Knotted [1/5]

Knotted

| You and I will always be unfinished business |

| Continue | Hyunrae, Baekhyun, Kyungsoo | Drama, Love, Romance |

-=-

Kyungsoo menatap Hyunrae yang masih menunduk. Ruang tunggu itu sepi, dan hanya mereka berdua di sana. Lampu di depan pintu ruang operasi masih menyala, pertanda operasi masih berlangsung. Jam dinding menunjuk pukul satu dini hari, membuat Kyungsoo tak tega bila Hyunrae terus di sana untuk jangka waktu yang tak jelas.

“Ini sudah jam satu pagi. Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengabarimu nanti, Hyunrae,” kata Kyungsoo pelan dengan wajah agak mengantuk.

Tetapi Hyunrae menggeleng kecil, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat Kyungsoo yang duduk di kursi depannya.

“Aku akan menunggu di sini. Ia tak pernah meninggalkan aku sekalipun aku meninggalkannya. Kali ini aku tak akan pergi.”

Sejenak, Kyungsoo melupakan rasa mengantuknya dan tersenyum tipis. Ia mengamati Hyunrae hati-hati, lalu membuang napas perlahan.

“Kau pasti merasa bersalah padanya,” ujar Kyungsoo pelan. “Tapi ia melakukan semuanya agar kau tak membencinya.”

“Maksudmu?” balas Hyunrae serak.

“Kau ingat masa SMA kita? Saat itu ia menjadi guru favorit kita semua. Usianya hanya terpaut lima tahun dengan kita dan benar-benar baru selesai kuliah. Semua anak laki-laki mengaguminya, dan semua anak perempuan menyukainya.”

“Ya, aku ingat,” Hyunrae mengangguk kecil. “Hwang Saera sangat menyukainya. Bahkan, dua saudara kembar Minji dan Minjoo sangat tergila-gila padanya hingga bertengkar hebat di sekolah.”

“Dan semua perempuan di angkatan kita membencimu karena kau murid favorit Byun Seonsaengnim,” tambah Kyungsoo membuat ekspresi tawa Hyunrae memudar.

Hyunrae diam karena ia tahu kejujuran Kyungsoo. Kyungsoo pria yang baik, tak suka mengumbar sesuatu dan memilih menyimpannya sendiri. Ia menyimpan apa yang ia ketahui demi harga diri Baekhyun, demi melindungi Baekhyun dari rasa sakit.

“Aku murid favoritnya?” tanya Hyunrae sedih.

“Kau tahu, pria adalah jenis yang suka menjadi konyol ketika jatuh cinta. Berbeda dengan wanita yang lebih cenderung menjadi pemarah atau suka beralasan. Baekhyun mengganggumu, jahil padamu, menyita waktumu dan sebagainya agar kau tetap dalam jangkauannya.”

“Aku tidak melihat tanda-tanda itu.”

“Karena ia berusaha menyembunyikannya lewat aku,” jawab Kyungsoo pelan. “Kadang aku benci itu. Aku ingin dia jujur padamu, tidak bersembunyi lewat diriku. Tapi dia malah melakukan hal konyol seperti membuatku duduk semeja denganmu di meja paling depan dan berhadapan langsung dengan meja guru.”

“Dia melakukan itu karena nilaiku jelek dan nilaimu bagus.”

“Bukan,” potong Kyungsoo. “Dia ingin kau duduk di meja yang berhadapan dengannya agar dia bisa melihatmu terus. Tetapi dia tahu bahwa kau akan sangat kesal dengan ide itu. Maka ia menyuruhku duduk denganmu untuk menghiburmu.”

Lagi-lagi Hyunrae terdiam, tak mampu mengangkat matanya untuk memandang Kyungsoo. Tiba-tiba Kyungsoo berdiri, berjalan dan duduk di samping Hyunrae. Ia merangkul Hyunrae, ingin agar Hyunrae bisa merasa tenang. Tapi tak ada alasan bagi Hyunrae untuk tetap tenang.

-=-

Hyunrae selalu ingat hari-hari yang dijalaninya dengan Baekhyun. Bukan Baekhyun sebagai gurunya, tetapi Baekhyun sebagai pelatih hapkidonya.

“Sekarang Cho Hyunrae melawan Kim Jusung.”

Mulut Hyunrare terbuka karena kaget, melihat Kim Jusung, pria yang tubuhnya sangat besar dan bisa dikatakan tiga kali lipat bobot Hyunrae. Tangan Hyunrae gemetar setengah mati, memegangi sabuknya yang sudah diikat kencang. Mata Hyunrae melirik Baekhyun dengan kesal, menyumpah dalam hati karena Baekhyun pasti sengaja memilihkan lawan yang sulit untuknya. Tapi Baekhyun hanya tersenyum kecil, sebuah senyum jahil yang tak pernah hilang dari wajahnya.

“Cho Hyunrae,” panggil Baekhyun. “Kau tidak ingin maju?”

“B-baik, Sabunim.”

Kaki Hyunrae sudah terasa berat ketika maju ke tengah arena tarung. Jusung nampak sangat percaya diri, siap mematahkan tulang-tulang Hyunrae dalam benak Hyunrae. Tapi Baekhyun tetap memandang Hyunrae dengan geli seolah Hyunrae sebuah tontonan paling seru abad ini.

-=-

“Dia benar-benar menyebalkan, kan?” isak Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu mengusap bahu Hyunrae lagi. Saat Hyunrae akan menyahut, lampu di depan pintu ruang operasi mati dan seorang dokter keluar sembari membuka maskernya. Dokter itu langsung menghampiri Kyungsoo dan Hyunrae.

“Suho, bagaimana keadaannya?” tanya Kyungsoo cepat.

Suho berdeham kecil, bukan pertanda baik karena ia tak terlihat senang.

“Peluru sudah dikeluarkan dari tubuhnya, tetapi kondisinya tak stabil. Ada kemungkinan bahwa ia tidak akan sadar dalam waktu cepat.”

-=-

Hyunrae menatap tubuh pria yang tertidur di ranjang rumah sakit itu. Selang infus dan alat penunjang kehidupan lainnya menempel di tubuh pria itu. Kyungsoo juga ada di sana, berdiri dekat jendela sambil mengamati pria tersebut.

“Kalau melihatnya seperti ini, aku merasa Baekhyun sudah sangat tua,” kata Kyungsoo sedih.

“Ia baru di awal tiga puluh tahun,” balas Hyunrae datar.

“Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya memiliki atasan yang merupakan mantan gurumu sendiri?”

Hyunrae terkekeh pelan mendengar pertanyaan bagus itu. Ia menatap Baekhyun yang belum sadar sambil mengingat kenangan antara dirinya dan Baekhyun.

“Rasanya lucu. Dia bukan hanya guruku. Dia juga tetanggaku, dan guru les hapkido di dekat rumahku. Aku hampir menghabiskan seluruh hariku dengannya.”

“Sekarang aku tahu alasan Kris Wu sangat membenci Byun Seonsaengnim. Kris tergila-gila padamu, tapi kau dan Baekhyun selalu menghabiskan waktu bersama. Parahnya lagi, Kris Wu terobsesi denganmu hingga menembak Baekhyun lima tahun lalu. Efeknya masih terasa hingga detik ini.”

Wajah Hyunrae berubah tegang. Ia menelan ludahnya beberapa kali dengan cepat, merasa ketakutan akan masa lalu gelap yang pernah dialaminya dan menghantuinya hingga kini.

“Aku berharap bahwa aku bisa melupakan hal itu. Setelah baku tembak lima tahun lalu, aku tak pernah melihat Kris ataupun Baekhyun lagi.”

“Kau ingin dengar cerita lengkapnya?” tanya Kyungsoo, dan ia tak menunggu jawaban Hyunrae. “Byun Seonsaengnim tak menghilang. Ia pergi ke Kanada, menjalani pengobatan di sana. Tiga tahun di Kanada tak cukup untuk menyembuhkannya. Beberapa peluru tak berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.”

“Apa kau tak merasa bersalah karena baru mengatakan hal itu sekarang?”

“Dia,” tunjuk Kyungsoo pada Baekhyun. “Dia adalah alasannya. Ia memintaku merahasiakan semuanya darimu. Mengerti?”

“Tidak,” geleng Hyunrae pelan. “Ceritakan padaku semuanya, Do Kyungsoo.”

“Jangan menyesal, Cho Hyunrae. Tapi Seonsaengnim, Byun Baekhyun, telah mencintaimu sejak lima tahun lalu.”

“Kau bohong.”

“Tidak. Aku tidak berbohong.”

-=-

Do Kyungsoo masih ingat hari itu. Ia masih memakai seragam SMA, mengetuk ruangan Baekhyun yang merupakan wali kelasnya saat itu. Jantungnya berdetak kencang, takut kalau ia membuat kesalahan atau nilainya turun.

“Selamat siang, Byun Seonsaengnim.”

“Hai, Kyungsoo. Masuklah, dan duduk di sini,” tunjuk Baekhyun pada sofa tamu di ruangannya.

“Apa… nilai ulangan terakhir-”

“Tak ada masalah dengan nilaimu, Murid Terbaik,” Baekhyun tertawa kecil sambil mengeluarkan dua kotak kecil dark chocolate dan memberikannya pada Kyungsoo. “Masalahnya adalah, besok hari kasih sayang.”

“Benar, Seonsaengnim,” Kyungsoo bingung menjawab karena ia tak bisa menebak arah pembicaraan ini. “Seonsaengnim ingin merayakannya denganku?”

“Tentu saja tidak,” potong Baekhyun sambil tertawa. “Ambil satu kotak untukmu dan berikan satu lagi untuk Hyunrae. Kau tahu Hyunrae, kan?”

“Tentu tahu, Byun Seonsaengnim. Seonsaengnim membuat Hyunrae duduk semeja denganku.”

“Dia butuh teman semeja yang pintar karena nilainya sangat buruk. Karena itu aku ingin kau duduk dengannya.”

“Lalu, apa hubungan Hyunrae dengan coklat ini?”

“Kalau aku mengatakannya, apa kau akan marah padaku?”

“Tidak,” Kyungsoo menjawab jujur.

“Hyunrae menyukaimu. Aku tahu bahwa aku terdengar tidak professional sebagai guru dengan mengatakan ini. Tapi bagiku, Hyunrae lebih dari sekadar murid. Ia temanku, tetanggaku, anggota pelatihan di tempat aku mengajar hapkido, dan aku menyukainya. Tapi ia benci padaku karena aku berusaha mendekatinya.”

“Tentu saja ia membenci Seonsaengnim. Seonsaengnim sengaja menyuruhnya mengerjakan tugas di papan, meledeknya tiap ada kesempatan ketika kalian berada di rumah, atau mengirimi SMS tak penting padanya sepanjang waktu.”

“Ia cerita padamu?” Baekhyun terkaget-kaget sendiri.

“Ya. Dan menurutku, Seonsaengnim seperti anak TK yang menyukai teman sekelasnya. Mengganggu, mengerjai, dan mengusik terus-menerus.”

“Kau benar,” Baekhyun tertawa keras, sama sekali tak tersinggung. “Tapi aku memang begitu. Seandainya aku bisa jujur, terus terang, dan dewasa sepertimu, tentu aku tak perlu repot-repot bertingkah seperti ini.”

“Seonsaengnim tak tersinggung dengan ucapanku?”

“Tidak. Karena kau benar. Aku selalu menganggapmu sebagai temanku, bukan muridku. Kau murid kesayanganku, siswa paling dewasa di kelasku. Dan tentu saja, kau murid terpintar di kelasku. Aku sangat menyukaimu, Do Kyungsoo,” jawab Baekhyun jujur.

“Lalu, bagaimana dengan coklat ini?”

“Katakan pada Hyunrae kalau kau yang membelinya. Dia pasti senang. Dia suka dark chocolate, apalagi yang diberikan olehmu.”

“Itu berarti aku membohonginya.”

“Maaf jika kau merasa kesal dengan permintaan ini. Akan kubatalkan.”

Baekhyun hendak mengambil kembali coklat itu. Tetapi Kyungsoo menahannya dengan cepat.

“Bukan itu masalahnya. Kenapa tidak Seonsaengnim saja yang memberikannya langsung?”

“Hyunrae akan menolaknya mentah-mentah. Ia kesal dengan tindakan childish yang selalu kulakukan padanya. Aku ingin Hyunrae senang walau ia tidak tahu bahwa aku yang melakukannya.”

-=-

“Dan esok harinya, aku memberikan coklat itu padamu. Kau sangat senang. Aku tak bisa mengatakan bahwa Baekhyun yang memberikannya,” aku Kyungsoo pada akhirnya.

Hyunrae mulai terisak pelan karena cerita itu. Ia menatap Baekhyun dengan sedih, tak sanggup menahan air matanya.

“Kenapa ia melakukan itu?” bisik Hyunrae pelan, tapi Kyungsoo mendengarnya.

-=-

Do Kyungsoo ingat betul alasannya. Dan ia tak akan lupa sampai selamanya.

“Kenapa kau melakukan ini?” bisik Kyungsoo pelan.

Baekhyun tersenyum, lalu mengacak rambut Kyungsoo seolah Kyungsoo adalah adiknya sendiri.

“Aku menyukai Hyunrae. Tapi di atas semua itu, aku mencintainya.”

-To be continued-

Advertisements

12 thoughts on “Knotted [1/5]

  1. Jaeminahhhhhhhhh says:

    aku mikirnya kayak ya udh baekhyun relakan aja ceweknya sama kyungsoo. tp setelah aku telaah (cie elah telaah) kayknya kyungsoo ga cinta sama cewek itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s