Love of My Life [2]

Love of My Life2

| You have my whole heart for my whole life |

| Continue | Kyungsoo, Hyunrae, Suho, Kyuhyun, Jaemin | Life, Love, Romance, Family |

“Papa, Papa,” Jaemin menggoyang tangan Kyungsoo, menyadarkan Kyungsoo dari pikirannya.

Saat ini, Kyungsoo dan Jaemin tengah berjalan-jalan di dekat kolam renang di halaman belakang rumah Hyunrae. Kyungsoo sedikit tak fokus, mengingat banyak kenangan antara Hyunrae dan dirinya di halaman belakang itu. Meski tak bisa dibilang sangat banyak, karena tak lama setelah ia dan Hyunrae berkenalan, kasus Chasing Diamond pun terjadi.

“Kenapa?”

“Jadi… apa Mama memperbolehkan Jaemin sekolah?”

“Papa belum bisa membujuk Mama untuk membiarkanmu sekolah di tempat biasa, Jaemin.”

“Oh, begitu.”

Jaemin mengangguk agak kecewa, membuat Kyungsoo berhenti berjalan dan berdiri di depan Jaemin. Pria itu berlutut dan menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Jaemin.

“Jaemin,” panggil Kyungsoo pelan. “Papa janji bahwa sebelum semester berikutnya dimulai, kau sudah terdaftar di salah satu sekolah terbaik di sini.”

Anak kecil itu tersenyum kecil, lalu memeluk Kyungsoo erat. Kyungsoo balas memeluk Jaemin, tak lupa mengusap pelan bahu anaknya. Tanpa mereka ketahui, Hyunrae menatap mereka dari ruang makan. Mata Hyunrae sedikit melemah, seolah ada air mata yang akan turun dari sana.

-=-

Matahari hampir terbenam ketika Hyunrae mendengar pintu ruang kerjanya diketuk. Suho menyelipkan kepalanya masuk, lalu tersenyum pada Hyunrae.

“Anda kedatangan tamu, Nona.”

Hyunrae tersenyum kecil, berdiri dan ikut dengan Suho keluar. Di ruang tamu, ada Kyungsoo, Jaemin, dan seorang pria yang tak asing bagi Hyunrae.

“Hai, Nona Cho.”

Hyunrae tertawa kecil melihat pria itu, lalu memeluknya hangat.

“Hai juga, Kyuhyun. Bagaimana kabar istrimu?”

Kyuhyun langsung memutar matanya, jelas-jelas tak ingin membicarakan topik itu. Hyunrae tahu betul bahwa Kyuhyun memang mati-matian menghindari permbicaraan tersebut, dan ia sengaja mengatakannya untuk menggodanya.

“Dan… apa ini keponakanku?” tanya Kyuhyun sambil menatap Jaemin.

Jaemin balas melihat Kyuhyun heran, tak tahu harus menjawab apa.

“Jaemin,” panggil Hyunrae. “Perkenalkan, ini teman Mama. Mama menganggapnya seperti saudara kandung Mama sendiri. Namanya Kyuhyun.”

“Halo,” Jaemin menunduk sopan. “Aku Jaemin.”

“Halo, Jaemin. Aku Paman Kyuhyun,” balas Kyuhyun sambil mengedipkan sebelah mata.

“Jadi, kau bermalam di sini, kan?” ujar Hyunrae senang. “Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kamar tamu bagimu. Kau istirahatlah. Banyak yang harus kita kerjakan esok pagi di kantor.”

Kyuhyun hendak menarik kopernya. Tetapi seorang pekerja rumah sudah lebih dulu datang dan membawa barang-barang Kyuhyun. Akhirnya Kyuhyun tersenyum pada orang-orang di ruang tamu, pamit untuk istirahat lebih dulu. Pria itu pun menghilang di lantai tiga.

-=-

“Besok aku akan ke kantor. Kau ikutlah denganku.”

Kata-kata tanpa nada itu menyeruak di keheningan kamar Hyunrae. Kyungsoo berhenti membaca buku di tangannya, menatap Hyunrae yang sedang mengeringkan rambut sambil melangkah keluar dari kamar mandi.

“Apa saya perlu menyetir mobil besok?”

“Tidak perlu. Kau bukan sopirku.”

Kyungsoo menaruh bukunya di laci nightstand. Hati-hati ia mendekati Hyunrae dan mengambil handuk di tangan gadis itu. Lalu, Kyungsoo membantu Hyunrae mengeringkan rambut panjang gadis itu dari belakang.

“Apa yang kau baca tadi?” tanya Hyunrae pelan.

“Buku yang Jaemin inginkan.”

“Memangnya kau bisa bahasa Prancis?”

“Saya membeli versi terjemahannya.”

“Kapan kau akan berhenti menggunakan bahasa formal padaku?” tanya Hyunrae tiba-tiba, membuat Kyungsoo kaget karena pertanyaan di luar topik itu.

“Nanti, kalau saya sudah lebih berhak untuk melakukannya.”

Tangan Hyunrae menghentikan gerak tangan Kyungsoo. Gadis itu menoleh ke belakang, berhadapan langsung dengan Kyungsoo.

“Aku ingin Jaemin ikut besok.”

“Apa tidak terlalu dini? Ia masih terkejut dengan reaksi para wartawan di bandara.”

“Aku hanya akan mengenalkannya pada para pekerja di sana. Jaemin cukup mudah bergaul dengan orang yang baru ia temui. Tak akan sulit baginya untuk terbiasa dengan para pekerja.”

“Kadang saya tak memahami Jaemin,” ujar Kyungsoo pelan. “Ia tidak bersekolah di sekolah biasa. Ia tak punya teman sebaya. Ia juga lebih sering di rumah dan sendirian. Tapi kenapa ia sangat pandai bergaul dan tak kesulitan untuk beradaptasi?”

“Itu karena ia mengambil gen milikku.”

Kyungsoo terdiam, menatap wajah Hyunrae dalam-dalam sambil berpikir.

“Sepertinya Anda benar. Ia memang mirip Anda.”

Handphone Kyungsoo bergetar, menandakan sebuah pesan masuk tiba di sana. Pria itu menaruh handuk Hyunrae di kasur dan mengambil handphone di nightstand.

“Siapa?” tanya Hyunrae.

“Suho,” jawab Kyungsoo. “Ia mengajak saya dan Kyuhyun untuk mengobrol di halaman belakang.”

“Pergilah,” balas Hyunrae sambil mengangguk. “Aku akan menyuruh orang untuk membawakan minuman dan makanan kecil untuk kalian.”

-=-

Ketiga pria itu duduk santai di halaman belakang rumah keluarga Cho. Ada Suho yang baru selesai dari pekerjaannya di kantor Chasing Diamond, Kyuhyun yang baru tiba dari Jepang, serta Kyungsoo yang masih separuh jetlag setelah perjalanan dari Eropa ke Seoul.

“Bagaimana rasanya kembali ke rumah?” tanya Suho pada dua orang itu.

Kyuhyun tertawa statis, lantas meminum soda kaleng di tangannya. Ia memijat kepalanya beberapa kali, lalu menatap Suho dan Kyungsoo bergantian.

“Senang, karena akhirnya aku bisa kabur dari penjara yang disebut pernikahan itu.”

“Anak itu baru dua-puluh tahun, kan?” balas Suho separuh tak percaya. “Bagaimana bisa orangtuanya menyerahkan anak itu padamu. Seharusnya kau mengadopsi anak itu, bukan menikahinya.”

Kyungsoo tertawa kecil karena kata-kata Suho. Sementara Kyuhyun meminum seluruh isi kalengnya akibat rasa jengkel. Tangan Kyuhyun meremuk kaleng itu, lalu melemparkan benda tersebut ke tempat sampah.

“Do Kyungsoo, bersyukurlah karena kau masih bisa tertawa setelah menikah. Aku kehilangan senyumku di pelaminan,” Kyuhyun menggerutu.

“Bicara soal pernikahan Kyungsoo, aku jadi teringat Jaemin,” jawab Suho tanpa ada yang bertanya. “Jaemin itu benar-benar seperti ibunya. Wajahnya mirip, terutama matanya. Senyumnya juga agak mirip, meski Nona Hyunrae sudah jarang tersenyum.”

“Intinya Jaemin mirip Hyunrae sebelum Hyunrae terlibat kasus Chasing Diamond,” Kyuhyun berkesimpulan sambil membuka kaleng baru.

Mau tak mau, Kyungsoo jadi berpikir tentang Hyunrae yang dulu dan yang sekarang. Memang benar kata Suho dan Kyuhyun, Hyunrae yang dulu mirip sekali dengan Jaemin.

“Anakmu itu pintar. Aku baru satu hari mengenalnya, tapi bisa langsung dekat dengannya. Dia seperti Nona Hyunrae, mudah akrab dengan orang lain.”

“Maaf, Suho. Tapi Hyunrae sekarang tak lagi seperti itu,” Kyuhyun memotong kata-kata Suho. “Tapi harus kuakui, semua orang memuji Hyunrae sebagai CEO yang ramah dan peduli terhadap orang lain. Ia menjaga kesejahteraan semua pegawainya dan memastikan yang terbaik untuk pekerjanya.”

“Karena dengan demikian, Chasing Diamond akan selalu diuntungkan,” Kyungsoo berkata datar. “Kalau boleh jujur, Nona tidak seramah itu. Ia tidak hangat pada Jaemin, dan sepertinya tidak akan pernah. Ia selalu memanggil Jaemin dengan sebutan nama dan selalu menyuruhnya belajar.”

“Hyunrae sepertinya tidak terlalu dekat dengan Jaemin,” komentar Kyuhyun tiba-tiba. “Tapi tak masalah. Ketika sampai di bandara kemarin, Jaemin dan Hyunrae nampak seperti ibu dan anak yang serasi. Aku melihatnya di televisi. Iya, kan, Suho?”

Suho mengangguk setuju akan kata-kata Kyuhyun. Tapi tidak dengan Kyungsoo. Kyungsoo malah menggeleng sambil menatap kaleng minumannya tanpa selera.

“Hyunrae menjanjikan sebuah buku berbahasa Prancis yang sangat Jaemin sukai kalau anak itu mau tersenyum dan melambai pada kamera.”

“Anakmu bisa bahasa Prancis?” Kyuhyun berseru kaget. “Siapa gurunya?”

“Kuharap aku tahu siapa gurunya. Tetapi Jaemin selalu bilang gurunya adalah internet. Ia punya terlalu banyak waktu luang karena pendidikan dasarnya sudah selesai.”

“Dia sekolah akselerasi?” tanya Suho.

“Sebenarnya tidak. Nona Hyunrae mencarikan guru homeschooling untuknya. Sekolah homeschooling lebih cepat selesai. Dan kebetulan, Jaemin lebih cerdas dari anak seusianya. Jadi dia bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya dengan cepat.”

“Dia jenius,” jawab Kyuhyun. “Kadang kala, kejeniusan orangtua bisa menurun ke anak. Apa Jaemin ikut anggota Mensa?”

“Nona Hyunrae melarangnya. Sejak awal aku tahu bahwa dia jenius, bisa menjadi anggota Mensa. Tetapi ibunya melarangnya. Ia memintaku untuk tidak mengatakan hal ini pada Jaemin.”

“Kenapa? Cepat atau lambat, ia akan menyadarinya. Dunia ini tak bisa menyimpan rahasia terlalu lama, Do Kyungsoo,” Suho menggerutu.

“Tapi, Suho, Nona tidak ingin Jaemin terlalu banyak jadi konsumsi dunia luar. Awalnya ia tak ingin Jaemin ikut pulang ke sini karena tak ingin Jaemin jadi selebriti dadakan. Terlalu banyak hal yang akan menyulitkan Jaemin nantinya.”

“Sayang sekali. Aku baru saja mengembangkan sebuah teknik untuk mendidik anak dengan kecerdasan di luar rata-rata. Jika dididik dengan benar, ia bisa menjadi Athenais kedua.”

Suho langsung tertawa tanpa pikir panjang, membuat kedua pria di dekatnya terlonjak kaget.

“Hei, dia tak akan mau anaknya seperti dirimu. Memangnya tidak ada role model yang lain?”

Kyuhyun menyumpah dalam hati, lebih kurang membenarkan bahwa Suho sangat tepat.

“Aku tidak keberatan kalau Kyuhyun melatih Jaemin. Tapi aku tidak tahu apakah Nona keberatan atau tidak. Kalian bisa menjadi mentor yang jauh lebih baik dari aku.”

“Kenapa kau terkesan menyerah pada anakmu sendiri?” ujar Suho heran.

Kyungsoo terdiam, tak mampu menjawab. Pria itu hanya meminum sodanya tanpa niat berbicara. Sementara Suho dan Kyuhyun menatapnya bingung, tak memahami masalah yang ada di kepala teman mereka itu.

-=-

“Kyuhyun? Anak itu?!” Hyunrae mengangkat alis tinggi-tinggi. “Kupikir Suho sudah cukup, Do Kyungsoo. Dan lagi, aku sudah bilang bahwa Jaemin tak usah bersekolah di sekolah biasa. Dia terlalu cerdas untuk itu.”

“Bukan masalah kemampuan intelektual Jaemin, Nona. Ini masalah kemampuan sosialnya. Dia tidak punya teman dan terus berada di rumah. Itu tidak baik baginya.”

“Dia tidak butuh teman. Teman di luar sana hanya akan memanfaatkan latar belakangnya. Semua orang sudah tahu bahwa dia anak CEO Chasing Diamond. Guru-guru akan memujinya bukan karena kemampuannya, tapi karena statusnya. Anak-anak akan berkawan dengannya bukan karena sifatnya, tapi karena latar belakangnya.”

“Dia butuh sahabat.”

“Kau,” tunjuk Hyunrae pada Kyungsoo. “Kau adalah sahabatnya, kan? Apa dia terlihat seperti orang yang yang kesulitan berteman? Apa dia kelihatan seperti orang yang mengalami kesulitan bicara atau tidak bisa bertemu orang lain? Dia sehat, Do Kyungsoo.”

“Saya tahu bahwa dia mampu berteman dengan baik. Tapi apa Anda akan membalas dendam pada masa lalu Anda lewat Jaemin?!” Kyungsoo menaikkan nada bicaranya. “Apa Anda berusaha membuat Jaemin seperti Anda?! Kalau itu yang ada di pikiran Anda, saya tak bisa membiarkannya.”

Hyunrae menatap Kyungsoo dengan mata membesar, tak mempercayai kata-kata yang Kyungsoo lontarkan padanya.

“A-apa maksudmu?”

“Jika saya membiarkan Anda terus memperlakukan Jaemin seperti itu, Jaemin akan menjadi seperti Anda di masa depan. Dia akan kehilangan tawanya, kehilangan kebahagiaannya, dan kehilangan masa kecilnya. Dan dia akan menjadi seorang berhati dingin seperti Anda.”

“Kau bilang aku berhati dingin?”

“Memperlakukan anak Anda seperti itu sepertinya sudah cukup untuk membuat saya mengatakaannya. Apa Anda pernah memperlakukan Jaemin dengan hangat? Saya tidak pernah melihatnya sejak delapan tahun terakhir. Apa Anda pernah mencintai anak Anda sendiri?”

“Kalau aku tak mencintainya, aku tak akan mempersiapkan masa depan yang terbaik untuknya.”

-=-

“Halo semuanya. Namaku Jaemin. Senang bertemu kalian semua di sini.”

Tepuk tangan riuh terdengar di kantor bagian administrasi Chasing Diamond. Semua orang tersenyum pada Jaemin, menyalami anak itu satu per satu, dan tak lupa menyapa Cho Hyunrae, CEO mereka yang hari itu memperkenalkan anaknya pada semua karyawan Chasing Diamond.

“Benar-benar mirip Nona Hyunrae seratus persen,” puji seorang pegawai wanita sambil tersenyum. “Nona Hyunrae beruntung sekali memiliki anak sebaik ini.”

“Sopan dan ramah, persis seperti ayah dan ibunya,” terdengar gumam takjub dari sudut lain.

“Dia anak yang beruntung. Dilahirkan sebagai putra CEO Chasing Diamond adalah sebuah takdir yang luar biasa.”

“Nona Hyunrae bahkan rela meninggalkan semua pekerjaannya untuk membawa anaknya ke sini. Ia benar-benar peduli pada anaknya.”

Kyungsoo diam saja sejak awal, berdiri tetap di dekat Hyunrae dan Jaemin tanpa mengatakan apapun seperti biasa. Ia membalas sapaan beberapa orang yang menyapanya, lalu mendekati Hyunrae dengan hati-hati.

“Kita bisa pindah ke divisi lain sebentar lagi,” ujar Kyungsoo pelan.

“Baiklah,” Hyunrae menepuk tangannya sekali, mendapatkan perhatian semua orang di divisi administrasi. “Kami pamit dahulu karena aku ingin mengenalkan Jaemin ke divisi yang lain.”

Semua orang membungkuk pada Hyunrae dan keluarga kecilnya. Lalu ketiga orang itu keluar dari tempat divisi administrasi.

“Ke mana kita sekarang, Mama?”

“Kita ke divisi selanjutnya. Divisi pengembangan mode dan karya,” jawab Hyunrae seadanya.

-=-

Mobil Hyunrae berjalan menembus hujan, membawa keluarga kecil Hyunrae kembali ke rumah setelah hari yang panjang. Jaemin duduk di belakang bersama Hyunrae, separuh mengantuk menatap tetesan hujan dari jendela. Sementara Kyungsoo duduk di depan bersama sopir pribadi Hyunrae.

“Mengantuk?” tanya Hyunrae pada Jaemin.

Anak itu tertawa kecil, lalu mengangguk. Hyunrae menghela napas, lalu menepuk pahanya beberapa kali dan menyuruh Jaemin tiduran di sana tanpa kata-kata. Jaemin sendiri tampak tak percaya, hampir-hampir menolak kalau tak mengira ini kesempatan sekali seumur hidup. Akhirnya ia menaruh kepalanya di pangkuan ibunya, untuk pertama kalinya dalam masa kecilnya.

“Tidurlah,” ujar Hyunrae pelan.

Tangan Hyunrae mengusap kepala Jaemin beberapa kali, membiarkan anak laki-lakinya terlelap.

“Do Kyungsoo,” panggil Hyunrae, membuat Kyungsoo sedikit menoleh.

“Ya, Nona Hyunrae?”

“Daftarkan Jaemin di Sekolah Menengah Haeseong. Tanyakan padanya subjek yang ia inginkan. Sebelum semester berikutnya dimulai, aku ingin Jaemin sudah terdaftar di sana. Dan katakan padanya bahwa ia wajib mengambil kelas bisnis.”

“Baik, Nona.”

“Siapkan keperluannya seperti buku-bukunya, seragam, alat tulisnya, dan hal-hal lainnya. Aku ingin mendapat laporan segera.”

“Tetapi, Nona, usia Jaemin yang tidak mencukupi untuk masuk ke sekolah menengah tentu akan jadi masalah.”

“Masalah?” balas Hyunrae. “Dia punya kecerdasan di atas rata-rata. Kita semua tahu itu. Suruh Kyuhyun untuk melakukan tes IQ dan membuat pernyataan resmi akan kemampuan Jaemin. Aku tidak mau tahu, semua harus selesai sebelum semester baru dimulai.”

“Baik, Nona Hyunrae.”

Tanpa Hyunrae ketahui, Jaemin belum tertidur dan mendengar semuanya. Ia tersenyum kecil diam-diam, merasa senang karena akhirnya Hyunrae mempedulikannya.

-=-

Hyunrae masuk ke ruang kerjanya setelah seharian mengurus Jaemin dan memperkenalkan anak itu pada Chasing Diamond. Sebuah email masuk langsung menyambutnya begitu komputer di ruangan itu menyala. Hati-hati Hyunrae membacanya.

Selamat datang kembali, Nona Cho Hyunrae. Jika tidak keberatan, kami ingin mengundang Anda ke acara pesta peresmian kantor cabang baru kami di Seoul. Waktu dan tempat terlampir.

Salam, Machriet Company

Hyunrae menghela napas pelan, lalu mengunduh undangan yang terlampir. Ia membaca undangan tersebut sekilas, lalu menutupnya. Tak lama kemudian, wanita itu mematikan layar komputernya.

-=-

Lampu kamar Jaemin sudah gelap, pertanda anak itu sudah tidur. Hyunrae pelan-pelan menutup pintu kamar Jaemin, meski pintu tersebut tak sepenuhnya menutup. Hati-hati, Hyunrae mendekati Jaemin yang tertidur di kasur.

“Tidurmu pulas sekali,” ujar Hyunrae pelan. “Apa kau sebegitu senangnya karena Mama membiarkanmu sekolah di tempat biasa?” tambahnya sambil menyilangkan tangan di dada. “Apapun itu, karena Mama sudah menuruti keinginanmu, Mama harap kau juga menuruti keinginan Mama.”

Tanpa Hyunrae sadari, Kyungsoo ada di depan pintu kamar dan mendengar semua percakapan tersebut. Kecewa, Kyungsoo meninggalkan area kamar Jaemin dengan pikiran yang berawan di kepalanya.

“Kapan Anda akan tulus pada Jaemin, Nona?”

-To be continued-

Advertisements

12 thoughts on “Love of My Life [2]

  1. Kavlinareska says:

    aku agak bingung nih ya.. jadi sebelum ini tuh aku harusnya baca chasing diamond dulu yak? wkwkwkwk… udh sampai part 2 baru sadar….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s