Knotted [2/5]

Knotted

| You and I will always be unfinished business |

| Continue | Hyunrae, Baekhyun, Kyungsoo | Drama, Love, Romance |

-=-

Entah sudah berapa hari Baekhyun terlelap. Yang Kyungsoo ingat, bulan sudah berganti dan uang rumah sakit sudah dilunasi oleh sebuah perusahaan bernama Next Door Company. Kyungsoo tahu betul bahwa Baekhyun adalah CEO perusahaan itu, dan tentu saja ia sudah membuat jadwal pembayaran uang perawatannya sendiri sebelum ia berada dalam fase tidak sadar itu.

“Hai, Kyungsoo,” sapa Suho hari itu. “Dan halo, Hyunrae,” tambah Suho ketika mendapati Hyunrae duduk di sofa.

“Halo, Suho,” jawab Kyungsoo. “Kau ingin apel?” tawar Kyungsoo lagi sambil memberikan sebutir apel.

“Terima kasih,” balas Suho sambil duduk di sofa, tepat di sebelah Hyunrae. “Aku tidak tahu alasanmu berpacaran dengan pria sekonyol Baekhyun. Tak ada orang yang lebih aneh dari dia,” kata Suho tiba-tiba, lalu menggigit apelnya.

“Aku tak punya rencana untuk berpacaran dengan mantan guruku sendiri. Apalagi statusnya adalah atasanku di Next Door.”

“Kau bekerja di Next Door Company?” kata Suho kaget.

-=-

Ingatan Hyunrae melayang ke hari itu, saat Jongdae, kakak tirinya memberikan sebuah jas hitam baru untuknya. Minseok, kakak tirinya yang paling tua, memberikannya sepatu baru.

“Kenapa kalian harus repot-repot?” tanya Hyunrae sambil mencoba hadiah-hadiah itu.

“Kami sangat bersyukur, Cho Hyunrae,” balas Minseok. “Ini pertama kalinya ada perusahaan yang mau menerima berkasmu. Berterimakasihlah pada Jongdae karena ia mengisi formulirmu dan mengirimkannya tepat waktu.”

“Aku akan berterimakasih kalau ia tak mengisi hal-hal aneh di formulir itu,” balas Hyunrae.

“Hei, aku tidak sekonyol itu,” Jongdae tak mau kalah. “Sudahlah, cepat bersiap dan jangan terlambat, Cho Hyunrae. Apa kau bisa pergi sendirian ke sana?”

“Bisa,” jawab Hyunrae yakin. “Terima kasih untuk hadiah kalian.”

Hyunrae ingat, ia datang ke kantor Next Door Company dengan hati berdebar-debar. Begitu banyak peserta interview di ruang tunggu, membuat imannya goyah. Ketika nomornya dipanggil, ia melangkah dengan separuh pasti dan duduk di kursi kosong dalam ruang interview.

“Nona Cho Hyunrae?” tanya salah satu juri interview saat itu.

“Ya,” angguk Hyunrae.

“Kami akan memulai interview lima menit lagi karena CEO kami sedang mengurus sesuatu. Beliau bersikeras ingin tetap mengikuti interview dan melihat langsung calon pegawainya. Kami mohon Nona ingin menunggu sebentar.”

Hyunrae memperkirakan sosok CEO itu. Pria paruh baya, namun masih gagah dan hebat. Tampan, memiliki keluarga yang luar biasa, serta begitu menarik untuk dipandang. Pria yang punya ratusan atau bahkan ribuan, atau bahkan jutaan pengalaman hidup. Pria yang-

“Maaf membuatmu menunggu.”

Hyunrae dan seluruh juri interview langsung berdiri dan menatap ke arah pintu masuk. CEO itu tak seperti bayangan Hyunrae sama sekali. Ketika semua juri interview menunduk hormat padanya, Hyunrae hanya bisa menatap CEO itu dengan wajah kaget luar biasa.

“Selamat siang, Byun Sajangnim. Ini adalah peserta interview gelombang ketiga yang bernama Nona Cho Hyunrae.”

Baekhyun tersenyum, lalu menatap Hyunrae yang masih nampak kaget. Tangan Baekhyun merapikan jasnya sebelum duduk di kursinya, diikuti oleh juri-juri lain yang juga duduk di kursi mereka. Tapi Hyunrae masih berdiri dengan mulut separuh terbuka, membuat Baekhyun terkekeh kecil dan menjulurkan tangannya.

“Silahkan duduk, Nona Cho.”

Barulah Hyunrae tersadar dengan tingkah konyolnya. Ia menunduk malu dan duduk dengan grogi. Matanya menghindari tatapan Baekhyun, terlalu malu untuk sekadar bertukar pandang. Dapat Hyunrae lihat, Baekhyun tengah memeriksa berkas-berkas Hyunrae di tangannya.

“Kau hobi memasak?” tanya seorang juri pria di sebelah Baekhyun.

Hyunrae melebarkan matanya, mengutuk Jongdae dalam hati, lalu terpaksa mengangguk sambil menelan ludah. Ia tak mungkin berteriak menyumpahi kakak tirinya itu dan mengatakan pada seluruh dunia bahwa Jongdae yang mengisi formulir itu.

“Prestasimu… menarik juga. Juara tiga lomba lari, juara satu tenis meja, juara dua membaca puisi, dan pernah menjadi peserta olimpiade sains. Tapi, mengapa tak ada satu hal pun yang berhubungan dengan fashion?” tanya juri wanita yang nampak mengerikan. “Apa kau tidak tahu kalau Next Door adalah sebuah perusahaan fashion?”

Tak ada satu pun yang bisa Hyunrae buat kecuali menghujat Jongdae dalam hati. Tapi bukan sepenuhnya salah Jongdae karena Hyunrae sendiri yang membiarkan kakak tirinya mengisi formulir itu. Ragu, Hyunrae mengangkat kepalanya dan bertatapan langsung dengan mata sipit Baekhyun. Ia bisa melihat Baekhyun tersenyum kecil, seolah meledeknya seperti dulu.

“Bisa Nona Cho menjawabnya?” tanya seorang pria lagi, juri interview yang nampak paling tua di sana dan nampak paling tak menyenangkan.

Hyunrae tiba-tiba teringat akan masa SMA, ketika Baekhyun menyuruhnya mengerjakan soal di papan tulis padahal Hyunrae tak mengerti soal itu sama sekali. Baekhyun akan duduk di kursi guru, menatap Hyunrae dengan senyum yang sama persis dengan senyum saat ini. Atau ketika Hyunrae ikut duel hapkido di tempat les, Baekhyun sengaja memberikan lawan paling mematikan baginya. Dan pria itu akan tersenyum kecil menyaksikan Hyunrae yang kelimpungan.

Persis saat ini!

“Cho Hyunrae,” potong Baekhyun tiba-tiba. “Maksudku, Nona Cho.”

“I-iya?”

“Mulai minggu depan, datang setiap hari ke kantorku. Aku ingin kau menjadi sekertarisku. Kau paham?” kata Baekhyun tegas dengan senyum manisnya.

Seingat Hyunrae, ia berdiri dan menatap Baekhyun tak percaya.

“J-jadi… a-aku… diterima di s-sini?” Hyunrae tergagap-gagap, kaget bukan main.

“Ya, kau diterima sebagai sekertarisku.”

“Sungguh?!” Hyunrae berseru girang sampai berdiri. “Terima kasih banyak. Terima kasih,” ulangnya sambil menunduk berkali-kali.

-=-

“Jadi kau diterima sebagai sekertarisnya?” tanya Suho tak percaya sambil menghabiskan apel di tangannya. “Ini aneh. Kupikir, ia orang terakhir di dunia ini yang butuh sekertaris.”

“Maksudnya?” Hyunrae mengangkat alisnya tak paham.

“Seingatku, interview waktu itu untuk mencari peserta pelatihan baru, bukan sekertaris.”

“Aku tidak pernah tahu,” aku Hyunrae akhirnya. “Kakak tiriku mengisikan formulir itu untukku.”

Tanpa Suho dan Hyunrae pahami, Kyungsoo memotong obrolan tersebut dengan tenang.

“Yang ia butuhkan bukan sekertaris. Ia butuh Hyunrae,” kata Kyungsoo bijaksana.

Dan ruangan itu menjadi sepi. Hanya ada suara monitor jantung Baekhyun berbunyi di sana.

-=-

Beberapa hari setelahnya, Kyungsoo belari-lari di sepanjang koridor rumah sakit. Suho baru menghubunginya, mengatakan pada Kyungsoo untuk datang tanpa Hyunrae. Cukup meyakinkan bagi Kyungsoo bahwa sesuatu sudah terjadi. Tak tahu itu baik atau buruk.

“Gurumu sudah sadar,” kata Suho di depan pintu, menyambut Kyungsoo yang terengah-engah.

“Lalu kenapa Hyunrae tak boleh datang?”

“Baekhyun memintanya. Kau… dan Hyunrae… mungkin tak tahu efek samping operasi itu.”

“Aku… apa maksudmu?” tanya Kyungsoo kaget.

Suho pun menceritakan tentang hari itu.

-=-

Kejadiannya dua hari sebelum operasi Baekhyun. Suho mendatangi kamar Baekhyun dan berkata dengan jelas pada sahabatnya.

“Kau sudah tahu akibatnya, kan?” tanya Suho pelan. “Alasan dokter di Kanada tak ingin mengeluarkan sisa dua peluru itu adalah karena kau bisa kehilangan kakimu.”

“Aku tahu,” Baekhyun menjawab serak. “Tapi ini menyiksaku,” Baekhyun menambahkan sambil tertawa kecil.

“Kau masih bisa tertawa?”

“Apa kau ingin aku menangis dan memelukmu?”

“Sebaiknya jangan,” Suho tertawa kecil mau tak mau. “Tapi ini serius, Byun Baekhyun. Aku akan merasa sedih kalau aku mengeluarkan peluru di kakimu tapi kau tak bisa berjalan lagi.”

“Aku tak apa-apa. Ini untuk menghilangkan penderitaanku, Suho. Aku lelah, sangat. Hanya jangan katakan pada Hyunrae tentang hal ini.”

“Kenapa selalu tentang dia?”

“Karena aku tak ingin ia merasa bersalah.”

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s