Traveler

Traveler

| Open your eyes, quietly open your eyes |

| Oneshot | Taeil NCT, Jo | Fantasy, Love, Romance |

-=-

“Siapa pemilik mimpi ini?”

Taeil melihat sekelilingnya, mendapati sebuah lapangan sepak bola berumput yang kosong. Seorang wanita berdiri lima meter darinya, menatap lapangan sepak bola itu dengan penuh perasaan.

“Dia selalu bermain sepak bola di sini,” ujar wanita itu pelan, tak tahu kalau Taeil mendengarnya.

“Siapa?” tanya Taeil cukup keras, membuat wanita itu kaget dan menatap Taeil. “Apa yang kau maksud adalah Yuta Nakamoto, anak pindahan dari Jepang itu?”

Wanita itu mendekati Taeil, lalu memandang Taeil bingung.

“Kapan kau datang ke sini? Aku tak melihatmu.”

“Aku dari tadi di sini, oke?” Taeil melipat tangannya di dada. “Dan apa benar bahwa kau membicarakan Yuta?”

“Bukan urusanmu.”

“Yuta tidak tertarik untuk punya kekasih,” kata Taeil cepat, lalu tertawa kecil sendiri. “Dia ingin fokus dengan pelatihannya di klub sepak bola.”

“Aku tahu,” balas wanita itu singkat sambil membelakangi Taeil.

“Tak ada alasan bagimu untuk tetap menyukainya.”

“Dengar,” balas wanita itu. “Aku melihat Yuta tiga minggu berturut-turut dan aku langsung menyukainya. Tak ada asalan bagiku untuk tidak tetap menyukainya.”

“Kau melihat Yuta di sini? Dia sudah keluar dari sekolah.”

“Ya, aku tahu,” angguk wanita itu. “Beberapa hari lalu, dia keluar dari sekolah untuk fokus pada karirnya sebagai pemain sepak bola.”

Taeil menatap wanita itu dari kepala sampai kaki, lalu akhirnya mengulurkan tangan.

“Aku Taeil. Moon Taeil.”

Wanita itu mengulurkan tangan dan menjawab Taeil hati-hati.

“Namaku Jo, pindahan dari Jerman.”

“Kau ada waktu?” tanya Taeil sambil masih menjawab tangan Jo.

“Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu melihat sesuatu.”

Dan Taeil tak berlama-lama lagi, menarik tangan Jo yang masih berada dalam genggamannya. Ia mengabaikan protes Jo yang berseru-seru minta dilepaskan dan akhirnya gadis itu menurut saja, terserah Taeil ingin membawanya ke mana.

-=-

“Ini tempat latihan Yuta?” Jo berkata tak percaya sambil membekap mulutnya sendiri.

“Hari ini ada pertandingan antara tim Yuta dan seniornya. Kita bisa melihatnya secara gratis.”

Wajah Jo sangat senang, membuat Taeil tersenyum kecil melihatnya. Taeil masih memegang tangan Jo dan mengajak gadis itu memilih tempat duduk. Mereka duduk berdua di kursi penonton yang kosong, merasakan betapa ramainya stadion sepak bola tersebut.

“Aku sangat senang,” ujar Jo tiba-tiba. “Ini pertama kalinya aku melihat pertandingan Yuta secara langsung. Ia pasti sangat keren.”

“Kau sangat mengaguminya, ya?” tanya Taeil meski pria itu sudah tahu jawabannya.

“Ketika melihat Yuta pertama kali di lapangan sepak bola, aku sedang dalam masa yang berat karena baru pindah ke negara ini. Yuta melihatku menangis sendirian dan menemaniku. Ia menghiburku, mengatakan kalau ia juga pindahan dari negara lain. Ia bilang semuanya akan baik-baik saja.”

“Kau sepertinya tipe yang mudah tersentuh,” gumam Taeil cukup keras hingga terdengar Jo.

“Katakan saja begitu,” balas Jo ringkas sebelum menatap lapangan sepak bola di hadapannya.

Yuta Nakamoto, pemain dari Jepang itu muncul bersama rekan satu timnya, memakai seragam warna merah menyala yang membuat dirinya terlihat keren di mata Jo. Orang-orang berseru, memanggil nama Yuta yang memang sangat terkenal di kalangan penggemar. Bahkan Jo bisa melihat sekelompok perempuan cantik berteriak memberi semangat untuk Yuta.

“Sepertinya dia punya banyak penggemar,” pikir Jo tanpa sadar. “Kenapa aku tak pernah menyadarinya sebelumnya?”

“Karena kau orang baru di kalangan ini. Yuta sudah punya banyak penggemar sejak dua tahun lalu. Dia bermain sangat baik dan wajahnya tidak buruk.”

“Tidak buruk?” potong Jo cepat. “Dia itu tampan, Moon Taeil.”

Taeil mengiyakan saja karena pertandingan akan dimulai. Yuta bergerak lincah tepat ketika pluit dibunyikan. Semua orang tahu bahwa Yuta adalah pemain unggulan dengan taktik permainan yang luar biasa. Yuta mencetak dua gol berturut-turut untuk timnya, disambut sorak gembira dari Jo.

“Dia keren, kan?!” Jo berseru senang sambil menggoyangkan tangan Taeil tanpa sadar.

Taeil tersentak kecil, merasakan tangan hangat Jo memegangnya sangat erat. Entah kenapa, dadanya berdesir, jantungnya tidak stabil, dan pikirannya agak kabur.

“I-iya, dia keren,” jawab Taeil gagap.

Tak terasa, permainan sudah mendekati detik-detik terakhir. Tentu saja tim Yuta menang dengan dua gol tanpa balas. Jo sangat senang sampai-sampai ia memegang tangan Taeil tanpa henti.

“Seandainya aku bisa melihatnya lebih lama. Sayang, dia adalah seorang idola besar yang tak mungkin kucapai,” kata Jo tiba-tiba, membuat Taeil menatapnya heran.

“Kau menyerah dengan rasa sukamu pada Yuta?”

Jo menunduk, menatap lantai selama beberapa detik. Suara seruan penggemar Yuta membuat Jo menoleh, mendapati sekelompok gadis di dekatnya melambai-lambai pada Yuta dari jauh. Yuta melihat itu, lalu balas melambai sambil mengucapkan terima kasih sekeras mungkin. Tanpa sadar, Jo tersenyum melihat tingkah Yuta yang sangat manis itu.

“Tak ada gunanya,” jawab Jo. “Yuta berada di sebuah tempat yang tak mungkin aku gapai. Selain itu, kupikir tiga minggu mengenalnya adalah sesuatu yang sudah cukup. Jika aku ada kesempatan untuk mengenal Yuta lebih dekat, tentu akan menyenangkan. Tapi sekarang, aku sudah cukup puas.”

Taeil melihat guratan sedih di wajah Jo, lalu memegang tangan gadis itu hati-hati.

“Ayo kita pulang.”

-=-

Keduanya berjalan perlahan di trotoar menuju halte bis. Taeil tahu bahwa Jo sedang tidak fokus dan masih memikirkan Yuta, idolanya itu.

“Kau bisa pakai bis dari sini sampai rumahmu. Kau tahu, kan?”

Jo mengangkat kepalanya, menatap Taeil dengan agak kosong.

“Iya, aku tahu. Terima kasih.”

Jo hampir meninggalkan Taeil sendirian di sana kalau Taeil tak menahan tangannya cepat.

“Apa kau senang melihat Yuta?”

“Sangat,” Jo tersenyum kecil. “Rasanya seperti mimpi yang sangat indah. Bahkan kalau ini hanya mimpi, aku sudah cukup senang.”

Taeil terdiam, lalu mengangguk kecil. Bis yang Jo tunggu sudah datang, dan gadis itu melambaikan tangan sembari mengucapkan terima kasih. Jo menghilang bersama bisnya, meninggalkan Taeil yang termenung sendiri di halte bis.

“Sayangnya, ini semua hanya mimpi indahmu, Jo. Sampai bertemu lagi di kehidupan nyata kalau takdir memperbolehkannya. Terima kasih sudah membiarkan aku masuk ke mimpimu.”

-=-

Taeil membuka matanya dengan lelah, merasakan sisa-sisa mimpinya semalam membekas di kamar tidurnya. Cahaya matahari masuk lewat jendela, mengatakan padanya bahwa ini sudah pagi.

“Mimpi yang cukup menyenangkan,” kata Taeil pada dirinya sendiri.

Ia beranjak ke kamar mandi, lalu mencuci mukanya dengan cepat. Tanpa berlama-lama, Taeil mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Tangannya menarik tas ransel yang tergeletak di kursi, dan ia pun pergi dari rumah.

-=-

“Kenapa kau seperti orang kurang tidur?” tanya Taeyong sambil mengunyah biskuit kacangnya.

“Bukankah aku selalu seperti itu?” balas Taeil malas.

“Kau terlalu banyak jalan-jalan dalam tidurmu.”

“Bukan salahku kalau aku punya kemampuan untuk melakukannya.”

“Bagaimana dengan tugas matematika yang kemarin? Sudah selesai?” tanya Taeyong lagi.

“Hei,” Taeil tertawa kecil. “Aku ini peserta olimpiade matematika tingkat internasional, oke?”

Taeyong tak ambil pusing, lalu kembali ke tempat duduknya di samping Taeil karena guru pelajaran pertama sudah muncul di depan pintu. Guru pria itu membawa serta seorang gadis dengan seragam sekolah mereka, cukup memberi petunjuk bahwa ia adalah anak baru.

“Hari ini kita kedatangan siswi baru pindahan dari Berlin,” kata guru itu membuka percakapaan dengan semua murid di kelas itu.

Taeil mengangkat kepalanya, menatap gadis itu lekat-lekat.

“Jo?” bisik Taeil tak percaya, membuat Taeyong melihatnya.

“Kau kenal anak itu?”

“Entahlah. Sepertinya begitu.”

Guru itu tersenyum sambil menepuk bahu gadis itu sekali.

“Dia bernama Jo. Jo baru tiga minggu di sini. Bahasa Korea Jo masih belum terlalu baik. Tapi Bapak berharap kalian bisa menjadi rekan sekelas yang baik untuk Jo.”

Taeil termenung, mengenali gadis itu sejak pertama kali mereka beradu pandang dan bahkan tak melupakan namanya. Jo pun sama, sedikit membesarkan matanya ketika melihat Taeil.

“Dia melihatmu,” Taeyong berbisik lagi, membuat Taeil menendang kakinya. “Kalian kenal?”

“Aku tidak tahu,” Taeil juga berbisik.

“Bagaimana bisa kau tidak tahu?” Taeyong berbisik agak keras.

“Lee Taeyong, Moon Taeil, apa kalian tidak bisa diam? Apa yang kalian bicarakan sejak tadi?” tegur guru mereka dari depan kelas, membuat semua mata melihat ke arah Taeyong dan Taeil, tak terkecuali Jo yang terus menatap Taeil dengan wajah tak percaya.

“T-tidak ada, Pak,” jawab Taeyong buru-buru.

“Jo, silahkan berikan perkenalan singkat.”

“H-halo semuanya,” Jo tersadar dari tatapannya pada Taeil dan buru-buru menunduk untuk memberi salam. “Namaku Jo. Senang bertemu kalian semua.”

“Oke, kalian bisa lebih saling mengenal satu sama lain di jam istirahat nanti. Jo, silahkan duduk.”

Jo mengambil tempat duduk di belakang Taeyong, begitu dekat dengan Taeil dan membuatnya tak tenang. Beberapa kali Taeil mencuri pandang ke belakang, ingin melihat Jo. Taeyong bukan tak menyadari hal itu sama sekali.

“Kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Taeyong pelan.

“Aku masuk ke dalam mimpinya tadi malam,” aku Taeil.

Mulut Taeyong terbuka karena kaget, dan kedua matanya melotot besar pada Taeil. Ia mengguncang lengan Taeil kuat-kuat.

“Kau? Masuk dalam mimpinya?” desis Taeyong tak percaya. “Lalu?”

“Sepertinya dia tak keberatan jika aku ada di mimpinya. Kau tahu sendiri, sebagai Traveler, sulit untuk tak berpindah mimpi dan berada di mimpi orang lain. Kemampuan ini kadang sulit dikendalikan. Aku tiba-tiba ada dalam mimpinya, melihatnya, dan kami pergi bersama di dalam mimpi itu.”

Taeyong menggeleng pelan, entah apa artinya. Tapi ia menepuk bahu Taeil sekali, seolah memberikan semangat untuk Taeil.

“Kadang aku iri dengan kemampuanmu. Bisa masuk ke mimpi orang, bisa berkenalan dengan orang lain lewat mimpi, dan bisa jatuh cinta lewat mimpi.”

“Aku tidak jatuh cinta pada Jo,” potong Taeil cepat sambil menggeleng kuat.

“Aku tidak bilang bahwa kau jatuh cinta pada Jo. Kau sendiri yang membantahnya,” Taeyong menambahkan dengan wajah jahilnya yang tampan. “Jadi, kau benar-benar suka padanya, ya?”

“Aku hanya…”

“Maaf,” potong seseorang di belakang mereka, membuat Taeil dan Taeyong menoleh bersamaan.

Jo menatap Taeil, mengabaikan Taeyong yang sudah menahan tawa geli sejak tadi. Taeyong bisa meramalkan dalam hati, apa yang akan terjadi setelah ini.

“Kenapa?” tanya Taeil lembut pada Jo.

“Apa kita…, aku tahu ini akan terdengar sangat aneh, tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jo langsung pada Taeil.

Dan Taeil hanya tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.

“Tidak, belum pernah. Ini adalah pertama kalinya kita bertemu. Senang berkenalan denganmu. Aku Taeil. Moon Taeil,” kata Taeil sembari menjulurkan tangan.

Jo termenung sejenak, melihat tangan Taeil dengan hati-hati, lalu menjabatnya.

“Aku Jo.”

-=-

“Kenapa kau tak bilang saja padanya kalau kau itu Traveler, seseorang yang bisa masuk ke mimpi orang lain? Dan kalau perlu, katakan padanya kalau kau memang masuk ke dalam mimpinya tadi malam,” Taeyong berkata-kata dengan berisik saat ia dan Taeil pulang sekolah bersama.

Taeil hanya tersenyum konyol, senyuman orang jatuh cinta.

“Dia akan berpikir aku ini aneh dan ia akan menjauhiku.”

“Jadi apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah,” Taeil mengangkat bahunya. “Muncul di mimpinya lagi mungkin?”

“Dasar mengerikan,” balas Taeyong pura-pura merinding.

“Memang. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku menyukainya sejak aku menghabiskan waktu dengannya dalam mimpiku.”

“Sebenarnya seberapapun dia mencoba untuk menjauhimu, kalian akan tetap berakhir bersama,” Taeyong berkata dengan jujur.

“Kenapa?”

“Entahlah, rasanya begitu.”

Taeil berhenti di depan pagar rumahnya, lalu menatap Taeyong sebelum masuk rumah.

“Aku pulang dulu.”

Tepat ketika Taeil menghilang masuk ke rumahnya, Taeyong menatap pintu pagar yang tertutup rapat itu. Ia tersenyum kecil, lalu menyelipkan kedua tangannya di saku.

“Aku bisa melihat bahwa kau dan dia berjodoh, Moon Taeil.”

-End-

Advertisements

8 thoughts on “Traveler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s