Knotted [4/5]

Knotted

| You and I will always be unfinished business |

| Continue | Hyunrae, Baekhyun, Kyungsoo | Drama, Love, Romance |

-=-

Kyungsoo menatap Hyunrae, Jongdae, dan Minseok yang tiba setengah jam kemudian. Satu-satunya hal yang Kyungsoo ucapkan tadi berhasil membungkam mulut dan pikiran tiga saudara itu.

“Maksudmu… Baekhyun tidak akan bisa berjalan lagi?” kata Jongdae akhirnya.

“Ia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu,” ralat Kyungsoo. “Aku juga baru tahu hal itu. Sekarang ia bersama Suho di ruangannya. Suho bilang, keadaannya sudah membaik. Jika ia sudah stabil, Suho akan memberikan terapi sedikit demi sedikit agar ia bisa berjalan lagi.”

“Apa kami bisa masuk ke dalam dan melihatnya?” tanya Minseok pelan.

“Tentu,” Kyungsoo mengangguk.

-=-

“Hai, Baekhyun,” panggil Jongdae ketika ia melihat mata Baekhyun yang masih nampak lelah. “Apa kau merasa lebih baik?”

Baekhyun mengangguk, lalu matanya sedikit mengembang ketika ia melihat Hyunrae dan Minseok yang masuk di belakang Jongdae.

“H-hyunrae…,” panggil Baekhyun dengan suara serak.

Otomatis, Minseok dan Jongdae membuka jalan, mendekatkan Hyunrae pada Baekhyun agar gadis itu bertatapan langsung dengan Baekhyun.

“Sajangnim,” balas Hyunrae sambil menunduk. “Maafkan aku.”

Bersamaan dengan itu, Jongdae memberikan kode pada semua orang di sana agar meninggalkan Hyunrae dan Baekhyun berdua. Akhirnya, ruangan itu terasa sepi dengan adanya Baekhyun dan Hyunrae di sana, berkaca dalam diam dan hening.

“Jangan minta maaf seperti itu. Kau membuatku sedih.”

Hyunrae menghapus tetesan air matanya yang terasa menusuk di kulit. Ia menangis perlahan, dan menghapus air matanya perlahan juga. Matanya ingin menghindari Baekhyun meski ia tak mampu. Hatinya terlalu sakit, bukan karena Baekhyun menyakitinya tetapi karena ia yang menyakiti Baekhyun.

“Maafkan aku, Sajangnim. Aku salah, aku sangat salah.”

“Bukan salahmu,” ujar Baekhyun lagi dengan sangat pelan. “Ini bukan salahmu, Cho Hyunrae. Kalau ada satu-satunya orang yang salah di sini, maka orang itu adalah aku.”

Hyunrae menangis, merasa pikirannya kacau seperti sebuah gelas kaca yang terjatuh dan hancur. Ia hanya bisa menangis, tak mampu mengatakan apapun lagi pada Baekhyun.

“Sajangnim, kalau Sajangnim mau membenciku, menghinaku, dan memakiku, aku akan menerimanya dengan sepenuh hati. Bahkan Sajangnim boleh usir aku dari pekerjaanku.”

“Apa menurutmu aku adalah seseorang yang akan melakukan hal seperti itu?” tanya Baekhyun balik meski ia dan Hyunrae tahu jawabannya.

Tangan Hyunrae gemetar hebat, entah karena rasa takut atau karena rasa sakit. Tapi Baekhyun tersenyum meski ia tak punya kekuatan untuk melakukannya. Ia ingin Hyunrae tenang, bukannya bertindak seperti orang yang akan mati esok hari.

“Maafkan aku, Sajangnim. Maafkan aku.”

-=-

“Jangan meminta maaf untuk kesalahan yang tak kau lakukan,” kata Baekhyun pada Hyunrae.

Tapi Hyunrae tak mendengarnya. Gadis itu tertidur nyenyak di sofa rumah sakit yang hanya berjarak beberapa meter dari kasur Baekhyun. Dengan penuh harapan, Baekhyun hanya bisa menatap Hyunrae dari jauh, berbicara seolah-olah pada Hyunrae dan berharap Hyunrae mendengarnya.

Atau berharap, Hyunrae tak mendengarnya.

“Aku tahu alasanmu meminta maaf,” Baekhyun berkata lagi sambil menghela napas. “Maaf, bukan karena kau membuatku seperti ini. Tetapi maaf, karena kau tak bisa mencintai aku sebagaimana kau mencintai… Kyungsoo.”

Baekhyun tersenyum sedih, lalu mengakhiri monolog singkatnya dengan desahan panjang. Ia menarik selimut semampunya untuk menutupi tubuhnya yang dingin. Dingin karena ada es yang menutupi hatinya.

“Apapun itu, aku akan selalu mencintaimu.”

-=-

Hening menerpa ruangan Baekhyun. Hanya ada suara deru napas Baekhyun di sana bersamaan dengan gelap yang melingkupi langit malam. Hyunrae bergerak dari posisi tidurnya di sofa dan melihat jam tangannya. Pukul dua pagi, masih belum ada cahaya matahari. Pelan, ia turun dari sofa demi memandang lebih dekat pada Baekhyun.

“Maafkan aku, Sajangnim.”

Suara itu begitu pelan, seperti suara penyesalan dalam hatinya yang tak pernah ia berani untuk katakan. Ia benci pengakuan, apalagi pengakuan pahit.

“Cinta terlalu sulit,” kata Hyunrae akhirnya. “Aku pikir, cinta itu masalah mudah. Tapi ternyata ini semua terlalu sulit. Percayalah, aku akan berusaha membuat Sajangnim senang dan bahagia dengan caraku sendiri. Dunia tak perlu tahu. Bahkan Sajangnim pun tak perlu tahu.”

-=-

Bunga dan dedaunan mulai berguguran disertai warna mereka yang kini berubah menjadi kecoklatan. Musim gugur sudah datang, kembali bersama anginnya yang dingin dan curah hujannya yang cukup tinggi. Tanpa sempat Hyunrae dan Baekhyun menyadarinya, mereka sudah tiba di persiapan akhir tahun, musim gugur lagi.

“Musim gugur,” pikir Hyunrae dalam hati.

Tangan Hyunrae mendorong kursi roda Baekhyun hati-hati, melewati jalan setapak rumah sakit tempat Baekhyun biasa menjalani terapi. Mereka tak berbicara satu sama lain, tetapi menikmati gugurnya dedaunan bersama-sama.

“Di rambut Sajangnim banyak sekali dedaunan kering,” kata Hyunrae sambil membersihkan dedaunan tersebut.

“Terima kasih,” bisik Baekhyun sembari tersenyum manis.

Hyunrae berhenti mendorong kursi roda Baekhyun ketika melihat ada bangku taman yang kosong. Ia duduk di bangku taman itu setelah menghentikan kursi roda Baekhyun di sampingnya.

“Kapan Sajangnim akan kembali ke perusahaan?” tanya Hyunrae. “Orang-orang mencari Sajangnim, dan Next Door Company membutuhkan Sajangnim.”

Baekhyun menghela napasnya, lantas ia menatap rerumputan di dekat mereka. Ia tak menjawab, mungkin memikirkan jawaban yang tepat.

“Aku belum siap untuk kembali dan menghadapi Next Door Company,” kata Baekhyun akhirnya. “Dan kupikir, aku selalu tidak siap menghadapi kenyataan.”

Hyunrae terdiam, merasa ada sebagian dari dirinya terluka karena kata-kata Baekhyun.

“Itu terdengar menyakitkan,” Hyunrae berbicara jujur.

“Ya, aku tahu,” balas Baekhyun lebih menyerupai bisik pelan.

“Maafkan aku.”

Kata-kata Hyunrae membuat Baekhyun menoleh. Pria itu berusaha menghibur Hyunrae karena ia terlihat tidak baik-baik saja.

“Apa yang kau sesali?” tanya Baekhyun.

“Semuanya.”

Hyunrae menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan Baekhyun yang terang-terangan ingin melihat wajahnya. Diri Hyunrae terlalu ketakutan, takut menghadapi Baekhyun, dan takut kalau Baekhyun akan menghakiminya. Ia, hingga detik ini, masih takut akan hal itu.

“Tapi aku tidak,” Baekhyun berkata tegas, membuat Hyunrae menatapnya sungguh-sungguh. “Aku tidak pernah menyesali tentang kita. Dan aku harap, kau juga sama, Hyunrae.”

-=-

Ada terlalu banyak kenangan tentang Baekhyun di kepala Hyunrae. Dan ia tak bisa menghapusnya satu demi satu. Karena itu tadi, terlalu banyak. Baekhyun pernah jadi gurunya, tetangganya, temannya, pelatih bela diri dekat rumahnya, atasannya, dan terakhir kekasihnya. Mungkin poin terakhir ini adalah penyebabnya, penyebab Hyunrae tak bisa menghapus pria itu.

Tapi Hyunrae punya satu kesulitan lain. Ia tak bisa menghapus Do Kyungsoo.

“Jangan melamun terus.”

Hyunrae tersadar, mencoba tertawa walau hasilnya sudah jelas, tawa itu terdengar terpaksa.

“Aku memikirkan beberapa hal,” jawab Hyunrae tak sepenuhnya bohong. “Sajangnim sudah selesai makan? Biar kubereskan piringnya.”

Baekhyun menggeleng, lalu menaruh sendoknya di atas nampan rumah sakit. Ada noda makanan di piyama rumah sakit yang Baekhyun pakai. Hyunrae yang melihat hal itu langsung mengambil tisu dan membersihkannya tanpa pikir panjang.

“Terima kasih.”

“Tak masalah,” balas Hyunrae sambil membuang tisu itu.

“Apa kau melakukannya karena mencintaiku atau kau melakukannya karena merasa bersalah padaku?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

Langsung saja Hyunrae membeku. Ia tak menjawab, takut kalau jawabannya nanti yang berupa apapun itu, akan menghancurkan segala sesuatu yang ia siapkan.

“Pertanyaan yang tak bisa dijawab,” Hyunrae berkata semampunya.

Baekhyun tertawa kecil, mencoba menghapus rasa kecewa yang terbesit lewat tadi.

“Ya, kau benar. Pertanyaan yang tak bisa dijawab.”

-=-

Selalu seperti itu. Kalau malam turun, Baekhyun adalah yang terakhir tidur. Ia akan bermonolog ria, mengatakan apapun yang ia harap Hyunrae tak dengar langsung dari dirinya.

“Jangan merasa bersalah padaku seperti itu, Hyunrae,” pikir Baekhyun sedih. “Itu membuatku semakin menderita, semakin sakit. Aku ingin kau memperlakukanku karena cinta, bukan karena rasa bersalah.”

Sebuah jeda panjang ada di sana, menimbulkan hening sejenak sebelum Baekhyun melanjutkan kata-katanya dengan pengakuan paling jujur darinya.

“Aku bukannya tidak siap menghadapi Next Door Company saja. Tetapi juga orang-orang dan masyarakat luar. Mereka akan melihatku sebagai orang yang cacat, orang yang tak bisa berjalan. Aku takut, Hyunrae. Sangat takut.”

Dan itu adalah kalimat terakhir Baekhyun hari itu sebelum ia memutuskan untuk menarik selimutnya lagi, menyembunyikan dirinya bersama rasa sedih dan rasa sakit.

-=-

Hyunrae tahu bahwa Baekhyun ketakutan akan kenyataan. Tapi ia tak pernah tahu bahwa ada hal lain yang Baekhyun takutkan. Yakni, kehilangan Hyunrae.

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s