Knotted [5/5]

Knotted

| You and I will always be unfinished business |

| Continue | Hyunrae, Baekhyun, Kyungsoo | Drama, Love, Romance |

-=-

Di tempat minum kopi itu, Kyungsoo duduk bersandar pada kursinya sambil membalik halaman majalah dengan satu tangan. Ia membaca berita di majalah itu dengan wajah kaku, melihat bagaimana Baekhyun menjadi topik utama dari tiap halaman yang ia buka.

“Tentu saja,” gumam Kyungsoo. “Ini majalah bisnis.”

Tiba-tiba sebuah cangkir kopi ditaruh di meja Kyungsoo. Pria itu menoleh ke atas, mendapati seorang wanita berdiri di sana dengan syal birunya yang manis.

“Keberatan jika aku duduk di sini?”

Kyungsoo terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Silahkan, Hyunrae.”

Hyunrae merapikan syalnya sebelum duduk di kursi depan Kyungsoo. Ia menatap Kyungsoo tanpa senyum ataupun kedipan. Hanya ada suara musik pelan mengalun di tempat minum kopi itu.

“Bagaimana kabar Baekhyun?” tanya Kyungsoo akhirnya, menyerah dengan tatapan Hyunrae yang tak berkata-kata.

“Dia baik-baik saja,” jawab Hyunrae sistematis. “Suho bilang, keadaannya sudah jauh lebih baik. Dalam waktu singkat, ia bisa kembali berjalan.”

“Next Door Company membutuhkannya,” tunjuk Kyungsoo pada majalah di hadapannya. “Tapi ia tak ingin kembali. Atau mungkin, lebih tepatnya, belum ingin kembali.”

Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya tanpa kesimpulan, dan ia juga tak menanti jawaban Hyunrae sama sekali. Nampak Hyunrae meminum kopinya dengan hati-hati, seperti orang yang melakukan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan. Meminum kopi, dan berpikir.

“Aku akan selalu mencintaimu. Kau tahu itu, kan?”

Kalimat Hyunrae membuat Kyungsoo membuang muka. Ia menatap kasir tempat minum kopi itu, tak ingin melihat Hyunrae sama sekali.

“Aku tidak akan menjawabmu kalau kau terus seperti itu.”

“Kau satu-satunya orang yang kucintai di dunia ini, Do Kyungsoo. Aku tidak pernah, dan mungkin tidak akan bisa, mencintai Byun Baekhyun.”

“Apa susahnya mencintai dia?” Kyungsoo menambah tinggi suaranya. “Dia pria yang baik, Hyunrae. Dia adalah pria yang bisa melakukan segalanya demi dirimu!”

“Aku tahu,” balas Hyunrae berbisik. “Ia pria yang baik. Tapi bukan berarti aku mencintai dia.”

“Berhentilah mencintaiku. Aku tidak mencintaimu.”

“Aku tahu,” Hyunrae berkata pelan. “Aku sangat tahu itu.”

“Kau tahu alasan Baekhyun tak ingin kembali ke Next Door Company?” Kyungsoo berseru tanpa menunggu jawaban. “Itu semua karena dirimu! Dia kehilangan dirimu! Kehilangan kekuatannya!”

“Aku sudah berada di sisinya, Do Kyungsoo.”

“Karena kau merasa bersalah, bukan karena cinta.”

“Karena memang aku tidak mencintainya!”

Hyunrae berteriak keras, membuat semua orang di tempat itu menoleh dan mengamati mereka. Air mata Hyunrae jatuh, tapi buru-buru dihapusnya. Jemarinya ingin meraih cangkir kopinya meski tangannya gemetar hebat. Akhirnya itu menyenggol cangkir itu, membuat isinya tumpah di meja.

“Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo akhirnya bertanya.

“Aku… tidak baik-baik saja.”

“Berhentilah menemuiku dan habiskan waktumu dengan Baekhyun. Dia kekasihmu.”

“Aku tidak tahu apa aku bisa tetap melakukan ini atau tidak.”

-=-

Hyunrae merapikan alat makan Baekhyun dan mencucinya di kamar mandi sebentar. Lalu, ia mengeringkan benda-benda itu dengan handuk kecil.

“Kau tak perlu mencucinya. Biar perawat nanti yang mengambilnya.”

“Tidak masalah. Ini tidak terlalu kotor.”

“Ada yang harus kukatakan padamu.”

Tangan Hyunrae diam, tak bergerak.

“Katakanlah.”

“Besok, berhentilah datang. Kau boleh berhenti dari pekerjaanmu di Next Door Company.”

“Maksudnya, aku dipecat?”

Baekhyun tertawa kecil meskipun itu tidak lucu.

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pegawaiku. Kau orang yang kubutuhkan waktu itu di Next Door Company. Sekarang, aku tidak membutuhkanmu lagi di Next Door Company. Aku akan meminta mitra usahaku yang lain untuk menerimamu.”

“Aku tidak mau bekerja di tempat lain selain di Next Door Company.”

“Kenapa?”

“Aku… sepertinya tidak bisa meninggalkanmu, Sajangnim. Sajangnim akan butuh diriku.”

“Hyunrae,” panggil Baekhyun akhirnya dengan nada rendah. “Aku ingin mengeluarkanmu dari rasa bersalah dan rasa terpaksa. Apa kau paham itu?”

“Aku tidak merasa terpaksa sama sekali. Aku melakukannya karena…”

“Karena rasa bersalah,” potong Baekhyun ketika Hyunrae sendiri ragu.

“Itu tidak benar!”

“Sudah cukup, Hyunrae. Cukup!” Baekhyun berteriak, membuat Hyunrae kaget. “Pergi dari sini sekarang juga! Kumohon pergilah!”

Alat makan di tangan Hyunrae jatuh ke lantai, menimbulkan suara berisik. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat dan mendengar sendiri bahwa Baekhyun berteriak dengan suara keras. Ketakutan, Hyunrae mundur beberapa langkah hingga bahunya menempel pada pintu.

“Aku… maafkan aku…”

“Pergilah.”

Tangan Hyunrae membuka pintu dan ia pun berlalu bersama kekalutan dalam dirinya.

-=-

Kyungsoo mengangkat alisnya, masih mendengarkan cerita Baekhyun dengan seksama.

“Lalu, bagaimana selanjutnya?”

“Aku akan mengatakan pada siapapun untuk melarang Hyunrae menjengukku.”

“Seonsaengnim marah padanya?”

“Aku marah pada diriku!” Baekhyun menunjuk dirinya dengan kecewa. “Hyunrae bahkan tak bisa mengatakan alasannya untuk tetap di sini bersamaku. Kenapa aku masih saja menahannya?!”

“Dia bingung.”

“Bukan! Dia memang tidak punya perasaan padaku. Aku tahu itu.”

“Tapi dia bersikeras untuk tinggal di sisimu,” pikir Kyungsoo.

“Apa menurutmu aku bisa membiarkan dia tetap bersamaku kalau aku tahu perasaan dia tak pernah ada untukku? Apa menurutmu aku bisa melakukan itu?!” Baekhyun menangis dengan pelan, menangis di hadapan Kyungsoo.

“Maaf, ini salahku,” Kyungsoo berkata pelan. “Aku tidak tegas padanya.”

“Bukan salahmu. Sungguh, aku justru yang salah. Aku hanya orang yang terlalu pemaksa. Aku menyesal, Kyungsoo. Aku menyesali semuanya.”

Pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba. Kyungsoo dan Baekhyun menoleh kaget, melihat Hyunrae berdiri di sana dengan wajah sedih.

“Aku mencintaimu,” kata gadis itu tiba-tiba. “Aku mencintaimu, Byun Baekhyun,” imbuhnya sembari melangkah pasti pada Baekhyun.

Ia memeluk Baekhyun erat-erat, membuat Baekhyun dan Kyungsoo beku seketika. Mereka berada dalam keheningan, dan Hyunrae terus memeluk Baekhyun seperti itu hingga lama. Diam-diam, Kyungsoo mundur, keluar dari ruangan itu.

-=-

“Aku akan tetap mencintaimu, Do Kyungsoo.”

“Lalu, apa arti kata-katamu tadi pada Baekhyun? Kau bilang… kau mencintai dia.”

“Rasa bersalahku adalah alasannya.”

“Kau hanya akan menambah rasa bersalahmu kalau seperti ini, Hyunrae.”

“Aku tahu. Tapi, sampai waktu berakhir, aku akan tetap mencintaimu.”

“Berhentilah seperti itu, Hyunrae.”

-=-

Deru ombak berkejaran dan menghasilkan suara khas pantai ketika menabrak pasir-pasir pantai. Matahari tengah rendah, hendak terbenam sejenak lagi. Hari sudah mendekati malam, dan angin musim gugur sudah menusuk kulit. Kyungsoo duduk di pasir pantai, cukup jauh dari area basah sehingga celana panjang birunya terlihat kering tanpa noda.

“Kenapa sejak sekolah dulu hingga detik ini kau masih suka sendirian?”

Suara itu menghentikan Kyungsoo yang masih berkelana dalam pikiran. Ia bisa melihat sebuah kursi roda berhenti di sampingnya, bisa-bisa menabrak kakinya kalau pria itu tak buru-buru berdiri dan menatap Baekhyun yang duduk di kursi roda.

“Seonsaengnim?” Kyungsoo tersenyum kecil. “Siapa yang mengantar Seonsaengnim?”

“Suho mengantarku tadi karena kebetulan ia lewat sini.”

“Ingin duduk di pasir?” tawar Kyungsoo akhirnya.

“Kau bisa membantuku?”

“Tentu.”

Dengan hati-hati, Kyungsoo memapah Baekhyun dan membantunya duduk di pasir pantai. Meski sulit, akhirnya Baekhyun bisa duduk di pasir pantai setelah beberapa menit.

“Apa yang ingin Seonsaengnim bicarakan?” tanya Kyungsoo akhirnya.

“Tentang Hyunrae,” jawab Baekhyun cepat.

“Aku sudah menduganya.”

Baekhyun tahu bahwa Kyungsoo tak bercanda. Tapi tetap saja ia tertawa mendengarnya.

“Hyunrae sangat mencintaimu. Kau tahu itu, kan?”

“Itu tidak benar,” sanggah Kyungsoo. “Dia sudah bilang bahwa dia mencintaimu.”

Tapi, berbeda dengan Kyungsoo yang nampak menggebu-gebu, Baekhyun justru tersenyum tenang. Ia menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali seperti seorang kakak yang menghibur adiknya.

“Dia mencintaimu, aku mencintainya. Tidak ada yang salah,” Baekhyun berkata dengan bijaksana. “Kita tidak mencintai untuk menyalahkan orang lain. Kita sudah cukup dewasa untuk tidak saling menyalahkan.”

“Hyunrae mencintaimu, Seonsaengnim. Kita tahu itu.”

“Aku tahu dia berbohong.”

Kyungsoo menghela napas, membiarkan suara gumamannya beradu dengan suara ombak.

“Maafkan aku,” bisik Kyungsoo merasa bersalah. “Aku tak seharusnya membiarkan dia berbohong sefatal itu.”

“Aku senang kau jujur.”

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

“Untuk saat ini, biarkan saja dulu seperti itu. Biarkan aku dan Hyunrae berada dalam kebohongan. Kalau kebohongan-kebohongan ini bisa membuat aku dan Hyunrae bahagia, aku akan baik-baik saja. Aku akan pura-pura tidak tahu, dia akan pura-pura tidak tahu, dan kau pun juga pura-pura tidak tahu apa-apa.”

Begitulah hari itu berakhir. Kyungsoo hanya bisa menangis pelan, menangisi nasib Baekhyun yang terhalangi kebahagiaannya karena dirinya. Dan ia juga menangisi Hyunrae, orang yang tak bisa berhenti merasa bersalah, tetapi terus membuat kesalahan yang sama.

Ini adalah sebuah urusan yang tak pernah selesai dan mungkin tak akan pernah selesai.

Kyungsoo benci itu.

-End-

 

Advertisements

2 thoughts on “Knotted [5/5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s