Painful Goodbye

Painful Goodbye

| I pray for your happiness like I pray for mine |

| Oneshot | Taeil NCT, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae | Love, Romance, Family, Life |

-=-

Taeil terbangun karena dering handphone di malam itu begitu ribut. Ia mengambil benda tipis itu, membaca nama di layarnya yang berkedip, lalu buru-buru menjawabnya.

“Ya, Hyunrae-ya?” tanya Taeil separuh mengantuk. “Apa? Kyuhyun Hyung? Oke, oke… Kau tunggu di sana, oke? Aku akan datang segera.”

Pria itu melompat turun dari kasurnya dan memakai sepatu terburu-buru, lantas mengambil kunci mobil yang tergeletak di mejanya.

-=-

Hujan turun deras ketika mobil Taeil berhenti di tepian sebuah taman kosong. Pria itu tak peduli lagi dengan payung ataupun penangkal hujan lainnya. Ia langsung turun dari mobil dan berlari ke taman itu. Matanya menatap ke seluruh penjuru taman, mendapati seorang wanita tengah terduduk di bangku taman, di bawah guyuran air hujan.

“Hyunrae!” Taeil berseru dan berlari mendekati wanita itu.

“Taeil-ah?” gadis itu menoleh, lalu hendak berdiri meski kakinya tak kuat dan nyaris terjatuh kalau Taeil tak menangkapnya.

“Apa kau bodoh? Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kyuhyun… Kyuhyun… dia…” dan Hyunrae menangis di tengah hujan deras itu.

“Apa yang terjadi dengan kalian?” Taeil bertanya khawatir.

“Dia… ingin berpisah… dariku, Taeil-ah.”

Taeil menekuk alisnya tak mengerti, sementara Hyunrae menangis lebih deras lagi. Akhirnya Taeil maju selangkah dan memeluk Hyunrae erat-erat, membiarkan gadis itu menangis di bawah guyuran air hujan.

“Tidak apa-apa,” bisik Taeil berkali-kali sambil mengusap rambut Hyunrae yang basah. “Tidak apa-apa, Hyunrae-ya. Tidak apa-apa. Aku ada di sini. Aku ada denganmu. Aku akan selalu di sisimu.”

“Aku sangat mencintainya, Taeil-ah. Aku cinta padanya. Ini tidak adil!”

“Iya, aku mengerti.”

“Ini… tidak adil… bagiku, Taeil-ah… Ini tidak… tidak adil…” Hyunrae terputus-putus berkata sambil menangis.

“Aku mengerti. Aku tahu, Hyunrae-ya. Aku tahu,” bisik Taeil pelan. “Aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Masuk ke mobilku, Hyunrae.”

-=-

Taeil yang basah kuyup itu sampai di rumah setelah mengantar Hyunrae pulang. Pria itu berlari masuk ke rumah, mengabaikan sapaan para pelayan rumahnya yang menyambut kedatangannya. Otak pria itu punya satu tujuan yakni berlari melewati tangga dan mendobrak pintu salah satu ruangan di lantai dua.

“Kyuhyun Hyung!” Taeil berseru.

Kyuhyun menatap Taeil dengan wajah tanpa ekspresi. Tangan Kyuhyun menggantung di lehernya sendiri, hendak membuka lilitan dasi birunya.

“Tak punya sopan santun, Moon Taeil,” desis Kyuhyun dingin. “Sama persis seperti ayahmu yang merebut ibuku dari aku dan ayahku.”

Tangan Taeil terkepal akibat emosi panjang. Ia berlari ke arah Kyuhyun dan memukul wajah pria itu tanpa basa-basi.

“Brengsek kau, Hyung!” Taeil berteriak marah. “Apa yang kau lakukan pada Hyunrae?”

Kepala Kyuhyun tertoleh sejenak, dan ada sisa kemerahan di sudut bibirnya. Tapi ia santai saja, tak marah ataupun membalas. Kyuhyun malah mengusap bibirnya pelan dan menatap Taeil dingin.

“Mengakhiri hubunganku dengan Hyunrae. Kenapa?”

“Sialan!”

Mendengar nada tenang Kyuhyun, Taeil melayangkan satu tangannya lagi. Tapi Kyuhyun menghalaunya, menangkap tangan Taeil dengan mudah.

“Aku bukan pandai bela diri sepertimu, Moon Taeil. Jadi jangan seperti ini,” desis Kyuhyun tanpa nada. “Aku punya alasan untuk berpisah dari Hyunrae. Kau tak perlu ikut campur.”

“Hyunrae… Hyunrae sangat mencintaimu, Hyung. Apa kau tidak tahu?” Taeil berkata dengan napas memburu akibat marah.

“Tahu,” jawab Kyuhyun singkat. “Tapi aku tidak bisa lagi bersamanya.”

“Kenapa, Hyung?” jerit Taeil. “Katakan alasanmu!”

“Hanya… tidak bisa lagi bersamanya. Apa itu tidak cukup?” jawab Kyuhyun.

“Aku tidak percaya kau akan tega melakukan ini padanya, Hyung,” Taeil marah dan menghempas tangan Kyuhyun sambil berbalik untuk meninggalkan ruangan Kyuhyun.

“Kenapa kau ikut campur urusanku dengan Hyunrae?” tanya Kyuhyun akhirnya.

“Aku mencintai Hyunrae lebih dari apapun dan lebih dari siapapun, Hyung. Bahkan lebih dari dirimu,” ujar Taeil membuat Kyuhyun terdiam.

Keduanya berada dalam keheningan yang tak bisa terbaca hingga Kyuhyun menghela napasnya.

“Moon Taeil,” panggil Kyuhyun pelan sebelum Taeil benar-benar meninggakan ruangan itu.

Tapi Taeil tak berbalik. Ia hanya berhenti, menatap pintu dan tangannya juga sudah mengambang di udara untuk membuka pintu itu.

“Jangan panggil namaku, Hyung.”

“Tolong jaga Hyunrae kalau kau mencintainya.”

“Ia tidak perlu aku. Hyunrae hanya butuh dirimu, Hyung.”

Akhirnya Taeil meninggalkan ruangan itu, menyisakan Kyuhyun yang menatap pintu dengan wajah hampa. Kyuhyun termenung sejenak, lalu memegang kepalanya sendiri tiba-tiba. Ia tertatih berjalan ke kamar mandi, lalu menunduk di wastafel. Cairan kemerahan mengalir dari hidungnya, begitu pula tetesan kecil air matanya.

“Kau tidak tahu, Taeil-ah. Aku juga mencintai Hyunrae lebih dari apapun di dunia ini.”

-=-

Hyunrae menaruh dagunya di tangan, bertumpu pada sikunya sambil mengaduk kopinya tanpa semangat. Sementara Taeil duduk di hadapannya, berusaha mengajaknya berbicara tanpa henti.

“Kudengar konser itu akan meriah. Kau tak mau datang?” tanya Taeil sambil mengangkat alis.

Hyunrae menggeleng malas, tak ada keinginan menjawab.

“Tak ada yang menyenangkan tanpa Kyuhyun, Taeil-ah.”

“Aku akan menemanimu.”

“Tidak perlu.”

Taeil menghela napas kesal, lalu bersandar pada kursinya dengan malas.

“Apa bagusnya kakakku yang dingin dan tak punya ekspresi itu? Kenapa kau selalu tergila-gila padanya, Hyunrae?”

“Kyuhyun itu… misterius, penuh rahasia, dan daya tarik,” Hyunrae tersenyum tanpa sadar ketika bercerita tentang Kyuhyun. “Aku menyukainya sejak kami berkuliah di tempat yang sama. Kadang, aku tak percaya bahwa ia memilihku pada akhirnya.”

“Kyuhyun Hyung dingin dan menyebalkan. Ia sangat membenci ayahku. Karena itu ia tak pernah mengganti nama keluarganya. Padahal, kami berbagi ibu yang sama. Aku ini adik kandungnya.”

“Ia hanya… kesepian, Taeil-ah. Ia kesepian, tidak punya siapapun untuk diajak bercerita, dan akhirnya menyimpan semuanya sendiri. Ayah dan ibunya berpisah, ibunya menikah lagi dengan ayahmu, melahirkanmu, dan meninggal. Ia tak punya siapa-siapa lagi.”

“Kenapa kau selalu membelanya? Ia jelas-jelas melukaimu, kan?”

“Aku masih dan akan selalu mencintai dia, Taeil-ah. Aku… sangat mencintai dia. Aku rela melakukan apapun untuk dia, Taeil-ah.”

“Berhentilah mencintainya,” tukas Taeil kesal. “Kau harus melupakannya. Dia tidak mencintaimu sebagaimana kau cinta padanya.”

“Aku tahu.”

“Lalu, kau masih bersikeras ingin bersamanya?!” suara Taeil meninggi. “Apa kau tak pernah melihat ada orang lain yang selalu bersamamu?”

“Ada,” jawab Hyunrae. “Kau. Tapi aku selalu menganggapmu sahabatku, Moon Taeil.”

“Berhentilah menganggapku sahabatmu. Aku bisa menggantikan Kyuhyun Hyung. Kau akan jauh lebih bahagia bersamaku.”

“Aku tidak bisa menggantikan Kyuhyun dengan siapapun. Dan aku tidak mau kalau kau hanya menjadi sebuah substitusi, sebuah pengganti. Itu artinya aku melukaimu, sahabatku sendiri.”

“Aku tidak keberatan, Hyunrae-ya. Jadi pilihan terakhir atau jadi substitusi tak ada bedanya.”

Keduanya diam, saling menatap satu sama lain dengan wajah tak terbaca. Hyunrae menaruh sendoknya dan bersandar lelah pada kursi.

“Jika kau membahas ini lagi, aku tak akan menemuimu lagi selamanya.”

-=-

Kyuhyun meradang, menatap sosok pria muda yang berdiri di dekat meja kerjanya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku, Moon Taeil?” ujar Kyuhyun dengan nada benci.

Taeil menatap Kyuhyun dengan sulit, lalu memperlihatkan sebuah map pada Kyuhyun.

“Ini milikmu?” tanya Taeil dengan tangan agak gemetar.

“Diam, dan keluar dari kamarku.”

“Jawab aku, Cho Kyuhyun! Apa ini milikmu?!” Taeil menaikkan nada bicaranya.

“Diam! Dan keluar sekarang juga, Moon Taeil!”

Taeil merasakan matanya berkaca-kaca. Lalu pria muda itu membanting map di tangannya ke lantai, membuat isinya berhamburan. Ada beberapa lembaran kertas tabel-tabel dan foto-foto hasil roentgen di dalamnya.

“Apa kau pernah mengatakan ini pada Hyunrae?” desis Taeil sambil memungut hasil roentgen otak milik Kyuhyun.

“Ini bukan urusanmu!”

Tetapi Taeil tertawa miris, dan setetes air matanya jatuh.

“Kau… bahkan sampai detik ini pun, kau tak pernah menganggapku sebagai adikmu, kan?” Taeil berkata dengan tangan masih gemetar sampai ia meremas hasil roentgen itu. “Bahkan, mungkin sampai mati, kau tak akan menganggapku adik.”

“Adikku sudah mati. Karena ayahmu,” jawab Kyuhyun dingin. “Adik perempuan itu, dia mati karena ibuku memilih untuk bersama ayahmu. Apa kau lupa?!”

“Itu kecelakaan, dan sama sekali tidak melibatkan ayahku. Berhenti menyalahkan ayahku, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun naik darah. Ia maju beberapa langkah dan menarik kerah baju Taeil, mencengkramnya kuat-kuat hingga Taeil berjinjit kecil karena ia kalah tinggi dari Kyuhyun.

“Kalau bukan karena ayahmu, aku dan adikku masih memiliki keluarga yang utuh sekarang. Adikku tidak akan pernah menangis merengek untuk menemui ibu, memaksa ayahku untuk menyetir malam-malam di tengah hujan demi ke rumah ini dan mendatangi ibuku. Jika itu tidak terjadi, tidak akan ada kecelakaan apapun, Moon Taeil,” Kyuhyun berdesis dengan mata memerah. “Kau pasti tidak pernah mengetahui hal ini sebelumnya, kan?”

“A-apa… m-maksudmu…?”

“Ya, ya, tentu saja kau tidak akan tahu. Karena ibu memaksaku untuk merahasiakannya darimu, anak kesayangan ibuku. Apa kau tak pernah puas merebut kasih sayang orang lain dariku?”

“Hyung…,” panggil Taeil lemah disertai tetesan air mata. “Aku ingin menjadi keluargamu, Hyung. Tapi kau selalu membenciku dan memilih menyimpan segalanya sendiri. Bukankah kita ini saudara kandung, Hyung?”

Kyuhyun semakin marah mendengar kata-kata itu dan menghempas Taeil ke lantai. Tangan Kyuhyun menarik hasil roentgen dari Taeil, tak peduli ringisan pelan adiknya.

“Jika aku hidup, aku tak ingin berurusan denganmu. Jika aku mati, itu bukan urusanmu.”

“Apa kau berpisah dari Hyunrae karena itu, Hyung?” Taeil berkata pelan, membuat tubuh Kyuhyun membeku ketika nama gadisnya disebut. “Karena kau akan mati, kau memutuskan untuk berpisah dari Hyunrae. Apa begitu, Hyung?”

“Aku sudah bilang padamu, kalau kau cinta pada Hyunrae, kau bisa memilikinya.”

“Hyunrae bukan barang, Hyung. Hyung bisa saja memberikannya padaku. Tetapi ia tak ingin bersamaku. Dia terlalu… mencintaimu, Hyung.”

“Kalau begitu, akan kukatakan nanti pada Hyunrae. Akan kukatakan kalau aku tak mencintainya lagi dan ia harus bersamamu. Kau tenang saja.”

“Apa kau tak punya cara lain yang tidak menyakitinya, Hyung?” bisik Taeil lirih. “Aku benci melihatnya menangis. Sangat benci, Hyung.”

“Kalau dia menangis, kau akan menjadi orang yang menghapus air matanya. Jadi aku tak khawatir sama sekali.”

“Hyung, aku benar-benar membencimu kali ini. Kau egois, Hyung. Sangat egois,” Taeil berkata tanpa pikir panjang sambil mengeluarkan handphone dari sakunya. “Aku akan mengatakannya pada Hyurnae sekarang juga.”

“Tidak!” Kyuhyun berseru. “Jangan lakukan itu, Moon Taeil. Aku yang akan mengatakannya. Kau jangan bertindak bodoh. Jangan melukai Hyunrae!”

“Katakan sekarang, Hyung. Buat janji dengannya sekarang juga. Aku ingin melihatnya.”

Menghela napas, Kyuhyun mengeluarkan handphone miliknya sendiri dan menekan nomor Hyunrae. Pria itu menempelkan handphone ke telinga sembari menatap Taeil dengan tatapan kesal.

“Cho Hyunrae, ini aku,” dan hening sejenak. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Apa kau bisa menemuiku besok sore di café dekat tempat kerjaku?”

-=-

Matahari sudah terbenam saat Taeil menghentikan sepedanya di pinggir jalan. Pria itu mengambil handphone miliknya yang bergetar dan menatap nama di layar dengan khawatir.

“Ya, Hyunrae-ya?” jawab Taeil cepat.

Taeil-ah, cepat datang! Kakakmu… Kyuhyun… dia… Aku tidak tahu… tapi dia…

“Di mana kau sekarang?”

Aku di rumah sakit Seolhwan, Taeil-ah. Dokter menyuruhku menghubungi keluarga Kyuhyun. Dia pingsan setelah mimisan dan pusing berat. Aku… aku tidak tahu… Dokter berkata bahwa Kyuhyun mendaftar sebagai calon penerima donor jantung… Aku tidak mengerti, Taeil-ah…

Dan Taeil tak bisa lebih panik lagi ketika tangis Hyunrae pecah.

“Oke, Hyunrae-ya. Kau tenang dulu. Aku akan ke rumah sakit sekarang.”

Taeil mengantongi handphone di tangannya dan menjalankan sepeda tanpa menoleh. Ia tak tahu bahwa ada sebuah mobil berkecepatan tinggi tengah berjalan saat itu. Yang Taeil ingat adalah sebuah suara klakson keras disertai benturan hebat. Sesudahnya, gelap.

-=-

Sebuah ambulans sampai di rumah sakit Seolhwan, disertai beberapa dokter dan perawat yang menghampirinya. Seorang laki-laki dibawa keluar dengan tandu dari ambulans dan dilarikan ke ruang gawat darurat.

“Dia mengendarai sepeda dan mengalami tabrakan hebat. Benturan di kepalanya sangat fatal. Dia juga kehilangan banyak darah.”

“Siapkan ruang operasi segera!”

“Baik!”

Di lantai dua rumah sakit itu, Hyunrae berdiri dengan cemas sambil memegangi handphone. Taeil belum juga datang, dan pria itu tak menghubunginya. Hampir Hyunrae melonjak ketika sebuah telepon masuk dari nomor tak dikenal.

Dengan Hyunrae?

“Ya?”

Anda kenal Moon Taeil?

“Ya. Dia temanku.”

Teman Anda baru saja mengalami kecelakaan sepeda dan sedang berada di rumah sakit Seolhwan. Apa Anda bisa datang sekarang?

Kaki Hyunrae terasa lemas, lututnya gemetar, dan ia jatuh merosot ke lantai.

-=-

Mata itu terbuka sedikit demi sedikit, menerima cahaya dari sekitarnya meski masih tak memiliki tenaga apapun.

“Cho Kyuhyun? Kau bangun?!”

“Hyun…rae…?”

“Kau bangun, Kyuhyun-ah?!” Hyunrae mulai menangis. “Kau bangun, Kyuhyun-ah?” ulangnya.

“A-apa… yang t-terjadi…?”

“Kenapa kau tak pernah bilang padaku tentang donor itu, Cho Kyuhyun?” seru Hyunrae tanpa pikir panjang. “Kau benar-benar pria bodoh! Kenapa tak kau katakan saja bahwa kau akan mati sebentar lagi?! Aku tidak apa-apa kalau kau mengatakannya!”

Mata Kyuhyun sedikit membesar ketika kata-kata itu keluar dari mulut Hyunrae.

“A-apa… Taeil… m-mengatakannya p-pada… mu…?”

“Taeil?” bisik Hyunrae pelan. “T-taeil… dia… dia… kecelakaan, Kyuhyun-ah. Ketika aku bilang bahwa kau masuk rumah sakit, ia mengendarai sepedanya ke sini. Tapi di tengah jalan… dia…”

Hyunrae tak sanggup mengatakan apa-apa lagi dan hanya menunduk ke lantai. Di luar dugaan, Kyuhyun bangun dan terduduk sambil menatap Hyunrae.

“Di mana dia sekarang?”

“Di unit gawat darurat. Ia baru selesai dioperasi, tetapi belum sadar. Dokter khawatir, jika dalam sehari ia tak sadar, nyawanya tak tertolong.”

“Lalu, kenapa kau di sini?” Kyuhyun bertanya tak percaya. “Kau seharusnya menunggui dia. Bukan aku!”

Hyunrae terkejut dengan reaksi Kyuhyun. Gadis itu menatap Kyuhyun tak mengerti, dan matanya berkaca-kaca.

“M-maksudmu…?”

“Apa kau bodoh?!” Kyuhyun berkata dengan nada marah. “Taeil itu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu! Kau seharusnya sadar itu! Dia tidak pernah menyakitimu seperti aku! Kau seharusnya memilih dia! Bukan aku!”

Kyuhyun berusaha turun dari kasurnya tertatih-tatih. Hyunrae buru-buru menolongnya berdiri.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin melihat Taeil.”

-=-

Tubuh Taeil terbaring di atas kasur rumah sakit. Berbagai alat menempel di tubuhnya, berusaha mempertahankan hidupnya. Kyuhyun menatap Taeil datar ketika ia membuka pintu ruangan adiknya.

“Bodoh,” dengus Kyuhyun. “Kalau kau mati, siapa yang menemani Hyunrae?” desis Kyuhyun. “Aku akan mati, Bodoh. Kalau kau mati juga, tak ada yang tersisa di dunia ini. Apa kau ingin melihat Hyunrae menangis lagi?”

Hyunrae menelan ludahnya berat ketika kata-kata itu keluar dari mulut Kyuhyun. Air mata gadis itu meluncur tanpa sadar, tapi ia buru-buru menghapusnya.

“Apa kau tidak bisa lebih manis pada adikmu?” isak Hyunrae pelan.

“Adikku yang bodoh,” Kyuhyun berkata dengan nada bergetar. “Jangan mati, Bodoh,” ujar pria itu sambil menangis lagi. “Kalau kau mati, Hyunrae akan sedih!”

“Taeil-ah, dengarkan kakakmu,” ujar Hyunrae pelan sambil masih menangis. “Dengarkan dia, Taeil-ah. Aku tahu bahwa kau tak suka mendengarkannya. Tapi kali ini saja, dengarkan dia.”

Suara monitor jantung Taeil bergejolak tiba-tiba. Kyuhyun dan Hyunrae tersentak mendengarnya. Otomatis, bel bebunyi keras dari ruangan itu. Beberapa dokter dan suster tiba di sana tanpa perlu dipanggil.

“Moon Taeil!”

Kedua mata Taeil terbuka perlahan, lalu ia menatap langit-langit dengan perasaan hampa. Ia berusaha mengeluarkan suara, menelan semua rasa sakitnya hingga suara seraknya keluar untuk pertama kalinya.

“Hyung… Hyunrae…”

“Moon Taeil?! Moon Taeil?!” Kyuhyun berseru-seru panik ketika Taeil membuka matanya.

“Hyung, kau… baik-baik saja?” tanya Taeil lemah sambil menahan sakit.

“Dasar bodoh,” desis Kyuhyun sambil membuang muka. “Ini bukan saatnya kau memikirkan aku, Moon Taeil. Kau harus bertahan hidup.”

“Aku tidak… yakin,” bisik Taeil pelan. “Tapi, Hyung, kalau… aku tak bertahan hidup, kau… kau… boleh ambil… jantung milikku. Kau butuh itu, kan? Dan kau… bisa jaga Hyunrae, kan? Aku tahu bahwa… Hyung mencintainya.”

“Tekanan darah pasien menurun drastis!”

Seruan perawat itu membuat Hyunrae membekap mulutnya sendiri dan menangis karena ketakutan. Ia takut kehilangan Kyuhyun, dan ia takut kehilangan Taeil. Kyuhyun memegang tangan Taeil sambil menangis kecil. Dokter-dokter di sana langsung menyuruh Kyuhyun dan Hyunrae keluar dari ruangan Taeil.

“Ia akan baik-baik saja,” kata Kyuhyun pelan, pada Hyunrae dan pada dirinya sendiri.

“Ini semua salahku,” Hyunrae terduduk di kursi dan menangis. “Kau, Taeil, dan semua ini… semuanya salahku…,” raung Hyunrae sambil menangis.

“Tidak, Hyunrae. Ini bukan salahmu.”

Mereka menanti dalam kesedihan, tahu bahwa Taeil tak akan selamat setelah ini.

-=-

Kyuhyun dan Hyunrae adalah dua orang terakhir yang masih ada di sana, di hadapan makam Taeil yang masih belum mengering. Tangis Hyunrae tak berhenti, ia terus membasahi matanya dengan air mata. Kyuhyun berdiri di sampingnya, lebih tegar walaupun hatinya juga sangat sakit.

“Aku tidak pernah menyangka bahwa ia akan mati lebih dulu dari aku,” kata Kyuhyun pelan.

Hyunrae menghapus jejak air matanya, lalu memandang Kyuhyun dengan sedih.

“Apa kau pernah menyayanginya?”

“Aku ingin. Tapi sulit. Aku tak bisa melupakan perbuatan ayahnya. Hanya saja, setelah aku menderita sakit, aku memikirkanmu,” cerita Kyuhyun perlahan-lahan. “Aku berpikir, kalau aku mati nanti, hanya dia satu-satunya yang bisa menjagamu. Sejak itu, aku mulai menaruh harapan padanya.”

“Apa kau pernah mencintai aku?”

Dada Kyuhyun terasa sakit tanpa alasan. Ia mengerang, lalu terjatuh hingga berlutut ke tanah. Napasnya memendek, dan ia merasakan matanya berkaca-kaca.

“Sepertinya jantung ini mendengar pertanyaanmu,” bisik Kyuhyun sambil berusaha tersenyum. “Aku selalu mencintaimu, sebagaimana pemilik jantung ini mencintaimu.”

-=-

Otak Kyuhyun memutar kenangan tentang malam itu, malam saat Taeil membuka semua rahasia terdalamnya.

“Hyunrae, ini aku,” dan hening sejenak. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Apa kau bisa menemuiku besok sore di café dekat tempat kerjaku?”

Kyuhyun mematikan sambungan setelah mendengar jawaban Hyunrae. Ia menatap Taeil dalam-dalam, lalu menaruh handphone miliknya di meja.

“Kau puas, Moon Taeil?”

“Hyung,” panggil Taeil pelan. “Apa kau pernah mencintai Hyunrae?”

Kyuhyun diam, matanya sedikit memerah. Tapi pria itu membuang muka, tak ingin menangis di hadapan Taeil.

“Kalau aku tak mencintainya, aku tidak akan melakukan ini. Aku ingin dia bahagia, tanpa mengetahui kesulitanku. Aku ingin dia bahagia bersamamu karena aku tahu, satu-satunya orang yang bisa membuatnya bahagia adalah kau.”

“Hyung, kenapa kita selalu mendoakan kebahagiaan orang lain seolah-olah itu adalah kebahagiaan kita?”

Kyuhyun tahu jawabannya.

“Karena, ketika kita bahagia dengan melihat orang lain bahagia, itu adalah cinta.”

-End-

Advertisements

14 thoughts on “Painful Goodbye

  1. bbhbyunbae says:

    “Karena, ketika kita bahagia dengan melihat orang lain bahagia, itu adalah cinta.”
    merinding gila… ternyata kyuhyun bukannya tak cinta.. justru sangat cinta..

  2. Keykan says:

    Kak awalnya aku benci sama kyuhyun tp ternyata gtuuu..
    Kok aku iri sama ceweknya.. dia diberikan kebahagiaan oleh 2 cowok secara tulus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s