The Clone

The Clone

| I am waiting for you until the end of time |

| Oneshot | Kyungsoo EXO, Hyunrae | Science Fiction, Romance, Life, Love |

-=-

Hyunrae merasakan tetesan merah mengalir dari hidungnya, membasahi kertas-kertas di atas meja belajarnya tanpa menunggu lebih lama. Gadis itu panik, lalu mengambil tisu yang tergulung rapi di pinggir mejanya. Buru-buru ia menyumbat hidungnya sendiri sambil mendongak ke atas.

“Profesor Kyungsoo!” Hyunrae menjerit sambil mendongak.

Pintu kamar gadis itu terbuka cepat. Seorang pria muncul di depan pintu dengan wajah panik.

“Kau mimisan lagi?”

“Iya…” jawab Hyunrae lemah.

“Mendongaklah,” perintah Kyungsoo. “Aku akan ambilkan obat untukmu.”

Kyungsoo menghilang sebentar dan kembali dengan membawa beberapa jarum suntik.

“Aku… tidak mau disuntik lagi,” bantah Hyunrae saat Kyungsoo mempersiapkan alat suntiknya.

“Tidak bisa, Hyunrae. Mimisanmu semakin sering kali ini. Dan lihat, darahnya juga tidak normal.”

“Tapi… tapi… aku… takut disuntik…”

Kyungsoo menghela napas, lalu mengambil tangan Hyunrae hati-hati.

“Ini tidak akan sakit. Hanya seperti-”

“Digigit semut. Aku bosan mendengar cerita lamamu itu, Profesor.”

“Diamlah. Jangan banyak bergerak,” ujar Kyungsoo sambil memegangi tangan Hyunrae.

Akhirnya Kyungsoo benar-benar menyuntik Hyunrae dalam sekejap, membuat Hyunrae memekik kecil sebelum obat dalam tabung berjarum itu masuk ke tubuhnya.

“Istirahatlah. Kau tidak boleh terlalu lelah, Cho Hyunrae.”

-=-

Kyungsoo masuk ke dalam laboratoriumnya, menatap papan tulis hijau yang dipenuhi tulisan kapur. Sebuah gambar tubuh manusia secara rinci ada di papan itu, dengan banyak catatan-catatan rumus di sekitar gambar itu dan gambar sel-sel DNA yang dibuat rapi.

“Ah… pusing sekali…” Kyungsoo bergumam sambil mengambil jas laboratorium.

Ia mencampur beberapa tetesan dalam sebuah tabung reaksi, lalu menuangkannya ke atas sebuah contoh sel setelah mengguncang tabung itu beberapa kali. Kyungsoo menunggu beberapa detik, berharap percobaannya berhasil. Tetapi, ia hanya menatap contoh sel itu dengan wajah kosong sejenak.

“Profesor,” Hyunrae membuka pintu laboratorium tanpa mengetuk.

“Kau,” Kyungsoo menunjuk Hyunrae dengan pipet tetes di tangannya. “Ketuk pintu sebelum masuk ruanganku. Kau sudah tahu itu, kan?”

Hyunrae tertawa kecil.

“Boleh aku masuk?”

“Kau sudah masuk. Tak perlu bertanya lagi.”

Gadis itu duduk di salah satu kursi dan tersenyum ketika melihat gambar tubuh manusia di papan tulis Kyungsoo.

“Sepertinya Profesor sangat menyukaiku,” komentarnya kecil. “Kau sampai membuat sketsa tubuhku di papan tulismu.”

“Aku ditakdirkan untuk menyukaimu, Cho Hyunrae. Aku ditakdirkan untuk suka padamu ketika aku melihatmu pertama kali,” jawab Kyungsoo sistematis.

“Kapan kau melihatku pertama kali?” tanya Hyunrae tiba-tiba membuat Kyungsoo tersadar. “Kau… tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Saat kau lahir adalah saat aku melihatmu pertama kali,” balas Kyungsoo sembari menatap keluar jendela. “Saat kau lahir, hujan turun tanpa henti. Hujan turun deras seperti derasnya keringat ibumu dan keringat para dokter yang membantu kelahiranmu. Aku dan Profesor Han ada di sana, menanti kelahiranmu dengan tegang. Dan catatan tambahan, aku baru delapan-belas tahun saat itu.”

“Tentu saja Profesor Han sangat tegang. Ia tak ingin perobaannya gagal,” Hyunrae menjawab sambil mengambil sebuah bingkai foto di meja kerja Kyungsoo. “Lihat, ia nampak senang di sini. Tak terasa, sudah dua tahun lebih ia pergi,” imbuhnya sambil mengembalikan foto itu ke tempatnya semula. “Sayang sekali, kita tak melihat wajah bahagianya lebih lama karena orang-orang jahat itu merenggut nyawanya secara paksa.”

“Kloning bukan hal yang mudah untuk didiskusikan, Cho Hyunrae. Dari waktu ke waktu, pengembangan teknik ini adalah sebuah pelanggaran moral bagi banyak orang. Manusia mencoba menjadi Tuhan. Kau tak bisa membayangkannya,” Kyungsoo bercerita sambil menggeleng pelan. “Tapi Profesor Han berhasil menyembunyikan percobaan kloning manusia yang ia lakukan. Dan hasilnya, bisa dikatakan berhasil.”

“Terima kasih sudah menyebutku sebagai hasil kloning yang berhasil,” ujar Hyunrae sambil tertawa. “Hanya saja, aku punya pertanyaan, Profesor. Usia sel kloning memiliki perhitungan yang berbeda. Contohnya, bila aku memakai selmu yang berusia tiga-puluh-lima tahun sebagai sel somatis untuk dikloning, maka usia hasil kloningnya akan dimulai dari tiga-puluh-lima tahun juga. Jadi biasanya bila sel asalnya mati, maka hasil kloning pun mati. Tapi kenapa selku nampak normal secara usia?”

“Itu karena Profesor Han memakai sel anak bayi yang baru lahir sebagai sel somatisnya. Sebuah ide jenius yang tak pernah dipikirkan orang lain sebelumnya. Tetapi, sel bayi baru lahir punya kekurangan yang menyulitkan. Sel ini belum selesai bertumbuh, belum sempurna. Dan itu bisa dilihat dari sel-selmu yang tak berkembang sempurna.”

“Aku sudah memperkirakan hal ini sebelumnya,” ujar Hyunrae. “Kau mengajariku biologi dengan baik, Profesor Kyungsoo.”

Kyungsoo tersenyum, lalu mendekati papan tulis.

“Kau bersabarlah sedikit lagi. Kalau serum ciptaanku ini berhasil, sel-selmu akan bertumbuh sempurna. Kau tak akan mimisan lagi, dan kau bisa beraktivitas layaknya orang normal.”

“Kapan serum itu akan kau pakai?”

Tangan Kyungsoo menunjuk sebuah contoh sel yang ia berikan serum. Belum ada hasil apapun, dan Kyungsoo tak bisa mengatakan apapun.

“Kalau sel ini menunjukkan perubahan, aku akan memakaikannya padamu.”

“Tapi itu terlalu lama, Profesor. Aku akan mati lebih dulu sebelum-”

“Jangan bicara tentang mati seenakmu. Kau tidak akan mati. Kau adalah manusia yang berharga, Cho Hyunrae. Kau tidak akan mati.”

“Berikan serum itu padaku, Profesor.”

“Tidak boleh, Cho Hyunrae. Kalau serum itu belum sempurna, tubuhmu akan hancur.”

“Hancur sekarang dan hancur nanti, tak ada bedanya.”

“Jangan berbicara begitu!” Kyungsoo berseru keras. “Kau tidak boleh kehilangan semangat hidup, Cho Hyunrae. Kau harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja.”

“Aku bukan manusia. Aku hanya hasil kloning, hanya sebuah percobaan. Apa Profesor tidak ingat, betapa banyak orang ingin membunuhku dan ingin mengambil keuntungan dariku? Kita hidup berpindah-pindah hingga mengganti identitas berkali-kali. Bahkan Profesor Han kehilangan nyawanya demi aku. Apa Profesor tidak lelah hidup seperti itu? Jika aku mati, Profesor bisa hidup-”

“Tidak,” tegas Kyungsoo singkat. “Jika kau mati, aku akan mati bersamamu,” Kyungsoo berkata dengan suara rendahnya.

Hyunrae bisa merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia mengusap tangis itu dengan punggung tangannya, lalu menatap Kyungsoo.

“Mengapa Profesor bersikeras mempertahankan aku?”

“Karena kau adalah manusia juga. Dan aku harus memperlakukanmu sebagai manusia.”

“Apa aku benar-benar manusia?”

“Manusia atau bukan, itu tergantung dari bagaimana sikapmu. Aku sudah melihat begitu banyak wujud yang menyebut diri mereka manusia, tetapi berlaku lebih rendah dari hewan.”

Hyunrae tersenyum lemah karena kata-kata itu, lalu berlari menghambur memeluk Kyungsoo.

“Terima kasih, Profesor Kyungsoo.”

-=-

Malam itu, di laboratorium, Kyungsoo dan Hyunrae mengobrol berdua. Hyunrae dengan pakaian tidur favoritnya, duduk di sofa laboratorium Kyungsoo. Sementara Profesor Kyungsoo menyiapkan sebuah alat suntik dan sebotol serum ciptaannya.

“Kau yakin ingin mencoba serum ini?” tanya Kyungsoo pada Hyunrae.

“Yakin, Profesor.”

“Serum ini akan mematikan semua selmu dan menaruh dirimu dalam keadaan koma sampai jangka waktu yang tak diketahui. Lalu selmu akan lahir kembali dan berkembang menjadi sempurna. Saat itulah kau akan terbangun.”

“Ya, aku tahu Profesor.”

“Apa kau tahu bahwa tak akan ada yang menjamin dirimu bangun lagi nanti?”

“Ya, aku tahu.”

“Apa kau tahu bahwa bisa jadi kau tak akan bangun lagi selamanya dan… mati?”

“Ya, aku sangat tahu.”

“Kalau kau tahu itu, kenapa kau masih ingin mencobanya?”

“Karena aku ingin Profesor sukses,” ujar Hyunrae pelan. “Kalau aku ternyata bangun lagi nanti, berarti serum ciptaan Profesor berhasil. Percobaanmu berhasil. Tapi, kalau aku mati, anggap saja aku ini hanya hasil percobaan yang gagal.”

“Aku sudah bilang padamu, kau bukan objek percobaan. Kau adalah temanku, teman hidupku. Aku mengenalmu sejak kau lahir, mengawasimu selama tumbuh kembangmu, dan membawamu saat ibumu meninggal. Kau segalanya bagiku, Cho Hyunrae.”

Hyunrae mengigit bibirnya keras, merasa terharu sangat dengan kata-kata itu. Ia sangat tersentuh hingga air matanya mengalir deras lagi dan lagi.

“Profesor…” panggil Hyunrae. “Satu-satunya alasan aku ingin mencoba serum itu adalah aku ingin memiliki umur yang panjang. Aku ingin menemanimu sampai kau tua dan meninggal bersamamu.”

Tangan Kyungsoo bergetar kecil ketika kata-kata itu meluncur dari mulut Hyunrae. Ia tak bisa memegang botol serum dengan benar, dan matanya berkaca-kaca. Hati-hati, ia mendekati Hyunrae dan duduk di sofa, tepat di samping Hyunrae.

“Sejak kau kecil, kau benci disuntik. Tapi kau malah harus sering disuntik,” kenang Kyungsoo sambil tersenyum sedih. “Ketika kau lahir, hujan deras turun tanpa henti. Mungkin langit menangis karena harus mengirim malaikat mereka ke dunia yang jahat ini.”

“Legenda yang bagus, Profesor,” balas Hyunrae sambil menjulurkan tangan. “Tapi kali ini, aku tak takut disuntik.”

“Baguslah,” jawab Kyungsoo sambil menyentuh tangan Hyunrae dan menghela napas lemah.

“Profesor, kalau aku koma nanti, apa kau akan hidup dengan baik?” tanya Hyunrae sembari tersenyum lemah. “Kau… tidak akan makan teratur dan bisa jadi kurang minum. Kau akan lupa tidur, mengamatiku terus karena kau ini objek percobaan favoritmu.”

“Aku akan makan teratur dan istirahat teratur.”

“Apa kau akan pergi jalan-jalan keluar rumah sesekali?”

“Ya, tentu,” Kyungsoo membuka tutup jarum suntiknya. “Aku akan menyuntikmu. Jangan menjerit, oke?”

“Tidak akan. Aku janji.”

Hyunrae bisa merasakan jarum itu menusuk kulitnya, membuatnya meringis pelan. Ada cairan mengalir ke dalam darahnya, dan Hyunrae tahu bahwa itu adalah serum ciptaan Kyungsoo. Rasa lemas mengalir di seluruh tubuhnya, membuat kakinya tak berdaya dan lidahnya kelu. Matanya berkunang-kunang, terutama ketika Kyungsoo menarik jarum itu keluar dari tubuhnya.

“Sudah,” bisik Kyungsoo sambil berusaha tersenyum meski matanya tak bohong, berkaca-kaca hebat. “Apa kau mengantuk?”

“Ya… sedikit…” Hyunrae bergumam.

“Hei, lihat… Kau memakai piyama dariku,” ujar Kyungsoo dengan suara serak yang dibuat netral.

“Ini favoritku.”

“Kau suka warnanya?”

“Bukan. Aku suka… karena ini… hadiah darimu.”

Kyungsoo merasakan ribuan jarum menusuk hatinya dalam waktu sedetik, membuat perasaannya sangat sakit. Ia membelai kepala Hyunrae hangat, lalu menarik bahunya pelan untuk bersandar pada Kyungsoo.

“Kau harus berjanji bahwa kau akan bangun, Cho Hyunrae. Aku akan selalu menunggumu bangun, Hyunrae.”

“Ya, Profesor.”

“Jangan terlalu lama tertidur. Itu tidak baik.”

“Ya, aku tahu, Profesor.”

“Kalau kau bangun lagi, kau boleh memanggilku Kyungsoo tanpa Profesor.”

“Sungguh?” bisik Hyunrae serak dan Kyungsoo mengangguk. “Tapi Profesor, bila aku tidak bangun lagi, berpura-puralah seakan tidak terjadi apapun.”

“A-apa?”

“Berpura-puralah… seakan… tidak terjadi… apapun…” Hyunrae berbisik lemah.

“Ya, aku… janji,” balas Kyungsoo pelan. “Hei, aku ingin bernyanyi untukmu. Kau ingin dengar?”

“Hm…,” Hyunrae mengangguk lemah, lalu memejamkan matanya.

Kyungsoo mulai bernyanyi untuk gadis itu. Lagu-lagu yang mereka sukai, lagu-lagu masa dahulu, lagu-lagu kenangan mereka yang menemani mereka di kala sulit maupun senang. Hyunrae melemah, tubuhnya terjatuh ke pelukan Kyungsoo. Kyungsoo memeluk gadis itu erat-erat, lalu mencium keningnya sekali sebelum menggendongnya ke sebuah tabung raksasa di sudut ruangan. Hati-hati, Kyungsoo menidurkan tubuh Hyunrae di tabung raksasa itu, lalu menekan salah satu tombol sehingga tutup kacanya bergerak dan menutup.

“Selamat tidur, Cho Hyunrae. Mimpi indah.”

Bersamaan dengan itu, hujan turun deras, menangisi malaikat kecil mereka yang hidup menderita di dunia manusia.

-=-

Kyungsoo lupa berapa lama waktu berjalan. Yang ia ingat, kemarin ia berjanji pada Hyunrae bahwa ia akan makan dan istirahat teratur. Ia berjanji bahwa ia akan pergi jalan-jalan sesekali bila ada waktu senggang. Ia juga berjanji bahwa ia akan berpura-pura seakan tidak terjadi apapun dalam hidupnya, yang mana adalah sebuah janji tersulit sepanjang hidupnya.

“Aku makan roti pagi ini,” ujar Kyungsoo pada tabung di laboratoriumnya yang membungkus tubuh Hyunrae. “Aku juga minum susu. Hidupku sehat, kan?” ia tertawa kecil.

Tangan Kyungsoo menekan beberapa tombol di sekeliling tabung, memastikan bahwa suhu dan cahaya terpenuhi. Ia memerhatikan rambut Hyunrae yang memutih dan rontok dengan sendirinya, serta kulit gadis itu yang keriput.

“Aku suka sekali cuaca hari ini, Hyunrae. Musim gugur sudah datang, dan hujan turun terus. Kau sangat suka hujan, kan?” ujar Kyungsoo lagi sambil tersenyum. “Ini musim gugur ke-sepuluh sejak kau tertidur Hyunrae. Tak terasa, ya?”

Kyungsoo merasakan matanya basah, dan seluncur air mengalir di pipinya. Ia gemetar sebentar, menahan rasa sakit di dirinya dan hatinya.

“Tiap kali melihat cermin, aku merasa sangat tua, Hyunrae. Anak-anak kecil di jalan menyebutku dengan panggilan Paman. Dan pelayan-pelayan restoran memanggilku Bapak. Lucu, ya? Kau pasti tertawa keras bila ada di sisiku saat itu.”

Sebuah tabung reaksi dari kaca terjatuh tiba-tiba. Kyungsoo melirik sudut lain ruangan, menyaksikan bagaimana benda bening itu hancur berkeping-keping setelah menghantam lantai.

“Hei, apa kau baru saja menjawabku, Cho Hyunrae?” Kyungsoo tersenyum kecil. “Ini jawaban pertamamu dalam sepuluh tahun terakhir.”

Pria itu berdiri dan mengambil sapu, lalu membersihkan serpihan kaca di lantai serta membuangnya ke tempat sampah.

“Aku akan pergi membeli tabung reaksi baru. Kau tunggu sebentar, oke?”

Kyungsoo meraih coat coklat dan memakainya cepat. Ia juga mengambil syal untuk melingkari lehernya yang kedinginan. Ia keluar dari laboratoriumnya, mengunci pintu dengan sandi bertumpuk, lalu keluar dari rumah.

Tapi ia tak melihat sebuah jawaban lain di laboratorium itu. Sebuah contoh sel dengan tetesan serum yang sepuluh tahun lalu ia kerjakan, kini berubah warna dan nampak sehat.

-=-

Pria dengan coat coklat itu menenteng seplastik tabung reaksi yang dibungkus karton. Ia, Profesor Kyungsoo, berhenti sejenak ketika melewati sebuah taman dan duduk di salah satu kursi taman yang kosong. Matanya mengamati anak-anak yang tengah bermain bola di taman dan berkejaran satu sama lain dengan ceria.

“Cho Hyunrae,” bisik Kyungsoo pelan. “Anak-anak itu terlihat lucu, kan? Seperti dirimu dulu ketika seusia mereka. Sayang, kau tak bisa terlalu lama bermain karena tubuhmu lemah.”

Bola anak-anak itu menggelinding ke kaki Kyungsoo. Kyungsoo menunduk dan memungut bola itu dengan satu tangan.

“Paman! Tolong lempar ke sini!”

Kyungsoo melakukannya dan anak-anak itu menyerukan terima kasih. Sementara Kyungsoo kembali duduk di bawah pepohonan, merasakan daun-daun musim gugur yang rontok di atasnya.

“Musim gugur, musim favoritmu. Seandainya kau tahu bahwa dunia ini banyak berubah dalam sepuluh tahun terakhir, Hyunrae. Presiden telah berganti, sistem pendidikan berubah. Orang-orang mulai mempertimbangan tentang kloning di dunia ini. Pemuka agama dan professor biologi saling berjumpa untuk berdiskusi panjang. Menyebalkan, tapi untung aku tak perlu mengikuti hal itu.”

Pria itu menghela napas, menatap langit yang agak mendung seperti musim gugur biasanya.

“Aku masih menunggumu, Hyunrae. Masih, dan akan selalu menunggu.”

Salah satu kancing coat Kyungsoo berkedip, membuat pria itu melonjak bangun. Sebuah penanda khusus telah ia pasang di coat coklatnya, yang mana kancingnya akan berkedip bila pintu laboratoriumnya dibuka tanpa ijin.

“Ada yang membuka pintu laboratoriumku!”

Pria itu bergegas berlari, pulang ke rumah.

“Hyunrae, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?”

-=-

Kyungsoo panik, mendapati pintu laboratoriumnya terbuka. Ia mendekati pintu laboratorium dengan sangat pelan. Paniknya bertambah hebat karena Hyunrae tak ada di sana. Kaca tabungnya terbuka, dengan sedikit jejak pecahan di sana seperti telah dibuka paksa.

“Cho Hyunrae…” bisiknya terkejut. “Siapa yang dengan teganya mengambilmu dariku?”

Belum sempat menghubungi polisi, mata Kyungsoo menangkap contoh sel yang ia taruh di atas meja. Pria itu terkesima sejenak, melihat contoh sel itu nampak baik dan sehat.

“Sel itu… sel yang kuberikan serum milik Hyunrae…,” gumamnya pelan dengan hati berharap.

Ia mendengar suara ribut dari dapurnya, seperti suara benda-benda berjatuhan. Buru-buru Kyungsoo berlari ke dapur. Bukannya penjahat, ia malah mendapati seorang gadis berpiyama berdiri di dapur dan membelakanginya. Gadis itu tak berambut, hanya helaian tipis menyelubungi kepalanya. Dan kulitnya juga berwarna pucat.

“Cho… Hyunrae…?” panggil Kyungsoo sambil menatap gadis itu.

Gadis itu berbalik, lalu menatap Kyungsoo dengan bingung.

“Profesor… Kyungsoo…?” suara gadis itu sangat serak, seperti orang bisu baru belajar bicara.

“Kau… sungguh Hyunrae?” Kyungsoo berbisik sembari menahan tangis.

Hyunrae menatap Kyungsoo beberapa menit, lalu matanya berkaca-kaca.

“Profesor…” ia ingin berlari ke arah Kyungsoo, tetapi terjatuh pada langkah pertama.

Kyungsoo menangkap Hyunrae sebelum gadis itu terjatuh, lalu memeluk Hyunrae erat sambil menangis.

“Kau sungguh-sungguh Hyunrae? Hyunrae-ku? Cho Hyunrae-ku?” Kyungsoo menangis keras, memeluk tubuh Hyunrae yang masih lemah. “Kau bangun? Kau sungguh… sungguh… bangun?”

“Ya, Profesor. Ini aku…, Cho Hyunrae.”

“Terima kasih, Cho Hyunrae. Terima kasih. Terima kasih. Sungguh, terima kasih.”

-=-

“Bagaimana hasilnya?” tanya Hyunrae pelan sembari tiduran di sofa.

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu menunjukkan selembar kertas pada Hyunrae.

“Hasil tes memperlihatkan bahwa selmu tidak mengalami masalah lagi. Serumku berkerja sempurna dan membaur dengan sistem tubuhmu. Aku harus bilang bahwa kau tidak akan mengalami masalah lagi untuk hidup seperti orang normal lainnya.”

Hyunrae tersenyum lemah, belum terlalu kuat untuk bereaksi apapun yang berlebihan.

“Apa… rambutku akan… tumbuh lagi, Profesor?”

“Ya. Kau akan menjadi wanita yang cantik kalau rambutmu sudah tumbuh panjang,” angguk Kyungsoo. “Dan sekarang, kau boleh memanggilku Kyungsoo seperti janjiku dulu bila kau bangun.”

“Kyungsoo…” ujar Hyunrae pelan. “Rasanya… aneh…” tambahnya kecil.

“Kau tidak akan merasa aneh lagi bila terbiasa memanggilku begitu,” jawab Kyungsoo sambil mendekati Hyunrae. “Mulai hari ini, kau jangan pernah sakit lagi. Kau harus hidup dengan sehat dan bahagia. Kau paham?”

Hyunrae mengangguk kecil, membiarkan Kyungsoo mengusap kepalanya dengan lembut.

“Kau sekarang terlihat seperti seorang paman,” ujar Hyunrae pelan.

“Ya, umur memakan fisikku. Tak ada obat untuk membuatku muda selamanya. Aku akan menjadi tua dan mati nantinya. Dan kau… kau juga sama. Kau akan menjadi tua, dan mati.”

“Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai kau tua dan mati.”

“Kau janji?”

“Ya, aku janji, Profesor Kyungsoo.”

-End-

Advertisements

6 thoughts on “The Clone

  1. bbhbyunbae says:

    Kok kepikiran sih?!?!?!?! wwkwkwkwkkwkwkw… tapi emang idenya bagush loh thor.. seperti nya author ini calon2 dokter ya (menebak asal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s