Love of My Life [5]

Love of My Life2

| Continue |

| Kyungsoo, Hyunrae, Suho, Kyuhyun, Jaemin |

| Life, Love, Romance, Family |

-=-

Hyunrae memberikan sebuah kotak kecil pada Kyungsoo sebelum pria itu keluar dari kamar mereka. Hati-hati Kyungsoo memegangnya, lalu membuka kotak itu.

“Ini untuk saya?”

Kyungsoo mengeluarkan sebuah gelang emas putih dari sana, dengan paduan diamond yang membuatnya terlihat maskulin tapi manis bagi pria.

“Itu produk terbaru untuk pria. Aku sendiri yang merancangnya. Kunamai Perceval. Ini adalah seri pertama dari Perceval.”

“Ini pertama kalinya Anda membuat sebuah produk maskulin.”

“Ini semua gara-gara kau,” Hyunrae pura-pura menyalahkan Kyungsoo sambil tersenyum. “Kau memberikan sebuah inspirasi yang gila bagiku. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu sampai membuat produk yang kupikir cocok untukmu.”

Tangan Hyunrae mengambil gelang itu dan memakaikannya pada lengan kanan Kyungsoo. Lalu gadis itu mencium punggung tangan Kyungsoo tanpa permisi, membuat Kyungsoo tertegun sejenak.

“Produk ini akan menjadi produk utama tahun ini setelah melewati voting ketat selama satu bulan terakhir. Jadi produk-produk terbaru yang belum launching dipamerkan di kantor selama satu bulan tanpa ditulis perancangnya. Produk yang paling disukai akan menjadi produk utama tahun ini.”

Voting ketat?” pikir Kyungsoo. “Apa Anda membutuhkannya? Maksud saya, Anda CEO di sana. Jadi tak perlu voting untuk menentukan keinginan Anda.”

“Aku suka menjadi berkuasa. Tapi aku lebih suka kalau kemampuanku diakui banyak orang. Aku ingin orang memilih karyaku karena bakatku, bukan karena posisiku.”

Kyungsoo tersenyum sambil mengagumi gelang itu, merasakan sinar matahari dari jendela mengenai diamond di gelang tersebut.

“Kapan launching seri ini berlangsung?”

“Segera.”

-=-

“Selamat pagi, Nona Hyunrae.”

“Selamat pagi, Sera,” balas Hyunrae sambil tersenyum menjawab sekertarisnya.

“Agenda hari ini sudah diubah sesuai permintaan Anda kemarin malam. Untung saja saya sempat membuka email sebelum tidur.”

“Maaf kalau aku mengatakannya secara mendadak seperti itu. Aku memiliki ide itu secara spontan dan ingin Kyungsoo turun tangan karena ia ahli dalam bidang ini.”

“Tidak apa-apa, Nona Hyunrae. Saya sangat senang Tuan Kyungsoo ikut serta dalam program tahun ini.”

Sera menatap Kyungsoo yang berdiri di belakang Hyunrae. Gadis itu menunduk sopan pada Kyungsoo, dijawab dengan angguk kepala oleh Kyungsoo.

“Setelah ini kita ke divisi pelatihan trainee. Aku akan memperkenalkan kau pada mereka,” bisik Hyunrae di telinga Kyungsoo, membuat Kyungsoo mengangguk.

Mereka berdua mengikuti Sera yang berjalan di atas sepatu hak tingginya menuju divisi trainee.

“Selamat pagi, Nona Hyunrae.”

“Selamat pagi semuanya. Apa kabar?” kata Hyunrae sambil menepuk bahu salah satu trainee. “Aku ingin bertemu Kepala Divisi Kim.”

Seorang pria botak dan berkaca mata modis muncul dengan gaya bersahabat. Kyungsoo nyaris tersentak ketika melihat pakaian pria itu. Bajunya penuh warna pink, dengan syal bulu-bulu menghiasi lehernya dan anting raksasa menggantung di telinganya.

“Halooooooo, gadisku yang paling cantik,” Kim mencolek lengan Hyunrae dengan gaya bersahabat, membuat Kyungsoo berjengit tanpa sadar. “Kudengar kita kedatangan tamu spesial hari ini,” tambah Kim sambil mengedipkan sebelah mata pada Kyungsoo.

“Hai, Kim,” balas Hyunrae ramah. “Bagaimana anak-anak di sini?”

“Baik, apalagi ketika mereka mendengar bahwa Tuan Kyungsoo yang tampan itu akan datang.”

“Kau sepertinya senang sekali,” Hyunrae tertawa.

“Aku tadinya senang ketika kau dan priamu itu pulang ke sini karena aku bisa melihat wajah tampannya. Tapi ternyata kalian sudah punya anak bersama. Jadi aku agak kecewa.”

Jawaban itu kontan membuat Hyunrae tertawa keras-keras. Kyungsoo harus berdeham agar Hyunrae menghentikan tawa itu. Buru-buru Hyunrae menarik tangan Kyungsoo.

“Aku ingin memperkenalkan pria tampan ini ke divisi trainee. Mulai hari ini, ia adalah pengawas divisi trainee yang bertanggung jawab langsung padaku. Apapun yang terjadi harus dengan persetujuan Kyungsoo. Kau paham, Kim?”

Kim menatap Kyungsoo, lalu mengangguk pada Hyunrae.

“Bisa aku bicara berdua denganmu, Hyunrae?” tanya Kim tiba-tiba pada Hyunrae.

“Tentu. Datanglah ke ruanganku hari ini setelah materi selesai. Dan Sera, tolong antarkan Kyungsoo ke ruangannya.”

-=-

Kyungsoo melihat lembaran kertas yang di susun rapi di mejanya. Ia membaca judul-judul di halaman depan kertas-kertas itu, lalu melewatinya dengan cepat. Sera masih berdiri di dekatnya, memberikan lembaran-lembaran lain pada Kyungsoo.

“Agenda hari ini adalah penilaian presentasi tentang sebuah anak produk yang akan diluncurkan. Waktu pengerjaan berlangsung sekitar setengah tahun dan mereka membuatnya dalam tim. Satu tim terdiri dari sepuluh orang,” kata Sera dengan cepat membuat Kyungsoo mengangguk kecil.

“Bagaimana dengan sistem penilaian?”

“Penilaian dilakukan oleh lima juri. Enam ditambah Anda. Tadinya Nona Hyunrae yang akan menjadi juri keenam. Tapi tiba-tiba tadi malam ia menunjuk Anda sebagai juri keenam.”

“Apa aku harus mengisi lembar nilai?”

“Jika Anda ingin, maka silahkan.”

“Bagaimana dengan cara Nona Hyunrae menilai biasanya?”

“Nona Hyunrae tidak pernah memakai kertas atau poin untuk menilai. Ia hanya mengajukan pertanyaan untuk dijawab. Selain itu, bila ia menyukai salah satu trainee, bukan tidak mungkin bila trainee tersebut langsung mendapatkan posisi bagus di Chasing Diamond.”

“Apa ciri trainee yang ia sukai?”

“Tidak tahu. Hanya Nona Hyunrae yang tahu itu.”

“Baiklah,” putus Kyungsoo akhirnya. “Apa kau ikut ke ruang presentasi?”

“Tidak, Tuan. Nona Hyunrae membutuhkan saya. Kepala Divisi Kim akan menemani Anda nanti.”

“Siapa yang mengatur ruangan ini?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

“Apa Anda tidak menyukainya?”

“Justru sangat suka.”

“Kalau begitu, Anda tahu betul siapa yang mengatur ruangan ini.”

-=-

“Cantik, apa kau yakin bahwa priamu bisa melakukan hal yang sama denganmu?”

Hyunrae tak menjawab pertanyaan Kim itu. Ia malah memberikan selembar kertas pada Kim dan meminta pria itu melihatnya.

“Aku tidak pernah meragukan Kyungsoo. Dan tidak akan pernah. Sebaliknya, aku meragukan beberapa anak trainee kita. Kau mengerti maksudku, kan?” balas Hyunrae.

Kim membaca nama-nama itu. Ada tepat lima puluh orang, dan di samping nama-nama itu ada kode-kode yang ditulis oleh Hyunrae.

“Aku mengerti.”

“Ada lima tim yang akan dinilai kali ini. Lalu ada lima juri, ditambah Kyungsoo. Dan aku menebak akan ada juri yang melakukan kecurangan kali ini.”

“Kecurangan?” balas Kim kaget sambil membekap mulutnya dengan manis dan membesarkan mata warna birunya. “Tidak akan ada kecurangan di sini, Cantik. Selama aku menjadi Kepala Divisi, tak akan kubiarkan.”

Hyunrae tersenyum, lalu mengacungkan jempolnya pada Kim.

“Aku harap begitu, mengingat juri-juri tersebut sudah melakukan penilaian lebih dari satu kali di Chasing Diamond. Aku ingin tahu hasilnya nanti. Pastikan bahwa siapapun yang curang menerima hukumannya, Kim.”

Kim menunduk hormat pada Hyunrae, lalu membenahi syal bulu-bulu di lehernya.

“Aku akan ke ruang penilaian sekarang. Terima kasih, Manis.”

Kim undur diri dari ruangan itu, dan Hyunrae menyilangkan kakinya di bawah meja. Kedua tangannya bertautan di atas meja, pertanda ia tengah serius berpikir.

“Mari kita lihat,” ujar Hyunrae itu pelan pada dirinya sendiri.

-=-

Kyungsoo duduk di salah satu kursi juri, menyiapkan pena yang selalu stand by di saku jasnya dan membaca nama-nama di kertas miliknya. Kim muncul di panggung presentasi masih dengan baju tabrak warnanya yang membuat kepala Kyungsoo pusing. Kim memberikan kata sambutan bagi para juri, terutama bagi Kyungsoo yang mulai sejak ini akan terus muncul di kantor.

“Tak perlu berlama-lama lagi, sesuai dengan nomor urut yang telah diundi, kita sambut tim pertama kita.”

Ada sepuluh orang, terdiri dari lima pria dan lima wanita muda, berdiri di panggung presentasi. Ruang presentasi digelapkan dan hanya cahaya lampu proyektor menyala, menyorot layar di depan. Salah satu peserta trainee wanita memberi kata sambutan sebelum memulai presentasi itu. Kyungsoo fokus membaca nama-nama di name tag mereka, tak ingin salah memberi nilai.

“Han Deura,” gumam Kyungsoo dalam hati.

Tangan Kyungsoo hendak memberi sebuah catatan di nama gadis itu. Tetapi, ia mengurungkan niatnya, merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Kyungsoo akhirnya hanya memberikan sebuah coretan kecil di dekat nama gadis itu. Mata Kyungsoo melirik juri pria di sebelahnya, melihat juri pria itu memberikan nilai rendah pada Han Deura. Hanya dua poin dari sepuluh poin.

“Cukup bagus,” pikir Kyungsoo, memberikan poin lima yang tak terlalu bagus tapi tak terlalu buruk.

Ketika penilaian sedang berlangsung, tiba-tiba pintu ruang itu terbuka lebar-lebar. Suho muncul di depan pintu tanpa basa-basi dan langsung menghampiri meja juri meski ia mendapatkan tatapan heran dari semua orang di sana. Segera Suho membungkuk hormat pada Kyungsoo, lalu membisikkan sesuatu pada Kyungsoo.

“Maaf, Tuan Kyungsoo. Tapi ada sedikit masalah di sini. Juri di sebelah Anda dituduh telah menerima suap. Polisi datang untuk menangkapnya.”

Kyungsoo mengangkat alisnya terkejut, tetapi tak berkata apapun ketika Suho mengarah ke pria di sebelah Kyungsoo.

“Tuan Hyeon, kami minta maaf,” kata Suho singkat. “Kami menerima laporan tentang kasus suap yang melibatkan Anda. Kepolisian ditugaskan untuk membawa Anda ke pemeriksaan di kantor. Sekali lagi, kami mohon maaf.”

“Tunggu sebentar! Siapa yang memperbolehkanmu menangkapku?” Hyeon berseru marah pada Suho. “Aku ini Hyeon! Tidak ada yang boleh menangkapku dan mempermalukanku seperti ini!”

Tapi amarah itu tak ada artinya ketika satu tim kepolisian masuk dan membawa Hyeon dari sana. Pria berumur itu masih memaki-maki Suho, bahkan menambahkan makian pada Hyunrae yang tak ada di sana.

“Keterlaluan!” Hyeon masih berteriak-teriak di lorong kantor. “Kupastikan Cho Hyunrae menerima akibatnya karena berani seperti ini!”

Suho mengambil kertas nilai Hyeon dan melipatnya jadi dua. Ia membungkuk pada Kyungsoo dengan sangat dalam, lalu mengucapkan permintaan maaf atas gangguan tersebut. Tetapi Kyungsoo hanya mengangguk, meminta orang-orang untuk melanjutkan penilaian seperti biasa.

“Terima kasih,” kata Suho sambil mengangkat kepalanya. “Sekali lagi, maaf atas kerumitan ini.”

Tepat ketika Suho mendekat ke pintu, mata Suho bertemu dengan salah satu peserta trainee yang duduk di kursi tunggu. Suho mengangkat alisnya sedetik, tahu bahwa trainee pria itu melihat ke arahnya dengan berbagai pikiran yang tak bisa ditebak.

-=-

Suho menunduk di hadapan Hyunrae, lalu memberikan kertas di tangannya pada Hyunrae.

“Apa kata penyelidik?” tanya Hyunrae sambil membuka kertas itu.

“Tuan Hyeon menerima sebuah jam tangan mewah dari salah satu orangtua peserta trainee. Sampai saat ini, ia tak mau mengatakan siapa oknum yang memberikan jam tangan itu.”

“Dasar bodoh. Sekalipun ia tak buka mulut, kita tahu betul siapa pelakunya.”

Hyunrae menatap kertas nilai di tangannya, lalu tertawa kecil.

“Bagaimana dengan kelanjutannya?” tanya Suho akhirnya.

“Panggil anak itu ke ruanganku. Aku harus berbicara dengannya.”

-=-

“Sayang sekali, bukan?” kata Hyunrae sambil mengetuk jarinya di meja kerjanya. “Seo. Ji. Han. Padahal kau salah satu favoritku. Tapi ibumu itu tukang ikut campur.”

Jihan berlutut di karpet sambil menatap Hyunrae dengan ketakutan. Di ruangan itu ada Hyunrae dan Kyungsoo yang hanya berdiri di samping Hyunrae, memerhatikan setiap gerak ketakutan Jihan. Mata Jihan terus melihat ke bawah, tak berani menatap Hyunrae.

“M-maafkan s-saya, N-nona Hyunrae.”

“Lima tahun pelatihanmu sia-sia karena ibumu memberikan jam tangan mewah pada Tuan Hyeon. Mungkin ibumu tak tahu kalau Tuan Hyeon menerima suap bukan hanya darimu, tapi dari banyak orang. Hanya saja, tak ada orang sepertiku yang bisa menyingkirkannya dari dunia ini.”

“M-maaf, s-saya t-tidak tahu i-itu.”

“Aku juga berharap begitu, Jihan. Aku tidak menjadikanmu pegawai tetap karena aku ingin kau terus berlatih hingga maksimal. Tapi ternyata, kau tidak sabaran.”

Kyungsoo menghela napas tiap mendengar kata-kata Hyunrae yang lebih mengerikan dari siksaan jenis lain di dunia ini. Lidah Hyunrae memang beracun, mematikan semua orang dengan kata-katanya. Ini membuat semua orang takut, termasuk Kyungsoo.

“Bagaimana sebaiknya sekarang?” kata Hyunrae sembari mengangkat dagunya dan melihat Jihan dengan mata sinis.

“S-saya akan m-menerima h-hukuman apapun.”

“Bagus, karena itu yang aku inginkan. Aku mengeluarkanmu dari Chasing Diamond. Pergi, dan jangan kembali lagi.”

Wajah ketakutan Jihan makin menjadi-jadi ketika ia memohon pada Hyunrae. Tapi Hyunrae membuang muka, menyuruh orang untuk mengeluarkan Jihan dari ruangannya hingga akhirnya hanya ada Kyungsoo dan Hyunrae di sana.

“Apa tidak keterlaluan?” bisik Kyungsoo pada Hyunrae.

“Bukankah ini hari pertamamu bekerja? Ingin dipecat juga?” balas Hyunrae datar.

“Maaf,” gumam Kyungsoo. “Saya lupa bahwa Anda memang mengerikan.”

“Aku tidak mengerikan kalau orang lain bisa melakukan hal yang kusuruh dengan baik. Dan di bagian dunia lain pun, memberi suap adalah tindakan yang salah.”

“Anda… benar-benar memiliki mata dan telinga di mana saja. Bagaimana Anda tahu kasus ini?”

“Aku malas menjawabnya,” Hyunrae berkata sambil duduk di meja kerjanya, berusaha menyentuh kakinya sendiri yang terasa sakit.

“Apa yang Anda lakukan?” tanya Kyungsoo sambil tersenyum. “Dan kenapa Anda duduk di meja seperti itu?”

“Kakiku sakit,” gerutu Hyunrae. “Dan rok ini membuatku tak bisa duduk tenang.”

“Anda tidak terbiasa memakai rok dan sepatu tinggi. Kenapa Anda tiba-tiba menggunakannya sekaligus hari ini?”

Hyunrae menggigiti bibirnya sendiri, merasa malu atas sebuah alasan yang Kyungsoo tak ketahui.

“Karena aku ingin terlihat manis di depanmu. Kau akan berada di kantor untuk hari ini dan seterusnya. Jadi, kupikir aku bisa terlihat sedikit lebih cantik.”

“Saya jadi merasa bersalah,” jawab Kyungsoo sambil duduk di kursi Hyunrae, tepat di hadapan wanita itu.

Hati-hati Kyungsoo melepaskan sepatu tinggi Hyunrae dan memegang telapak kaki Hyunrae pelan. Dengan sabar, ia memijat pelan kaki Hyunrae, memberikan rasa nyaman pada wanita itu.

“Terima kasih,” kata Hyunrae sambil menunduk dan tersenyum.

“Besok Anda tidak perlu memakai sepatu ini lagi. Pakaian yang biasa Anda gunakan sudah membuat Anda terlihat manis.”

“Kau pikir begitu?” Hyunrae tertawa kecil.

Kyungsoo mengangguk sambil memasang sepatu Hyunrae kembali. Mereka saling bertukar pandang selama beberapa detik sembari tersenyum.

“Senyum Anda benar-benar mirip Jaemin,” kata Kyungsoo tiba-tiba. “Dan mata Anda juga mirip dengannya. Kenapa ia benar-benar mirip Anda?”

“Tidak juga,” balas Hyunrae singkat sambil menaruh tangannya di pundak Kyungsoo. “Badannya sepertimu, dan sifatnya juga lebih mirip dirimu.”

Mereka tertawa singkat sampai suara pintu terbuka membuat keduanya tersentak kaget.

“Hei, Hyunrae!”

Kyuhyun menatap Hyunrae dan Kyungsoo dengan wajah kaget, lalu tertawa kecil melihat dua orang itu langsung melompat menjauh. Bahkan Hyunrae hampir jatuh ketika turun langsung dari meja kerjanya. Dan Kyungsoo, pria itu buru-buru berdiri menjauh seolah-olah ia adalah pengawal Hyunrae.

“Tidak sopan. Kenapa tidak mengetuk dulu?” gerutu Hyunrae.

“Jadi ini alasanmu ingin Kyungsoo datang ke kantor tiap hari? Kalian pasti tak bisa berada terlalu jauh dalam jangka waktu satu hari, ya?” ledek Kyuhyun.

“Berisik,” balas Hyunrae. “Cepat katakan alasanmu ke sini.”

Kyuhyun masih tertawa-tawa kecil, membuat Kyungsoo menahan malu dan menunduk sejak tadi. Sementara Kyuhyun tak peduli dengan akibat yang ia timbulkan dan langsung duduk di sofa tamu.

“Ini tentang dua orang itu,” potong Kyuhyun membuat wajah Hyunrae berubah serius. “Apa kau melakukan pemeriksaan tanpa sepengetahuan aku dan Suho?”

“Memangnya aku harus melaporkan apapun yang kuketahui pada kalian?” balas Hyunrae malas. “Yang ada sebaliknya. Kalian adalah yang harus melaporkan segalanya padaku.”

“Ya, ya, ya… Aku tahu itu.”

“Aku sulit mempercayai orang. Karena itu, aku harus tahu betul siapa orang-orangku dan memastikan mereka tak akan berbelok menyerangku.”

“Bagaimana kau tahu tentang hal ini?”

“Astaga,” Hyunrae tak bisa tak menggerutu lagi. “Aku benar-benar harus menjawab pertanyaan ini, ya?” tambahnya sambil melirik Kyungsoo. “Kalian dengar baik-baik, oke? Ibu kandung Jihan itu reporter simpanan Tuan Chae. Jadi aku tak ingin Jihan ada di sini, di Chasing Diamond. Kalian tahu Han Deura? Dia pernah mengikuti pelatihan di Kalliore Laure. Dia itu pintar dan memiliki bakat yang besar.”

“Aku tidak melihat kolerasinya sama sekali,” kata Kyuhyun disambut angguk kepala Kyungsoo.

“Memiliki Han Deura akan menguntungkan perusahaan. Tuan Chae menyuruh reporter Young untuk menyuap Hyeon agar Hyeon memberi nilai rendah pada Deura. Tujuannya agar Han Deura gagal di penilaian dan keluar dari Chasing Diamond.”

“Dengan begitu, Tuan Chae bisa mengambil Deura dan melatihnya,” angguk Kyuhyun mengerti.

“Selain itu, ia menyusupkan satu mata-mata, yakni Jihan,” tambah Hyunrae. “Karena itu aku ingin menyingkirkannya. Ditambah lagi, aku sudah muak dengan tingkah Hyeon yang tak adil menjadi juri. Jadi kukeluarkan saja mereka semua.”

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk saja. Ia tak banyak berkomentar lagi masalah itu. Tetapi di sisi lain, Kyungsoo malah menatap kalender perusahaan yang terpajang tak jauh darinya.

“Bagaimana dengan peluncuran produk terbaru Anda?” tanya Kyungsoo.

“Itu tak ada hubungannya. Acara akan tetap berlangsung besok. Tak ada yang perlu ditakutkan,” balas Hyunrae datar.

-=-

“Apa kau bisa pulang cepat besok?” tanya Hyunrae pada Jaemin ketika mereka bertemu di rumah.

“Tak bisa, Ma,” anak itu menggeleng. “Ada kelas tambahan besok dan aku ingin menghadirinya.”

“Kau terlalu pintar untuk itu,” balas Hyunrae sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tas Jaemin. “Pulang lebih awal. Ada peluncuran produk terbaru buatan Mama,” pinta wanita itu lagi.

“Akan kuusahakan, Ma,” jawab Jaemin. “Apa itu untuk acara besok malam?” tanya anak itu sambil menunjuk sebuah jas yang tergantung rapi di dekat kasur.

“Iya, untukmu besok malam. Karena itu, pulang lebih cepat, oke? Mama akan menunggumu di Hotel Yisreal, Ballroom VIP. Ryeon tahu tempat itu.”

“Oke,” angguk Jaemin akhirnya.

-=-

Hotel Yisreal, Ballroom VIP, seperti biasa selalu menjadi tempat orang-orang berkelas mengadakan acara-acara besar. Kali ini, tak tanggung-tanggung, peluncuran salah satu produk terbaru Chasing Diamond diadakan di sana, dengan Cho Hyunrae sang CEO sebagai tuan rumah acara. Wanita itu nampak begitu cantik, dengan gaun panjang warna jingga keluaran terbaru Chasing Diamond dan sepatu tingginya yang menghias dua kaki rampingnya.

“Nona Cho,” panggil seorang pria tampan.

Hyunrae menoleh, lalu tersenyum manis.

“Aku pikir kau tidak akan datang, Leeteuk. Kegiatanmu sebagai artis tentu membuatmu sibuk tiap waktu, kan?” kata Hyunrae ramah sambil menjabat tangan Leeteuk.”

“Hei, tak mungkin aku tidak datang. Aku selalu memakai produk keluaran perusahaanmu,” tambah Leeteuk sambil memperlihatkan jam tangannya.

“Hebat juga kau ini,” kata Hyunrae berbisik. “Barang yang seharusnya baru diluncurkan hari ini sudah dipunyai olehmu.”

“Tentu saja. Kalau aku tidak segera beli, jam tangan ini sudah habis. Lihat di sana,” tunjuk Leeteuk pada jam tangan yang dipamerkan tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Sudah ada lima-puluh orang yang memasukkan namanya ke dalam waiting list,” cerita Leeteuk. “Jadi, berapa produk yang akan diluncurkan hari ini?”

“Tiga,” jawab Hyunrae. “Jam tangan itu, gelang pria, dan sepatu berhias diamond.”

“Ini pertama kalinya kau meluncurkan produk gelang pria. Apa menikah memberikanmu inspirasi baru?”

“Anggap saja begitu,” balas Hyunrae sambil mengambil minuman dingin yang ada di dekatnya. “Mau mango juice?” tawarnya pada Leeteuk.

No, thanks. Aku lebih suka orange juice,” jawab Leeteuk sambil memamerkan senyumnya, membuat Hyunrae tertawa kecil lagi mendengar jawaban itu. “Anakmu tidak ada di sini?”

“Dia belajar di sekolah. Ada kelas tambahan.”

“Anakmu sangat tampan. Kalau kau mau tandatangan kontrak dengan agensiku, mereka bisa melatih anakmu menjadi artis. Aku tidak heran kalau dia tampan. Ayahnya sangat tampan, kan?”

“Terima kasih,” potong seseorang membuat Leeteuk dan Hyunrae menoleh.

Kyungsoo berdiri tak jauh dari mereka, menatap Leeteuk sambil tersenyum sopan. Di tangan Kyungsoo, ada segelas minuman yang belum habis.

“Akan kutinggalkan kalian berdua,” Leeteuk mengangguk sekali pada Hyunrae, lalu Kyungsoo.

Sepeninggal Leeteuk, Kyungsoo berjalan mendekati Hyunrae dan berdiri di sampingnya. Ia menyelipkan tangan kirinya ke saku sementara tangan kanannya masih memegang gelas.

“Anda sudah coba hati angsa di sana? Anda baru saja memecahkan rekor dengan menyiapkan hati angsa di acara ini. Sejak tadi wartawan tak henti-hentinya mengambil foto makanan termahal di dunia itu.”

“Bukannya mencicipi hati angsa itu, mereka malah mengambil foto. Benar-benar konyol,” Hyunrae menggeleng tak percaya. “Apa kau sudah mencobanya?”

“Sudah, tadi. Tapi saya lebih suka lobsternya.”

“Bagus kalau kau suka.”

Tiba-tiba lampu ruangan diredupkan dan para pemain musik di ruangan itu mengganti lagu-lagu dengan lagu dansa. Beberapa orang mulai berdansa, mengikuti irama lagu yang begitu indah.

“Anda mau berdansa?” tawar Kyungsoo sambil menaruh gelas di meja belakang Hyunrae.

“Boleh saja,” tukas Hyunrae sambil menatap pria itu.

Keduanya hanyut dalam langkah dansa itu. Mata Hyunrae terutama menatap wajah Kyungsoo tanpa melewati satu bagian pun. Mereka menjadi momen menarik bagi para wartawan yang masih tak hentinya mengambil foto. Tak lama waktu berselang, Suho mendekati Hyunrae dan Kyungsoo dengan buru-buru, menghentikan kegiatan mereka berdua.

“Jaemin diculik,” bisik Suho pelan.

“Apa?” Hyunrae berdesis. “Apa katamu?”

“Jaemin… diculik dalam perjalanan pulang dari sekolah.”

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s