Love of My Life [3]

Love of My Life

| You have my whole heart for my whole life |

| Continue | Kyungsoo, Hyunrae, Suho, Kyuhyun, Jaemin | Life, Love, Romance, Family |

-=-

Sebuah pesta besar berlangsung di ballroom hotel mewah di pusat kota. Mobil-mobil mahal silih berganti, menurunkan penumpang-penumpang yang berstatus sosial tinggi dengan pakaian-pakaian mahal bernuansa formal. Sebuah sedan berhenti di depan pintu lobi, tepat berdampingan dengan red carpet yang digelar di depan hotel tersebut. Kamera televisi langsung menyorot pintu mobil, menanti konglomerat yang turun dari sana.

“Permirsa semua, saat ini ada Nona Cho Hyunrae dari Chasing Diamond beserta keluarganya,” ujar MC yang berdiri tak jauh dari red carpet, lengkap dengan mikrofon di tangannya. “Luar biasa sekali, Nona Cho Hyunrae nampak cantik sekali malam ini dengan balutan gaun keluaran perancang Amanda Chung yang spektakuler itu.”

Hyunrae turun dari mobil sedannya, hati-hati sedikit mengangkat gaun panjangnya yang berwarna biru muda. Sementara Kyungsoo yang memakai setelan jas hitam itu turun dari pintu depan, tak lupa mengajak Jaemin untuk ikut turun dari sedan itu.

“Terima kasih,” jawab Hyunrae sambil tersenyum.

“Wah, keluarga Nona Cho datang semua hari ini. Benar-benar luar biasa. Anak Anda tampan sekali, Nona Cho.”

“Aku senang kalau kalian menyukai anakku yang lucu ini,” jawab Hyunrae ketika MC menyodorkan mikrofon padanya. “Jaemin, katakan sesuatu,” kata Hyunrae pada Jaemin.

“Terima kasih,” kata Jaemin sambil tersenyum malu.

“Kalian benar-benar sebuah keluarga yang membuat iri semua orang di negara ini. Ayah yang tampan, ibu yang cantik, serta anak yang manis. Karena hari ini adalah hari spesial untuk Machriet Company, apa Nona Cho Hyunrae bisa mengatakan sesuatu?”

“Selamat untuk Machriet Company atas pembukaan kantor cabang baru di Seoul. Semoga Machriet Company bisa terus berkarya bagi negara dan dunia.”

“Terima kasih banyak Nona Cho Hyunrae atas kata-katanya yang sangat indah. Sekali lagi, mohon lambaikan tangan ke kamera agar para penonton di rumah dapat melihat Anda dan keluarga Anda yang luar biasa.”

-=-

Jaemin mengulurkan tangan, hendak mengambil makanan yang tersaji di buffet hotel itu. Tetapi badan kecilnya terhalang oleh meja buffet yang terlalu lebar.

“Butuh bantuan?”

Anak itu menoleh, mendapati Kyungsoo berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Hati-hati, Kyungsoo mengambilkan makanan yang Jaemin inginkan. Tetapi pria itu lupa satu hal penting bahwa Jaemin tidak makan nasi. Tepat ketika tangan Kyungsoo nyaris memindahkan nasi untuk Jaemin, anak itu menarik jas Kyungsoo.

“Papa, aku tidak makan nasi.”

“Oh, maaf,” Kyungsoo tersadar sambil memberikan piring Jaemin.

“Terima kasih, Papa.”

Kyungsoo membawa piring Jaemin dengan tangan kirinya. Ia dan anaknya berjalan bersama, mendekati Hyunrae yang tengah duduk di salah satu meja kosong.

“Terima kasih,” kata Hyunrae saat Kyungsoo memberikan satu piring untuknya. “Jaemin, duduk di sini,” tunjuk Hyunrae pada kursi di sebelahnya.

Jaemin tadinya hampir duduk di sebelah Kyungsoo seperti biasa kalau ibunya tak menyuruh untuk duduk di sampingnya. Anak itu makan dalam diam, membiarkan saja ketika beberapa orang wartawan mengambil fotonya atau menyorotnya dengan kamera.

“Nona Cho Hyunrae,” panggil seseorang membuat Hyunrae menoleh.

“Ah,” Hyunrae langsung berdiri dari duduknya. “Tuan Chae, apa kabar?”

“Tidak usah berdiri, Nona Cho. Maaf aku mengganggu acara makanmu. Aku melihatmu tadi dari jauh dan aku belum menyapamu sama sekali.”

“Terima kasih banyak atas undangannya, Tuan Chae. Aku merasa sangat terhormat karena Tuan Chae mengundangku ke acara ini.”

“Tidak, tidak. Aku yang harus berterima kasih karena kau sudah datang ke acara ini. Padahal aku tahu kau pasti sangat sibuk.”

Pria itu, Tuan Chae, mendekati Jaemin yang duduk di kursinya dan masih makan.

“Ini anakmu?”

“Ya,” angguk Hyunrae. “Jaemin, beri salam pada Tuan Chae, pimpinan Machriet Company cabang Seoul.”

“Halo, apa kabar? Saya Jaemin.”

“Sepertinya calon pewaris Chasing Diamond ini sangat pemalu, ya?” kata Tuan Chae sembari mengusap kepala Jaemin.

“Ya, dia kadang tak banyak bicara, terutama kalau sedang makan,” kata Hyunrae entah bercanda atau tidak, tetapi Tuan Chae tertawa kecil mendengarnya.

“Kalau begitu, lanjutkan makan kalian. Nanti kita mengobrol lagi.”

Sepeninggal Tuan Chae, hilang sudah wajah ramah yang sedari tadi Hyunrae perlihatkan. Mungkin orang lain tak menyadari hal itu, tapi Kyungsoo yang duduk di samping Hyunrae bisa merasakan aura kepalsuan yang Hyunrae ciptakan di sana. Mungkin ia sudah terlalu lama bersama Hyunrae hingga bisa membedakan perasaan Hyunrae yang tulus dan yang tidak.

-=-

Hyunrae berusaha menggapai ritsleting gaunnya yang dimulai dari bagian belakang tubuhnya. Tetapi ia tidak berhasil melakukannya hingga akhirnya Kyungsoo mendekati Hyunrae dan menarik ritsleting itu hati-hati.

“Bolehkah saya bertanya sesuatu pada Anda?” tanya Kyungsoo kemudian.

Hyunrae menatap bayangan Kyungsoo di cermin yang berdiri di depan mereka.

“Apa?”

“Apa ada sesuatu antara Anda dan… Tuan Chae?”

“Kau harus berhati-hati dengannya. Dia berbahaya. Dia penjahat kelas berat.”

“Lalu kenapa dia tidak ditangkap?”

“Karena dia penjahat kelas berat,” jawab Hyunrae enteng sambil menjatuhkan gaunnya. “Tolong ambilkan baju tidurku.”

“Baik, Nona,” jawab Kyungsoo singkat sambil mengambil baju tidur Hyunrae di lemari.

“Aku ingin melihat Jaemin sebentar. Kalau kau mau tidur, silahkan saja.”

Wanita itu keluar dari kamar dengan baju tidurnya, menuruni tangga untuk mencapai kamar Jaemin. Tetapi Hyunrae tak mendapati Jaemin di kamarnya.

“Tuan Jaemin tadi ke perpustakaan,” ujar seorang wanita di belakang Hyunrae.

Hyunrae mengenali wanita itu sebagai pengurus rumah yang mendapat shift malam. Mendengar informasi itu, Hyunrae mengucapkan terima kasih dan pergi ke perpustakaan rumahnya.

-=-

Ruang perpustakaan itu masih terang, dan Hyunrae menemukan Jaemin tertidur di salah satu sudut ruangan bersama buku-buku di sekitarnya. Hyunrae membungkuk, mengambil salah satu buku yang tengah Jaemin baca. Mata gadis itu menangkap tulisan-tulisan yang tak asing baginya.

“Bahasa Makedonia,” Hyunrae berdecak kecil. “Kenapa ia belajar sesuatu seperti ini?”

“Mama?”

Wanita itu menoleh pada Jaemin yang tengah berdiri dari posisi duduknya di lantai.

“Kenapa kau tidak tidur di kamarmu?”

“Aku?” Jaemin tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. “Aku sepertinya tertidur di sini.”

“Kembalilah ke kamarmu kalau sudah selesai,” kata Hyunrae sambil memberikan buku di tangannya pada Jaemin. “Jawaban nomor lima salah. Yang benar adalah nazdravye, bukan zdravo.”

Hyunrae berlalu, menyisakan Jaemin sendirian menatap punggung Hyunrae. Anak itu buru-buru melihat jawaban nomor lima, lalu memeriksa kunci jawabannya tanpa pikir panjang.

“Mama bisa bahasa ini?” Jaemin berbisik dalam hati sambil terkagum-kagum melihat ibunya.

-=-

Matahari baru bersinar beberapa menit ketika Kyungsoo menemukan Hyunrae sedang sibuk berenang tanpa mempedulikan dirinya yang menunggu di depan pintu sambil memegang sepucuk surat. Setelah lima belas menit lebih berdiri, akhirnya Hyunrae naik ke daratan dan mengambil handuk di meja sembari mendekati Kyungsoo.

“Siapa pengirimnya?”

“Tuan Chae dari Machriet Company,” jawab Kyungsoo sambil memberikan surat itu.

“Apa isinya?”

“Saya tidak tahu. Saya belum-”

“Buka saja. Bacakan untukku.”

Kyungsoo menurut, menyobek amplop surat itu dan membacanya dengan perlahan.

“Isinya dibuka dengan keluhan Tuan Chae karena Anda tak membalas email darinya dan itu alasan dia mengirim surat ke rumah ini.”

“Apa dia tak punya kerjaan?” gerutu Hyurnae kesal. “Lanjutkan.”

“Mereka menawarkan kerja sama di bidang fashion dan design, serta peluncuran produk bersama. Apa Anda tertarik?”

Rahang Hyunrae mengeras ketika kalimat itu meluncur dari mulut Kyungsoo. Gadis itu menatap Kyungsoo tajam, lalu berkata-kata dengan tegas.

“Perintahkan Suho untuk bertemu denganku di kantor hari ini.”

“Hari ini?” ulang Kyungsoo kaget. “Hari ini Anda harus ke sekolah Jaemin yang baru untuk pertemuan dengan kepala sekolah dan membahas-”

“Apa orangtua Jaemin hanya satu?” potong Hyunrae tajam.

“Maaf, Nona Hyunrae. Tapi setidaknya, saya ingin tahu apa yang terjadi di sini.”

“Tuan Chae sejak dulu berusaha membeli Chasing Diamond. Alasan Suho memaksaku meninggalkan Italia adalah ini, adanya percobaan akusisi dan merger di luar sepengetahuanku. Karena itu aku bersikeras kita semua harus kembali ke sini.”

Kyungsoo mengangkat alisnya tinggi-tinggi, memandang Hyunrae tak percaya.

“Apa hubungannya surat ini dengan dugaan tersebut?” tanya Kyungsoo tak mengerti.

“Itu berarti Tuan Chae berusaha membangun kerja sama dengan perusahaan kita. Setelah sukses, ia akan menjatuhkan kita dari dalam dan membeli perusahaan kita. Aku harus membuat rencana terlebih dahulu sebelum menyetujui kerja sama dengannya.”

“Anda tidak pernah mengatakan masalah ini pada saya?”

“Karena ini tak ada sangkut pautnya denganmu.”

Kyungsoo menghela napas kesal lalu menyodorkan surat itu pada Hyunrae tanpa memandang wajah wanita itu.

“Terserah Anda. Sekarang satu-satunya fokus saya adalah Jaemin. Kalau ia tidak mendapat perhatian dari Anda, setidaknya ia mendapat perhatian penuh dari saya.”

-=-

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu menjabat tangan pria paruh baya di hadapannya. Ia menunduk hormat, lalu mengeluarkan berkas-berkas surat dari tas kerjanya.

“Terima kasih sudah menerima kehadiran saya di sini, Kepala Sekolah,” kata Kyungsoo. “Ini data-data putra saya, Jaemin, yang ingin mendaftar sekolah di sini.”

Belum sempat Kyungsoo membuka berkas-berkas itu, pria di hadapannya sudah lebih dulu menahan tangan Kyungsoo dan menutup berkas-berkas tersebut.

“Saya tahu siapa Anda dan keluarga Anda yang luar biasa itu. Sebuah kehormatan bagi saya selaku kepala sekolah untuk menerima kunjungan Anda.”

Kepala sekolah itu berdiri lagi dan menunduk hormat pada Kyungsoo. Hal ini jelas membuat Kyungsoo langsung cepat-cepat berdiri dan balas menghormati kepala sekolah tersebut.

“Bukan hal besar, Kepala Sekolah,” jawab Kyungsoo merendah, merasa tak enak karena ia selalu diperlakukan secara superior setelah menjadi pasangan Hyunrae.

“Saya tahu bahwa anak Anda sangat luar biasa. Saya melihatnya di televisi, internet, dan koran di negara ini. Jaemin adalah anak yang luar biasa, saya yakin itu. Meski umurnya masih muda, ia sudah menyelesaikan sekolah dasarnya dengan cepat dan baik.”

“Tapi saya belum memperlihatkan nilai-nilai Jaemin pada Anda.”

“Tak perlu, Tuan Kyungsoo. Cukup melihat saja, saya sudah tahu. Anda tak perlu khawatir apapun mulai saat ini. Anak Anda berada di bawah bimbingan yang tepat. Saya berjanji bahwa saya tidak akan mengecewakan Anda dan keluarga Anda.”

-=-

Kyungsoo duduk di kursi belakang mobil sedan hitam miliknya sambil menatap ke jendela. Ia melihat bagaimana kepala sekolah dan jajaran pengajar mengantarnya keluar dari lobi sekolah dengan penuh rasa hormat. Kyungsoo membuka kaca jendelanya, tersenyum sopan sambil menunduk hormat.

“Ada apa dengan orang-orang di dunia ini?” Kyungsoo menggerutu pelan ketika mobilnya sudah berjalan. “Ketika aku remaja, orang-orang menganggapku tak bernilai. Sekarang, mereka memandangku dengan sangat hormat.”

“Anda berhak menerima kehormatan itu, Tuan,” jawab sopirnya sopan.

“Sepertinya kau juga ikut-ikutan seperti itu, kan?” Kyungsoo tersenyum kecil. “Padahal dulu kita bisa bermain bersama dan bekerja bersama. Tapi sekarang kau memperlakukanku seperti itu.”

“Dulu Anda adalah teman saya. Sekarang Anda atasan saya.”

“Itu lucu, Ryeon,” jawab Kyungsoo kecil. “Kau mungkin tidak tahu ini, tetapi kepala sekolah itu bahkan tak melihat nilai Jaemin dan langsung mengiyakan karena latar belakang keluarga Jaemin. Aku tidak tahu harus merasa beruntung atau sakit hati.”

Mobil Kyungsoo berbelok ke kiri, lalu berhenti di depan sebuah pagar raksasa yang megah dan mewah. Tak perlu menunggu lama hingga pagar itu terbuka sendirinya. Mobil Kyungsoo pun berjalan kembali ke arah lobi utama rumah. Di sana, Jaemin sudah menunggu dengan wajah ceria.

“Papa!” Jaemin berseru sambil berlari menuruni tangga teras dan melompat untuk memeluk kaki-kaki Kyungsoo.

“Hai, Jaemin,” Kyungsoo mengusap kepala anak itu. “Kau sudah makan?”

“Sudah. Tadi Bibi Kim membuat pelmeni untukku,” cerita Jaemin sambil memegangi tangan Kyungsoo. “Bagaimana dengan pertemuan Papa dan kepala sekolah?”

“Mereka sudah menerima pendaftaranmu. Dan ketika semester baru dimulai, kau bisa mulai sekolah di sana.”

“Jaemin senang sekali, Papa. Akhirnya Mama mendengarkan Jaemin.”

“Itu karena Mama sangat menyayangi Jaemin,” kata Kyungsoo. “Apa Mama sudah pulang?”

“Belum. Mama di kantor, dan sepertinya ia akan pulang malam.”

“Kau sedirian di rumah?”

“Tidak. Ada Paman Kyuhyun. Ia mengajakku main game di ruang kamarnya.”

“Hai, Kyungsoo,” panggil seorang pria dari dalam rumah, membuat Kyungsoo menoleh.

“Cho Kyuhyun,” jawab Kyungsoo sambil tersenyum. “Terima kasih sudah menemani Jaemin hari ini. Maaf kalau aku membuatmu repot seharian.”

“Tidak sama sekali. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Bisa kita mengobrol berdua?”

-=-

“Selama menemani Jaemin, aku mencoba mengenalnya lebih dalam. Tidak diragukan lagi, dia memang anakmu dan Hyunrae,” Kyuhyun tertawa kecil sambil menatap jendela ruang makan yang mengarah langsung ke kolam renang. “Kecerdasannya tak perlu ditanyakan lagi. Instingnya juga cukup kuat. Sepertinya yang terakhir itu gen darimu,” imbuh Kyuhyun.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Aku melihat banyak buku-buku bahasa di kamarnya. Salah satunya bahasa Makedonia. Apa kau tahu bahwa dia mempelajari salah satu bahasa tertua di dunia itu?”

“Aku tahu,” angguk Kyungsoo.

“Yang membuatku terkejut adalah alasannya mempelajari bahasa ini. Dia bilang, dengan mempelajari bahasa tertua di dunia, akan lebih mudah baginya untuk mempelajari bahasa-bahasa lain. Untuk ukuran anak sepuluh tahun, ini adalah pendapat paling cerdas yang pernah kudengar.”

Kyungsoo menghela napasnya, lalu melihat Jaemin yang tengah bermain di taman belakang rumah dekat kolam renang. Ryeon membuat sebuah layang-layang, lalu menerbangkannya bersama Jaemin. Jaemin nampak sangat terkesan, berlari-lari mengikuti Ryeon dan layang-layang itu.

“Tapi Jaemin masih anak-anak,” gumam Kyungsoo tanpa sadar.

“Aku tahu itu,” Kyuhyun ikut mengamati Jaemin. “Secara kecerdasan, dia memang luar biasa. Tetapi hatinya masih ingin bermain dan bersekolah seperti anak normal lain. Ia berbeda dengan Hyunrae dan aku ketika kami kecil dulu. Kami tahu kemampuan kami, dan kami tak mau membuang waktu untuk bermain demi ambisi kami.”

“Jaemin tak punya ambisi apa-apa. Hal-hal yang dia inginkan adalah hal-hal sederhana seperti bermain dengan Hyunrae, atau sekadar masuk sekolah seperti orang normal.”

“Aku sangat tahu itu. Dia anak yang baik. Aku bertanya padanya, apa dia pernah merasa kesal karena tingkah Hyunrae yang sering mementingkan Chasing Diamond dari dirinya. Tapi Jaemin menjawab bahwa Chasing Diamond tak pernah lebih penting dari dirinya. Dia percaya itu. Dia percaya pada Hyunrae, dan dia percaya padamu.”

Kyungsoo tersenyum sedih, dan matanya masih menatap Jaemin di halaman belakang. Tiba-tiba Jaemin terjatuh, membuat Kyungsoo nyaris berdiri dari kursinya. Tetapi ia bisa melihat tawa Jaemin ketika Ryeon mendekatinya dan menolongnya. Jaemin menggeleng kecil sambil tertawa, pertanda dia tidak apa-apa.

“Aku beruntung punya anak seperti dia,” kata Kyungsoo pelan.

“Kau adalah pria paling beruntung di dunia ini, Do Kyungsoo,” balas Kyuhyun. “Sekarang aku ingin mengatakan sesuatu tentang Hyunrae, CEO Chasing Diamond yang berbahaya itu.”

Otomatis, Kyungsoo langsung menatap Kyuhyun serius.

“Apa?”

“Kau tahu Tuan Chae?” tanya Kyuhyun dan Kyungsoo mengangguk. “Ia, dengan gilanya, berusaha membeli Chasing Diamond selama Hyunrae berada di Italia.”

“M-maksudnya?”

“Banyak orang mengincar Chasing Diamond selama Hyunrae tidak ada. Mereka tahu bahwa Hyunrae berada di tempat yang jauh, tak bisa mengontrol pegawai-pegawainya dan orang-orangnya. Banyak pegawai Chasing Diamond mengundurkan diri dan pindah ke perusahaan lain, salah satunya perusahaan milik Tuan Chae.”

“Machriet Company.”

“Benar, Machriet Company. Bukan perusahaan baru sebenarnya. Tetapi biasanya mereka membuka cabang di Eropa. Di sini, mereka tentu kalah saing dengan Chasing Diamond yang sudah puluhan tahun berkembang. Karena itu mereka ingin membuat kerja sama dengan Chasing Diamond.”

“Mereka harus membangun image lebih dulu,” pikir Kyungsoo.

“Setelah itu, mereka ingin mengembangkan beberapa proyek dengan Chasing Diamond. Tujuannya agar membuat mereka terlihat bersahabat dan tak berbahaya bagi perusahaan Hyunrae.”

“Sebuah usaha yang sia-sia karena Hyunrae sudah menganggap mereka berbahaya.”

“Membuka cabang di Seoul tidak mudah bagi Tuan Chae. Ia harus memiliki modal yang besar untuk menjadi pimpinan Machriet Company Seoul. Pihak pusat di Belanda pun memberikan pinjaman asalkan Tuan Chae bisa mengembalikannya nanti. Tapi tentu saja, bunganya tidak kecil.”

“Apa kau tahu tentang batas waktu pengembalian modal itu?”

“Satu tahun. Dan dalam waktu satu tahun, kalau Tuan Chae tidak sukses, ia pasti akan masuk penjara. Aku yakin itu.”

“Sebenarnya dia hanya akan berakhir dengan dua cara,” balas Kyungsoo sambil menatap Kyuhyun tajam. “Dipenjara karena hutangnya pada Machriet Company, atau dipenjara karena rasa tersinggung Hyunrae.”

“Memangnya aku semengerikan itu?”

Kyuhyun terkejut, nyaris-nyaris melompat kaget karena suara seorang wanita itu. Sementara Kyungsoo langsung menoleh ke arah pintu ruang makan, mendapati Hyunrae berdiri di sana. Mata Kyungsoo beradu pandang dengan Hyunrae, lalu diakhiri dengan Kyungsoo yang berdiri dan meninggalkan ruang makan. Ia melewati Hyunrae begitu saja, tanpa ucapan apapun.

“Kalian bertengkar?” tanya Kyuhyun.

Hyunrae duduk di kursi yang tadi digunakan Kyungsoo. Ia menatap halaman belakang, mendapati Jaemin tengah bermain di sana.

“Kenapa Jaemin tidak belajar?” gumam Hyunrae pelan.

“Tadi dia sudah belajar denganku,” balas Kyuhyun. “Kalau begini caranya terus, kau dan Kyungsoo akan selalu bertengkar. Kyungsoo selalu mengutamakan masa kecil Jaemin, dan kau selalu mengutamakan masa depannya. Kalian tak akan menemukan titik terang.”

“Kau bisa memberikanku nasihat saat istrimu mencoba menyingkirkanmu dari Black Pearl?”

Kyuhyun tertawa sebentar, lalu ikut memandang halaman belakang dengan wajah yang tak bisa ditebak.

“Tak ada yang boleh menyingkirkanku. Sekalipun anak kecil itu.”

-=-

“Kau marah padaku?”

Kyungsoo tak menjawab pertanyaan Hyunrae. Ia hanya melipat tangannya di dada dan memasang wajah tanpa ekspresinya. Matanya menatap Jaemin yang masih bermain dengan Ryeon, kali ini lebih dekat karena ia berdiri di pintu menuju halaman belakang.

“Saya minta maaf,” kata Kyungsoo tiba-tiba.

“Berhentilah memakai kata-kata formal padaku,” potong Hyunrae. “Itu membuatku seperti sangat jauh darimu. Aku benci itu. Kau tahu, kan?”

“Jika Nona terus mengabaikan saya dan membuat saya seperti orang asing di keluarga ini, saya juga akan melakukan hal yang sama. Anda tidak pernah mengatakan apapun tentang Chasing Diamond pada saya. Kyuhyun dan Suho tahu semuanya, tapi saya tidak.”

“Maaf, oke?” kata Hyunrae akhirnya. “Aku tidak mau kau tertekan dengan ini semua. Biar aku saja sendiri dengan timku yang melewati masalah ini.”

“Tapi saya keluarga Anda. Anda seharusnya berbagi kesulitan dengan saya. Kenapa Anda tak melakukannya? Anda hanya menuruti keinginan Jaemin saat Anda ingin mengontrolnya, membuat Jaemin merasa berhutang pada Anda. Apa itu makna keluarga untuk Anda?”

“Aku mungkin tidak memiliki keluarga yang sebenarnya dan kehilangan makna keluarga sejak lama. Tapi bukan berarti kau bisa mengatakan seperti itu. Kau melukaiku.”

“Anda juga melukai saya.”

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s