Love of My Life [4]

Love of My Life

| Continue |

| Kyungsoo, Hyunrae, Suho, Kyuhyun, Jaemin |

| Life, Love, Romance, Family |

-=-

Kyungsoo memerhatikan Jaemin sambil tersenyum kecil. Sudah sekitar sepuluh kali Jaemin membenahi posisi baju seragamnya, nampak begitu senang dengan benda tersebut di tubuhnya.

“Papa, Papa, tolong foto Jaemin,” pinta anak itu sambil berpose.

Sambil tertawa kecil, Kyungsoo mengeluarkan handphone dari saku dan mengambil foto Jaemin. Anak itu memiliki senyum yang indah, dan Kyungsoo sudah menyadarinya sejak dulu. Ia selalu senang kalau Jaemin tertawa, atau setidaknya tersenyum kecil. Karena menurut Kyungsoo, senyum itu adalah alasan satu-satunya bagi Kyungsoo untuk bertahan.

“Ryeon sudah menyiapkan mobil untuk mengantarmu,” kata Kyungsoo. “Jam tiga siang nanti, ia akan menjemputmu di sekolah. Kau paham, kan?”

“Tentu, Papa!”

Ini agak aneh bagi Kyungsoo. Bila orangtua lain mengantarkan anak mereka sekolah pertama kalinya ketika anak itu masih kecil, Kyungsoo malah baru merasakannya saat Jaemin sudah cukup besar. Kyungsoo tak henti-hentinya tersenyum selama berdiri di depan pintu, melihat Jaemin melambai berkali-kali sebelum masuk ke mobil.

“Sayang sekali Nona Hyunrae tak melihat hari pertama Jaemin sekolah,” gumam Kyungsoo pelan ketika mobil Jaemin sudah keluar dari pagar rumah.

-=-

“Halo, aku Jaemin. Senang bertemu kalian semua.”

Hening menerpa ruang kelas yang sebenarnya dipenuhi murid-murid itu. Seorang guru wanita berdiri di samping Jaemin, tepat di depan ruang kelas tersebut agar Jaemin dapat terlihat oleh semua murid di kelas tersebut.

“Jaemin memang masih muda karena ia mengikuti sekolah akselerasi. Jadi ibu berharap, kalian bisa membantu Jaemin untuk beradaptasi dengan kelas kita.”

Kelas tersebut masih hening. Bedanya, beberapa murid saling berbisik satu sama lain, seolah memberikan kabar mengejutkan untuk beberapa teman yang tak tahu apa-apa. Menyerah, guru di depan kelas itu akhirnya menghela napas pelan.

“Jaemin, kau boleh duduk di kursi kosong sebelah sana,” tunjuk guru itu akhirnya pada sebuah tempat duduk kosong di baris paling kiri.

Jaemin tersenyum sambil mengangguk. Ia membawa tasnya dan duduk di kursi kosong tersebut. Di depannya ada seorang anak gadis yang lebih tua darinya, segera menoleh ke belakang untuk melihat Jaemin secara langsung.

“Kau anak Cho Hyunrae?” todong gadis itu langsung pada Jaemin.

“Ya, dia ibuku,” Jaemin mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Aku Hana. Senang bertemu denganmu,” ujar gadis itu lagi.

“Senang bertemu denganmu juga, Hana.”

Lantas Jaemin mengeluarkan alat tulisnya yang berada di dalam tempat pensil warna abu-abu. Hana langsung membuka mulutnya tak percaya melihat alat tulis milik Jaemin.

“Kau memakai ballpoint mewah seperti ini?” tanya Hana tak percaya sambil meraih salah satu alat tulis Jaemin di atas meja. “Ini harganya sama dengan harga laptopku.”

“Jangan norak, Hana,” sahut seorang laki-laki di samping Jaemin. “Murid dengan beasiswa sepertimu memang akan takjub dengan melihat barang-barang mewah seperti itu. Anak seperti Jaemin tidak akan memakai alat tulis seperti milikmu.”

“Jehwan, Hana, apa kalian akan terus berbicara sendiri saat ibu mengajar?” tegur guru mereka tiba-tiba, membuat kedua orang itu langsung diam.

Jaemin menatap Hana yang sudah membelakanginya, lalu diam-diam melirik anak bernama Jehwan yang tadi meledek Hana terang-terangan. Jaemin mengangkat bahunya kecil, tak tertarik untuk masuk dalam pertengkaran itu.

-=-

Bel pergantian pelajaran berbunyi, membuat Jaemin buru-buru melihat jadwal pelajaran yang ada di dalam tasnya.

“Kelas komputer,” pikir Jaemin sambil mengangguk-angguk kecil dan mengambil buku komputer dari tas.

“Kau ikut kelas komputer?” tanya Hana heran.

“Ya, itu menarik. Kau?”

“Aku mengambil kelas lukis setelah ini. Sampai bertemu di pelajaran olahraga.”

“Ya, sampai bertemu.”

Jaemin melangkah melewati koridor, menyadari beberapa orang melihat ke arahnya seolah ia adalah sebuah benda menarik untuk diamati. Buru-buru ia melangkah ke ruang komputer, tak ingin menjadi objek pengamatan terus seperti itu. Ia memilih salah satu komputer yang tak digunakan, mengguncang pelan mouse komputer tersebut.

“Sepertinya ada anak yang ingin membuat kita repot,” gerutu seseorang membuat Jaemin menoleh ke belakang.

Dua orang guru pria tengah berbincang dengan wajah bingung. Mereka mengamati satu komputer dengan sedikit lelah, lalu mengetik beberapa kali.

“Kenapa anak-anak itu sering membuat kita kesulitan?” tambah salah satu guru. “Mereka benar-benar ingin mengacaukan kelas komputer.”

“Kenapa mereka berpikir untuk meretas komputer sekolah?”

“Mungkin mereka ingin mengganti nilai yang disimpan di komputer ini.”

“Jangan konyol. Guru-guru komputer di sini bukan bahan bercanda. Kalau mereka sehebat Athenais, aku tidak akan banyak bicara dan memberi mereka nilai bagus.”

Jaemin cukup tertarik ketika nama Athenais disebutkan oleh salah satu guru itu.

“Bukankah Athenais sudah meninggal?” kata salah satu guru dengan berbisik. “Sebuah situs rahasia di internet terguncang bersamaan dengan kematiannya. Dan itu menyangkut Chasing Diamond.”

Buru-buru guru lainnya berdesis, menyuruh temannya untuk diam. Mereka melirik Jaemin dan saling sikut satu dengan lain. Tak lama kemudian, bel pelajaran berikutnya dimulai.

-=-

“Cukup,” potong Hyunrae sambil mengangkat tangan kanannya. “Aku tidak melihat aspek-aspek yang kau sebutkan tadi sebagai sebuah keuntungan bagi perusahaan ini.”

Seorang pria muda dengan kemeja biru yang tengah memberikan presentasi di ruang rapat tersebut langsung terdiam. Ia menunduk sedikit, lalu mengatakan permintaan maafnya.

“Anda ingin melompat ke halaman selanjutnya?” bisik Suho sopan pada Hyurnae yang duduk di kursi pemimpin. “Bagian selanjutnya tentang-”

“Terima kasih, Suho. Tapi tak perlu. Kau boleh duduk,” kata Hyunrae pada pria berkemeja biru tadi. “Terima kasih untuk presentasimu. Suho, kau boleh tutup rapat hari ini.”

“Tidak ada pengumuman, Nona?” tanya Suho sebelum menutup rapat.

Hyunrae hanya menggeleng kecil, membuat Suho mengerti dan langsung berdiri dari kursinya. Ia menutup rapat dengan ucapan terima kasih dan meminta semua anggota rapat untuk mempersiapkan presentasi lain kali dengan lebih baik. Sesudah itu, semua anggota rapat keluar dari ruang tersebut kecuali Suho dan tentu saja, Hyunrae.

“Bagaimana menurut Anda, Nona?”

“Anak tadi, siapa namanya?”

“Seo Jihan. Dia anggota pelatihan di Chasing Diamond sejak lima tahun lalu.”

“Kau sudah memeriksa latar belakangnya?”

“Kyuhyun dan aku telah memastikan bahwa ia langsung menjadi anggota pelatihan di sini setelah lulus kuliah. Ia berasal dari keluarga dokter dan tak ada yang mencurigakan. Ayahnya seorang dokter, dan begitu pula dengan paman-pamannya.”

Hyunrae menautkan jemarinya satu sama lain, berpikir dengan keras.

“Ibunya seorang wanita sosialita?” pikir Hyunrae sambil membaca sekilas berkas di atas meja.

“Bukan seperti itu,” jawab Suho. “Ibunya adalah wanita simpanan dari dokter tersebut. Wanita sosialita itu ibu tirinya.”

“Bagaimana dengan wanita bernama Han Deura yang tadi memberikan presentasi sebelum Jihan? Aku senang dengan pemikirannya.”

“Dia bersekolah di Eropa selama lima tahun. Keluarganya berasal dari Facture-Biganos, desa kecil di Prancis. Latar belakang keluarganya-”

“Pasti perancang perhiasan,” potong Hyunrae tanpa nada.

“Anda melihat dari presentasinya?”

“Dia banyak berbicara tentang mode, design, warna, tekstur, dan hal-hal berbau seni lainnya. Padahal di perkenalannya, ia adalah lulusan management. Tentu ia mengetahui hal-hal seni itu dari keluarganya. Iya, kan?”

“Bisa dibilang begitu,” Suho mengangguk kecil. “Tapi dia pernah mengikuti pelatihan di perusahaan yang bergerak dalam bidang diamond juga. Nama perusahaan itu Kalliore Laure.”

“Kalliore Laure sudah bangkrut, kan?” pikir Hyunrae.

“Nyatanya tidak sepenuhnya. Mereka, entah bagaimana, memiliki modal untuk memulai kembali dari seperempat yang tersisa. Saat ini mereka masih bertahan hidup di Prancis meski hantaman ekonomi sangat berat.”

“Aku ingin kau mengamati Jihan dan Deura lebih dalam lagi. Sampai dua bulan ke depan, laporkan apapun tentang mereka padaku. Kau paham?”

“Baik, Nona.”

“Kau boleh kembali ke ruanganmu.”

Sepeninggal Suho, Hyunrae menghela napas keras dan bersandar di kursinya. Ia menguap sekali, lalu memandang ke luar jendela ruang rapat yang terletak di lantai sepuluh. Tiba-tiba, pintu ruang rapat diketuk beberapa kali.

“Ya?”

“Nona Hyunrae,” Suho menyelipkan kepalanya. “Ada kiriman untuk Anda.”

Suho membawa sebuket bunga warna biru untuk Hyunrae, lalu menaruhnya hati-hati di meja. Ada kartu ucapan terselip di sana, membuat Hyunrae mengerutkan alisnya tak mengerti.

“Siapa pengirimnya?”

Suho tertawa kecil, lalu berdeham karena menyadari bahwa tawanya itu tak sopan.

“Saya rasa Anda tahu.”

“Kyungsoo?”

“Saya pamit dulu,” Suho berkata sambil menahan tawanya, lalu kabur dari ruang rapat.

Jemari Hyunrae menarik kartu ucapan dari bunga itu, lalu membacanya dengan cepat.

‘Saya tahu ini tak masuk akal. Tapi saya memang tidak bisa pakai akal sehat kalau berurusan dengan Nona. Saya minta maaf karena melukai Anda. Semoga Anda suka warna birunya.’

Hyunrae tertawa kecil, lalu mendengar bunyi handphone di mejanya. Sebuah pesan masuk dari Kyungsoo membuat Hyunrae buru-buru membukanya. Ada beberapa foto Jaemin dengan seragam sekolahnya, tersenyum senang sambil berpose. Langsung saja Hyunrae menghubungi Kyungsoo.

“Halo?”

“Saya mengirim barang untuk Anda.”

“Aku tahu,” jawab Hyunrae berusaha senormal mungkin. “Ini pertama kalinya kau bersikap agak manis, Do Kyungsoo.”

“Ya, saya juga berpikir begitu. Kapan Anda pulang?”

“Jam enam sore. Kenapa?”

“Saya dan Jaemin akan masak bersama nanti. Pastikan bahwa Anda makan di rumah hari ini.”

“Oke. Aku akan makan malam di rumah.”

Setelah sambungan terputus, satu pesan masuk kembali tiba di handphone Hyunrae. Kali ini, foto Jaemin bersama Kyungsoo tadi pagi, sebelum Jaemin ke sekolah.

-=-

“Mamaaaaaa…”

Jaemin memeluk Hyunrae saat wanita itu tiba di ruang makan, masih dengan pakaian kerjanya yang melekat rapi di tubuh. Hyunrae mengusap bahu Jaemin beberapa kali, sebuah balasan akan dekapan anaknya yang nampak senang saat itu.

“Bagaimana sekolahmu?”

“Menyenangkan, Mama. Semua murid di sana sangat baik dan ramah.”

“Ya, tentu saja,” cibir Hyunrae tanpa sadar, membuat Kyungsoo berdeham sekali untuk menyadarkan Hyunrae. “Maksud Mama, kau anak yang menyenangkan. Semua orang menyukaimu.”

“Ya, itu benar,” tambah Kyungsoo. “Dan coba tebak, apa makanan yang Jaemin buat tadi?”

Hyunrae mengetuk kakinya beberapa kali sambil berpikir, lalu secarik jawaban muncul di kepalanya tiba-tiba.

“Kimchi?”

Kyungsoo menekuk alisnya, lalu menatap Hyunrae dengan tatapan paling aneh sedunia. Sementara Hyunrae hanya mengangkat bahu, pertanda dia benar-benar tak tahu.

“Pelmeni,” potong Jaemin semangat. “Jaemin membuat pelmeni bersama Papa tadi.”

“Sungguh? Jaemin memang hebat,” Hyunrae tertawa sambil mengangguk-angguk semampunya. “Sekarang, bisakah kita mulai makan?”

-=-

Hyunrae seharusnya terlihat seperti orang yang siap tidur. Piyama menyelubungi tubuhnya dengan manis, selimut tebal sudah ditarik hingga leher, dan lampu nightstand di sampingnya sudah dimatikan. Tapi sejak tadi, ia menatap langit-langit dengan kosong, entah apa yang ada di pikirannya.

“Anda belum mengantuk?” tanya Kyungsoo.

“Aku memikirkan banyak hal.”

“Seperti?”

Wanita itu menghela napas, tak sanggup menjawab. Hal ini jelas membuat Kyungsoo terganggu.

“Sulit menjelaskannya,” bisik Hyunrae pelan sambil membalik badannya menghadap Kyungsoo.

Kyungsoo menatap Hyunrae dengan bantuan cahaya dari lampu taman yang menembus jendela kamar. Sejak awal tinggal di kamar itu, Hyunrae dan Kyungsoo selalu memberikan sedikit celah pada tirai jendela agar lampu taman dan sinar rembulan bisa menembus di sana.

“Saya pikir Anda akan membagi kesulitan Anda dengan saya. Tapi sepertinya tidak,” kata Kyungsoo dengan suara serak.

“Aku memikirkan banyak hal, dan percayalah, salah satunya adalah kau, Kyungsoo. Dan hal lainnya adalah Jaemin. Kalian itu tak bisa lepas dari kepalaku.”

Tangan Kyungsoo bergerak menyentuh pipi Hyunrae, mengusapnya begitu lembut seolah ingin memberikan ketenangan yang amat sangat dalam. Hyunrae menyentuh tangan Kyungsoo yang berada di pipinya, ingin merasakan kehangatan itu di seluruh dirinya.

“Anda tak perlu terlalu memikirkan saya. Saya baik-baik saja. Saya janji, saya tidak akan membuat Anda sakit hati lagi.”

Tapi Hyunrae menggeleng pelan. Ia malah mendekat, ingin memeluk Kyungsoo.

“Aku ingin kau selalu ada di pikiranku.”

Dan Kyungsoo sudah lupa akan artinya kontrol diri. Ia menunduk, mempertemukan bibirnya dengan bibir Hyunrae, melumatnya begitu lembut dan dalam hingga beberapa menit berselang.

“Bisakah Anda tetap berada di sisi saya ketika saya bangun esok pagi?”

“Ya,” bisik Hyunrae pelan. “Aku akan selalu ada di sisimu.”

Hyunrae memejamkan matanya, membiarkan Kyungsoo mencium bibirnya lagi dan lagi hingga larut malam.

-=-

“Kenapa kau tersenyum tanpa alasan sejak tadi?” tanya Kyuhyun pagi itu ketika ia dan Hyunrae berpapasan di dekat ruang makan.

“Aku?” balas Hyunrae sambil menunjuk dirinya sendiri. “Tidak!”

“Sungguh?” kata Kyuhyun tak percaya. “Pasti ada sesuatu yang menarik antara dirimu dan Kyungsoo tadi malam,” tambahnya.

“Aku akan mengantar Jaemin,” Hyunrae buru-buru kabur dari hadapan Kyuhyun sebelum temannya itu bertanya lebih lanjut.

Sementara Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Apa aku akan dapat keponakan baru?” tanyanya agak keras sambil mengekor di belakang Hyunrae, membuat Kyungsoo dan Jaemin ikut mendengar perkataan itu.

Kyungsoo, yang berdiri dekat pintu rumah bersama Jaemin, langsung menatap Kyuhyun dengan mata besarnya. Ia berdeham sekali, lalu buru-buru menuntun Jaemin keluar rumah. Telinga Kyungsoo memerah, agak panas akibat kata-kata Kyuhyun.

“Apa Jaemin akan punya adik?” tanya Jaemin sambil menoleh ke atas, ingin melihat muka Kyungsoo yang berada di dekatnya.

Kyungsoo sempat tersedak sedikit, lalu menelan ludahnya tak beraturan.

“Tidak. Paman Kyuhyun hanya bercanda,” jawab Kyungsoo jujur. “Masuklah ke mobil.”

-=-

Hyunrae menatap layar televisi di hadapannya dengan wajah serius. Sebuah acara interview yang terlihat normal bagi banyak orang, tetapi tidak sama halnya untuk Hyunrae. Di sisi kiri dan kanannya, ada Suho dan Kyuhyun yang ikut menyaksikan acara televisi itu. Seorang reporter cantik tengah berbicara dengan serius sembari memegang mikrofon di tangannya.

‘Pemirsa, saat ini saya sedang bersama Tuan Jeremy Chae, pimpinan Machriet Company cabang Seoul yang kini sukses dan terus menjadi sorotan publik. Pertama, saya ucapkan selamat untuk Anda dan Machriet Company.’

‘Terima kasih Reporter Young. Ini adalah wawancara pertama saya dengan seorang reporter cantik seperti Anda.’

Ketika reporter itu tertawa malu-malu, Hyunrae sontak memutar matanya ke atas, merasa mual dan tak ingin lanjut menonton lagi.

“Kau tahu reporter itu?” tanya Hyunrae akhirnya pada Suho.

“Wanita itu? Dia itu kekasih rahasia Tuan Chae,” balas Suho sambil tertawa.

“Lalu, kenapa kau memperlihatkan acara tak bermutu ini padaku?” geram Hyunrae membuat Kyuhyun dan Suho terkikik kecil, merasa itu lucu.

“Ia bukan wanita sembarangan. Dia seorang reporter. Kau tahu artinya?” balas Kyuhyun.

“Mata-mata?” tembak Hyunrae. “Dia mata-mata, kan? Apa saja yang ia ingin ketahui? Bukan, lebih tepatnya, apa saja yang ia ketahui? Atau mana yang lebih penting menurut kalian?”

Tiba-tiba handphone Kyuhyun berdering keras, membuat mata Suho dan Hyunrae langsung mengarah pada pria itu. Kyuhyun melontarkan sumpah serapah dalam berbagai bahasa, melihat nama yang tertera di layar handphone. Dengan reaksi itu, Hyunrae dan Suho tahu betul bahwa istri Kyuhyun yang menghubunginya.

“Maaf, aku keluar dulu,” Kyuhyun berkata sambil buru-buru keluar dari ruangan Hyunrae.

“Anda tahu kelemahan seorang hacker kelas dunia seperti dia?” tanya Suho tanpa menunggu jawaban Hyunrae. “Istrinya sendiri.”

“Sudahlah, Suho,” Hyunrae terkekeh kecil. “Bahas masalah Machriet Company saja. Aku ingin dengar analisamu.”

“Anda ingat kasus Museum Menboku di Osaka yang terjadi tahun lalu saat Anda di Italia?”

Hyunrae kehilangan senyumnya ketika Suho menyebut kasus itu lagi. Ia melipat tangannya di dada, lalu menatap pintu yang tertutup.

“Kasus sialan itu gara-gara istrinya Kyuhyun, kan?”

“Aku sangat curiga pada istri Kyuhyun. Anda tahu itu?”

“Jangankan kau. Aku juga curiga padanya. Kasus Museum Menboku itu sempat menghancurkan repurtasi kita. Kita disebut sebagai penipu, memamerkan berlian palsu di sebuah museum, dan merusak moral. Itu benar-benar mempermalukan kita.”

“Kalau kita pikir-pikir lagi, Museum Menboku adalah sebuah museum swasta dan ada bagian sahamnya dipegang oleh keluarga dari istri Kyuhyun. Ini bukan kebetulan, kan?”

“Ditambah lagi…” mata Hyunrae menatap televisi, melihat wajah reporter yang masih bicara di sana, “Reporter Young adalah salah satu orang yang membesar-besarkan berita itu. Bukan kebetulan.”

Di saat bersamaan, Kyuhyun masuk ke ruangan Hyunrae lagi dan menatap kedua temannya.

“Berita buruk,” kata Kyuhyun, dan Hyunrae benci nada itu. “Ryokucha Tokyo membatalkan kerja sama dengan Chasing Diamond.”

-=-

Hyunrae memijat keningnya sendiri saat ia tiba di rumah. Jam tangannya memperlihatkan pukul sepuluh malam, alasan dari rumahnya yang kini sunyi sepi. Para pengurus rumah pasti sudah kembali ke kamar masing-masing mengingat jam kerja sudah selesai. Tapi tidak dengan Kyungsoo, karena Hyunrae mendapati pria itu tertidur di sofa ruang tengah.

“Kyungsoo,” panggil Hyunrae sambil mendekati pria itu, lalu berlutut agar sejajar dengan wajah Kyungsoo. “Hei, kenapa kau tidur di sini?”

Mata Kyungsoo terbuka pelan-pelan, nampak memerah seperti orang yang terbangun pada umumnya. Ia bertatapan dengan Hyunrae secara langsung, lalu pelan-pelan duduk di sofa itu.

“Anda baru pulang? Ada yang harus saya bicarakan dengan Anda. Jadi saya menunggu Anda.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Biarkan saya ikut ke kantor bersama Anda tiap hari. Taruh saya di satu posisi, apapun itu juga, yang penting saya bisa bersama Anda di kantor.”

“Kantor akan membuatmu lelah, Kyungsoo. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Saya tahu itu. Tapi biarkan saya melakukannya untuk Anda dan Jaemin. Saya tidak ingin seperti ini terus, tak tahu apa-apa tentang Anda dan Chasing Diamond.”

“Aku tak ingin Jaemin kesepian di rumah. Kalau ada kau, setidaknya dia punya teman.”

“Anda tahu bahwa Jaemin kesepian. Tapi kenapa Anda masih pulang kantor pukul sepuluh dan tak pernah ada di rumah untuk dia? Ini bukan Italia, Nona. Di sana, Jaemin punya banyak kenalan dan Anda tak bekerja sampai larut. Tapi di sini, ini tempat baru untuknya. Dia butuh Anda. Jadi biarkan saya ikut Anda ke Chasing Diamond supaya saya bisa mengatur Anda.”

“Mengaturku?”

“Ya, mengatur Anda. Jadi Anda pulang sebelum pukul enam sore bersama saya.”

“Jangan konyol. Chasing Diamond sedang di ambang perang.”

“Begitu pula dengan Anda dan saya. Jika saya tahu lebih banyak, saya bisa membantu Anda, kan? Jadi taruh saya di salah satu posisi Chasing Diamond. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik.”

Hyunrae hanya bisa berlutut di hadapan Kyungsoo, menatap kaki Kyungsoo yang kebetulan ada di depan matanya. Sementara Kyungsoo masih duduk di sofa, menunduk dan melihat Hyunrae terus meski Hyunrae menghindari matanya. Akhirnya Hyunrae berdiri, ingin pergi dari sana. Tapi Kyungsoo menarik tangan Hyunrae dan meminta Hyunrae duduk di sofa.

“Apa kau serius ingin ikut ke neraka itu?” bisik Hyunrae akhirnya, menyerah pada Kyungsoo.

“Ya, saya serius, Nona.”

“Ikutlah mulai besok. Aku akan menaruhmu di jabatan pengawas divisi pelatihan trainee Chasing Diamond. Kau puas?”

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan perlahan.

“Terima kasih, Nona Hyunrae.”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Love of My Life [4]

  1. Keykan says:

    Menarik.
    Aku suka penggambaran jaemin yg sangat lucu di sini. Meskipun masih kecil… dia sangat menentukan hyunrae dan kyungsoo.. aku jg suka relasi jaemin dengan kyungsoo. Sangat lucu sekaligus membuatku teringat ayahku..

    • Memang agak susah membentuk Jaemin di cerita ini. Soalnya aku pengen bikin dia beda dari anak2 lain yg dibesarkan di keluarga terpandang. Btw aku jg selalu inget ayahku kok kalau liat interaksi jaemin dan kyungsoo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s