Unstoppable [1]

Unstoppable

| Continue |

| Suho EXO, Irina |

| Love, Romance, Travel, Drama |

-=-

Irina merasakan sentuhan pelan di bahunya, membuatnya terjaga dari tidur nyenyaknya selama tiga jam terakhir. Mata gadis itu terbuka pelan-pelan, melihat seorang wanita dengan senyum sopan berdiri di sampingnya.

“Pesawat akan mendarat sebentar lagi. Kami ingin memastikan bahwa kursi Anda ditegakkan kembali,” ujar pramugari itu sopan.

Mengangguk, Irina membiarkan pramugari itu menegakkan kursinya. Setelah pramugari itu berlalu, Irina memandang jendela pesawat yang mengarah langsung ke kota di bawahnya. Senyum Irina sedikit mengembang, terutama ketika tanda-tanda pesawat akan mendarat terlihat.

“Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan mendarat di John Paul II International Airport Kraków–Balice. Adalah sebuah kebanggaan untuk terbang bersama Anda dan mengantar Anda ke tempat tujuan. Kami mengharapkan perjalanan lain bersama Anda di waktu mendatang. Sampai jumpa dan semoga hari Anda menyenangkan.”

Pesawat itu pun mendarat dengan sempurna, diikuti orang-orang yang mulai berdiri dan mengambil barang-barang mereka. Irina membawa ranselnya keluar dari kabin pesawat dan pada akhirnya, ia menginjak tanah Polandia.

-=-

Suho memasang jam tangannya dengan tangan kanan, lalu melirik cermin di hadapannya sekilas. Setelah yakin dirinya terlihat baik, pria itu mengambil tas kerjanya dan membukanya dengan cepat. Tangan kiri pria itu menyelipkan beberapa lembaran kertas ke dalam tasnya, sementara tangan kanannya menutup kembali tas kerja itu.

Sebuah handphone tergeletak di meja rias, bergetar pelan menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Tetapi Suho mengabaikannya, tak ingin pusing menjawab meskipun jelas-jelas sebuah kontak bernama Mama tertera di sana. Ia malah berjalan ke ruangan lain, memakan sarapannya yang tersaji di meja sambil membaca koran internasional. Di ruangan itu pula, sebuah televisi menyala tanpa suara, membuat Suho sesekali melihatnya.

Seorang wanita cantik nampak anggun diwawancarai oleh seorang wartawan televisi. Wanita itu memakai pakaian yang sangat cantik. Suho menghela napas sejenak, akhirnya mengambil handphone di kamarnya dan menjawab panggilan tersebut.

Halo, Sayang,” suara wanita menyambut Suho dari sambungan. “Kau sudah lihat wawancara Mama, Sayang?

Suho memejamkan matanya sejenak, lalu menjawab dengan malas.

“Sudah. Sekarang sedang tayang.”

Mama akan berada di Polandia sampai lusa. Mama harap, kau bisa makan malam bersama Mama besok.

“Aku sibuk.”

Mama akan suruh orang untuk menjemputmu di hotel, Sayang.”

“Aku sibuk, Mama.”

Jangan begitu, Suho. Mama tunggu besok malam, pukul tujuh.

Suho mematikan sambungan itu dengan kesal, lalu memandang televisi dengan jengah. Tangannya mengeraskan volume televisi hotel itu, memperdengarkan suara wanita tersebut di ruang hotel Suho.

“Pertanyaan terakhir, Nyonya. Sebagai seorang ibu, Anda tentu pernah merasa bahwa waktu untuk bersama keluarga Anda agaknya kurang. Pernahkah Anda menyesali hal ini?” tanya wartawan itu.

“Oh, astaga,” jawab wanita itu dengan wajah sedih. “Aku masih menyesali hal itu hingga detik ini. Beruntung aku memiliki anak-anak yang dewasa dan pengertian. Mereka sama sekali tak keberatan meski aku harus menghabiskan beberapa bulan sekaligus tiap pementasan musikal.”

Suho mendengus kesal, lalu mematikan televisi itu. Ia mengambil tas kerjanya dan meninggalkan ruang hotelnya tanpa mempedulikan sarapannya yang belum habis.

-=-

Irina menempelkan kartu kamar hotelnya di sensor pintu, menunggu beberapa detik hingga kunci terbuka secara otomatis. Sambil bersusah payah, ia mendorong pintu itu dengan badannya dan hendak membawa masuk koper besar di lorong hotel itu. Dalam hati, ia menyumpahi mulut besarnya yang sok menolak bantuan dari pegawai hotel untuk membawakan tas dan kopernya. Padahal, itu sudah tugas mereka untuk melayani tamu.

Seorang laki-laki berjalan di koridor hotel itu, membuat harapan Irina naik satu tingkat. Sebelum pria itu benar-benar melintasi tempat Irina, buru-buru Irina menyiapkan suaranya untuk meminta bantuan pria tersebut.

Excuse me. Can you help me?” pinta Irina pada pria itu.

Tetapi, bukan hari keberuntungan Irina. Pria itu hanya menatap Irina dengan mata menyipit seolah merendahkan gadis itu, lalu berlalu begitu saja seperti sebuah hembusan angin.

“Brengsek,” maki Irina pelan. “Ia pasti tak pernah diajari sopan santun oleh ibunya.”

Tiba-tiba pria itu berhenti dan menoleh pada Irina. Irina masih santai saja, mengira pria itu tak mengerti kata-kata Irina tadi.

“Ibuku memang tak pernah mengajariku apapun,” ujar pria itu membuat Irina kaget bukan main.

Irina membekap mulutnya sendiri dengan ketakutan, bahkan sampai menggigit kukunya tanpa sadar. Dengan malu, Irina menarik semua kopernya masuk ke kamar hotelnya dan menutup pintu tanpa pikir panjang.

-=-

“Dia orang Korea?” bisik Irina tak percaya ketika pintu sudah menutup. “Kenapa dia tak terlihat seperti orang Korea? Astaga, harusnya aku melihat ciri-ciri fisiknya dengan lebih cermat. Dasar bodoh,” gerutu Irina memaki-maki dirinya sendiri. “Dan dia tinggal di hotel ini juga?!”

Irina menendang kopernya dengan kesal sambil menahan malu. Ia menyeret barang-barangnya ke kamar, melewati dapur, meja makan, dan ruang tamu kecil yang ada di sana. Tangan Irina melempar ranselnya ke atas kasur, lalu dengan cepat ia menyalakan handphone setelah membaca password wifi ruangan itu.

Ratusan pesan masuk via aplikasi chat mendarat di sana. Beberapa panggilan terjawab yang sebenarnya cukup penting juga ada di sana, membuat Irina langsung menghubungi orang tersebut tanpa pikir panjang.

“Halo?”

“Irina? Kau sudah mendarat?”

“Aku bahkan sudah sampai hotel,” balas Irina membuat lawan bicaranya tertawa.

“Semua baik-baik saja?”

“Kira-kira begitu,” jawab Irina mengingat bahwa satu-satunya hal yang tidak baik-baik saja adalah pria tadi, pria yang diumpatinya ternyata mengerti umpatan-umpatannya. “Tapi Jo, aku agak sedikit menyesal memilih Polandia. Kupikir-pikir lagi, akan lebih baik kalau aku bersamamu sekarang di Berlin,” kata Irina pelan.

“Kenapa begitu?” tanya Jo setelah jeda beberapa detik, sebuah delay dalam dunia sambungan jarak jauh.

“Karena aku tidak bisa bahasa Polandia.”

“Memangnya kau bisa bahasa Jerman?”

“Tidak,” aku Irina. “Tapi ada kau di sana. Setidaknya kau bisa bahasa Jerman.”

Jo tertawa kecil mendengar alasan Irina yang jauh dari masuk akal itu.

“Pertukaran ini hanya berlangsung satu bulan, Irina,” hibur Jo akhirnya. “Kita akan bertemu lagi di Seoul satu bulan dari sekarang. Bukan waktu yang lama. Kau bisa cari teman baru di Polandia. Aku yakin ada orang Korea juga di Krakow.”

Ya, memang ada. Dan aku baru saja bertemu satu yang sangat menyebalkan.

“Tapi orang asing di sini sangat sedikit,” rajuk Irina lagi membuat Jo tertawa kecil. “Aku sangat takut di sini. Bagaimana kalau aku mati kesepian?”

“Hanya satu bulan, Kawan,” balas Jo tenang. “Itu waktu yang cukup singkat. Nikmati waktumu di sana. Belum tentu kau akan pergi lagi ke sana, kan? Kalau ada waktu, aku akan mengunjungimu di Krakow,” kata Jo lagi.

Fine, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Irina.”

-=-

Suho turun dari taksi yang ditumpanginya. Tepat ketika pengemudi taksi itu berseru hendak mengembalikan uang yang berlebih, Suho hanya melambaikan tangannya sekilas, menyuruh pengemudi itu mengambil semua Złoty yang Suho berikan.

Kaki-kakinya melangkah di tangga teras sebuah gedung tua di sana. Cahaya matahari yang terik bersinar menembus kemeja putih lengan pendeknya. Beberapa wanita, entah itu turis atau bukan, langsung berbisik-bisik mengagumi Suho. Tapi Suho tipe orang yang tak banyak peduli, terbukti dari wajah tanpa ekspresinya yang ia pasang sejak tadi.

Begitu masuk ke gedung tersebut, seorang penerima tamu langsung menyambutnya.

Good morning, Sir.

Good morning,” jawab Suho padat tanpa senyum. “Reservasi atas nama Kinga Kowalczyk,” tambah pria itu dalam bahasa Polandia yang fasih.

“Silahkan lewat sini,” ujar penerima tamu itu, mengajak Suho berjalan ke tangga. “Nona Kowalczyk sudah menunggu di ruang meeting, tepat di lantai dua.”

-=-

Suho menatap wanita di hadapannya tanpa ekspresi sama sekali. Ia hanya duduk di sofa, memandang wanita yang tengah meminum cairan apapun di cangkir itu. Suho tak tertarik, dan wanita itu menyadarinya.

“Kau tak suka kopi?” tanya Kinga pada Suho.

Menggeleng, Suho mengeluarkan kertas dan map dari tas kerjanya. Ia menaruh semuanya di meja lalu berdiri, hendak beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa kau tak bilang kalau kau tak suka kopi, Suho? Aku bisa suruh orang untuk membuatkan teh bagimu.”

“Jangan repot-repot, Kinga. Aku hanya membawakan dokumen yang kau minta. Setelah ini aku harus pergi. Aku ada banyak pekerjaan.”

“Apa pekerjaanmu sebegitu banyaknya sampai kau tak sempat mengunjungi Mama?” tanya Kinga sambil menaruh cangkirnya di atas meja. “Kalau kau belum tahu, Mama dan Papa mengajak kita untuk makan malam bersama besok. Kuharap kau bisa datang tepat waktu. Aku bisa menjemputmu kalau kau butuh.”

“Tidak,” potong Suho cepat. “Banyak taksi di dekat hotel.”

Suho berlalu tanpa basa-basi apapun lagi. Ia menuruni tangga dengan cepat sambil membawa tas kerjanya. Sebuah taksi kosong melintas di depan teras bertangga gedung itu. Suho langsung berseru menghentikannya dan masuk ke dalamnya.

-=-

Irina membuka tumpukan email masuk yang menimbun di aplikasi handphone. Matanya mencari jadwal pekerjaannya dengan cepat, lalu mendapati sebuah email masuk dari rumah sakit swasta tempatnya bekerja.

“Ah… membosankan sekali,” gerutu Irina lagi entah pada siapa, karena jelas Jo tak bisa membuang waktunya lebih lama lagi untuk sekadar menghibur Irina. “Besok malam ada seminar, lusa juga ada seminar, esoknya lagi juga ada seminar. Apa aku dikirim ke Polandia untuk dihukum?”

Gadis itu lantas tertawa kecil, lalu menguap keras. Ia mengeluarkan barang-barang dari kopernya, terutama baju-bajunya yang manis dan didominasi warna putih. Musim panas adalah musuh berat dari baju-baju berwarna gelap.

“Pantas saja pria brengsek tadi memakai kemeja putih,” kenang Irina sambil mengingat pria yang tadi menolak untuk membantunya. “Padahal aku dan dia sama-sama orang Korea. Kenapa dia menolak membantuku?” tambah Irina lagi pada dirinya sendiri. “Ternyata masih ada orang seperti itu di dunia ini.”

Tangan Irina membuka buku-buku perjalanan Krakow yang baru keluar dari kopernya. Ia membaca satu demi satu nama tempat yang bisa ia kunjungi dengan mudah. Lalu, bermodalkan beberapa lembar Złoty dan tas ransel berisi kebutuhan dasar, ia memutuskan untuk berpergian sementara waktu.

-=-

Suho menatap Main Square Krakow dari salah satu kawiarnia –kafe Polandia –di sana. Ia menghela napas pelan, lalu meminum kopi dinginnya dari sedotan. Sementara di hadapannya, sebuah laptop menyala, memperlihatkan data-data perusahaan yang membuat kepalanya pusing. Menyerah, Suho membuka tab baru di situs internet dan membuka website perusahaan penerbangan.

“Hei, lihat gadis itu,” suara pria Polandia di sampingnya membuat Suho tertegun.

Pria Polandia itu jelas tidak berbicara dengan Suho, melainkan berbicara dengan pria lain yang duduk bersamanya.

“Ya, aku melihatnya. Gadis Asia dengan kaos putih itu, kan?”

“Dia cantik, ya?”

Suho pun menoleh, mencari gadis Asia yang dimaksud orang-orang Polandia itu. Maka Suho mendapati sosok seorang gadis Asia di tengah-tengah Main Square Krakow, berlari mengejar burung-burung yang tengah mendarat di aspal, serta sesekali mengambil foto kuda-kuda yang berlalu di Main Square. Cahaya matahari yang terik menyinari kulit coklat gadis itu, membuatnya nampak berkilau.

“Sepertinya dia hanya turis. Tak ada gunanya. Kau minta nomor teleponnya pun tak ada gunanya,” ujar salah satu pria di dekat Suho.

Tapi Suho tak peduli. Ia memerhatikan website perusahaan penerbangan dan tak ambil pusing sama sekali. Tangannya mengetik tanggal penerbangan yang ia perkiraan adalah akhir bulan. Setelah memasukkan datanya, Suho pun sukses memesan sebuah tiket pesawat ke Seoul.

“Kenapa hari ini datang dengan cepat?” gerutu Suho tanpa sadar.

-=-

Irina duduk di salah satu kursi kosong yang terletak di pinggiran Main Square Krakow. Tangannya memegang kamera dan dengan lincah menekan tombol-tombol kamera itu dan melihat hasil-hasil pengambilan gambarnya. Gadis itu menekuk alisnya ketika melihat salah satu kawiarnia tanpa sengaja ada di dalam hasil fotonya. Seorang pria berkemeja putih nampak duduk di kursi terluar kawiarnia itu dan memandangi laptop dengan wajah dingin.

Langsung saja Irina menoleh pada kawiarnia di foto tersebut. Tetapi, seperti bukan takdirnya, pria berkemeja putih itu tak ada di sana lagi. Yang ada hanya Irina, memandangi kawiarnia tersebut dengan senyum tipis.

“Kenapa aku mencarinya?”

Handphone Irina berbunyi keras, membuat pemiliknya sendiri terkaget sejenak sebelum mencari benda itu.

“Ya?”

Hei, kau datang nanti sore?” celoteh dalam bahasa asing itu menyeruak telinga Irina.

“Maaf, siapa ini?”

Astaga, sepertinya kau tidak menyimpan nomorku, ya?” suara itu tertawa sebentar. “Ini Eligia. Kita pernah bertemu sekali di Seoul saat aku mengikuti pelatihan. Kau ingat?

“Ah, ya, benar. Jadi acara makan-makan itu benar-benar akan dilakukan hari ini?”

Tentu saja. Kau datang, kan?

“Aku pasti datang.”

Baguslah. Sampai jumpa.

-=-

Suho menatap ketiga orang itu dengan wajah datar, tanpa ekspresi apapun menghiasi wajah tampannya. Sepasang suami istri di hadapannya itu mengobrol ringan satu dengan lain, lalu diselingi kegiatan memotong daging steak yang terhidang di atas meja.

“Bagaimana dengan kegiatanmu, Kinga?” tanya pria di hadapan Suho pada wanita di samping Suho.

“Menyenangkan, Papa. Aku betah di Krakow dan tak berpikir untuk kembali ke Warsawa. Sepertinya aku bahkan tak ingin kembali ke sana.”

Pria yang disebut Papa itu tertawa kecil, lalu mengangguk-angguk bangga.

“Dan kau, Suho, bagaimana dengan liburan singkatmu?”

“Baik, Papa,” jawab Suho singkat. “Tapi aku segera kembali akhir bulan nanti,” tambah Suho membuat wajah Papa berubah drastis.

“Kenapa?”

“Banyak pekerjaan di Seoul yang tak bisa kutinggalkan. Jika Kinga butuh sesuatu, aku akan mengutus orangku untuk ke Krakow.”

“Sayang sekali,” komentar Kinga sambil mengangkat bahu. “Aku pikir akan lebih baik kalau kau istirahat sebentar dari pekerjaanmu dan menikmati liburan di Polandia.”

“Kinga benar, Suho. Tak ada salahnya kau beristirahat di Polandia dan liburan sebentar, kan?”

“Mama bisa melakukannya kalau banyak waktu,” balas Suho singkat sambil menatap steak di hadapannya sejenak, lalu memakai pisau untuk memotongnya.

“Mama bahkan rela menggantikan temannya yang semestinya tampil di Polandia demi mengunjungi kita. Kau tahu itu, kan?” Kinga berkata dengan nada yang Suho benci, nada seolah-olah wanita itu benar.

“Aku tahu,” balas Suho lagi. “Dan juga, tak ada yang keberatan untuk tampil di Polandia. Selain menambah penghasilan, juga menambah popularitas. Coba lihat, sejak tadi semua orang di restaurant ini memandang keluarga kita dengan iri. Papa seorang pengusaha besar, Mama seorang aktris musikal, dan sepasang buah hati yang begitu sukses.”

Mama nampak menyerah dengan kata-kata Suho yang selalu tajam dan ingin menyakitinya. Sementara Papa hanya tersenyum kecil, entah apa arti dari senyum itu. Kinga sendiri hanya memandang Suho dengan tatapan tak mengerti, yang tak Suho pedulikan sama sekali. Suho terlihat sangat fokus dengan makanannya, membuatnya nampak seperti orang yang ingin buru-buru pergi dari sana.

“Suho benar,” ujar Papa tiba-tiba membuat pisau di tangan Suho berhenti membelah daging steak karena Suho terlalu tertegun. “Keluarga kita memang selalu membuat orang lain iri. Papa juga merasakan hal itu,” tambah pria tersebut dengan senyum manis pada Suho.

Tapi Suho tak tersenyum sama sekali. Suho malah mengambil gelas wine dan meminum isinya sedikit. Ia memandang Papa dengan wajah datarnya, tak menjawab apapun dan melanjutkan makan.

-=-

“Ini salah satu restauracja yang cukup terkenal di Krakow. Sistemnya bisa buffet atau memesan menu. Khusus hari ini, kita makan buffet karena perusahaan yang membayarnya.”

Irina hanya mengangguk ketika mendengarkan teman-teman seminarnya berbicara dalam bahasa Polandia. Jika hanya sebatas kalimat mudah seperti itu, Irina bisa mengerti dan menjawab dengan singkat. Restauracja artinya restaurant. Irina tahu itu.

“Apa kau pernah ke sini sebelumnya?” tanya Irina balik pada pria yang tadi berbicara.

“Pernah beberapa kali. Eligia yang paling sering ke tempat ini. Dia langsung memilih restauracja ini ketika perusahaan meminta saran restauracja.”

“Aku mendengar namaku disebut,” gadis bernama Eligia menoleh pada Irina dan mendatangi Irina sembari tertawa kecil. “Aku tidak tahu apa kau suka tempatnya atau tidak, tapi menurutku, banyak turis asing yang datang ke restauracja ini.”

“Tidak masalah,” tenang Irina. “Ini tempat yang bagus. Seleramu memang selalu yang terbaik,” pujinya lagi sambil mengacungkan jempol.

“Aku sudah menyuruh Milek memesan tempat,” cerita Eligia sambil menoleh pada pria yang sejak tadi bersama Irina. “Apa kau melakukannya?”

“Sudah. Tapi sepertinya agak di luar dugaan. Aku memesan untuk sepuluh orang. Ternyata ada lebih lima orang yang datang,” jawab Milek sambil mengangkat bahu. “Akan kutanyakan kalau mereka punya bangku lagi.”

-=-

“Aku harus ke toaleta,” kata Suho sambil berdiri dari kursinya.

Papa hanya mengangguk sekilas pada Suho, membiarkan Suho beranjak ke toilet. Suho berjalan melewati bagian buffet restaurant tersebut. Nampak sekitar belasan orang berada di salah satu meja buffet, ramai berbicara dalam bahasa Polandia yang bercampur bahasa Inggris. Beberapa orang pasti datang dari Polandia, sisanya dari Asia dan mungkin negara-negara lainnya.

Suho tak terlalu memerhatikan lagi. Ia hanya masuk ke toilet dan mencuci tangannya. Ia memandang cermin di hadapannya dengan wajah kesal sejenak, lalu ia berusaha menormalkan kembali wajahnya hingga tak berekspresi.

Setelah selesai, pria itu hendak keluar dari toilet dengan tenang. Tapi tiba-tiba seorang gadis masuk ke toilet dan menatap Suho dengan kaget.

O mój Boże! Oh my God!” seru gadis itu. “Ini toilet pria?!”

Suho menyipitkan matanya, memandang gadis dengan atasan kaos biru cerah yang berbanding terbalik dengan wajah tanpa ekspresi Suho.

Care to read the sign first?” balas Suho sambil mengangkat satu alis.

Gadis itu menggigit jarinya karena terlalu malu, lalu langsung lari keluar dari toilet tanpa melihat Suho lagi. Suho hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah konyol wanita itu. Ia baru saja akan meninggalkan tempatnya ketika matanya menangkap sebuah benda kecil tergeletak di lantai. Suho membungkuk mengambil benda itu dan mengamatinya.

Bransoletka?” pikir Suho. “Bahkan gelangnya saja seperti anak kecil. Dia pasti memang anak kecil,” tandas Suho sembari keluar dari toilet dan menyimpan gelang itu di saku celananya.

-=-

“Kau sudah ke toaleta?” tanya Milek pada Irina.

Irina hanya meringis, lalu menggaruk kepalanya dengan buru-buru dan mengangguk asal-asalan.

“Apa terjadi sesuatu di toaleta?” tanya Eligia heran.

“Aku salah masuk toilet,” aku Irina akhirnya.

O mój Boże! Kau masuk toilet pria?! Apa ada orang lain di sana?” Eligia terkaget-kaget.

“Ada. Tapi sepertinya ia tak begitu marah,” pikir Irina meski jelas-jelas ia tahu, ketimbang marah, pria tadi lebih tepatnya sangat jengkel karena alasan yang tak jelas.

“Untunglah. Setidaknya ia sedang pakai celana, kan?” goda Milek membuat Eligia meringis geli.

Tak poza tym,” kata Eligia tiba-tiba. “Kalian lihat keluarga yang duduk di meja itu?” tunjuk wanita itu pada empat orang anggota keluarga yang duduk di meja dekat jendela. “Sepertinya itu keluarga Kowalczyk.”

“Serius?” sahut seorang wanita lain yang nampak lebih muda.

“Aku serius, Bozena,” balas Elegia. “Aku tahu betul wanita itu. Dia Tola Kowalczyk, aktris musical yang baru menyelesaikan tur terbarunya di Polandia. Dan pria di sebelahnya itu Seweryn Kowalczyk, suaminya. Kudengar suaminya salah satu pemegang saham di rumah sakit tempat seminar kita.”

Milek terbatuk beberapa kali dan langsung melupakan makanannya. Begitu pula Irina yang ikut melihat lekat-lekat pada keluarga yang sejak tadi dibicarakan Eligia.

“Apa itu anak-anaknya?” tanya Milek.

“Kurasa begitu. Kinga Kowalczyk adalah putri pertama mereka. Dan anak kedua mereka… Suho Kowalczyk. Sepertinya anak kedua mereka tak terlalu aktif di Polandia.”

“Kau yakin pria itu anak mereka?” tanya Milek lagi. “Wajahnya tak seperti orang Polandia. Rambutnya juga berwarna gelap, hitam seluruhnya.”

“Atau mungkin, ia kekasihnya Kinga?” tebak Bozena sok tahu, membuat Milek buru-buru menyikutnya tanpa alasan.

“Tidak, Suho Kowalczyk anak mereka,” jawab Eligia. “Setidaknya setahuku.”

Mata Irina memerhatikan pria itu lekat-lekat. Dan tiba-tiba saja seluruh indranya mengulang kembali sebuah kecelakaan kecil yang dialaminya berturut-turut sejak mendarat di Polandia. Pria brengsek berbaju putih yang menolak untuk membantunya ketika di hotel, pria di kawiarnia yang tertangkap kameranya tanpa sengaja, dan pria yang baru saja ditemuinya di toilet tadi.

Apa Krakow memang sekecil itu? Bukankah Krakow salah satu kota terbesar di Polandia?

“Sepertinya aku harus pulang lebih awal,” kata Irina tiba-tiba, merasa seluruh makanannya tak mungkin dicerna lagi dan ia ingin lari saja rasanya.

“Kenapa?” Milek dan Eligia bertanya bersamaan.

“Aku… mengantuk. Kalian lanjutkan acara makannya. Terima kasih banyak semuanya.”

Seperti kilat, Irina mengambil ranselnya di kursi dan lari menuju luar restauracja, berharap ada taksi kosong yang kebetulan berhenti di sana.

-=-

“Aku harus pulang,” kata Suho tiba-tiba membuat Papa, Mama, dan Kinga terdiam.

“Kenapa buru-buru, Sayang?” tanya Mama sedih.

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

Suho meninggalkan mejanya dan melangkah tanpa menoleh. Ia berjalan keluar restauracja, melihat satu taksi kosong tengah berhenti dan menurunkan penumpang. Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke pintu kiri taksi itu.

“Hotel Remigiusz,” kata Suho sebelum ia menekuk alisnya karena bukan hanya suaranya yang terdengar di taksi itu, melainkan ada suara wanita lain di sana.

Segera Suho menoleh ke kanan, mendapati seorang wanita duduk di sana dengan heran dan menatap Suho dengan mata bingungnya.

“Aku masuk lebih dulu dari dirimu,” kata wanita itu heran dalam bahasa Inggris.

No,” Suho menggeleng tak peduli. “Aku yang masuk lebih dulu,” jawab Suho sambil membuat gerak mengusir.

“Karena Anda berdua sama-sama ingin ke Hotel Remigiusz, mengapa Anda berdua tidak diam saja dan membiarkan saya mengantar Anda berdua?” tegur sopir taksi itu dengan cepat membuat Suho dan wanita itu terdiam.

I’m fine,” kata wanita itu tiba-tiba.

But I’m not,” sambar Suho cepat.

“Kau bisa turun kalau begitu,” wanita itu balas membuat gerak mengusir pada Suho.

Fine,” kata Suho akhirnya sambil menahan diri. “Silahkan jalan.”

-=-

Sebelum wanita itu sempat mengeluarkan dompet, Suho sudah memberikan beberapa lembar Złoty pada sopir taksi dan seperti biasa menyuruh sopir taksi itu mengambil kembalian yang tak sedikit. Wanita di sebelahnya sampai terheran-heran dan tak sempat berkata-kata ketika mereka berdua turun dari taksi, berjalan menuju lobi hotel dan sama-sama memakai tangga untuk menuju kamar mereka.

Tak ada satu kata pun keluar dari mulut Suho, begitu pula dengan wanita tersebut. Sebuah situasi canggung yang luar biasa mematikan. Akhirnya wanita itu berhenti di depan sebuah kamar hotel dan memanggil Suho.

Sir, thank you for-

“Tidak perlu,” potong Suho singkat sambil mengangkat tangan kanannya, membuat wanita itu terdiam karena bahasa yang Suho pakai bukan bahasa yang asing.

“Suho,” panggil wanita itu sambil menelan ludah, merasa tak enak.

“Kau tahu namaku,” kata Suho singkat.

“Aku Irina. Irina Lee.”

Suho hanya mengangguk kecil, tak terlalu tertarik dengan Irina. Ia hendak menghilang dari tempat berdirinya sebelum Irina menyebut namanya sekali.

“Maaf karena telah mengumpatimu kemarin,” kata Irina tiba-tiba.

Suho menggeleng datar, lalu menatap Irina lekat-lekat di mata gadis itu.

“Aku sudah biasa mendengar itu. Kau tenang saja.”

Irina meringis, merasakan kalimat Suho itu lebih tajam dari pisau apapun di dunia ini. Rasanya seperti ada jarum menusuk perasaannya, tepat di rasa malunya, membuat bagian itu nyeri.

Przepraszam,” Irina meminta maaf lagi dalam bahasa Polandia.

“Tidak perlu,” Suho menjawab dengan tak nyaman karena ia tak suka keadaan seperti itu. “Aku menemukan gelangmu di kamar mandi pria tadi,” kata Suho sambil mengeluarkan gelang dari sakunya.

Irina tambah meringis, merasa lebih malu lagi mengingat kejadian itu. Ia mengambil gelang yang Suho berikan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dan Suho pun berlalu, meninggalkan Irina sendirian di sana.

-To be continued-

Advertisements

8 thoughts on “Unstoppable [1]

  1. Jaeminahhhhhhhhh says:

    Mungkin karena baru satu episode, cerita ini belum ketebak. tapi kayak ada takdir tersendiri antara suho dan cewek yang selalu muncul mendadak itu. Suho di sini terlihat angkuh dan songong, sih. tapi mungkin karena ada sesuatu antara dia dan keluarganya. atau dianya emang kek gitu. hahahahaha… ditunggu kelanjutannya …

  2. Dyorodeu says:

    Wuiiii akhirnya ada apdetan cerita baru! Hm makin seru nih kayaknya. Semoga ada percikan percikan yg tak terduga dr suho dan si cewek kece ini ya kak! Hahahah semoga cepet apdetttt

  3. NathRen says:

    salah satu hal yang aku suka dari cerita2 kamu adalah pemilihan setting yg gak biasa. I mean, Poland??!!! Like, seriously?? mana pernah orang kepikiran utk mempertemukan dua insan tak bersalah di bawah langit Poland? hahahaha (abaikan hiperbola itu)
    By the way, kayaknya kamu bukan tipe yg suka setting di Seoul atau Korsel, ya? aku lihat2 kebanyakan di Eropa, sih.

  4. Kavlinareska says:

    Thooorrr, gila thoorrr… ini tuh daebak tau gak?
    aku blm pernah ke krakow itu tp kok rasanya bs memahami banget tempat itu… hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s