The Man Who Can’t Be Moved [3/3]

the-man-who-cant-be-moved

| Continue |

| Kim Taehyung BTS, Go Wenny |

| Love, Romance, Friendship, Life |

[2017]

“Seperti keinginan Wenny, aku membuat sebuah mesin yang bisa menyimpan ingatan seseorang. Mesin ini bekerja seperti buku harian. Jadi Wenny bisa merekam segala sesuatu yang menurutnya penting. Rekaman tersebut ada dalam bentuk suara, gambar, foto, dan semua jenis file yang ada di dunia ini. Jadi, ketika ia membuka kembali rekaman itu, ia akan melihat film kehidupannya.”

“Jadi, bisa dikatakan bahwa Nona tersebut adalah inspirasi Sajangnim dalam membuat Spring Day. Benar begitu?”

“Benar,” angguk Taehyung. “Ia adalah inspirasiku. Ia adalah mimpiku. Ia adalah cita-citaku. Ia adalah… cinta yang selalu kutunggu kepulangannya.”

“Apa akhirnya ia mencoba penemuan Sajangnim?”

“Ya. Tentu saja.”

-=-

[2008]

“Apa ini seperti kapsul waktu?”

“Benar, semacam kapsul waktu.”

Wenny tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Jemarinya menyentuh helm yang terlilit kabel di atas meja kerja Taehyung. Pintu masa depan terbuka lebar baginya dan ingatannya. Ia mengacungkan jempolnya pada Taehyung dan menambahkannya dengan tepuk pelan di bahu Taehyung.

“Kau keren sekali.”

“Ini semua untukmu.”

“Lebih dari itu, ini semua untuk orang-orang sepertiku yang membutuhkan idemu. Kau benar-benar seseorang yang luar biasa. Apa kau sudah memikirkan nama untuk ide penemuanmu ini?”

Taehyung, sebelum menjawab, menatap ke arah jendela yang berhadapan langsung dengan taman. Dedaunan hijau mulai rontok dari batang-batang pohon dan akan kering selama musim dingin nantinya. Begitu pula dengan bunga-bunga dan rerumputan liar yang akan segera mati suri selama musim salju nanti. Taehyung tahu, musim dingin akan segera datang dan menghapus musim semi yang pernah ada beberapa bulan lalu.

“Spring Day,” kata Taehyung. “Karena ingatanmu seperti musim semi yang akan selalu kembali meski musim berganti. Aku percaya, musim semi akan selalu datang lagi.”

-=-

[2017]

“Jadi, akhirnya Nona Wenny pergi meninggalkan Sajangnim?”

“Ya, dia pergi ke Swedia untuk menyembuhkan dirinya, membawa sebagian diriku yang hilang bersamanya. Ingatannya tentangku pasti telah hilang dari kepalanya. Satu-satunya ingatannya yang kubawa adalah ingatan yang telah diekstrak dari kepalanya. Harapanku hanya satu. Aku berharap tidak pernah hilang dari hatinya.”

“Apa kalian tidak pernah bertemu lagi sejak tahun itu?”

“Tidak pernah. Dan aku bahkan tidak tahu apakah ia masih mengingatku atau tidak.”

“Kalau kalian bertemu lagi, apa yang ingin Sajangnim katakan padanya?”

Taehyung tidak menjawab. Ia berpikir sejenak, berandai-andai bila Wenny benar-benar ada di hadapannya saat ini dan tidak mengenalinya.

“Aku akan bilang…”

-=-

[2019]

Dua tahun telah berlalu sejak wawancara yang menguak segala masa lalu dari Kim Taehyung, CEO Spring Day sekaligus orang yang menemukan alat untuk menyimpan memori seseorang. Spring Day bergerak maju, menjadi salah satu perusahaan nomor satu di negara itu dan Kim Taehyung dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di sana. Tetapi, lebih dari semua itu, Taehyung memakai Spring Day sebagai satu-satunya kenangan akan Wenny, kekasih hatinya dari dulu hingga sekarang.

“Aku ingin selalu mengingatmu, Kim Taehyung.”

Taehyung menutup peti besi di hadapannya kembali, membiarkannya terkunci dengan otomatis. Ia menghela napas pelan dan berjalan meninggalkan ruang penyimpanan. Dengan langkah gontai, ia berjalan melewati lorong-lorong bawah tanah untuk mencapai lift. Setelah menekan tombol lift, Taehyung berdiri dan menatap ruang penyimpanan dari jauh.

“Meski kau tidak mengingatku, aku tidak apa-apa. Biarkan seperti ini. Biarkan aku yang mengingatmu selamanya, Wenny Go.”

Ting!

Pintu lift terbuka, dan Taehyung hendak masuk ke dalamnya. Di dalam lift itu, ada seorang wanita cantik yang memakai pakaian formal. Wanita cantik itu menatap Taehyung dan tersenyum hangat. Taehyung membeku, tidak jadi masuk ke dalam lift. Pintu lift hampir menutup lagi kalau wanita itu tidak menekan tombol untuk menahannya.

“Anda tidak ingin masuk?” wanita itu bertanya.

Menahan napas, Taehyung menatap kartu tanda pengenal yang tergantung di leher wanita itu.

고웨니

“Go Weni,” bisik Taehyung tanpa sadar.

“Ya?” wanita itu tiba-tiba menjawab. “Ah ya, saya belum memperkenalkan diri saya. Saya Wenny Go, klien Spring Day sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Sebelum ke sini, saya melakukan pengobatan di Swedia untuk menyembuhkan penyakit ingatan saya. Setelah sembuh, saya hendak mengambil kembali ingatan yang saya titipkan di sini saat-”

“Aku tahu,” potong Taehyung cepat. “Aku tahu itu. Senang bertemu denganmu.”

“Anda…”

“Kim Taehyung. Aku Taehyung, CEO sekaligus pendiri Spring Day,” jawab Taehyung sambil mengulurkan tangannya.

Tangan Wenny seperti bergetar ketika bersalaman dengan Taehyung. Ada sesuatu yang ia rasakan. Sesuatu yang aneh, yang tidak wajar, dan tidak semestinya ia rasakan di hatinya.

“Senang bertemu Anda, Kim Taehyung Sajangnim.”

-=-

[2017]

“Kalau kalian bertemu lagi, apa yang ingin Sajangnim katakan padanya?”

Taehyung menatap wartawan dan juru kamera di hadapannya. Ia menarik napas sambil tersenyum kecil pada kamera, berharap benda itu bisa merekam kata-katanya seutuhnya.

“Aku akan bilang… senang bertemu denganmu.”

-=-

Dan begitulah kenangan, bahkan ketika seseorang melewatinya begitu saja, kenangan akan tetap ada bersamanya hingga akhir waktu. Ia ada, bukan di kepala seseorang, tetapi di hati seseorang.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s