After All These Years

After All These Years.jpg

| After all these years, I still love you |

| Oneshot | Suho EXO, Jo | Fantasy, Love, Romance, Life |

-=-

Suho membuka laci mejanya, hendak menaruh buku-buku pelajaran miliknya di sana sebelum kelas pertama dimulai. Tetapi, selembar kertas yang dibuat lusuh mengganjal di dalam laci mejanya. Pria itu menyelipkan tangannya, mengambil kertas tersebut.

“Hei, Suho.”

Langsung Suho menoleh ke sumber suara tersebut.

“Hai, Chen. Sudah mengerjakan tugas kemarin?” balas Suho sambil duduk dan meratakan kertas lusuh di tangannya.

“Sudah, tentu saja. Kau tahu sendiri kalau guru kita itu mengerikan.”

Suara bel sekolah berbunyi nyaring, membuat Chen melambaikan tangannya sekali sebelum kembali ke mejanya sendiri. Sementara Suho menaruh buku-bukunya ke dalam laci meja, lalu menatap kertas yang ia temukan tadi.

‘Siapapun yang menemukan kertas ini, tolong jawab aku. Aku butuh bantuan.’

Suho menekuk alisnya tak mengerti, membacanya sekali lagi sebelum memutuskan untuk mengambil pena dan menuliskan balasan.

‘Apa yang bisa kubantu?’

Dan pria itu menyelipkan kertas tersebut di laci meja sekolahnya lagi.

-=-

Seperti sebuah tanggapan dari teman jauh, Suho mendapat balasan esok harinya. Tulisan tangan rapi itu menjawab pertanyaan Suho di lembar kertas lusuh yang Suho temukan.

‘Aku menanti jawaban sekian lama. Akhirnya ada yang menjawabku. Terima kasih. Aku dari kelas sore. Maaf kalau aku merepotkanmu, tetapi aku ini anak yang ceroboh. Kadang aku meninggalkan alat tulis atau buku catatan di laci tanpa sengaja. Tolong jangan dibuang. Sekali lagi terima kasih.’

Suho mengambil alat tulisnya dan buru-buru membalas.

‘Tak masalah. Aku bisa menyimpannya untukmu.’

Pintu kelas itu terbuka, dan seorang guru masuk sambil membawa kamus. Suho langsung menyelipkan kertas itu di lacinya lagi, tak ingin ada orang lain yang menemukannya.

-=-

Kejadian itu berlangsung selama tiga bulan. Suho berteman dengan seseorang yang ia tak pernah lihat di hidup nyatanya. Hanya selembar kertas yang menjadi media pertemanan itu. Suho penasaran, tetapi ia menyukai cara kuno ini. Menyenangkan baginya, dan ia tahu bahwa ini menyenangkan pula bagi sahabat pena itu.

‘Kau kelas pagi? Menyenangkan sekali! Aku tidak bisa ikut kelas pagi karena harus bekerja di toko orangtuaku. Siapa namamu? Aku Jo, anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Usiaku delapan-belas tahun. Aku punya satu kakak laki-laki yang bekerja sebagai arsitek. Bagaimana denganmu?’

‘Namaku Suho, aku anak tunggal. Kita seumur. Kau sudah bekerja? Hebat sekali. Tulisanmu sangat rapi. Aku tidak bisa membuat tulisan sebagus dirimu. Apa hobimu?’

‘Hobiku menulis cerita. Suatu hari nanti aku akan jadi novelis besar, Suho. Aku harap begitu. Apa cita-citamu? Selain itu, apa hobimu? Ceritakan lebih tentang dirimu, Suho.’

‘Aku ingin jadi produser. Tapi orangtuaku tidak suka dengan cita-citaku. Mereka ingin aku melanjutkan perusahaan mereka. Aku tidak mau melakukannya. Kadang orangtua masa kini suka memaksakan kehendak yang tak masuk akal. Hobiku menonton film dan sesekali bermain musik.’

‘Orangtua sudah sejak dulu suka memaksa kehendak mereka. Waktu itu aku ingin belajar sastra, tetapi orangtuaku juga menolaknya. Mereka ingin aku jadi dokter. Karena itu aku sekarang belajar keras untuk menjadi dokter. Aku juga pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang dekat denganku. Tetapi lagi-lagi orangtuaku menolaknya. Jadi kami berpisah.’

‘Kau sangat penurut. Aku harap orangtuaku tak kecewa kalau aku sedikit memberontak. Jadi, bagaimana dengan hubunganmu dan pria itu sekarang?’

‘Pria itu sudah memiliki kekasih lain. Dan aku masih mengerjar cita-cita orangtuaku untuk menjadi dokter. Sulit memang, tapi aku berusaha. Apa musik favoritmu? Apa film kesukaanmu?’

‘Maroon 5. Kau tahu, kan? Dan film yang kusukai adalah Hunger Games.’

‘Tidak. Apa itu musisi terkenal? Apa film Hunger Games itu juga terkenal? Aku tidak pernah mendengarnya.’

‘Kau tidak tahu Maroon 5 dan Hunger Games?! Kau hidup di gua selama ini? Mungkin kau tidak tertarik dengan musik dan film terbaru. Jo, bagaimana kalau kita bertemu?’

‘Boleh. Aku akan sangat senang bertemu denganmu. Kapan dan katakan saja padaku tempat yang kau inginkan. Aku akan datang.’

‘Sabtu nanti, di tempat makan yang ada di ujung jalan. Kau tahu tempat itu?’

‘Tidak. Memangnya ada tempat makan di sana?’

‘Ada. Kau tidak tahu? Itu dekat sekolah kita. Tapi tak masalah, aku bisa mengganti tempat pertemuannya. Bagaimana kalau di taman dekat sekolah? Kau pasti tahu tempat itu. Jam dua siang. Aku akan pakai baju biru tua.’

‘Oke, aku tahu tempat itu. Sampai bertemu Sabtu nanti.’

-=-

Jantung Suho berdetak kencang, penasaran bukan main tentang Jo yang selama ini berbalas surat dengannya. Jam dua tepat, ia menanti di taman itu sambil melihat sekelilingnya. Tetapi, tak ada tanda-tanda seorang gadis yang menghampirinya untuk memperkenalkan diri sebagai Jo. Suho menunggu tiga jam lamanya, tetapi gadis itu tidak datang. Akhirnya ia pulang dengan kecewa sembari menanti hari sekolah demi menulis surat pada Jo.

‘Kau tidak datang? Aku menunggumu tiga jam.’

‘Aku datang, tetapi aku tidak melihat ada pria berbaju biru tua di sana. Aku menunggu tiga jam juga. Sayang sekali, ya. Mungkin kita tidak saling melihat satu sama lain. Bagaimana kabarmu?’

‘Baik, meski agak kecewa karena tak bertemu denganmu. Kau?’

‘Agak buruk. Ibuku mulai mengenalkanku pada pria-pria yang tak kusukai. Ia berniat menjodohkan aku setelah aku selesai sekolah. Jika akhirnya akan seperti ini, ia tak perlu susah-susah menyuruhku untuk jadi dokter. Aku kesal dan ingin marah. Tetapi aku tak punya teman untuk bercerita selain kau, Suho. Aku putus asa, ingin mengakhiri hidupku. Kadang aku berharap bahwa aku bisa terbang dan meraih kebebasanku.’

‘Jangan berpikiran seperti itu. Kau harus optimis. Bisa jadi kau menemukan pria yang baik dan cocok untukmu. Katakan pada orangtuamu kalau kau ingin menyelesaikan kuliah lebih dulu dan tetap menjalin hubungan baik dengan pria itu. Bisa jadi ibumu setuju.’

‘Akan kucoba saranmu. Tapi aku tak yakin akan berhasil. Kakak laki-lakiku pergi dari rumah setelah memberontak dua tahun lalu. Ia tak ingin tinggal bersama orangtua kami lagi. Sejak itu aku kesepian. Aku merasa kesepian sampai akhirnya kau membalas suratku. Terima kasih Suho.’

‘Tak masalah, Jo. Aku akan menjadi teman yang baik untukmu. Akhir bulan nanti akan ada acara musik mingguan di balai kota. Acara musik itu sudah menjadi tradisi puluhan tahun. Kau mau datang? Kita bisa bertemu di sana.’

‘Boleh. Tentu aku akan datang. Aku akan pakai baju kuning dan berdiri tepat di depan pintu tiga pukul enam sore. Kau tahu pintu tiga, kan?’

-=-

Suho berdiri di depan Gate C pukul enam sore. Ia mencari orang berbaju kuning yang akan bertemu dengannya. Tapi Jo tidak muncul hingga acara musik di balai kota itu mulai. Suho tetap berdiri di sana, mengamati arsitektur Gate C sembari membaca keterangan di tembok batu dekat Gate C. Sementara tangannya masih memegang surat yang Jo kirimkan terakhir kali ke laci kelasnya.

“Gate C dulunya disebut pintu tiga. Ternyata Jo memang agak kuno untuk ukuran anak seusiaku. Sebutan pintu tiga terakhir kali dipakai lima-puluh tahun lalu. Pintu ini dirancang oleh arsitek bernama Jeremy Jay untuk adik perempuannya yang berusaha memberontak dari paksaan orangtua mereka. Menarik sekali,” pikir Suho sambil mengangguk kecil.

Tangan Suho menyentuh ukiran indah yang terpahat di batu tembok itu. Ada gambar bunga-bunga yang sangat cantik, awan-awan dan matahari, serta rerumputan hijau.

“Seandainya Jo di sini, aku akan memperlihatkan ukiran indah ini padanya,” kata Suho pada dirinya sendiri.

“Apa tadi kau baru menyebut nama Jo?” sahut seseorang dari belakang Suho.

Suho tersentak, mengira ada gadis itu di sana. Tetapi ketika berbalik, pria itu mendapati orang asing yang di luar ekspektasinya. Bukan gadis berbaju kuning yang memanggilnya tadi, melainkan seorang pria tua yang nampak berkaca-kaca dengan tangan gemetar memegang tongkatnya.

“Apa Anda mengenal saya?” tanya Suho hati-hati.

“Kau Suho?” balas pria itu sambil gemetar. “Apa kau yang bernama Suho?”

Suho meremas kertas di tangannya tanpa sadar, lalu memerhatikan pria di hadapannya itu dari kepala sampai kaki.

“Anda… arsitek Jeremy Jay. Benar, kan?”

“B-benar, Suho. Aku arsitek yang merancang pintu tiga. Aku kakak laki-laki Jo.”

-=-

Suho duduk di bangku taman dengan kesadaran yang masih setengah-setengah. Ini dunia nyata, tetapi rasanya tidak ada yang masuk akal di sini. Arsitek Jeremy Jay duduk di sampingnya, menatap jauh ke langit sore di antara rimbunnya pepohonan.

“Aku sangat penasaran,” ujar arsitek itu pelan. “Jo tiba-tiba mendapat semangat setelah berkawan dengan seseorang lewat surat yang ia selipkan di laci meja sekolah. Ia bercerita bahwa ada laki-laki bernama Suho yang bercita-cita jadi produser. Jo juga menanyakan hal-hal aneh yang awalnya aku tak mengerti. Ia bertanya apakah ada musisi bernama Maroon 5 dan film berjudul Hunger Games. Ia juga bertanya tentang tempat makan di ujung jalan dekat sekolah. Semuanya terasa aneh bagiku.”

Tanpa sadar Suho tersenyum kecil, menatap surat di tangannya dengan sangat sedih. Tulisan-tulisan Jo terasa seperti mimpi dan kenyataan yang menjadi satu.

“Apa dia pernah ingin menemuiku?”

“Sering, Suho. Ia bilang, kau ingin menemuinya di taman dekat sekolah. Maka Jo datang ke sana, menantimu selama beberapa jam. Tapi kau tak datang. Dia sangat kecewa.”

“Aku datang. Tetapi aku tak melihatnya.”

“Tentu saja. Jo sudah tidak ada. Semua itu terjadi puluhan tahun lalu, ketika Jo masih hidup.”

Tubuh Suho menjadi kaku, tangannya gemetar hebat dan surat di tangannya membuatnya semakin bergetar. Suho menatap arsitek di sampingnya dan berkata dengan serak.

“A-apa maksudmu?”

“Jo sudah tidak ada sejak lima puluh tahun lalu. Adikku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Saat itu ia ke balai kota, melihat pertunjukkan musik yang sudah menjadi tradisi di sini. Aku tahu kalau ia berjanji menemuimu. Tetapi ia tidak bertemu denganmu dan memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang itu, kecelakaan tersebut terjadi. Aku kehilangan Jo untuk selamanya.”

“Jadi selama ini, aku berteman dengan seseorang dari dekade lain?” ujar Suho lirih tak percaya. “Aku mengirim surat ke sebuah tahun yang sudah lama terlewati?”

“Ya, itu yang terjadi. Aku sangat penasaran tentang Suho hingga akhirnya aku selalu datang ke pintu tiga. Aku memugar pintu tiga, merancang pembaharuan untuk mengenang adikku yang menantimu di sana. Dan akhirnya, setelah lima puluh tahun, kau datang.”

Suho menatap pintu tiga dengan tak percaya. Ia melihat dengan dalam, nyaris meneteskan air mata di tengah-tengah rasa emosional yang menghimpitnya. Ia tak pernah tahu bahwa Jo menantinya hingga kehilangan nyawanya. Dan tiba-tiba saya, ia merasa begitu berharga dalam hidupnya.

“Tentang Jo… bagaimana wajah gadis itu?”

Jeremy Jay membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah foto hitam putih yang agak pudar termakan usia. Ia memperlihatkan foto itu pada Suho dengan hati-hati.

“Ini… adikku, Jo.”

“Dia… sangat cantik,” ujar Suho tanpa sadar. “Kasihan sekali, ia kesepian.”

“Dulu ia sempat kesepian. Tapi ia bahagia setelah berbalas surat denganmu. Sebuah kebahagiaan yang singkat namun sangat berarti di akhir hidupnya. Aku harus mengatakan terima kasih padamu, Suho. Sekarang, segalanya menjadi lebih jelas.”

“Sayang sekali, Jo tidak sempat melihat tempat makan di dekat sekolah, mendengar lagu Maroon 5 ataupun melihat film Hunger Games bersamaku. Sangat menyedihkan,” ujar Suho pelan.

“Ya, benar. Tapi kau memberikan kebebasan yang lebih besar padanya.”

Arsitek itu memberikan Suho sebuah buku bersampul biru yang nampak sangat tua. Suho membukanya, melihat tulisan tangan yang sangat tak asing di matanya.

“Ini buku harian Jo. Aku akan memberikannya untukmu agar kau bisa mengenalnya lebih baik. Ada namamu beberapa kali tertulis di sana. Dia tak tahu bahwa kau adalah pria dari lima puluh tahun di depannya. Tapi keajaiban memang bisa terjadi kapanpun. Sekali lagi, terima kasih, Suho.”

Pria itu menepuk bahu Suho sekali, lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan Suho di taman itu bersamaan dengan matahari yang mulai terbenam.

-=-

Suho membaca halaman demi halaman dari buku harian Jo. Sesekali pria itu datang ke Gate C, menatap kenangan tentang gadis yang tak pernah ditemuinya itu. Tetapi buku harian Jo terasa seperti sebuah cerita yang dialami Suho secara nyata. Suho sendiri bisa membaca namanya beberapa kali disebut, tertulis oleh sebuah tulisan tangan yang begitu ia kenal. Tulisan tangan Jo.

‘Suho seperti sebuah obat dari sakit panjangku. Aku benar-benar beruntung mengenal Suho, pria yang tak pernah kutemui itu. Tapi mungkin hari ini, aku akan menemuinya untuk pertama kalinya. Suho, terima kasih banyak.’

Itu tulisan terakhir Jo, dengan tanggal yang mengatakan bahwa tulisan tersebut dibuat lima-puluh tahun lalu. Suho tersenyum kecil, menatap langit cerah yang menyinari balai kota.

“Jo, kau tak perlu berterima kasih. Mengenalmu adalah sebuah kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. Terima kasih sudah membagi ceritamu padaku. Aku akan mewujudkan mimpimu untuk menjadi seorang novelis.”

-=-

Sepuluh tahun sesudah itu, sebuah film berjudul After All These Years menjadi booming di pasaran. Disutradarai oleh Suho, seorang newcomer di dunia film, tetapi berhasil membuat cerita yang luar biasa. Cerita fantasi tentang seorang gadis dan seorang pria dari dekade berbeda, tetapi entah bagaimana, bisa berkirim surat satu sama lain.

Dan mereka jatuh cinta.

-End-

Advertisements

2 thoughts on “After All These Years

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s