The Water Is Wide

The Water Is Wide.jpg

| Oneshot |

| Jaemin NCT, Andante |

| School, Friendship, Life |

-=-

Jaemin duduk di kursi penonton indoor swimming pool milik sekolahnya meski tak ada orang selain dirinya di sana. Tangannya memasang headphone besar warna putih ke telinganya, lalu ia memejamkan matanya erat. Dengan tenang, lagu favoritnya mulai bernyanyi lewat headphone itu.

The water is wide, I can’t cross over

And neither have I wings to fly

Build me a boat that can carry two

And both shall row, my love and I

Perlahan, Jaemin bergumam mengikuti nada lagu itu. Kenangan seperti berputar kembali dalam pikirannya, bagaikan sebuah short movie yang tengah tayang dalam otaknya.

“Jadi, aku tidak bisa berenang lagi?! Kenapa aku tidak mati saja?!”

“Jangan seperti itu, Jaemin. Jaemin, jangan begitu!”

“Seharusnya Papa dan Mama membiarkan Jaemin mati saja! Jaemin lebih baik mati daripada hidup tetapi tak bisa berenang lagi!”

Jaemin menghela napas, membuka headphone di telinganya. Matanya berkaca-kaca, terutama ketika melihat kolam renang yang berjarak beberapa meter dari dirinya. Ada kenangan akan dirinya, mengikuti semua kejuaraan yang diadakan sekolah maupun negara, berdiri memegang medali kemenangannya, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Ia tak bisa mengikuti kejuaraan renang lagi.

“Aku ingin berenang lagi. Apa tidak bisa?” Jaemin bertanya pada langit-langit, berharap jawaban dari sana.

Akhirnya, bel pergantian kelas berbunyi. Jaemin berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan indoor swimming pool sekolahnya. Tanpa ia ketahui, seorang siswi berdiri di balik pintu ruang ganti. Ia menatap Jaemin dari kejauhan sampai Jaemin menghilang dari tempat itu.

-=-

“Aku? Jadi pelatih? Jangan bercanda,” Jaemin mendengus kecil. “Aku sudah keluar dari tim renang sejak satu tahun lalu. Sekarang Guru Lee malah ingin aku melatih tim renang sekolah.”

Guru Lee menghela napasnya, melirik headphone putih Jaemin yang masih terkalung di leher anak muda itu.

“Kau tahu Andante?”

“Tahu. Pindahan dari Swiss, kan? Aku sekelas dengannya.”

“Guru ingin kau melatihnya untuk kejuaraan akhir tahun ini.”

“Kejuaran akhir tahun?!” Jaemin mengulang dengan cukup kencang karena kaget. “Itu tinggal sekitar… dua bulan lagi, kan?! Bahkan kurang!”

“Andante memiliki potensi yang besar. Sayangnya ia rendah diri dan terlalu penakut.”

“Bagaimana bisa ia menjadi perenang kalau ia penakut,” gerutu Jaemin tanpa sadar.

“Karena itu, Guru ingin kau melatihnya. Kau orang yang sekelas dengannya dan bisa berteman dengannya. Tak perlu meraih medali, tidak berada di posisi terakhir saja sudah bagus. Kau tahu sendiri, tak ada murid di sekolah kita yang ingin mewakili sekolah. Andante adalah yang pertama sejak kau.”

Jaemin menghela napasnya keras, lalu berpikir selama beberapa menit.

“Apa aku mendapat keuntungan lebih?” tawar Jaemin akhirnya, membuat Guru Lee mendesis.

“Guru tahu bahwa kau akan bertanya hal itu. Kalau dia menang, kau berhak mendapatkan bagian dari hadiahnya juga.”

“Kalau dia kalah?”

“Kau tak dapat apa-apa, tentu saja. Apa kau masih perlu bertanya?”

Jaemin menatap gurunya sejenak, berpikir untuk menolaknya dengan segera. Tapi akhirnya, ia mengangguk kecil dan menyetujui permintaan Guru Lee.

“Aku hanya perlu melatihnya sampai kejuaraan musim dingin, kan?”

“Iya, benar.”

“Tak masalah. Aku akan melakukannya.”

-=-

Hal pertama yang Jaemin lakukan ketika masuk ke indoor swimming pool sekolah adalah menghela napas keras-keras sampai helaan napas itu menggema di ruangan sepi tersebut. Jaemin membawa handbag ke kamar ganti, mengganti celana panjang sekolahnya dengan celana pendek biru selutut. Tak lupa, ia menyimpan kemeja seragamnya, menggantinya dengan kaos putih. Di tangannya ada stopwatch dan peluit untuk melengkapi propertinya.

“Di mana anak itu?” gumam Jaemin sambil menatap jam tangannya sendiri. “Bukankah Guru Lee sudah mengatakan padanya untuk datang jam tiga siang?”

Menyerah dengan keterlambatan Andante, Jaemin membawa barangnya dan duduk di kursi penonton. Ia mengeluarkan headphone putih dari handbag dan memakai benda itu. Keheningan ruangan berpadu dengan lagu yang mengalun, membuat Jaemin memejamkan matanya seperti biasa.

There is a ship and she sails the sea

She’s loaded deep as deep can be

But not so deep as the love I’m in

I know not how I sink or swim

I know not how I sink or swim,” Jaemin bergumam kecil mengikuti lirik lagu itu.

Perlahan, ia membuka matanya, melihat kolam renang di depannya. Tangannya mematikan lagu dari headphone, lalu melepas benda itu dari telinganya. Ketika hendak menyimpan kembali headphone itu ke dalam handbag, Jaemin melihat sosok bayangan orang di balik pintu ruang  ganti wanita. Jaemin mengangkat alisnya dan buru-buru mendekati pintu ruang ganti itu.

“Andante?”

Jaemin memanggil nama itu, yakin seratus persen bahwa satu-satunya orang yang ada di sana adalah Andante.

“Andante, kan?” Jaemin bertanya lagi.

Lambat, pintu ruang ganti itu terbuka. Seorang gadis dengan pakaian renangnya muncul dari balik pintu dan menunduk di depan Jaemin.

“Maaf, aku terlambat.”

“Kau tidak terlambat,” potong Jaemin. “Kau sejak jam tiga tadi sudah di dalam ruang ganti, kan? Kenapa kau tidak keluar?”

“Aku… tidak ingin bertanding,” kata Andante sambil masih menunduk, menatap jari kakinya sendiri di lantai ruang ganti.

Jaemin mengangkat satu alisnya, menatap Andante seolah gadis itu orang paling aneh di dunia ini. Kedua tangan Jaemin bertaut di dada, lalu ia mengangguk kecil.

“Kenapa kau tidak mengatakannya pada Guru Lee? Kalau kau memang tak mau bertanding, aku tak perlu susah-susah datang ke sini dan menyiapkan banyak hal untuk melatih seseorang yang tak mau bertanding,” Jaemin memperlihatkan segala atributnya.

“Aku pasti kalah.”

“Ya, tentu saja. Ketika orang lain berkata ‘aku pasti menang’, kau malah berkata ‘aku pasti kalah’. Tentu saja kau akan kalah.”

“Aku belum pernah bertanding sebelumnya.”

Jaemin menggigit bibirnya sendiri, menahan diri agar tidak berteriak sekeras mungkin karena Andante sudah ketakutan sebelum ia melakukan apa-apa. Akhirnya Jaemin mengipasi dirinya sendiri sebelum wajahnya kebakaran karena jengkel.

“Aku tahu track record milikmu. Jadi kau tak perlu mengatakannya. Kita masih punya dua bulan dari sekarang. Menang atau kalah, yang penting kau ikut tanding mewakili sekolah kita.”

“Kenapa tidak kau saja?”

“Karena aku tidak mungkin mewakili sekolah untuk kejuaraan putri. Aku ini laki-laki.”

Andante balas menatap Jaemin seolah jawaban itu adalah jawaban paling aneh yang pernah ia dengar sepanjang karir hidupnya.

“Kau bisa ikut kejuaraan putra.”

“Aku bukan anggota tim renang. Kau adalah anggota tim renang dan menurut Guru Lee, kau punya potensi besar.”

“Aku takut bertanding.”

“Astaga,” Jaemin menahan diri. “Sampai kapan kita akan berdebat seperti ini? Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Sekarang, masuk ke kolam renang. Aku ingin lihat kemampuanmu lebih dulu.”

Andante mengalah. Ia melangkah mendekati kolam renang dan mencelupkan dirinya ke dalam air. Sementara Jaemin menatap Andante dari daratan, menilai kemampuan gadis itu dengan teliti.

-=-

Jaemin menguap, lalu menaruh kepalanya di atas meja. Ia nyaris terlelap kalau saja seseorang tidak memegang kepalanya dan membuatnya tersentak. Mata Jaemin langsung beradu dengan guru matematikanya, oknum pemegang kepala Jaemin tadi.

“Jangan tidur, Jaemin.”

“M-maaf, Guru Kim.”

“Sudah selesai?”

“Sudah.”

“Coba perlihatkan padaku.”

Jaemin memberikan kertasnya pada Guru Kim, membiarkan gurunya memeriksa jawabannya. Guru Kim mengangguk-angguk beberapa kali, lalu membawa kertas itu ke meja guru. Terbebas dari tugas, Jaemin menaruh kepalanya lagi di atas meja dan memejamkan matanya.

“Jaemin, apa kau belajar kemarin?” bisik Jeno pelan dari sebelahnya.

“Tidak,” gumam Jaemin.

“Lalu, bagaimana kau bisa mengerjakan soal tadi?”

Karena Jeno terus mengajaknya bicara, Jaemin pun bangun dari usaha tidurnya. Ia duduk tegap dan menghadap Jeno yang masih pusing mengerjakan soal.

“Aku memerhatikan kalau Guru Kim mengajar.”

Jeno tertawa meremehkan, mengejek jawaban Jaemin.

“Kau tak pernah memerhatikan guru,” Jeno menjawab dan berdiri, mengumpulkan kertasnya. “Apa kau kurang tidur kemarin?” tanya Jeno setelah ia kembali ke tempat duduknya.

“Bukannya kurang tidur. Sepulang sekolah, aku melatih anggota tim renang untuk akhir tahun.”

“Kupikir kau sudah berhenti dari tim.”

“Ya, kupikir juga begitu. Tapi Guru Lee menyuruhku.”

“Siapa yang kau latih?”

Kepala Jaemin berputar ke belakang, membuat Jeno ikut menoleh ke belakang.

“Dia,” tunjuk Jaemin dengan dagunya, membuat Jeno bisa melihat anak perempuan yang duduk dua baris di belakang mereka.

“Andante? Dia wakil sekolah kita? Memangnya kau bisa berkomunikasi dengannya? Bahasa Korea Andante sangat payah.”

“Dia pintar sekali membantahku. Aku bahkan sempat mengira dia dari Korea.”

Jeno tertawa hingga matanya tinggal segaris, ciri khas yang sudah Jaemin kenal sejak lama.

“Kapan kau akan melatihnya lagi?”

“Pulang sekolah, tiap jam tiga. Kau ingin lihat?”

“Tidak, terima kasih.”

-=-

Andante melakukan pemanasan sendirian di indoor swimming pool. Sekitar lima belas menit berlalu, pintu ruangan itu terbuka dan Jaemin masuk sambil berlari-lari kecil. Seragam sekolah masih melekat di badan Jaemin, membuat Andante memandangnya dengan alis bertaut.

“Kau terlambat,” kata Andante.

“Aku malah berpikir kalau kau berharap aku tak datang.”

Jaemin malah tertawa sendiri atas jawaban yang ia lontarkan. Padahal Andante tak tahu letak kelucuan jawaban itu. Gadis itu tak peduli, melanjutkan pemanasannya sendiri. Sementara Jaemin membawa handbag miliknya ke ruang ganti. Sepuluh menit berselang, Jaemin sudah muncul lagi dengan kaos garis-garis merah tua dan celana pendek abu-abu.

“Aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau takut bertanding?” tanya Jaemin sambil membereskan barang-barang di handbag miliknya.

“Aku takut kalah.”

“Kalah atau menang itu biasa, kan?” balas Jaemin cepat.

“Bagaimana bisa kau berkata seringan itu? Apa kau tidak pernah takut kalah?”

“Tidak pernah. Ada hal lain yang aku takutkan.”

“Yaitu?”

Hening mengudara di antara mereka. Jaemin tak menjawab, tidak pula melihat Andante. Pria itu menatap kolam renang dari tempatnya berdiri, membayangkan sesuatu yang paling ia takutkan.

“Kau sudah selesai pemanasan?” Jaemin mengubah topik. “Kita mulai latihannya sebentar lagi.”

-=-

Halte bus sudah sepi ketika Andante berdiri di sana bersama tas sekolahnya. Ia bersandar pada salah satu tiang halte, sesekali menguap karena mengantuk. Kepalanya menunduk, matanya terpejam. Tiba-tiba saja sesuatu yang dingin menempel pipi kanannya, membuatnya kaget dan menoleh ke kanan.

“Jaemin?”

Jaemin tertawa kecil, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang sangat rapi. Headphone putihnya tergantung di leher seperti biasa. Pria itu menarik kaleng minuman yoghurt dari pipi Andante dan memberikannya padanya.

“Hari ini kau sudah bekerja keras. Ambilah ini, untukmu.”

“Terima kasih,” Andante tersenyum dan mengambil minuman itu. “Kau naik bus?”

“Ya, tentu saja. Kita searah. Apa kau tidak tahu? Padahal kita sekelas. Kau tidak tahu alamat rumah teman sekelasmu sendiri?”

“Baiklah, sekarang aku tahu.”

“Apa kau sudah betah di sini?”

“Sejak awal aku tidak terlalu kesulitan ketika pindah ke sini. Di sini tidak sedingin Swiss.”

“Sungguh?”

“Iya.”

Andante mengangguk antusias, membuat Jaemin bisa melihat mata gadis itu secara langsung. Jaemin berani sumpah, mata Andante terlihat sangat biru seperti orang yang memakai contact lens.

“Matamu… apa itu asli?”

Pertanyaan konyol, dan Jaemin menghina dirinya sendiri di dalam hati.

“Tentu saja,” gadis itu tertawa. “Ayahku orang Swiss. Mataku ini biru sejak lahir.”

“Itu terlihat… keren.”

“Terima kasih.”

Bus datang tak lama kemudian. Jaemin melangkah lebih dulu, diikuti Andante. Jam pulang sekolah sudah lewat, membuat bus tersebut tidak penuh. Andante duduk tepat di sebelah jendela, dan Jaemin duduk di sampingnya.

“Kenapa kau tidak ingin ikut kejuaraan?” tanya Andante saat bus berjalan. “Guru bilang, kau anggota tim renang terbaik sekolah kita.”

“Aku sudah berhenti berenang,” jawab Jaemin semampunya.

Pria itu ingin menutup telinganya dengan headphone putihnya. Tetapi Andante menahan tangan Jaemin dan menurunkan headphone itu. Andante mengeluarkan earphone dari tasnya dan meminta Jaemin memasang itu ke pemutar musiknya.

“Kenapa?” tanya Jaemin.

“Aku juga ingin mendengar lagu itu.”

Jaemin memasang earphone sebelah kiri, lalu memberikan satu kabelnya pada Andante. Mereka mendengarkan lagu itu bersama-sama.

“Aku sering mendengarmu menyanyikan lagu ini di bangku penonton,” kata Andante tiba-tiba.

Jaemin mengedipkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum kecil.

“Ini lagu kesukaanku,” kata Jaemin pelan. “Tenang, lembut, terasa manis.”

“Apa aku bisa sepertimu?” tanya Andante pelan. “Membawa nama baik sekolah, menang dalam kejuaraan, menjadi perenang hebat. Aku ingin seperti itu. Tapi aku tidak punya percaya diri.”

Mendengar kata-kata Andante yang penuh kekaguman, Jaemin membuang napas dengan sedih. Ia menatap kakinya sendiri, lalu menggeleng pelan.

“Alasanku keluar dari tim renang adalah aku tidak bisa berenang lagi. Ada kecelakaan fatal setahun yang lalu. Kakiku mengalami cedera parah. Dokter bilang, aku tidak boleh menjadi perenang lagi karena itu bisa merusak kakiku lebih buruk.”

Andante tidak bisa berkata-kata lagi. Ia melihat Jaemin dengan sedih dan mengusap bahu pria itu pelan. Jaemin sedikit berkaca-kaca, tetapi berusaha tak menangis di sana.

“Maaf, aku tidak tahu.”

“Tidak apa-apa. Memang tidak ada yang tahu. Aku bilang, aku ingin fokus ke sekolah dan masuk universitas sains yang terkenal itu. Karena itu aku berhenti dari tim renang sekolah.”

“Kupikir memang itu alasannya. Kau sangat pintar di kelas. Dan kau satu-satunya kandidat beasiswa di universitas sains tersebut.”

“Jadi, aku memutuskan untuk menjadikan universitas itu sebagai cita-citaku. Berenang bisa tetap menjadi hobi atau mengisi waktu luang.”

“Bukan ide buruk,” hibur Andante. “Kau pintar. Masuk universitas tersebut adalah sesuatu yang hebat. Tidak mudah untuk masuk ke sana. Aku harap kau senang di universitas itu nantinya.”

“Aku harap juga begitu,” balas Jaemin singkat. “Aku turun di halte berikutnya.”

-=-

Jaemin menatap langit-langit kamarnya, belum mengantuk untuk terlelap. Kepalanya mengingat bola mata Andante yang biru seperti warna air kolam renang yang dulu begitu dicintainya. Tapi kini ia tak bisa menjadi perenang professional lagi untuk selamanya. Piala-piala dan medali-medali yang terpajang di kamarnya tak akan bertambah, hanya menjadi pajangan dan kenangan.

“Aku harap dia menang. Setidaknya dia akan menambah koleksi medalinya.”

Suara pesan masuk membuat Jaemin langsung duduk di kasur dan mengambil handphone. Ia membuka pesan masuk itu. Dari orang yang sedang ia pikirkan sejak tadi.

‘Kau sudah tidur?’

‘Belum. Kenapa?’

‘Setelah latihan besok, kau ada waktu?’

‘Besok Jumat. Tentu saja aku ada waktu. Kenapa?’

‘Ayo nonton di bioskop. Ada film bagus, tapi tak ada yang mau menemaniku menonton.’

‘Oke. Tak masalah.’

Tanpa sadar, Jaemin tersenyum kecil. Ia menunggu balasan terakhir dari Andante sebelum mengakhiri percakapan singkat itu.

‘Selamat tidur, Jae.’

‘Ya, kau juga. Selamat tidur.’

-=-

Jaemin mengambil popcorn yang ia pesan dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang satu kaleng soda dan satu kaleng teh rasa buah. Ia memberikan kaleng teh rasa buah itu pada Andante, menyuruh gadis itu mengambilnya.

“Aku ingin sodanya.”

“Tidak boleh. Kau ini atlet. Soda itu pantangan.”

Andante meniup poninya sendiri. Lalu memasang wajah paling imut yang ia sanggup lakukan.

“Sedikit saja. Satu teguk.”

“Tidak,” geleng Jaemin.

Menyerah, Andante hanya bisa berjalan di samping Jaemin, mengikuti pria itu ke studio film.

“Kau pernah menonton berdua dengan gadis lain sebelumnya?”

“Pertanyaan aneh,” Jaemin tertawa sambil duduk di kursinya. “Tidak penah. Dulu aku terlalu sibuk dengan berenang. Sekarang aku sibuk dengan ujian masuk universitas.”

“Membosankan sekali.”

“Terima kasih,” balas Jaemin singkat sebelum lampu studio dimatikan dan film dimulai.

-=-

Suara Jaemin menderu di indoor swimming pool sore itu. Andante mengeluarkan kepala dari dalam air lalu mendongak untuk menatap Jaemin yang berdiri di balok start.

“Kerja bagus untuk hari ini,” Jaemin berkata dari tempatnya berdiri. “Terima kasih untuk latihanmu selama ini.”

Andante melepas kacamata renangnya dan mengusap wajahnya yang basah.

“Terima kasih untuk menemaniku latihan hari ini,” balas Andante dari air.

“Tak masalah,” Jaemin mengulurkan tangan untuk membantu Andante keluar dari air.

Tepat ketika Andante menarik tangan Jaemin, kaki Jaemin menginjak daratan yang basah. Langsung saja ia tergelincir dan masuk ke dalam air. Setelah beberapa detik di dalam air, kepala Jaemin keluar dari permukaan. Pria itu tertawa sambil mengusap wajahnya sendiri.

“Maaf,” Andante tertawa kecil melihat Jaemin yang basah. “Apa kau punya baju ganti?”

“Aku punya seragam sekolah di handbag. Tak masalah.”

Keduanya tertawa lagi. Kali ini Jaemin mengibaskan tangannya, membuat air meluncur ke wajah Andante yang berjarak kurang dari setengah meter.

“Hei!” Andante tertawa keras, membalas tingkah Jaemin. “Benar-benar cari masalah!”

“Coba lawan aku kalau kau bisa.”

“Aku bisa!”

Jaemin berenang menjauh dengan kecepatan tinggi. Tapi Andante tak mau kalah. Gadis itu mencoba mengejar Jaemin dan menangkapnya dengan cepat. Mereka menghabiskan sore di kolam renang sekolah hingga akhirnya matahari turun dan hendak menghilang dari langit.

-=-

“Kejuaraan itu tinggal satu minggu lagi. Bagaimana perkembangan Andante?” tanya Guru Lee pada Jaemin saat jam istirahat.

“Dia siap untuk bertanding.”

“Bagaimana dengan perasaannya yang sering rendah diri.”

“Aku hanya bisa berharap perasaan itu tidak muncul ketika ia bertanding.”

“Kau pasti datang ke tempat pertandingan, kan?”

“Aku harus datang. Setidaknya aku akan melihat hasilnya.”

“Guru harap kau datang, Jaemin. Andante, anak itu, pasti akan merasa lebih semangat kalau ada kau. Kedua orangtuanya bahkan tidak datang untuk pertandingan perdananya.”

“Orangtuanya di Swiss, kan?”

“Iya. Karena itu kau harus datang.”

-=-

Mereka duduk berdua di bangku penonton indoor swimming pool sekolah sampai sore. Earphone Andante terpasang di telinga mereka, dengan lagu The Water Is Wide mengalun lembut. Andante memejamkan matanya, mengikuti kebiasaan Jaemin yang sudah ia perhatikan sejak lama.

“Kapan pertama kali kau mendengar lagu ini?” tanya Andante pada Jaemin.

“Saat aku kecil, Mamaku suka lagu ini.”

“Sudah hampir satu tahun sejak pertama kali aku melihatmu di sini, memakai headphone dan mendengarkan lagu itu.”

“Aku tidak pernah tahu. Kau selalu bersembunyi di balik pintu ruang ganti, kan?”

“Karena aku tak punya percaya diri untuk menghampirimu atau menyapamu. Kau terlalu hebat di kelas maupun di arena pertandingan. Aku jadi takut.”

“Aku terlihat seperti itu?” Jaemin bertanya pada Andante dan pada dirinya sendiri. “Menurutku, aku biasa saja.”

“Menurutku begitu,” Andante mengangkat bahunya. “Kau akan datang di hari pertandingan, kan?” imbuh gadis itu cepat-cepat.

“Tentu saja. Jangan khawatir. Aku akan memberi semangat paling keras saat kau bertanding.”

“Kabulkan satu permintaanku kalau aku mendapat medali,” Andante berkata cepat, membuat Jaemin berpikir sejenak.

“Aku pikir kau tidak ingin bertanding,” ledek Jaemin.

“Sekarang aku ingin bertanding. Jadi, kabulkan satu permintaanku kalau aku dapat medali.”

“Oke, setuju.”

-=-

Hari pertandingan tiba tanpa terasa. Andante sampai di arena sendirian, tanpa Jaemin maupun keluarganya. Ia menaruh barang-barangnya di ruang ganti dan menukar pakaiannya dengan pakaian renang. Gadis itu duduk dengan cemas, menunggu perintah untuk masuk ke arena.

“Kejuaran musim dingin renang antar atlet sekolah menengah atas akan segera dimulai. Para atlet dipersilahkan masuk ke arena.”

Terakhir kali, Andante mengusap tangannya sendiri agar ia berhenti gemetar. Dengan kacamata renang di tangannya, Andante masuk ke arena. Ia masih belum melihat Jaemin. Bahkan pria itu tidak ada di deretan bangku keluarga peserta pertandingan.

“Apa dia tidak datang?” tanya Andante dalam hatinya.

“Nomor tiga, mewakili sekolah La Rive High School, Andante Ravelino.”

Andante menarik napas sedalam mungkin sebelum berjalan ke kotak start. Ia memakai kacamata renangnya dan menatap air kolam di hadapannya.

“Ini adalah pertandingan perdana dari Andante Ravelino. Usianya saat ini enambelas tahun, lahir di Swiss, di Wollerau. Andante adalah perwakilan pertama La Rive High School setelah satu tahun sekolah tersebut tidak ikut dalam kejuaraan musim dingin antar sekolah.”

Andante lagi-lagi menghela napas, merasa gugup tiap kali profilnya dibacakan oleh pembawa acara dan komentator olahraga. Tangan gadis itu sedikit gemetar seolah-olah air kolam renang di hadapannya bertambah dingin lima kali lipat. Sekarang lututnya ikut gemetar hebat sampai ia merasa ingin jatuh dari balok start.

The water is wide, I can’t cross over

And neither have I wings to fly

Build me a boat that can carry two

And both shall row, my love and I

Andante menyanyikan lagu itu dalam hati sambil memejamkan mata. Ia membayangkan Jaemin dan headphone putih pria itu, senyumnya yang manis, cara bicaranya yang bernada sangat dalam namun lembut. Segala tentang Jaemin membuatnya tenang tanpa alasan. Ia teringat bagaimana pria itu selalu mengandalkannya meski tidak mengatakannya secara langsung.

There is a ship and she sails the sea

She’s loaded deep as deep can be

But not so deep as the love I’m in

I know not how I sink or swim

Sekarang ia mencoba menyanyikan bait kedua lagu favorit Jaemin itu. Lututnya mulai tenang, napasnya mulai beraturan. Di atas semua itu, ia mendengar suara banyak sekali orang menyanyikan lagu itu. Ia merasa sangat nyaman atas suara-suara itu, mengira imajinasinya membawanya dalam ketenangan yang fantastis.

“Luar biasa, teman-teman dari La Rive High School nampak sangat ramai di bangku penonton,” kata salah satu komentator membuat Andante tersentak.

Gadis itu menoleh ke bangku penonton, melihat banyak sekali siswa-siswi dari sekolahnya yang memakai seragam kebanggan La Rive High School. Sekarang Andante tahu asal suara-suara orang yang menyanyikan lagu itu. Nampak Jaemin di sana, memimpin teman-temannya menyanyikan The Water Is Wide, lagu yang memberikan semangat untuk Andante. Ia tersenyum, mata birunya bertemu mata dengan Jaemin yang melambai semangat sambil menyiapkan bait ketiga lagu.

Oh love is handsome and love is fine

The sweetest flower when first it’s new

But love grows old and waxes cold 

And fades away like morning dew

And fades away like morning dew,” Andante ikut bergumam menyanyikan lagu itu dengan wajah paling bahagia.

“Kita lihat, semua atlet sudah bersiap di balok start. Sebentar lagi pistol akan ditembakkan ke udara pertanda pertandingan dimulai.”

Jaemin menahan napas, terutama ketika ia mendengar suara tembakkan ke udara pertanda mulainya pertandingan. Semua atlet melompat ke air, termasuk Andante.

“Kau pasti bisa.”

-=-

“Luar biasa! Andante Ravelino, di pertandingan pertamanya, membawa pulang medali perak! Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa!”

Andante membekap mulutnya tak percaya, terutama ketika Jaemin berlari turun dari tempat duduk penonton dan menghampirinya tanpa ragu-ragu. Jaemin memeluk Andante yang masih basah oleh air kolam renang, tak peduli kalau seragam sekolahnya ikut basah.

“Kau hebat!”

“Aku… aku… aku dapat medali?”

“Iya, kau dapat medali,” Jaemin tersenyum sambil memeluk gadis itu erat-erat.

“Astaga, aku tidak percaya ini. Aku menang… Aku… aku menang, Jae. Aku menang!”

Andante menangis terharu sambil memeluk Jaemin. Ia bahkan tak peduli lagi pada seruan pembawa acara yang memintanya naik ke podium juara. Ia hanya memikirkan Jaemin, memikirkan betapa beruntungnya dia memiliki Jaemin.

“Terima kasih, Jae. Terima kasih.”

-=-

“Jadi, apa permintaanmu?”

Jaemin kini bersama Andante, berjalan berdua di sepanjang trotoar pertokoan kota yang nampak indah ketika malam tiba. Lampu-lampu deretan toko itu menyala manis, menarik perhatian pengunjung untuk berakhir pekan menghabiskan uang demi membeli sesuatu.

“Aku ingin soda,” jawaban Andante membuat langkah Jaemin berhenti.

Tangan Jaemin masuk ke dalam saku coat hitamnya, lalu ia menatap Andante yang berdiri di sampingnya dengan wajah tak percaya.

“Di saat dingin seperti ini kau ingin soda?” Jaemin nyaris tertawa. “Orang lain meminum coklat panas, Andante. Dan kau… ingin soda?”

“Beberapa minggu lalu, aku tidak boleh meminum soda karena harus bertanding. Sekarang aku tidak boleh meminum soda karena dingin,” Andante berdecak-decak kecil, membuat Jaemin ikut tertawa dan mengacak rambut gadis itu.

“Baiklah, baiklah. Janji tetaplah janji.”

Ia memegang tangan Andante, mengajaknya masuk ke salah satu café yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Seperti janjinya, Jaemin membelikan soda untuk Andante dan memesan coklat panas untuk dirinya sendiri.

“Terima kasih, Jae.”

“Tak masalah.”

“Terima kasih karena selalu mendukungku.”

“Bukankah itu gunanya teman?”

Andante tersenyum menatap Jaemin, membiarkan Jaemin balik melihat ke bola mata biru yang gadis itu punya. Seperti mendengar lagu yang terus berkumandang di hati mereka, suara lagu di café itu pun berganti menjadi lagu yang mereka sukai.

The water is wide, I can’t cross over

And neither have I wings to fly

Build me a boat that can carry two

And both shall row, my love and I

Begitu pula mereka, yang sama-sama ketakutan untuk berenang ke seberang sana dan sama-sama tak punya sayap untuk terbang, mereka pun membangun kapal mereka. Kapal itu cukup besar untuk mereka berdua, berlayar bersama menuju mimpi dan cita-cita mereka. Kapal itu adalah persahabatan mereka berdua.

-End-

Advertisements

8 thoughts on “The Water Is Wide

  1. Danna says:

    hai thor, aku reader baru. salam kenal ya. biasku jae juga tp jaehyun wkwkwkwk… jaemin juga sih tapi wkwkwkwk…. cerita author bagus, trus sesuai sama genre dan umur target pembaca (aku ngomong apa sih ga ngerti wkwkwkwk)
    btw keep nulis ya thor

  2. Totheworldnct says:

    Inspiratif bngt mnurut aku. Drama sekolah tapi ngga bosen alias isinya ga cinta doang. Readers perlu punya tema lain yg isinya ngasih semangat atau bikin berani bermimpi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s