The Man Who Can’t Be Moved [2/3]

the-man-who-cant-be-moved

| Continue |

| Kim Taehyung BTS, Go Wenny |

| Love, Romance, Friendship, Life |

[2007]

“Kau Kim Taehyung?”

Taehyung mengedip beberapa kali, tidak mendapati Wenny berdiri membukakan pintu, melainkan mendapati seorang laki-laki yang lebih dewasa darinya berdiri di sana.

“Ya, itu aku.”

“Aku Samuel Go, kakak laki-laki Wenny. Mungkin akan lebih nyaman kalau kau panggil aku Hyung,” ujar laki-laki itu membuat Taehyung tersadar, lalu tersenyum sopan sambil membungkuk memberi salam.

“Apa Wenny ada di rumah? Sudah beberapa hari ia tidak masuk sekolah.”

“Dia…,” Samuel terdiam sesaat, memikirkan kata-kata yang tepat. “Sebenarnya ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang adikku. Apa kau punya waktu?”

“Ya.”

Taehyung melangkah di belakang Samuel, mengikuti jejak kakak laki-laki itu masuk ke dalam rumah besar milik Keluarga Go. Ada begitu banyak hiasan-hiasan foto terpajang di ruang tengah, membuat Taehyung menyadari betapa Keluarga Go adalah sebuah keluarga yang hebat. Ayah mereka adalah seorang wiraswasta hebat di Asia. Ibu mereka adalah seorang wanita Swedia yang bekerja sebagai pembicara di organisasi besar dunia.

“Ayah dan ibu kami sangat sibuk. Mereka jarang ada di sini,” kata Samuel tiba-tiba. “Aku harus memainkan peran sebagai ayah sekaligus ibu dari adikku.”

“Wenny beruntung karena Hyung sangat dekat dengannya. Ia sering bercerita tentangmu, Hyung,” jawab Taehyung sembari tersenyum kecil.

“Bagiku, ia adalah malaikat kecil yang Tuhan kirimkan. Aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang seperti aku membesarkan anakku sendiri. Tapi kini, ia kadang melupakanku.”

“Bagaimana mungkin Wenny melupakanmu, Hyung?”

“Melupakanku dalam arti tidak dapat mengingatku sama sekali. Kadang ia terbangun dalam keadaan bingung, bertanya padaku tentang hal-hal yang seharusnya tidak ia tanyakan.”

“Contohnya?”

“Ia menanyakan namaku,” kata Samuel sambil menyentuh kenop pintu di dekatnya.

“Nama… Hyung?”

“Ya. Dan terkadang, ia mengira aku adalah ayahnya.”

-=-

[2017]

“Hari itu, aku membeku di depan pintu kamarnya, melihat Wenny yang tengah menatap foto-foto di tembok kamarnya. Foto-foto itu adalah gambar wajah orang-orang yang semestinya ia kenal. Di bawah foto-foto tersebut, ada nama-nama pemilik wajah itu.”

Taehyung menahan napasnya, takut air matanya jatuh ketika kamera milik Juru Kamera Kang. Ia bisa melihat Wartawan Han juga terdiam, lalu mengedip beberapa kali karena bingung. Buru-buru Taaehyung mengatur emosinya dan kembali membuang napas.

“Apa Nona Wenny Go mengingat Sajangnim?”

“Aku ingin bertanya seperti itu,” cerita Taehyung akhirnya. “Tapi aku takut ia tidak mengingatku. Aku sangat ketakutan sampai ingin mati rasanya. Samuel Hyung memanggil nama adiknya berulang kali dan tanggapan Wenny hanya satu.”

“Yaitu?”

“Ia menanyakan namaku.”

-=-

[2007]

“Ah, Kim Taehyung,” tunjuk Wenny pada foto Taehyung. “Teman sekolahku. Kau Kim Taehyung, bukan? Kurasa aku benar!”

“Benar,” bisik Taehyung pelan, hampir menangis ketika Wenny berhasil mengingat Taehyung.

“Apa kau sering ke sini?” tanya Wenny pada Taehyung, menghancurkan segala harapan dalam hati laki-laki itu. “Apa kita… dekat?”

“Sangat dekat,” jawab Taehyung akhirnya. “Aku tidak tahu bahwa kau sendirian di sini. Maaf karena tidak pernah mengunjungimu.”

“Aku tidak sendirian. Ada laki-laki tadi selalu di sini. Dia ayahku.”

“Dia kakakmu,” ralat Taehyung membuat Wenny tersadar.

“Kau benar! Dia… kakakku.”

“Namanya Samuel Go.”

“Benar! Samuel Go,” Wenny mengangguk antusias. “Dan kau…”

“Kim Taehyung, teman terdekatmu di sekolah. Kita sering mengerjakan tugas bersama dan bermain bersama. Kita pergi ke taman hiburan bersama dan belanja pakaian untuk acara sekolah bersama. Kita ikut dalam kepanitiaan yang sama berulang kali dan selalu bekerja sama dengan baik. Kita selalu… selalu… selalu…,” Taehyung tak kuat melanjutkan kata-katanya dan meneteskan air mata.

“Apa lagi?”

“Kita selalu… bahagia bila bersama,” jawab Taehyung akhirnya.

“Sungguh?”

“Ya. Kita selalu bahagia saat menghabiskan waktu bersama. Ada tawa yang selalu hadir di antara kita tiap kali kita bersama. Karena itu, setidaknya aku, aku selalu bahagia bersamamu.”

Rasa bersalah menerjang Wenny ketika kalimat itu keluar dari mulut Taehyung. Sepertinya, ada begitu banyak kenangan akan Taehyung yang Wenny lupakan. Itu adalah sumber rasa sesak yang ada dalam hatinya saat ini.

“Maaf,” Wenny berkata pelan. “Maaf karena aku melupakan itu.”

“Tidak apa-apa,” Taehyung menangis kecil sambil berusaha tetap tertawa. “Tidak apa-apa, sungguh. Tidak apa-apa. Kau tidak harus mengingatnya. Aku akan membuat kenangan yang baru terus untukmu tiap hari.”

“Sungguh?”

“Ya, sungguh. Aku akan datang setiap hari ke sini.”

“Datanglah,” Wenny antusias menjawab. “Datanglah tiap hari ke sini, Kim Taehyung.”

-=-

[2017]

“Aku datang setiap hari setelah pulang sekolah. Ada begitu banyak hal yang kulakukan bersama Wenny setiap kali kami mengisi waktu bersama. Kadang ia lupa padaku. Biasanya, ingatannya hanya bertahan tiap dua hari. Seperti ada tombol reset dalam dirinya, ia kehilangan ingatannya dua hari selanjutnya dan aku harus memperkenalkan diri lagi dari awal.”

“Apa penyakitnya tambah parah?”

“Ya, tambah parah. Tentu saja. Maksudku, penyakit ingatan seperti itu juga berbahaya. Ia bisa hilang sewaktu-waktu dan tidak kembali lagi. Ia pernah tersesat, dan kakaknya panik mencarinya di seluruh tempat. Ternyata, ia ada di sekolah kami, entah kenapa.”

“Mungkin ingatannya kembali.”

“Entah, aku juga tidak tahu.”

“Apa ada hal lain lagi yang terjadi?”

“Tentu saja ada. Dan kejadian itu membuatku memutuskan untuk mendirikan Spring Day. Waktu itu, sekitar beberapa bulan setelah mengetahui penyakitnya, aku dan Wenny berjalan-jalan di sepanjang taman musim semi. Musim semi sangat indah, mengingatkanku pada saat pertama kali kami bertemu. Wenny juga antusias, menikmati angin musim semi yang menyenangkan.”

“Lalu?”

“Lalu, ia menceritakan beberapa hal tentang kami.”

-=-

[2008]

Angin musim semi menerpa wajah Taehyung dan Wenny ketika mereka duduk berdua di bangku taman sambil menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran.

“Aku ingin selalu mengingatmu, Kim Taehyung. Tapi kepalaku seperti sebuah mesin rusak yang tidak bisa mengingat apa-apa. Kau seperti datang dan pergi dalam ingatanku. Aku tidak ingin seperti ini terus. Aku ingin mengingatmu.”

“Tidak apa-apa. Kau boleh melupakanku setiap hari. Kita bisa memulai tiap hari seperti hari yang baru. Kita bisa berkenalan lagi dan berteman dekat lagi. Kita bisa… jatuh cinta lagi untuk yang pertama kalinya setiap waktu.”

“Apa kau baik-baik saja bila aku seperti terus?”

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri tahu rahasiaku. Aku tidak bisa melupakan apa-apa. Aku memegang ingatanmu. Jadi kau jangan khawatir.”

“Seandainya,” kata Wenny tiba-tiba. “Seandainya di dunia ini ada mesin yang bisa mengingat segala sesuatunya seperti ingatanmu dan tidak melupakan apapun sampai dunia ini berakhir, aku akan menitipkan ingatanku di mesin itu. Jadi aku bisa mengambilnya lagi saat aku butuh.”

Saat itu pula, ide muncul di kepala Taehyung. Dengan kemampuan mengingatnya, ia berhasil merangkai beberapa mesin sederhana untuk membantu banyak orang di kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin bila ia tak bisa mewujudkan ide yang Wenny inginkan.

“Aku ada ide!” Taehyung berseru. “Sungguh, aku ada ide. Jangan lupakan aku sampai dua hari ke depan. Akan kuceritakan ideku padamu.”

-To be continued-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s