Knotted [3/5]

Knotted

| You and I will always be unfinished business |

| Continue | Hyunrae, Baekhyun, Kyungsoo | Drama, Love, Romance |

-=-

“Hai, Byun Seonsaengnim,” bisik Kyungsoo rendah pada pria di atas ranjang.

Pria itu terjaga dengan mata lemah dan alat-alat penunjang hidup di sekujur tubuhnya. Ia menatap Kyungsoo letih, tak mampu berbuat banyak.

“H-Hyunrae?”

“Aku datang tanpanya. Kau tenang saja, Byun Baekhyun.”

“Terima kasih,” balas Baekhyun lemah.

“Tapi Hyunrae khawatir. Dia menghubungiku sepanjang waktu. Aku selalu bilang bahwa kondisimu belum berubah. Dia sangat menyesal, dan aku juga… aku juga menyesal. Ini salahku.”

Baekhyun memejamkan matanya sejenak.

“Bukan salahmu.”

“Kau salah paham, Baekhyun,” tegas Kyungsoo sambil menyebut nama Baekhyun langsung. “Hyunrae sama sekali tak bermaksud mengatakan hal itu. Ia tidak sadar akan ucapannya.”

“Bukan salah Hyunrae juga. Aku yang salah. Aku tidak apa-apa.”

-=-

Mungkin Baekhyun bilang, ia tak apa-apa. Tapi pria itu ingat betul hari itu, hari paling menyakitkan sepanjang hidupnya. Ia berharap tak pernah mengalami hari itu. Ketika itu, ia menunggu di depan rumah Hyunrae yang kosong karena dua kakak tiri Hyunrae bekerja hingga larut malam. Sekitar dua jam menunggu, sebuah sedah hitam berhenti di depan pagar rumah, dan Baekhyun langsung semangat ketika Hyunrae turun dari sana.

“Terima kasih,” kata Hyunrae pada pengemudi sedan itu.

Pengemudi sedan itu turun, dan Baekhyun bisa melihat bahwa pengemudi itu adalah Kyungsoo. Raut senang Baekhyun hilang, apalagi ketika Hyunrae mendekati Kyungsoo dengan senyum manis.

“Tak masalah, Cho Hyunrae,” angguk Kyungsoo.

“Masuklah dulu ke rumahku,” kata Hyunrae lagi, cukup jelas terdengar oleh Baekhyun.

“Tidak bisa, Hyunrae. Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” tolak Kyungsoo halus.

“Apa pekerjaan lebih penting dariku?” Hyunrae menaikkan nada bicaranya tiba-tiba. “Kau selalu menjadi yang terpenting bagiku. Tapi kenapa kau selalu seperti itu padaku?!”

Baekhyun menahan napas ketika kata-kata itu keluar dari mulut Hyunrae. Ia sangat ingin berteriak bahwa dirinya ada di sana. Ia ingin menghentikan percakapan itu. Tapi tubuhnya terasa sakit, terutama kakinya, hingga ia hanya bisa mematung di tempatnya.

“Jangan berkata begitu,” tegur Kyungsoo. “Byun Seonsaengnim yang terpenting untukmu. Dia kekasihmu.”

“Aku tidak mencintainya. Dia yang memaksaku.”

Baekhyun semakin kesakitan dan hanya bisa memegangi kakinya. Tubuhnya pun terjatuh ke lantai, menimbulkan suara yang menyadarkan Kyungsoo dan Hyunrae.

“Seonsaengnim?!” Kyungsoo berseru kaget, langsung berlari mendekati Baekhyun.

Hyunrae membeku di tempatnya, tak percaya bahwa Baekhyun ada di sana sejak tadi dan pasti mendengar semuanya. Tentu saja Baekhyun akan shock mendengar kata-katanya. Ia hanya bisa menatap Kyungsoo yang memapah Baekhyun ke sedan hitamnya. Ketika Kyungsoo berteriak menyuruh Hyunrae masuk ke mobil, baru gadis itu tersadar.

-=-

Hyunrae terduduk lemas di ruang tamu, menatap televisi yang menyala dengan wajah kosong. Ia tak tertawa meski acara di hadapannya adalah komedi terlucu abad ini. Minseok dan Jongdae hanya menatap Hyunrae prihatin, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

“Apa Kyungsoo tak mengabarimu?” tanya Minseok akhirnya.

“Tidak,” geleng Hyunrae. “Katanya, kondisi Baekhyun masih sama seperti kemarin.”

“Kasihan dia,” gumam Jongdae. “Aku ingat ketika kita bertemu dengannya pertama kali. Rasanya seperti baru kemarin. Padahal sudah lima tahun lebih.”

“Sepuluh tahun mungkin?” pikir Minseok.

“Hyunrae baru masuk SMA ketika Baekhyun pindah ke sebelah rumah kita. Mungkin kau benar. Sepuluh tahun sudah kita mengenalnya,” kata Jongdae. “Saat itu, aku baru pindah juga ke rumah ini. Ayah kita yang membawaku ke sini.”

“Ayah kita?” balas Minseok sambil tertawa kecil. “Ia ayahnya Hyunrae.”

-=-

Sepuluh tahun lalu, Hyunrae sedang menderita. Ia baru tujuhbelas tahun, mendapati ibunya pergi dari rumah begitu ayahnya memiliki hubungan dengan wanita lain lagi. Saat itulah ia mengenal Jongdae, kakak tiri keduanya dengan ayah dan ibu yang seratus persen berbeda dengan Hyunrae. Sementara Minseok, kakak tiri tertua, ia mengenalnya saat berusia sepuluh tahun. Tak ada hubungan darah antara mereka bertiga, tetapi mereka tinggal bersama di rumah Hyunrae.

“Halo, Hyunrae,” sapa Jongdae pagi itu. “Aku membuat roti untukmu. Kutambahkan coklat di atasnya karena kupikir kau suka coklat.”

Hyunrae hanya mengangguk, menghindari Jongdae yang masih terasa asing baginya, dan duduk di samping Minseok. Tapi Jongdae sangatlah berisik, berbeda dengan Minseok yang pendiam. Jongdae selalu berusaha mencari topik.

“Hei, kudengar, ada penghuni baru di rumah sebelah. Tadi ada mobil pengantar barang parkir di dekat rumah kita. Sepertinya kita akan punya tetangga baru. Bisa jadi ia punya anjing lucu yang menggemaskan atau kucing manis yang-”

“Jongdae,” tegur Minseok. “Cepat sarapan dan antarkan Hyunrae ke sekolah.”

“Baiklah,” gumam Jongdae.

“Tidak perlu. Aku bisa ke sekolah sendiri,” sahut Hyunrae.

“Tapi jalanan masih agak gelap ketika pagi hari. Akan berbahaya kalau kau pergi sendirian. Sebaiknya aku yang-”

“Sudahlah, Jongdae,” potong Minseok lagi. “Dia sudah mengatakan bahwa tak perlu diantar. Tak usah memaksa. Dia bukan anak kecil.”

“Tadi kau mengatakaan padaku untuk mengantarnya sekolah, dan sekarang kau menyuruhku melakukan yang sebaliknya. Apa kau sangat membenciku?!”

“Ya!” Minseok menjawab tegas. “Aku sangat benci orang berisik sepertimu!”

Minseok meninggalkan meja makan, mengambil pemukul drum di atas rak dan keluar dari rumah. Tapi Hyunrae santai saja, memakai ransel sekolahnya, dan berjalan keluar rumah tanpa menoleh. Ia melihat rumah tetangganya, dan benar kata Jongdae, ada beberapa perabotan rumah sedang dipindahkan oleh pekerja.

“Hai,” sapa seseorang, dan Hyunrae menoleh datar. “Kau tinggal di sebelah?”

“Ya. Kau tetangga baru?”

“Bisa dikatakan begitu. Aku Byun Baekhyun.”

“Aku Hyunrae. Cho Hyunrae.”

“Kau bersekolah di SMA Sunbeon?” tanya Baekhyun sambil menatap seragam Hyunrae.

“Ya.”

“Oke,” angguk Baekhyun. “Sampai bertemu lagi.”

“Sampai bertemu lagi.”

-=-

Hyunrae masih ingat ketika ia masuk ke kelasnya, ada kabar bahwa seorang guru baru akan menjadi wali kelasnya tahun itu. Guru itu mengajar matematika, menggantikan guru lama yang pensiun. Desas-desus terdengar, mulai dari kisah betapa tampannya guru itu, hingga betapa muda dan kerennya guru baru itu. Hanya Hyunrae yang tak tertarik, karena ada hal lain yang membuatnya tertarik.

“Siapa namamu?”

Mata Hyunrae mengamati pria di depannya, ingin menyapa lebih dari sekadar kata-kata klise yang singkat. Pria itu agak kurus, dengan kacamata membingkai kedua mata besarnya yang tampan.

“Aku Kyungsoo. Do Kyungsoo.”

“Aku Cho Hyunrae.”

Kyungsoo duduk tepat di depan Hyunrae, mengabaikan Hyunrae dan membaca buku matematika yang sangat rumit. Hyunrae menyerah, duduk di kursinya sambil menunggu bel berdering. Ketika bel berdering, seorang pria masuk ke kelas itu dan menaruh semua buku-bukunya di atas meja.

“Selamat pagi, semuanya. Aku Byun Baekhyun, guru matematika sekaligus wali kelas kalian tahun ini. Selamat datang di SMA Sunbeon.”

Mata Hyunrae menjadi sangat besar, melihat Baekhyun dengan sangat amat kaget seolah Baekhyun adalah monster yang dikirim luar angkasa untuk membunuhnya. Baru pagi tadi ia melihat Baekhyun di sebelah rumahnya, dan sekarang ia mendapati Baekhyun sebagai wali kelasnya.

“Selamat pagi, Seonsaengnim!”

“Oke. Karena Seonsaengnim belum mengenal nama-nama kalian, tolong buat perkenalan singkat dari tempat kalian masing-masing dimulai dari…” mata Baekhyun dan Hyunrae bertemu, “kau, gadis manis di sebelah sana,” tunjuk Baekhyun pada Hyunrae.

Hyunrae menunjuk dirinya sendiri karena terlalu kaget. Atau mungkin, ia memang masih kaget sejak tadi karena Baekhyun.

“A-aku?”

“Ya, kau. Silahkan,” tambah Baekhyun sambil tersenyum, sebuah senyum yang nantinya akan Hyunrae lihat sepanjang hidupnya.

-=-

Hyunrae menghapus air matanya karena kenangan itu datang terlalu tiba-tiba. Baekhyun memang dulu sangat menyebalkan. Tapi itu karena Baekhyun menyukainya, bukan hanya menjahilinya tanpa alasan.

“Aku sangat menyesal,” pikir Hyunrae, terdengar oleh Minseok dan Jongdae.

Jongdae hanya menatap Hyunrae dengan mata sedih. Ia duduk di kiri Hyunrae, diikuti Minseok yang duduk di kanan Hyunrae. Seperti layaknya saudara kandung, kedua kakak laki-laki itu memeluk Hyunrae hati-hati, ingin menenangkan adik bungsu mereka yang sedih.

“Apa kau masih meragukan perasaanmu sendiri?” tanya Jongdae pelan.

“Ya, sepertinya begitu. Aku selalu berpikir bahwa Kyungsoo adalah pria yang kusukai. Tapi setelah kupikir lagi, Baekhyun melakukan banyak hal untukku dan aku tak mungkin membalasnya satu per satu.”

“Dia memberimu nilai bagus secara diam-diam, memberikan les tambahan gratis, menerimamu di perusahaan raksasanya dan menggajimu sangat besar untuk ukuran orang tak bisa kerja sepertimu, dan dia juga mencintaimu tanpa balas. Kupikir kau punya banyak hutang padanya,” kata Minseok. “Apa kau pernah mencintainya?” tambah pria itu lagi sambil menoleh.

“Aku… aku tidak tahu,” putus Hyunrae gelisah.

“Coba pikirkan lagi,” desak Jongdae. “Apa hatimu tak luluh diperlakukan seperti itu?”

“Aku tidak tahu,” Hyunrae semakin bingung dan kalut. “Apa yang harus kuperbuat?”

-=-

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s