Unstoppable [2]

Unstoppable

| Continue |

| Suho EXO, Irina |

| Love, Romance, Travel, Drama |

-=-

“Kenapa aku bisa memalukan seperti itu?”

Irina berdesis pada handphone yang ia tahan dengan pipi dan bahu kanannya. Suara kekehan Jo terdengar dari sana, membuat Irina tambah cemberut.

“Jadi Suho itu orang Korea juga?”

“Ya,” balas Irina. “Tapi nama keluarganya aneh sekali. Kowalczyk adalah nama keluarga Polandia, kan?” kata Irina lagi.

“Apapun itu, kau sudah mengalami situasi-situasi tak menyenangkan dengan dirinya. Ia menolak menolongmu dan kau mengumpatinya, kau masuk ke toilet pria dan dia ada di sana, lalu terakhir, kau diantar pulang olehnya.”

“Ia tak mengantarku pulang, oke?” Irina berkata dengan kesal. “Pria seangkuh itu tidak punya pikiran untuk mengantar wanita pulang. Berani bertaruh, ia pasti single karena tak ada wanita yang menyukainya,” imbuh Irina membuat Jo terkekeh lagi.

“Jangan bicara keras-keras. Kalau ia tinggal selantai denganmu, bisa jadi dia mendengarmu tanpa sengaja.”

“Aku tak peduli, Jo. Dia sangat aneh dan tidak sopan menurutku. Dia menolak menolongku, lalu hendak mengusirku dari taksi.”

“Kau juga tak sopan,” balas Jo. “Kau memaki-maki dia, ingat?”

“Ohhhh, jadi kau membela pria yang tak kau kenal itu dan ingin menjatuhkanku terus?” Irina merajuk lagi pada Jo.

“Kau ini seperti anak kecil. Di usia yang hampir tiga puluh tahun, kau tidak semestinya suka merajuk seperti itu.”

“Aku ini baru dua puluh tujuh, oke?”

“Oke. Sudah dulu, Irina. Aku ada seminar hari ini. Sampai bertemu.”

“Ya, sampai bertemu.”

Irina mematikan handphone dan tiduran di kasurnya. Matanya menatap reminder seminar yang tertera di layar handphone. Menyerah, ia turun dari kasur dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih masuk akal untuk pergi ke seminar.

-=-

Suho menatap mainan kuda berukuran genggam tangan yang tengah bergerak-gerak kecil, menarik perhatian orang untuk membelinya. Sementara tangan kiri Suho masih memegang handphone, menempelkan benda tipis itu di telinganya.

“Kuda?” tanya Suho lagi. “Kupikir aku melihatnya.”

“Tolong belikan satu untuk anakku, Suho,” ujar seseorang dari sambungan telepon, membuat Suho menautkan alisnya heran.

“Berhenti menyebut kucing peliharaanmu sebagai anakmu, Minseok,” kata Suho datar. “Semua orang akan mengira dirimu duda beranak satu kalau kau terus seperti itu. Dan lagi, apa gunanya membeli mainan kuda seperti itu untuk kucingmu?”

Fine. Belikan satu untukku,” kata Minseok setelah delay beberapa detik. “Kau senang?”

“Sekarang aku lebih heran lagi. Kenapa pria dewasa sepertimu harus meminta oleh-oleh seperti anak kecil?” kata Suho sambil berdecak.

“Belikan satuuuuuuuu…” Minseok merajuk, membuat Suho malas mendengarnya.

“Baiklah. Aku tutup dulu,” Suho mematikan telepon dan menyelipkannya ke saku celana.

Suho bertatapan langsung dengan wanita Polandia yang menjaga toko itu. Ia menunjuk mainan kuda tersebut dan menanyakan harganya. Tak seperti pembeli lain yang kebanyakan menawar harga, nampaknya kegiatan itu tak ada di kamus hidup Suho. Suho ada jenis pria yang akan memberikan Złoty  berlebih dan menyuruh orang yang menerima untuk mengambil sisanya.

“Terima kasih,” kata Suho sambil mengambil bungkusan mainan itu.

Tepat ketika Suho berbalik, ia menabrak seseorang yang tengah makan es krim dengan warna hijau cerah. Warna hijau langsung membekas di kemeja broken white Suho dan membasahinya. Suho untungnya tipe orang yang tak punya ekspresi dan selalu mencoba mengontrol ekspresinya sepanjang waktu. Berbeda dengan orang yang menabraknya dengan es krim hijau cerah itu.

“Ya Tuhan…,” desis sang pelaku dengan wajah kaget, menunduk sambil menatap bagian kemeja Suho yang tercoret es krim.

“Kau lagi? Apa aku boleh terkejut?” Suho berkata dengan rendah, membuat wanita itu mengangkat kepala dan terkejut lagi dengan ekspresi luar biasa.

“Ya Tuhan, astaga! Suho?!” wanita itu, Irina, hampir tersedak es krim hijau cerahnya.

“Apa Krakow sekecil itu?” desis Suho lebih pada dirinya sendiri. “Apa tidak ada tempat lain di Krakow?” tambah pria itu seolah menyindir wanita tersebut agar jauh-jauh darinya.

Suho menatap es krim hijau cerah di tangan Irina dengan mata menyipit. Tanpa suara, Suho mengusap kemejanya yang terkena es krim, lalu berlalu tanpa sepatah salam pun. Irina hanya bisa menatap bahu Suho dengan bingung. Ketika tersadar, ia buru-buru berlari dan mengejar Suho.

“Maaf,” kata Irina.

Tapi Suho tidak menjawab. Atau mungkin ia terlalu tak ingin menjawab. Ia lagi-lagi menghindari Irina, berjalan cepat-cepat karena tidak ingin terkejar gadis itu. Sayangnya, Suho tak berhasil karena Irina sudah lebih dulu menyamakan langkahnya dengan Suho.

“Aku akan membelikanmu es krim sebagai permintaan maaf,” kata Irina cepat-cepat.

“Tidak perlu,” Suho menggeleng. “Aku tidak ingin ada tambahan lain yang mengotori baju ini.”

“Kau ini benar-benar tidak punya hati, ya?” Irina berkata cepat dengan kesal. “Aku berusaha meminta maaf tetapi kau seolah punya harga diri yang terlalu tinggi.”

“Aku tidak bilang bawa aku tidak memaafkanmu, kan?” Suho menatap Irina dengan mata sinis. “Kalau aku benar-benar tidak memaafkanmu, aku akan memintamu membelikan satu baju yang sama persis dengan baju ini. Dan aku yakin, kau butuh setidaknya sepuluh tahun untuk menabung dan membeli baju ini.”

Mulut Irina terbuka dan rahangnya nyaris jatuh kalau ia tak punya otot di mulut untuk menahan rahangnya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat saat Suho berjalan melewatinya begitu saja seolah ia angin  yang bertiup di Krakow.

“Pria sialan!” Irina berteriak ke punggung Suho.

Hanya saja, Suho adalah pria yang terbiasa dengan sumpah serapah. Jadi ia tetap berjalan, meninggalkan Irina dan kekesalan perempuan itu di tempat. Baru beberapa langkah meninggalkan Irina, suara handphone di sakunya menghentikan Suho. Dengan helaan napas panjang, Suho menjawab dengan sederet kalimat panjang dalam Bahasa Korea.

“Hei, Minseok, aku sudah bilang, berhenti menghubungiku dulu! Memangnya aku tak punya pekerjaan lain?!”

“Apa Mama sekarang mengerti Bahasa Korea, Suho?”

Suho terdiam, lalu buru-buru melihat layarnya. Ada nama Mama di sana, pertanda bukan Miseok yang menghubunginya.

“Mama?” Suho menghela napas, langsung mengganti bahasanya.

“Iya, Sayang,” suara wanita itu membuat Suho bergidik. “Mama perlu kehadiranmu nanti malam di kawiarnia dekat kantor Kinga. Mama ingin makan malam denganmu sebelum pergi dari Polandia. Apa kau bisa datang?”

“Tapi aku sudah menemani Mama dan Papa makan malam,” tolak Suho.

“Itu beda, Sayang. Mama kali ini ingin makan berdua denganmu.”

“Baiklah,” potong Suho cepat agar masalah ini cepat berlalu. “Mama tak perlu khawatir. Suho akan datang nanti malam. Sampai bertemu nanti malam.”

Dan Suho buru-buru memutus sambungan.

-=-

Seorang pelayan kawiarnia tersenyum ramah pada Suho, hendak mengantar Suho ke meja yang telah direservasi. Suho melihat Nyonya Kowalczyk dari jauh, duduk bersama seorang wanita yang nampak cantik. Mereka mengobrol berdua, sesekali tertawa kecil tanpa menyadari kedatangan Suho.

“Selamat malam,” ujar Suho pelan, membuat kedua wanita itu menoleh.

“Suho, Sayang,” sambut Nyonya Kowalczyk sambil tertawa. “Duduklah. Mama ingin memperkenalkanmu dengan Zofia. Dia pendatang baru di dunia musikal. Meski baru dalam dunia musikal ini, ia sudah memiliki banyak penggemar. Bakatnya sangat luar biasa.”

Zofia, wanita yang sejak tadi mengobrol dengan Nyonya Kowalczyk, langsung berdiri dan mengulurkan tangannya dengan senyum malu menghias wajahnya. Suho menyambut uluran tangan itu dengan enggan, lalu menyebutkan namanya perlahan.

“Aku banyak mendengar tentangmu dari Nyonya Kowalczyk,” kata Zofia ceria. “Kau memang benar-benar terlihat tampan, Suho.”

“Terima kasih,” balas Suho pelan, nampak tidak tertarik dalam percakapan itu. “Jadi, apa alasan Mama mengajakku ke sini?” tanya Suho terus terang.

“Hanya ingin mengajakmu makan malam, Sayang,” ujar wanita itu lembut. “Tidak aneh bagi seorang ibu untuk mengajak anaknya makan malam. Iya, kan?” tambah Nyonya Kowalczyk sambil meminta pendapat Zofia.

Zofia hanya mengangguk sopan untuk menanggapi kata-kata Nyonya Kowalczyk. Tak lama kemudian, makanan datang. Suho hanya menatap makanan yang disajikan dengan wajah datar karena ia memang tak tertarik untuk berada di sana. Akhirnya, sepanjang malam, ia menghabiskan waktu untuk diam dan melamun memikirkan hal-hal lain.

“Kau terlihat tidak nyaman, Suho,” Mama tiba-tiba berkata dengan khawatir.

Suho berdeham, lalu melihat jam tangannya sendiri. Dengan senyum datar, ia hanya menggeleng pelan. Lalu Suho memakan sajian yang ada di hadapannya. Ketika ia tengah melamun sambil menguyah, seorang wanita lewat di depan kawiarnia tempat ia berada saat ini. Suho bukannya tak mengenali wanita itu. Bahkan ia merasa sangat kenal dengan wanita itu meski hanya beberapa kali bertemu dalam kejadian-kejadian tak menyenangkan.

“Suho, apa terjadi sesuatu?” Zofia ganti bertanya karena wajah Suho sangat aneh.

Berdiri dari kursinya, Suho berlari keluar kawiarnia dan mengejar wanita tadi. Dengan satu kali sentak, ia menarik tangan wanita itu.

-=-

Irina tengah berjalan-jalan sendirian seusai melihat matahari terbenam dari tempat makan malam. Sesekali ia bersenandung, menyanyikan lagu favoritnya yang dulu sering ia dengarkan bersama Jo, sahabat dekatnya sekaligus teman perempuan satu-satunya yang Irina punya. Tiba-tiba, seseorang menariknya, membuat Irina memekik pelan.

“Astaga!”

Seorang pria memegang tangannya erat-erat, membuat Irina berbalik karena kaget dan melihat pria itu. Irina nyaris berteriak keras-keras kalau ia tak merasa kenal dengan pria itu. Mata mereka bertemu, dan suara pria itu terdengar di antara mereka.

“Lihat aku,” kata Suho pelan. “Berpura-puralah marah.”

“A-apa maksudmu?” Irina tergagap.

“Lepaskan tanganku.”

Irina menekuk alisnya tak mengerti. Wanita itu menatap tangan Suho yang masih memegang tangan Irina kuat-kuat. Dengan menyentak beberapa kali, Irina berusaha melepaskan tangan Suho. Tapi Suho masih saja memegang tangannya kuat.

“Bagaimana aku bisa melepaskan tanganmu kalau kau seperti ini?” Irina bertanya tak mengerti.

Bukannya jawaban yang Irina dapat. Sebuah dekapan hangat menerjang tubuh Irina, membuat wajahnya beradu dengan dada bidang Suho.

“Diamlah selama beberapa detik. Biarkan seperti ini sebentar saja.”

Irina melongo, tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya lagi saat wajahnya tenggelam dalam tubuh Suho yang sangat padat. Segala protes buru-buru ditelannya karena Suho terus melarangnya berbicara apapun.

“Suho Kowalczyk!”

Suara menggelegar itu menghentikan momen antara Suho dan Irina. Entah pura-pura kaget atau tidak, Suho buru-buru melepas tubuh Irina dan memegang tangan Irina erat-erat. Tak jauh dari mereka, berdiri seorang wanita yang Suho yakin adalah ibu kandungnya, serta wanita lain yang kalau tak salah bernama Zofia.

“Mama?” Suho berkata serak. “Maaf, aku terlalu lancang. Tapi aku ingin mengenalkannya pada Mama,” tambah pria itu lagi.

“Hah?” Irina tergagap kaget. “Apa maksudmu?”

“Perkenalkan dirimu pada Mama,” Suho berkata dalam bahasa yang Irina pahami.

“Suho! Mama tidak membiarkanmu berkeliaran sesuka hati hanya untuk bermain-main seperti ini! Apa-apaan kau ini?!”

“Mama tidak mengerti. Mama tidak pernah memahami aku. Padahal aku ini anak Mama,” Suho memasang wajah terluka. “Dia orang yang aku pilih, Mama. Tapi aku tahu Mama akan bersikap seperti ini. Karena itu aku tidak memperkenalkannya pada Mama.”

Sebuah taksi lewat pun langsung diberhentikan oleh Suho dengan tangannya. Ia menarik tangan Irina dengan cepat, lalu membawa wanita itu ke taksi.

“Suho!”

“Maaf, Mama. Maaf, Zofia. Aku pulang dulu. Selamat menikmati makanan kalian.”

Suho membuka pintu taksi, mendorong Irina masuk ketika wanita itu bahkan tidak sempat mengatakan satu hal pun karena pikirannya jadi pusing dan kacau.

-=-

Di dalam taksi, Irina masih melongo seperti orang dihipnotis. Taksi itu melaju saja, entah membawa dirinya ke tempat mana. Sementara di sampingnya, Suho bisa duduk dengan santai seolah-olah dunia ini baik-baik saja dan tak terjadi kesalahan apa-apa di dalamnya.

“Aku memang tidak begitu pintar,” kata Irina tiba-tiba. “Tapi aku merasa kejadian tadi membuatku seperti orang paling bodoh di dunia ini dan aku agak tidak terima,” protesnya sambil menatap Suho tak berkedip.

“Terima saja. Hanya satu kali kesempatanmu dalam hidup untuk dipeluk oleh pria sepertiku,” Suho membalas tak peduli dan melihat jam tangannya. “Kau masih menginap di hotel yang sama, kan? Aku akan kembali ke sana. Biarkan aku mengantarkanmu ke sana. Dan tolong jangan berisik.”

Irina hanya bisa menatap Suho tanpa berkata-kata, tidak percaya bahwa Suho baru saja mengeluarkan beberapa kalimat panjang dalam satu tarik napas. Menahan emosi yang sudah terkumpul di sudut bibir, Irina membuang napas keras-keras dan meniup rambutnya sendiri.

“Benar-benar pria sialan,” desis Irina sambil membuang muka ke arah jendela.

“Aku mendengarmu.”

“Aku harap begitu,” balas Irina cepat. “Kau benar-benar tahu cara untuk membuat orang lain kesal. Aku heran, kenapa di dunia ini ada orang dengan bakat seperti itu.”

“Jangan berisik. Atau aku akan menurunkanmu di jalan,” ancam Suho.

Dan Irina langsung menutup mulutnya, menyimpan semua sumpah serapahnya dalam hati.

-=-

Taksi itu berhenti di depan lobi hotel. Seperti déjà vu, Suho mengeluarkan beberapa lembaran Złoty sebelum Irina sempat mengeluarkan dompetnya. Bukan hal aneh lagi bagi Irina untuk melihat sopir taksi yang menerima Złoty berlebih dengan mata berbinar-binar dan sangat bahagia seolah ini kejadian sekali seumur hidup.

“Terima kasih,” kata Irina sopan pada sopir taksi sembari turun dari kendaraan ini.

Bersamaan dengan Suho, Irina masuk ke lobi hotel dan melangkah menuju tangga. Mereka berjalan dalam hening hingga keduanya berhenti tepat di depan pintu kamar masing-masing. Irina sudah mengeluarkan kunci pintu kamarnya, bersiap membuka pintu. Tapi, sebuah suara menghentikannya.

“Aku menghargai bantuanmu tadi,” Suho berujar tiba-tiba.

Irina menoleh, menatap Suho dengan tatapan aneh. Mungkin Irina tak menyangka Suho akan berkata demikian.

“Sebenarnya, aku lebih senang untuk tidak terlibat dalam drama yang kau ciptakan.”

“Aku tidak melibatkanmu secara langsung. Kau hanya figuran, orang yang dibayar untuk sekali lewat saja dengan harga yang murah,” Suho menandaskan kalimatnya tanpa banyak pikir panjang.

Perasaan Irina seperti tertusuk sebilah pisau yang baru diasah dengan batu. Sebelum Suho menghilang, Irina menarik kemeja mahal pria itu dan membuat Suho berbalik dengan wajah tak senang.

“Kau pikir aku tak punya harga diri?” Irina berdesis.

Suho menatap Irina dengan wajah merendahkan, lalu mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia hendak menarik keluar beberapa lembar Złoty sebelum Irina menepis dompet itu dengan punggung tangannya hingga tumpah ke lantai. Tanpa berkedip, Irina melayangkan telapak tangannya sekuat mungkin ke pipi Suho, meninggalkan jejak merah yang panas di sana.

“Apa-apaan kau ini?!” Suho berseru marah.

“Itu adalah hadiah perpisahan dariku untuk seseorang yang sombong sepertimu.”

Irina meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamar hotelnya, tak ingin melihat wajah Suho lagi untuk selamanya.

-=-

Suho menutup pintu kamar hotelnya dengan pipi berdenyut-denyut. Jemarinya menyentuh ringan sisa-sisa telapak tangan Irina yang membekas di kulit pipinya, meninggalkan rasa sakit dan perih yang tak setengah-setengah.

“Sialan. Dia benar-benar memakai tenaga penuh saat memukulku. Mungkin seharusnya aku tidak pernah cari masalah lagi dengan wanita.”

Suho mendengar suara berisik, membuatnya menghela napas kesal dan mencari handphone miliknya. Ia mengeluarkan benda itu dan membaca nama yang paling ingin dihindarinya saat ini.

“Ya?”

“Kau keterlaluan, Suho Kowalczyk! Kenapa kau tidak mencari hari lain untuk mempermalukan Mama dan melakukannya di depan juniorku?!”

Tangan Suho menjauhkan teriakan itu dari telinganya. Ia menghela napas sejenak sebelum menjawab seruan wanita itu.

“Aku tidak suka jika Mama terus mengenalkanku pada wanita-wanita itu. Aku pernah mengatakannya dulu,” tandas Suho.

“Zofia berbeda dengan wanita-wanita lain, Suho. Kau belum mengenalnya. Kau seharusnya berkenalan dulu dengannya dan mencoba untuk memulai hubungan dengannya.”

“Aku tidak mau, Mama.”

“Apa… karena wanita tak berkelas yang kau temui di jalan tadi?”

“Bukan. Aku punya alasan sendiri.”

“Kalau begitu, Mama akan memastikan bahwa wanita itu tak akan menemuimu lagi.”

“Terserah. Wanita itu tidak punya hubungan apa-apa denganku. Ia hanya orang lewat yang kuberi peran sebaga figuran. Kalau Mama mau menghancurkan hidupnya pun aku tidak peduli.”

“Mama tidak pernah main-main dengan kata-kata Mama, Suho!”

“Aku tidak peduli!” Suho berseru keras dan cepat. “Aku benar-benar tidak peduli!”

Dengan kasar, Suho memutuskan hubungan telepon. Ia memegang erat-erat handphone di tangannya sembari menatap lantai dengan gusar. Penuh amarah, dilemparnya handphone tersebut ke arah tembok.

“Benar-benar keterlaluan! Dia tidak punya hak sama sekali untuk mengaturku setelah apa yang dia lakukan padaku selama ini!”

-To be continued-

Advertisements

8 thoughts on “Unstoppable [2]

  1. KezkiaLana says:

    Kesintingan Suho itu jelas nurun dari Mama. Mama nya berani lakuin apa aja untuk menghentikan tingkah Suho. Dan jelas Suho ga mau kalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s