The Man Who Can’t Be Moved [1/3]

The Man Who Can't Be Moved.jpg

| Continue |

| Kim Taehyung BTS, Go Wenny |

| Love, Romance, Friendship, Life |

[2017]

Selamat siang Pemirsa. Saat ini, The News sedang berada di Kantor Pusat Spring Day dan akan berjumpa dengan Kim Taehyung, CEO sekaligus pendiri Spring Day. Seperti yang kita ketahui bersama, Spring Day adalah perusahaan pertama dan satu-satunya yang berhasil menciptakan alat untuk menyimpan memori seseorang selamanya. Jika Pemirsa semua sama penasarannya dengan orang-orang di luar sana, jangan khawatir karena The News akan merangkum beritanya minggu depan.

Taehyung menekan tombol televisi, menyebabkan benda itu mati tanpa suara. Ia menghela napasnya sebelum duduk di kursi kerjanya dan menatap keluar lewat jendela. Sinar matahari mulai samar-samar, hendak menghilang dari langit. Suara pintu yang diketuk membuat Taehyung tersentak. Ia hanya bergumam, memberikan pertanda bahwa orang di luar boleh masuk ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Muncul tiga orang laki-laki di depan pintu.

“Selamat malam, Sajangnim,” Sekretaris Lee berkata sopan. “Wartawan The News sudah datang untuk membuat rangkuman berita yang akan ditayangkan minggu depan.”

Masih sembari duduk di kursinya, Taehyung menatap seorang wartawan dan seorang juru kamera yang dibawa sekretarisnya. Taehyung mengangguk kecil, membiarkan orang-orang itu masuk dan berjumpa langsung dengannya.

“Selamat malam, Kim Sajangnim. Saya Han Gyu, wartawan The News,” kata Wartawan Han sambil mengulurkan tangan.

“Selamat malam, Wartawan Han,” balas Taehyung sembari menjabat tangan wartawan itu.

“Dan ini adalah rekan saya, Juru Kamera Kang Hwijun,” imbuh Wartawan Han, memperkenalkan temannya. “Sesuai janji bulan lalu, kami ingin mewawancarai Kim Sajangnim terkait perusahaan ini. Sajangnim tentu masih ingat, bukan?”

“Tentu saja. Kalian bisa menyiapkan kamera dan pertanyaan-pertanyaannya di sofa itu.”

“Baik,” kata Wartawan Han sambil mengambil tempat duduk saat rekannya menyalakan kamera dan mulai merekam. “Bisakah Sajangnim memberikan sedikit perkenalan tentang Spring Day?”

Taehyung menarik napas sejenak, menatap kamera yang tengah merekam dirinya. Ia menyusun kalimat di kepalanya sebelum berkata-kata.

“Spring Day adalah sebuah perusahaan yang membantu orang-orang untuk menyimpan memorinya selamanya, bahkan sampai dunia ini berakhir. Kami ada bagi orang-orang yang menderita penyakit ingatan seperti Alzheimer, demensia, lupa ingatan, dan lainnya. Kami juga ada untuk mereka yang ingin menyimpan kenangan tentang sesuatu yang berharga dan sesuatu yang tidak bisa dilupakan.”

“Kenapa Sajangnim memilih nama Spring Day?”

“Menurutku Spring Day adalah hari-hari yang indah. Hari-hari di musim semi adalah hari-hari yang indah. Dan selamanya, hari-hari itu akan menjadi indah.”

“Indah?” Wartawan Han mengulangi. “Bisakah Sajangnim menjelaskannya lebih rinci?”

“Musim semi sepuluh tahun yang lalu, segala sesuatunya terasa berbeda.”

Ingatan Taehyung berkelana, mencari titik-titik kenangan tentang hari-hari sepuluh tahun yang lalu, saat dunia masih berada jauh di belakang sana.

-=-

[2007]

Taehyung duduk di kursi kelas sendirian sembari menunggu bel berbunyi. Teman-teman sekelasnya yang lain asyik bercanda, tertawa, bahkan mengganggu anak-anak lain yang sedang sibuk menyalin tugas. Tak lama waktu berselang, seorang guru wanita masuk ke kelas tersebut sambil membawa setumpuk kertas. Semua anak-anak di kelas itu langsung kembali ke kursinya.

“Selamat pagi. Pagi ini Seonsaengnim akan mengumumkan hasil kuis minggu lalu. Sebenarnya, Seonsaengnim tidak berharap banyak tentang hasil kuis tersebut karena dilakukan secara mendadak. Tetapi, yang jadi masalah di sini adalah, salah satu dari kalian mendapatkan hasil yang sempurna.”

Semua murid di kelas itu langsung menatap Taehyung dengan tajam tanpa basa-basi. Tetapi, tak ada sedikit pun perubahan ekspresi di wajah dingin Taehyung. Ia hanya menatap depan kelas, seolah memerhatikan gurunya dengan baik.

“Sepertinya kalian sudah tahu tentang ini,” kata guru mereka sambil tersenyum tipis. “Kim Taehyung, ambilah kertasmu. Kau mendapat nilai sempurna lagi.”

Taehyung berdiri dan mengambil kertasnya di meja guru. Nilai sempurna tercetak di ujung atas kanan kertas tersebut. Tanpa suara, Taehyung kembali ke tempat duduknya dan duduk tenang di sana.

“Anak sempurna memang selalu menyebalkan,” bisik seseorang dengan cukup keras.

“Dia tak mengenal setia kawan. Yang ia pedulikan hanya nilainya,” sambut orang lain dengan tawa kecil. “Menyebalkan sekali, ya?”

Meski semua orang akan mengatakan hal yang sama tentang dirinya, membencinya, memakinya, dan berkata buruk tentangnya, Taehyung tidak mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya. Baginya, menjelaskan segala sesuatunya hanya akan membuat dirinya semakin buruk.

-=-

[2017]

“Jadi, Sajangnim memang murid terbaik di kelas waktu itu?”

“Aku ingin bilang tidak. Tapi nyatanya, aku selalu mendapat nilai tertinggi di kelas. Ini,” tunjuk Taehyung pada pelipisnya sendiri. “Otakku tidak bisa berhenti mengingat segala sesuatunya.”

“Ingatan Sajangnim ada di atas rata-rata,” kata Wartawan Han membuat kesimpulan.

“Ini sangat sulit. Melupakan sesuatu jauh lebih sulit dari mengingat sesuatu bagiku. Dan itu membuatku menderita,” ujar Taehyung pelan. “Banyak orang ingin mengingat sesuatu selamanya dan merasa benci ketika melupakan sesuatu. Tetapi, mereka lupa bahwa terkadang, mampu melupakan adalah sebuah berkat yang luar biasa.”

“Bagaimana bisa Sajangnim mengingat segala sesuatu yang terjadi dari waktu ke waktu? Memori manusia juga punya batasan tersendiri. Terkadang kita melupakan sesuatu, mulai dari hal penting sampai yang tidak penting pun kita bisa lupakan. Apakah Sajangnim tidak pernah melupakan apa-apa dalam hidup?”

“Kalau aku bilang tidak, apakah kau akan percaya?” Taehyung menatap Wartawan Han sebelum mengalihkan wajahnya ke arah kamera dan menatap kamera dengan tajam. “Apa kalian akan percaya?”

Tidak ada suara di ruangan itu. Hening langsung menerpa, membuat suhu ruang kerja Taehyung seolah turun drastis dan menjadi dingin. Wartawan Han berdeham sekali, lalu sibuk membalik kertas naskah pertanyaan di pangkuannya.

“Jadi, bagi Sajangnim, melupakan sesuatu adalah sebuah kesulitan yang besar?”

“Ya,” angguk Taehyung. “Saat semua orang ingin mengingat segalanya, aku justru ingin melupakan segalanya. Ingatan ini seperti sumber bencana yang membuatku dibenci, dijauhi, dan tidak mempunyai teman. Aku tidak pernah berusaha untuk mendapat nilai bagus. Tetapi, aku bisa mengingat semua soal di ujian atau kuis karena mendengarkan guruku berbicara. Bukankah itu menakutkan?”

“Mungkin… iya,” kata Wartawan Han akhirnya. “Apakah ingatan itu yang mendorong Sajangnim untuk mendirikan Spring Day?”

“Ada sebuah ingatan yang mendorongku mendirikan Spring Day,” jawab Taehyung pelan. “Ini ingatan tentang seseorang yang sangat berharga bagiku. Ia sangat mudah lupa. Bahkan, hal-hal kecil seperti jalan menuju pulang ke rumah pun, kadang ia melupakannya.”

“Siapakah orang itu?”

“Orang itu datang saat musim semi datang sepuluh tahun yang lalu.”

-=-

[2007]

“Selain masalah kuis mendadak minggu lalu, Seonsaengnim ingin memberikan pengumuman lain untuk kalian. Mulai hari ini, ada seorang siswi baru yang akan menjadi anggota kelas kita mulai semester ini. Ia adalah murid pindahan dari Swedia.”

Semua anak di kelas itu langsung semangat. Bagi mereka, ini adalah pertama kalinya ada murid pindahan dari luar negeri. Mereka berdebar-debar saat pintu kelas dibuka, menghadirkan seorang gadis berparas cantik dan bermata hijau di sana.

“Wenny Go,” panggil guru di kelas itu sambil tersenyum. “Silahkan masuk.”

Wenny, gadis itu, masuk perlahan-lahan dengan senyum tipis. Ia menatap malu-malu pada semua anak di kelas itu dan menunduk sopan. Seperti seharusnya perilaku seorang anak baru, Wenny memperkenalkan dirinya pada anak-anak di kelas tersebut.

“Halo semuanya,” Wenny berujar. “Aku Wenny Go. Senang bertemu kalian.”

“Selamat datang, Wenny. Semoga kau betah di kelas ini,” jawab guru di depan kelas sembari mempersilahkan Wenny untuk duduk. “Dan Seonsaengnim harap, kalian bisa berteman baik dengan Wenny juga.”

Wenny melihat kursi yang kosong, lalu berjalan ke sana. Kursi kosong itu tentu saja tetangga dari Taehyung. Tidak ada yang mau duduk di samping Taehyung dan Taehyung memang tidak punya satu orang pun teman di kelas itu.

“Hai,” kata Wenny pelan sambil tersenyum ramah pada Taehyung.

Alis Taehyung terangkat, untuk pertama kalinya mendengar sapaan seseorang di kelas itu. Selama ini, anak-anak selalu mengabaikannya, pura-pura tak melihatnya, sampai menganggapnya tidak ada di kelas. Rasa iri membuat orang bisa berbuat sekeji itu.

“Hai juga,” Taehyung membalas pelan.

“Namamu?”

“Taehyung. Kim Taehyung.”

-=-

[2017]

“Dia gadis yang menyenangkan,” ujar Taehyung, tenggelam dalam kenangannya akan Wenny. “Wenny berteman dengan semua orang dan tidak pernah menjauhiku. Ia selalu ingin belajar denganku karena ingatannya lemah. Butuh seratus kali mengulang agar ia bisa benar-benar ingat semua rumus sulit yang kami pelajari.”

“Sepertinya Sajangnim menyukai Nona Wenny Go.”

“Suka dalam arti senang bersamanya,” aku Taehyung. “Aku senang berteman dengannya dan kami selalu pulang bersama. Bisa dibilang, ia adalah satu-satunya anak yang ingin bermain denganku.”

“Masa sekolah memang menyenangkan, bukan?”

“Sangat menyenangkan. Waktu berlalu begitu cepat ketika aku belajar bersamanya atau makan siang dengannya,” Taehyung tersenyum tanpa sadar. “Tetapi, masa bahagia itu tidak bertahan lama.”

Kamera di ruangan itu bisa menangkap perubahan wajah Taehyung yang cukup drastis. Ia tak tersenyum lagi dan malah nampak sedih. Juru Kamera Kang sampai harus menatap Wartawan Han, meminta pendapat apakah wawancara ini akan terus berlangsung atau tidak.

“Apa Sajangnim ingin berhenti bercerita?” Juru Kamera Kang bertanya.

“Tidak,” Taehyung menolak. “Maaf, aku hanya sedikit terbawa suasana. Wenny Go membuatku bahagia sekaligus sedih di saat bersamaan. Awalnya ia bersikap aneh, seperti orang tua yang lupa tentang hal-hal kecil. Rambutnya kusut tidak beraturan saat ke sekolah. Dan ternyata, ia tidak ingat kapan terakhir kali ia keramas.”

“Maksud Sajangnim… Nona tersebut punya penyakit lupa ingatan?”

“Aku tidak tahu pada awalnya. Sampai suatu ketika, Wenny tidak pernah datang lagi ke sekolah. Aku mencarinya ke rumahnya dan bertemu dengan kakak laki-lakinya, Samuel Go.”

-To be continued-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s