[Alter Ego II: Cecile] Without Pain

Without Pain

| I’ll pray for your next love that it will be without pain |

| Oneshot | Cecile | Love, Romance, Angst |

-=-

Maka Cecile meletakkan kalung itu di atas meja, lalu mendorongnya hati-hati pada pria di depannya. Kedua mata Cecile terangkat, memandang bola mata pria itu lurus dalam, hati-hati takut melukai meski ia tahu bahwa tak ada yang tak terluka di sana.

“Terima kasih untuk semuanya,” kata Cecile sambil menarik tangannya kembali dengan sedikit bergetar, hampir kehilangan kekuatannya.

Pria di depannya itu hanya menatap Cecile, lalu mengambil kalung berbandul bintang yang Cecile berikan, atau lebih tepatnya kembalikan, padanya. Jemari pria itu menyentuh bandul bintangnya, lalu tersenyum sedih tanpa menatap Cecile.

“Dulu kau pernah menjadi bintang di hatiku,” ujar pria itu pelan.

Cecile tersenyum kecil, lebih tepatnya tersenyum dalam luka. Ia meneteskan satu air mata, meluncur tepat dan jatuh di pangkuan Cecile.

“Kalau kau tak pernah tahu, kau masih dan akan selalu menjadi bintang di hatiku,” jawab Cecile sambil mengepalkan tangan di pangkuannya.

“Lalu, kenapa kita berakhir?”

“Karena kita sangat mencintai satu sama lain, dan tak ingin saling melukai lagi.”

Dan mereka sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka akan saling kehilangan satu sama lain, merindukan satu dengan lain, tetapi menahan diri satu dengan yang lain.

-=-

Cecile menatap desain yang ia kerjakan di hadapannya. Kantornya gelap, tinggal ia sendirian menatap laptop dengan lelah. Tulisan deadline tertempel di layar laptopnya, pertanda banyak pekerjaan yang harus ia kejar. Gadis itu lelah, menyandarkan diri sejenak di kursinya, lalu tanpa sadar menyentuh bagian dadanya sendiri, hendak mencari bandul bintang yang biasa tergantung di sana.

Tetapi tak ada apa-apa.

‘Kenapa ini sulit sekali?’

Seperti orang kehilangan pegangan hidup, Cecile lemas dan menangis kecil. Ia menjatuhkan kepala ke mejanya, menangis kehilangan, menangisi rasa kehilangan itu.

-=-

“Aku berharap, aku bisa dilahirkan kembali, bertemu denganmu lagi. Jika saat itu datang, mungkin kita akan saling jatuh cinta lagi satu dengan lain,” ujar pria itu sambil masih menatap bandul bintang di tangannya dengan sedih.

Cecile membuang muka ke arah jendela, menyaksikan bagaimana awan mendung menutupi langit yang tadinya cerah, seolah ingin membuat hatinya tambah sedih.

“Jika itu terjadi, aku mungkin tak ingin mencintaimu terlalu dalam lagi.”

“Kau takut terluka?”

Sembari menoleh ke pria itu, Cecile menggeleng kecil. Jemari Cecile saling menaut satu dengan lain, merasakan kegetiran yang luar biasa.

“Aku takut melukaimu lagi,” kata gadis itu. “Aku tidak ingin membuat kenangan yang terlalu indah agar ketika kita harus saling melepaskan, kenangan itu bisa kita buang dengan mudah.”

Pria itu tak mengatakan bahwa ia setuju atau tidak. Tetapi tangannya memegang kalung itu dengan erat, seolah memegang kenangan yang tak bisa ia lepaskan. Akhirnya ia berdiri, beberapa detik memandang Cecile yang masih terduduk di depannya.

“Jika kita dilahirkan kembali, aku juga berharap bahwa kita tak akan saling melukai lagi.”

Akhirnya pria itu berlalu dari hadapan Cecile. Tak lama kemudian, Cecile juga keluar dari tempat itu, sama seperti pria tadi. Bedanya, mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Sama seperti hati mereka, yang kini berjalan ke arah berlawanan, berpaling dari cinta.

-=-

Pria itu menatap dokumen-dokumen di atas mejanya, mencoba membacanya meski matanya sudah kabur-kabur, tak ingin bekerja lagi. Menyerah, ia melepas kacamatanya, mengacak rambutnya sebentar, lalu menghela napas. Ia berdiri, mendekati jendela dan menyaksikan malam dari lantai atas kantornya.

Tangannya mengeluarkan kalung bintang yang dulu ia berikan pada Cecile, mengangkatnya hingga sejajar dengan langit malam dan bintang-bintang di jendela.

‘Apa kau baik-baik saja? Aku tidak baik-baik saja.’

Akhirnya, pria itu menyerah, mulai menangis tanpa suara.

-=-

Baru beberapa langkah dari tempat Cecile dan pria itu berpisah, Cecile sudah tak mampu berjalan lagi. Semua tempat di sana berteriak tentang kenangannya dengan pria itu. Jajaran awan mengingatkannya pada kenangan indahnya bersama pria tadi. Segalanya di dunia ini seakan tak lelah menceritakan kenangan indah itu.

“Sudah kubilang, kan?” gumam Cecile pada dirinya sendiri. “Seharusnya kita tak mengukir kenangan terlalu dalam. Sekarang terlalu sulit. Semakin aku mencintaimu, semakin sulit untuk melepasmu demi kita sendiri.”

Tubuh Cecile berbalik, melihat punggung pria itu menjauh ke arah lain. Pria itu tak menoleh, mungkin tak sanggup untuk menoleh. Akhirnya Cecile menikmati pemandangan itu untuk terakhir kalinya dari jauh.

“Aku berdoa agar cintamu yang selanjutnya akan lebih baik dari ini. Tidak ada yang terluka, dan tidak ada perpisahan. Tidak ada… rasa sakit.”

Dan Cecile kembali berbalik, menghadap langkahnya yang berat tapi harus ia lakukan. Bersama masa lalu yang telah ia lepas, ia harus melangkah maju lagi.

-=-

Tapi Cecile tak pernah tahu, bahwa ketika ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan masa lalu, pria itu berbalik dan memandang Cecile dari jauh seolah berharap Cecile akan berbalik untuk terakhir kalinya.

“Kalau nanti kita saling berjumpa lagi, kita akan menyadari bahwa dulu semua itu adalah cinta,” kata pria itu kecil. “Apapun itu, kau harus lebih bahagia dari aku. Semoga beruntung.”

Pria itu kembali lagi ke langkah awalnya, menatap masa depannya yang agak remang-remang tanpa bintangnya. Tetapi, apapun itu, ia harus melangkah lagi dengan atau tanpa beban.

-=-

Mereka berharap, langit tahu dan mengerti perasaan mereka.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s