “Anda bisa temui dia kalau dia sudah dipindahkan ke ruangan biasa sebentar lagi.”

-=-

Chanyeol terbujur lemah seperti orang kekurangan cairan (atau dia memang benar-benar kekurangan cairan setelah perutnya –ugh –dipompa tadi).

“Kau terlihat seperti orang yang habis menangis,” kata Chanyeol lemah.

“Hampir menangis,” ralat Irina. “Kupikir kau bunuh diri.”

“Dengan minum susu basi?” Chanyeol nyaris tertawa di tengah kesakitannya. “Ayolah, Cantik. Kalau aku ingin bunuh diri, aku akan lompat dari lantai tiga. Bukannya meminum barang sialan itu.”

Irina meringis, tak mau bercanda karena ini masalah serius.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tak tahu kalau susu itu sudah basi. Aku minum tiga gelas, tapi tak merasa ada yang aneh.”

“Kau bodoh?! Susu basi rasanya pasti tidak enak!”

“Aku sepertinya mati rasa karena terlalu rindu padamu.”

“Sekarang aku yang keracunan karena kata-katamu.”

Chanyeol hanya bisa tersenyum lemah, tak sanggup berkata-kata lagi.

“Apa kau takut kehilangan diriku?”

“Ya tentu saja. Kau temanku.”

“Hanya teman?”

“Apa yang kau harapkan? Musuh? Pembantu? Sopir?”

Tanpa Irina sadari, matanya berkaca-kaca. Gadis itu merengut kesal, tak tahu kenapa ia jadi sangat sensitif masalah Chanyeol. Tapi Chanyeol tahu betul alasannya.

“Kau mencintaiku juga, kan? Kau khawatir, kau takut kehilangan aku.”

“Terserah,” balas Irina, benci mengaku kalau Chanyeol benar.

“Kemarilah,” panggil Chanyeol sambil menepuk kasur yang ia tiduri. “Aku ingin memelukmu.”

Hati-hati, Irina mendekat dan bersandar pada Chanyeol yang masih separuh tiduran.

“Jangan buat aku khawatir lagi, Bodoh.”

“Aku tahu, Pendek. Aku tahu itu.”

“Aku cinta padamu, Bodoh.”

“Aku juga tahu itu, Cintaku.”

Irina membeku, merasa pernah mendengar panggilan itu sebelumnya. Kata-kata yang hanya diketahui oleh tiga orang yaitu dia, Pangeran Chanyeol, dan wanita yang dicintai pangeran bungsu itu.

-=-

Epilogue

Ketika Irina membuka mata, ia mendapati tempat yang tak asing baginya. Auditorium sekolah menengah atas, lampu yang diredupkan, dan anak-anak yang berbahagia akan kelulusan sekolah. Gadis itu menatap dirinya, mendapati gaun berwarna jingga jatuh dengan pas di tubuhnya yang mungil.

“Hei,” panggil seseorang, dan Irina menoleh.

“Oh, halo Park Chanyeol,” Irina mencoba tenang.

Padahal ia tak bisa tenang dari hati yang terdalam. Maksudnya, coba lihat Park Chanyeol si sialan itu saat ini. Memakai jas hitam yang keren, dasi merah yang menyala, dan rambut pendeknya yang super ganteng. Ia seperti setan penggoda yang dikirim neraka untuk menjebak Irina. Atau bisa jadi Irina memang sudah terjebak.

“Kau cantik juga. Aku tak pernah melihatmu dengan gaun sebelum ini.”

“Terima kasih. Kau juga keren.”

“Aku selalu keren.”

Ah, benar.

“Tidak juga,” kata Irina seperti biasa lain di hati lain di mulut.

“Mau berdansa denganku?”

“Aku mau saja. Tapi…” Irina menoleh ke kanan, membuat Chanyeol ikut menoleh ke arah yang sama. “Sepertinya penggemarmu akan membunuhku kalau itu terjadi.”

Dari arah itu, terlihat segerombolan wanita cantik yang menatap Chanyeol dan Irina dengan wajah penuh cemburu, seperti bara api disembur minyak yang membuat kebakaran.

“Abaikan mereka. Aku tak tertarik dengan mereka.”

Chanyeol malas menunggu, atau dia memang tak pernah menunggu. Tangannya menarik Irina, berdansa dengan gadis itu hingga larut malam.

“Kenapa kau ingin berdansa denganku?”

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” ujar Chanyeol serius, membuat tangan Irina berkeringat.

“Jangan bercanda seperti itu. Aku akan berpikir bahwa kau akan menyatakan perasaan padaku,” kata Irina dengan nada tenang, setidaknya ia mencoba untuk tetap tenang.

Chanyeol tertawa kecil, memperlihatkan senyum mematikan yang membunuh akal sehat semua wanita di dunia dan surga, tambahkan neraka kalau perlu.

“Memangnya, kenapa kalau aku menyatakan perasaanku padamu?”

“Aku akan menolakmu,” jawab Irina cepat, lugas, tanpa pikir panjang. “Kau bukan tipeku.”

“Aku ini tipe ideal semua wanita.”

“Kecuali aku,” tandas Irina sambil menarik tangannya. “Apa yang kau ingin bicarakan?”

“Aku akan kuliah di luar negeri.”

“Baguslah,” balas Irina tenang. “Jadi negara ini, terutama wanita-wanitanya, bisa konsentrasi membangun negeri selama kau tidak di sini.”

Chanyeol terkekeh, entah mengiyakan atau hanya tanggapan sederhana. Tetapi senyumannya hilang dalam sekilas, dan kedua tangan Chanyeol meraih tangan Irina. Chanyeol menarik gadis itu, membuat jarak di antara wajah mereka hanya tinggal satu atau dua jari.

“Apa yang kau lakukan?” desis Irina.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Chanyeol. Yang Irina ingat, satu kedipan mata, Chanyeol sudah menciumnya dalam-dalam.

“Kau gila!” Irina mendorong Chanyeol kuat-kuat, lalu meninggalkan pria itu tanpa menatap lagi.

“Aku tidak gila,” ujar Chanyeol pada punggung Irina yang berlalu. “Aku hanya… terlalu jatuh cinta padamu.”

 Dan Chanyeol tidak tahu apa yang ada di hati Irina.

“Seandainya kau bisa serius, Park Chanyeol. Aku akan menerimamu kalau kau tak mempermainkan aku.”

-End-

<Inspired by EXO’s Lightsaber>

Advertisements

2 thoughts on “The Lone Flower [4/4]

  1. Lalalalovelove says:

    Sori ni aku komen nya cuma di part akhir soalnya ga sabar mau baca endingnya. Tp menurutku ini komedinya oke kok. Ngena dan bikin ketawa krn hal kecil.. sekaligus bikin nagih. Chanyeol nya itu astagaaaa sangat pacarrrr…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s