Mistake

Mistake.jpg

| It hurts to let go, but sometimes it hurts more to hold on |

| Oneshot | Suho EXO, Irina | Family, Life, Romance, Love |

-=-

“Kelas hari ini berakhir sebentar lagi. Jangan lupa kerjakan tugas kalian, oke?”

Irina memberi pesan singkat kepada sepuluh anak-anak usia lima tahun di depannya. Ia menghapus tulisan penjumlahan di papan dan mempersilahkan anak-anak itu keluar dari kelas. Setelah kelas kosong, Irina duduk di meja guru sambil memandang buku latihan menulis yang dikumpulkan anak-anak itu tadi pagi. Dengan sabar, ia membuka salah satu buku yang paling atas.

“Milik Jaehyun,” pikir Irina sambil membuka halaman pertama. “Tulisanmu sudah rapi. Pertahankan,” tulis Irina di buku Jaehyun, salah satu muridnya.

Dengan cepat, Irina memeriksa sembilan buku lainnya dan memberi catatan-catatan singkat kalau ada kesalahan. Lalu ia menyimpan buku itu dalam laci guru dan bersiap pulang.

-=-

Mata Irina menangkap salah seorang muridnya duduk sendirian di ayunan halaman sekolah. Seragam masih melekat di tubuh anak itu, dan tas ransel lucunya yang berwarna merah tergantung di bahu anak itu. Buru-buru Irina mendekati ayunan tersebut.

“Jaehyun? Belum pulang?”

Mata lucu Jaehyun mengedip beberapa kali, lalu menggeleng dengan muka sedih.

“Sepertinya Ayah terlambat lagi.”

“Kalau begitu Guru akan menemanimu sampai ayahmu datang,” kata Irina sambil duduk di ayunan yang ada di samping Jaehyun.

“Sungguh?” mata Jaehyun merekah manis. “Terima kasih, Guru!”

“Tak masalah. Ayahmu bekerja di tempat yang jauh, ya?”

“Iya,” kata Jaehyun semangat. “Ayahku itu keren. Aku ingin jadi seperti ayahku.”

“Memangnya, apa pekerjaan ayah Jaehyun?”

“Tidak tahu,” jawab Jaehyun jujur. “Tapi ayahku sangat keren. Itu menurutku.”

Irina tertawa kecil mendengar itu. Ia mengusap rambut pendek Jaehyun yang agak basah karena keringat. Tangan Jaehyun memilin celana pendeknya beberapa kali, lalu ia menguap.

“Kim Jaehyun!”

Seorang pria berlari-lari kecil menuju Jaehyun dan Irina. Pria itu langsung berlutut di depan ayunan Jaehyun dan menatap Jaehyun lekat-lekat.

“Ayah?”

“Maaf, Ayah terlambat. Tadi jalanan sangat padat. Banyak mobil di jalanan. Tidak apa-apa, kan?”

“Tidak apa-apa. Guru Jaehyun menunggu di sini bersama Jaehyun.”

Pada saat itu, barulah pria itu menyadari bahwa mereka tak hanya berdua di sana. Buru-buru ia berdiri dan memandang Irina dengan sopan.

“Terima kasih sudah menemani putraku di sini.”

Tapi Irina tak menjawab. Ia malah memandang pria itu lekat-lekat dan tanpa berkedip.

“Suho?” bisik Irina tanpa sadar.

“Kau… Irina Lee, kan?”

-=-

Ada taman tak jauh dari sekolah tempat Irina mengajar. Irina duduk di kursi taman bersama Jaehyun yang sibuk bercerita tentang ayahnya. Tak lama kemudian, Suho muncul dengan dua es krim di tangan. Ia memberikan satu es krim itu untuk Irina dan satunya untuk Jaehyun.

“Kau hanya boleh makan setengah, Jae,” kata Suho mengingatkan.

“Aku tahu,” Jaehyun berdecak kecil, merasa agak kecewa karena ia hanya boleh makan setengah dari es krim itu.

“Terima kasih untuk es krim ini, Suho,” Irina berkata sembari tersenyum. “Aku tak menyangka bahwa dunia akan sesempit ini. Kapan terakhir kali kita bertemu?”

“Ketika lulus kuliah, kan?” jawab Suho. “Berarti sudah lima tahun, ya?”

“Kenapa kau tak pernah bilang padaku kalau kau sudah kembali dari Amsterdam? Kupikir kau akan melanjutkan kuliah di sana.”

“Tidak jadi,” kata Suho sambil berusaha mengambil es krim dari tangan Jaehyun. “Jae…, Ayah sudah bilang bahwa kau hanya boleh makan setengah.”

Jaehyun menggerutu kecil, merelakan es krim di tangannya berpindah ke tangan Suho. Hal ini membuat Irina tertawa, tanpa sadar mengusap kepala Jaehyun pelan.

“Jaehyun ingin main itu,” tunjuk Jaehyun pada ayunan taman. “Jaehyun paling suka ayunan.”

“Kau boleh main di sana. Tapi hati-hati. Jangan sampai jatuh,” pesan Suho.

Jaehyun langsung menuju ayunan yang terletak tiga meter dari tempat duduk Suho dan Irina. Keduanya memandangi Jaehyun yang berusaha memakai ayunan itu semaksimal mungkin.

“Kenapa kau tak jadi ke Amsterdam? Kupikir… kita berpisah karena itu. Tapi sepertinya… ada hal lain yang kau sembunyikan.”

Wajah Suho berubah murung. Ia hanya bisa memandangi Jaehyun dan tak berani melihat Irina. Akhirnya, setelah beberapa menit diam, Suho menjawab dengan pelan.

“Jaehyun adalah alasannya.”

“Kau… memutuskan untuk menikah?”

“Bukan. Lima tahun lalu, tak lama setelah kita lulus kuliah, Jaehyun lahir. Dia putra dari adik perempuanku. Kau ingat adikku, kan?”

Mulut Irina terbuka karena kaget. Tak ada satu suara pun keluar dari mulut gadis itu akibat rasa terkejut yang menyerang dirinya.

“Jaehyun bukan putramu?”

“Bukan. Dia bukan putraku. Adik perempuanku masih sangat muda saat itu. Kekasihnya kabur saat mengetahui adikku hamil. Ketika melahirkan Jaehyun, adikku meninggal dunia.”

Irina tercekat, tak menyangka bahwa Suho mengalami kejadian berat seperti itu. Buru-buru Irina mengusap bahu Suho pelan.

“Maaf, aku tidak pernah tahu.”

“Tidak apa-apa. Sudah lima tahun berlalu dan aku harus bergerak maju. Aku tidak tega bila Jaehyun menjadi anak tanpa keluarga. Maka, saat pembuatan surat-surat lahirnya, aku meminta agar namaku ditulis sebagai ayah kandungnya.”

“Jadi, selama ini ia mengira kau adalah ayahnya?”

“Ya, itu benar. Aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku harus melakukan ini. Tapi, aku harus melakukannya. Ini yang terbaik, meski aku akhirnya meninggalkanmu karena Jaehyun.”

Irina menerawang ke langit sore, melihat bagaimana warna kuning di langit mulai pudar. Gadis itu menghela napas pelan, lalu menatap Suho dalam-dalam.

“Jadi… alasanmu meninggalkanku bukan karena kau ingin ke Amsterdam. Tapi karena… Jaehyun. Begitu?” tanya Irina akhirnya.

“Ya, itu benar. Maafkan aku,” aku Suho akhirnya.

Irina tertawa miris, lalu mendengus di antara tawa itu. Matanya agak kabur dan berkaca-kaca, pertanda ia sangat sedih mendengar jawaban Suho.

“Kenapa kau bodoh sekali?” tanya Irina dengan nada pedih. “Seandainya lima tahun lalu kau mengatakan hal itu dengan jujur, mungkin semuanya berbeda sekarang.”

Suho terdiam, merasa tertusuk dalam-dalam oleh kata-kata itu. Tapi ia berusaha tersenyum semampunya walau hatinya pedih.

“Apa yang berbeda? Aku akan tetap mengambil keputusan yang sama kalau waktu bisa diputar mundur sekalipun.”

“Seandainya kau mengatakan padaku alasan yang sebenarnya, mungkin aku tidak akan menderita seperti dulu.”

“Apa aku membuatmu menderita?” tanya Suho akhirnya.

Irina mengangguk kecil lantas tertawa semampunya. Ia mengunyah cone es krim di tangannya sebelum akhirnya benar-benar menghabisnya es krim itu sepenuhnya.

“Ketika kau bilang ingin berpisah, aku pikir aku sudah melakukan kesalahan besar yang membuatmu kehilangan rasa cinta padaku. Aku menyalahkan diriku, mengira bahwa ini semua salahku. Amsterdam hanya menjadi alasanmu karena kau tak mau mengatakan alasan sebenarnya.”

Rasa bersalah menghantam Suho dalam-dalam. Ia hanya bisa melihat Jaehyun dari kejauhan, tak berani melihat Irina sama sekali.

“Sepertinya aku membuatmu kesulitan, Irina.”

“Ya,” Irina tertawa kecil dan matanya ikut memerhatikan Jaehyun. “Kau membuatku kesulitan dalam jangka waktu panjang. Aku terus mengenangmu, teringat dirimu, dan tak bisa melupakanmu.”

“Maafkan aku, Irina,” kata Suho lagi. “Aku tidak mungkin mengatakan segalanya padamu. Bagaimana bisa tiba-tiba aku memiliki seorang putra dan terus ingin bersamamu? Itu akan membuatku menjadi pria paling egois di dunia ini.”

“Seandainya kau mengatakan hal itu padaku, aku tak akan keberatan. Aku bisa menjaga Jaehyun untukmu dan membesarkannya bersamamu,” Irina menjawab dengan cepat.

Hanya saja, Suho tak terlihat setuju dengan jawaban itu. Ia mengalihkan wajahnya, melihat Irina dalam-dalam.

“Mungkin kau baik-baik saja dengan ide itu. Tapi coba kita nilai faktanya, Irina. Kau masih muda, dan masih punya banyak cita-cita. Apa menurutmu keluargamu akan baik-baik saja dengan Jaehyun?”

Jawaban itu membuat Irina diam. Ia memikirkan keluarganya, ayahnya yang ingin segala sesuatu sempurna, termasuk calon suaminya di masa depan nanti. Ibunya yang selalu berbicara tentang betapa pentingnya pria yang memiliki rekaman kehidupan yang baik. Serta Suho, pria yang memiliki seorang anak laki-laki, tak peduli apakah itu anak kandungnya atau bukan. Semua pemikiran itu membuat matanya terbuka lebar.

“Kau benar. Kau memang selalu benar, Suho,” Irina mengakui akhirnya. “Ayahku dan ibuku pasti menolakmu. Aku tahu hal itu baru sekarang. Tapi bukan itu masalahnya. Kenapa tak kau katakan saja dengan jujur tentang Jaehyun? Itu yang kusesali sampai saat ini.”

“Irina, kalau aku jujur saat itu, apa kau bisa menerimanya?”

Irina berpikir dalam hatinya, lalu memperkirakan jawaban dirinya lima tahun yang lalu.

“Lima tahun yang lalu aku mungkin berbeda dengan aku saat ini. Aku belum dewasa waktu itu, dan mungkin saja aku akan histeris.”

“Kau tahu itu,” balas Suho akhirnya. “Aku sendiri kehilangan kepercayaanku terhadap diriku. Bagaimana mungkin aku bisa membuatmu percaya padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja?”

“Tapi tetap saja, seharusnya kau mengatakannya padaku, Suho.”

“Tidak mungkin, Irina. Itu bukan pilihan yang baik. Apa yang kulakukan dulu bukan kesalahan. Itu keputusan paling tepat dalam hidupku. Aku tahu, suka atau tak suka, kau juga mengakuinya.”

Kalimat terakhir Suho membuat Irina tak bisa mengelak lagi. Suho benar, suka tak suka, Irina pun mengakuinya dalam satu kali angguk kepala.

“Kau benar lagi. Itu bukan kesalahan. Kau melakukan hal yang tepat. Kau melakukan hal paling tepat di dunia ini.”

Langit mulai menjadi jingga, pertanda matahari sudah bergeser ke peraduan. Sore akan segera berakhir, serta malam akan segera datang. Jaehyun berhenti dari kegiatan bermainnya lalu kembali pada ayahnya, Suho.

“Ini sudah hampir gelap. Apa kau akan pulang sendiri?” tanya Suho akhirnya.

“Tidak. Ada yang menjemputku.”

Benar saja, tak lama kemudian, muncul seorang pria dari tempat parkir dekat taman. Pria itu melihat Irina dan Suho, lalu berlari-lari kecil mendekati Irina.

“Hai, sudah lama menunggu?” tanya pria itu.

“Tidak masalah,” Irina menjawab sembari tersenyum. “Perkenalkan, ini salah satu orangtua muridku, Suho.”

Pria itu menunduk sopan pada Suho sembari tersenyum.

“Aku Suho, ayahnya Jaehyun,” kata Suho sambil mengusap kepala Jaehyun.

“Baekhyun. Byun Baekhyun. Aku tunangan Irina.”

“Tunangan rupanya,” Suho berkomentar singkat sambil mengangguk.

“Kami akan menikah bulan depan. Datanglah,” tambah Irina cepat.

Suho tersenyum lalu mengangguk. Irina mengucapkan salam pada Jaehyun dan Suho, lalu ikut pulang dengan Baekhyun. Terakhir, Suho mengangkat Jaehyun dan menggendongnya sampai mobil. Setelah masuk mobil, Jaehyun langsung tertidur nyenyak tanpa sepatah kata pun. Suho hanya bisa melihatnya dengan penuh kasih sayang, sebagaimana seorang ayah melihat putranya.

“Aku tak menyesal. Ini bukan kesalahan,” Suho berkata pelan sambil mengeluarkan dompet.

Dari dalam dompet itu, ada selembar foto dirinya bersama Irina lima tahun lalu. Ketika foto itu diambil, cinta tengah meliputi keduanya dan dunia seolah milik mereka berdua. Suho memandangi foto itu dalam-dalam, melihat betapa bahagianya mereka dulu.

“Selamat karena kau sudah keluar dari masa lalumu, Irina. Berbahagialah, maka aku juga akan bahagia untukmu.”

-End-

Advertisements

8 thoughts on “Mistake

  1. Suho-nim says:

    Suho nya baik banget ya… dia melepas kebahagiaannya demi anak saudaranya… dan dia sama sekali gak memaksa ceweknya untuk mengalami kesulitan sama-sama dia

  2. natashanatnat says:

    Pas baca Jaehyun aku kira itu NCT nya Jaehyun wkwkwk
    anyway, ceritanya bagus dan diksi yang kamu pakai itu tepat banget wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s