Stories of Aeternum

Stories of Aeternum.jpg

| Johnny Seo X Mackenzie Lee | Haechan X Iris Geraldine | Winwin X Nakamoto Sue |

| Lee Jeno X Cheng Zhu | Moon Taeil X Han Jisun |

Length: 5 Ficlets | Romance, Life |

-=-

[1] The First Story

Jemari Cheng Zhu mengitari bibir cangkir kopi yang ada di atas mejanya. Wangi kopi menyeruak di antara obrolan-obrolan ringan di kafe tempat Cheng Zhu berada. Seperti hari-hari lainnya, Aeternum adalah kafe yang tidak pernah sepi dari kunjungan dalam waktu dan musim apa pun.

“Benar-benar bukan hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Tetapi, jika aku menyimpannya sendirian, aku bisa gila,” gumam Cheng Zhu seperti orang melantur.

Tentu Cheng Zhu tidak sendirian. Ada laki-laki seusianya duduk berhadapan dengan Cheng Zhu. Sama sepertinya, laki-laki itu memesan secangkir kopi yang sejak tadi masih penuh tak tersentuh.

“Apa ini masalah ketua kelas itu lagi?” Jeno, laki-laki itu, membalas dengan cuek. “Ketua kelas itu sudah punya kekasih. Sebaiknya kau berhenti berharap dan serius belajar agar kita bisa masuk universitas yang bagus.”

“Bercerita padamu tidak menyelesaikan masalah dan malah menambah masalah.”

“Kau yang salah memilihku sebagai sahabatmu.”

“Lee Jeno,” Cheng Zhu memotong. “Aku dan kau mengenal saat kita belum bisa berjalan. Kita masuk sekolah yang sama dan bersama-sama hampir dua dekade. Itu bukan pilihan. Tapi takdir!”

Mau tidak mau, Jeno tertawa karena kata-kata itu. Mata indah laki-laki itu menangkap paras manis Cheng Zhu saat meminum kopi dari cangkirnya.

“Apa kau pernah mengajak ketua kelas itu ke sini?” Jeno bertanya tiba-tiba.

“Ke sini? Maksudmu… Aeternum?”

“Ya, Aeternum.”

“Tidak. Ini tempat rahasia kita,” Cheng Zhu mengedipkan sebelah mata. “Hanya saja, tiap kali ke sini, kau tidak pernah menghabiskan kopi yang kau pesan. Aku tidak mengerti alasannya.”

Jeno meringis, menggigit bibirnya sendiri untuk menahan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Tampaknya, Cheng Zhu menyadari perilaku Jeno saat itu hingga mata penasaran gadis itu berusaha menelanjangi pikiran Jeno.

“Aku tidak suka kopi. Rasanya pahit,” aku Jeno akhirnya, mencoba jujur. “Yang aku sukai adalah menghabiskan waktu denganmu. Aku senang karena kau tidak mengajak orang lain ke sini selain aku. Rasanya, ada sesuatu yang spesial tentang kita. Itu membuatku bahagia.”

Alis Cheng Zhu terangkat, mencoba mencerna kata-kata Jeno barusan.

“Aku tidak mengerti.”

“Ada hal-hal tertentu tentang kita yang membuatku bahagia. Fakta seolah-olah kita ditakdirkan pun membuatku bahagia. Aku ingin selamanya menemanimu ke Aeternum agar kau tidak perlu mengajak orang lain ke sini. Apa kau mengerti perasaan itu?”

“Aku… tidak mengerti. Itu terdengar asing. Maksudku, itu adalah sebuah perasaan yang asing untuk dua orang sahabat dekat seperti kita, Lee Jeno.”

Jeno menghela napasnya, bersandar pada kursinya sambil menghindari tatapan Cheng Zhu.

“Sudah kuduga, kau akan berkata seperti itu.”

Wajah kecewa Jeno menerjang pikiran Cheng Zhu. Rasa bersalah mendesak keduanya untuk saling diam. Akhirnya, Cheng Zhu yang memutuskan untuk mengakhiri keheningan itu.

“Lain kali,” kata Cheng Zhu. “Lain kali, di masa yang akan datang, aku akan menganggapmu lebih dari sekadar sahabat. Tunggulah sebentar. Biarkan aku berjalan ke arahmu, Lee Jeno.”

Jeno mengangkat kepala, beradu pandang dengan sahabat sekaligus orang yang disayanginya. Senyum tipis Jeno pun mengembang, memberikan kehangatan bagi Cheng Zhu.

“Aku akan menunggumu.”

Seperti aeternum, Jeno siap untuk menanti sampai Cheng Zhu benar-benar memilihnya. Ia masih punya banyak waktu. Selamanya adalah waktu yang cukup panjang sekaligus cukup pendek. Jeno masih bisa bersabar.

Dan selamanya ia akan seperti itu, tetap mencintai Cheng Zhu, sahabatnya.

-=-

[2] The Second Story

Rambut Johnny bergerak seirama nada lagu yang mengalun lewat speaker kafe. Sesekali jemarinya membalik lembaran buku di tangannya. Sentuhan ringan di bahu Johnny membuat pria itu menoleh, mendapati seorang gadis cantik dengan dress yang manis.

“Kau… Johnny Seo, ‘kan?”

Johnny menekuk alisnya, menatap wajah gadis itu lekat.

“Ya.”

“Aku Mackenzie. Mackenzie Lee. Kau tidak mengingatku?”

Mata Johnny mengamati gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Otaknya berusaha mengingat apakah Mackenzie memang benar-benar ada di salah satu kenangan hidupnya atau tidak.

“Mackenzie? Mackenzie… Astaga!” Johnny buru-buru berdiri dan menaruh bukunya di atas meja. “Kau si Juara Kelas dan si Kutu Buku itu?!”

“Akhirnya kau mengingatku,” Mackenzie tertawa sambil menjulurkan tangannya.

“Kau terlihat berbeda,” Johnny balas menjabat tangan Mackenzie. “Dulu kau memakai kacamata yang sangat besar dan kawat gigi. Astaga, kau nampak sangat berbeda dengan lima tahun lalu. Dulu kau tidak…,” Johnny memikirkan kata-kata yang tepat sejenak, “… seperti ini.”

“Kacamata besar itu membuat orang-orang menjauhiku, julukan Kutu Buku itu tidak menyenangkan, dan menjadi pendiam itu membosankan.”

“Aku berani bertaruh bahwa banyak laki-laki yang menyukaimu saat ini.”

“Kau berlebihan,” Mackenzie tertawa. “Aku tak menyangka akan menemukanmu di sini. Apa kau sering ke Aeternum?”

“Aku hanya mengisi waktu luang jika tidak mengajar.”

“Kau seorang guru?”

“Dosen lebih tepatnya,” Johnny tertawa.

Johnny meminta Mackenzie duduk di kursi sebelahnya dan mengambil menu. Setelah memesan iced americano untuk Mackenzie, mereka melanjutkan obrolan.

“Dulu kau sering bercerita tentang cita-citamu. Salah satunya menjadi dosen dan menghabiskan waktu luang di kafe. Kau bahkan berjanji akan mengajakku ke kafe untuk menikmati kopi. Tak kusangka, janji itu benar-benar terjadi,” kata Mackenzie.

Ingatan Johnny melayang pada masa sekolahnya bersama Mackenzie. Anak-anak di sekolah selalu mengganggu Mackenzie yang aneh dan Johnny selalu menghiburnya lewat cerita tentang kafe-kafe favoritnya sebagai pecinta kopi. Di atas itu semua, ingatan tentang cinta pertamanya memenuhi pikiran Johnny yang bingung antara hendak meminum kopinya atau menatap Mackenzie.

“Apa kau hidup dengan baik?” Johnny bertanya pada Mackenzie.

“Ya. Kau banyak memberikanku semangat saat kita sekolah dulu. Aku heran karena anak terkenal sepertimu sangat baik padaku dan tidak menggangguku. Seandainya waktu itu aku adalah Mackenzie yang sekarang, mungkin aku tidak akan ragu-ragu mendekatimu.”

“Maksudmu?”

“Dulu, kalau aku lebih percaya diri menghadapimu, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai segala sifat baikmu padaku. Tapi, kupikir kau hanya kasihan padaku. Jadi aku menyimpannya dalam hati dan menunggu kau mengerti perasaanku.”

Johnny terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Bibir Johnny kering, seperti orang yang tidak minum selama ratusan tahun lamanya.

“Maaf, aku tidak tahu,” Johnny berkata dengan serak. “Apa aku menyakitimu?”

“Tidak, kau tidak menyakitiku. Kau malah membuatku bahagia. Aku bahagia karena pernah merasakan cinta pertamaku ketika bersamamu dulu. Itu sangat… menyenangkan.”

Telepon genggam Mackenzie tiba-tiba berbunyi, memecah canggung antara mereka. Buru-buru Mackenzie menjawab telepon itu. Setelah berbicara beberapa detik, ia memutuskan hubungan telepon.

“Kau harus pulang?” tanya Johnny.

“Ya, seseorang menjemputku,” Mackenzie berkata sambil berdiri. “Senang bertemu denganmu di sini. Dan tentang kata-kataku tadi, jangan dipikirkan. Itu hanya masa lalu.”

Johnny berdiri, menjabat Mackenzie sebelum gadis itu melangkah ke pintu. Laki-laki lain telah menantinya, menyambut Mackenzie di luar Aeternum dengan satu pelukan hangat. Johnny menghela napas, menatap bukunya yang tertutup. Judul di sampul buku itu membuat tubuh Johnny sedikit kaku.

First Love Never Dies

Han Jisun

“Benar-benar menyindirku,” gumam Johnny.

Seandainya Mackenzie tahu isi hati Johnny dan apa yang Johnny ingin katakan lima tahun lalu. Cinta pertama Johnny hanya ada satu dalam jangka waktu aeternum, yaitu Mackenzie. Dan cinta pertama adalah sebuah masa yang bisa dilewati satu kali selamanya.

Kali ini, hari ini, cinta pertamanya meninggalkannya sendiri lagi.

-=-

[3] The Third Story

Winwin menggaruk kepalanya dengan penuh keraguan. Di hadapannya ada dua benda terpenting yang saat ini ia butuhkan. Yang pertama adalah segelas iced cappuccino lengkap dengan bubuk cokelat dan potongan biskuit renyah. Yang kedua adalah setumpuk kamus Mandarin-Korea untuk membantu bahasanya dalam beberapa jam ke depan.

“Winwin!”

Menoleh, Winwin mendapati orang yang ditunggunya sejak tadi dengan berdebar-debar. Senyum polos Winwin muncul ketika orang itu mendekatinya dan duduk di hadapannya.

“Halo, Sue. Bagaimana kabarmu?” Winwin berkata perlahan, mengeja satu demi satu kata.

“Aku baik-baik saja.”

Aksen Jepang Sue langsung berhamburan ketika kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Sama seperti Winwin, Sue mengeluarkan berbagai jenis kamus dari tasnya dan menaruhnya di meja.

“Kau sudah membuat tugas dari guru kita?” Winwin bertanya sembari menjulurkan buku menu.

“Sudah setengahnya. Tetapi banyak yang tidak meyakinkan,” jawab Sue jujur. “Selain itu, tulisanku sangat berantakan. Kau tidak akan bisa membacanya dengan baik.”

Winwin tertawa mendengar jawaban itu. Ia sangat mengerti perasaan Sue karena Winwin sendiri mengalaminya. Banyak bekas coretan di buku tulisnya, pertanda bahwa Winwin masih butuh banyak belajar.

“Apa kata pertama dalam Bahasa Korea yang kau pelajari?” Winwin bertanya sambil membuka-buka buku pelajarannya.

“Hmmmm…,” Sue berpikir sejenak. “Annyeonghaseo. Bagaimana denganmu?”

Saranghaeyo,” Winwin membentuk hati dengan jarinya, membuat Sue tertawa. “Aku berharap, semua soal-soal sulit ini dapat diselesaikan dengan cinta.”

Sue tidak menyangka bahwa Winwin punya selera humor yang unik. Ia tertawa lagi, kali ini lebih keras karena mendengar candaan Winwin. Tawa Sue sedikit terhenti ketika ia melihat mata Winwin yang sangat manis ketika tertawa.

“Kau… sangat lucu,” Sue berkata pelan. “Aku senang bisa berkenalan denganmu di sini. Meski kita punya banyak kesulitan berkomunikasi, aku tetap merasa nyaman bersamamu.”

Winwin tersentak, tidak percaya Sue akan sejujur itu pada dirinya. Maksudnya, mereka baru kenal beberapa waktu dan hanya berinteraksi di kelas. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu di luar jam pelajaran bahasa.

“T-terima kasih…,” Winwin menggaruk kepalanya sambil tertawa polos. “Aku juga senang mengenalmu. Kau orang yang sangat baik dan peduli padaku. Aku senang karena kau mau belajar bersamaku dan mau menemaniku hari ini.”

“Kita bisa mengerjakan tugas berdua setiap hari di sini.”

“Aku setuju,” Winwin mengangguk. “Bagaimana kalau kita mulai belajarnya?” tanyanya dan dijawab dengan angguk kepala Sue.

“Baiklah. Tak masalah.”

Tidak ada salahnya kalau Winwin berharap hubungan ini bisa seperti aeternum. Mereka bisa menjadi teman yang baik sebagai sesama pendatang dari negara lain, atau menjadi sahabat dekat yang berbagi suka dan duka karena tinggal sendiri di negara orang. Bisa juga mereka menjadi kekasih, atau bahkan menikah. Meski itu masih perjalanan yang jauh.

Asalkan bersama Sue, Winwin tak keberatan untuk menjalani semuanya.

-=-

[4] The Fourth Story

Haechan melambai ke arah pintu sambil tersenyum senang. Buru-buru, remaja laki-laki itu berdiri dan menarik kursi kosong untuk seorang wanita yang berjalan ke arahnya.

“Sudah lama menungguku?” tanya wanita itu.

“Tidak, Nuna. Aku baru datang. Nuna ingin memesan sesuatu?”

“Nuna ingin melihat menunya dulu,” jawab Iris. “Tumben kau ingin bertemu denganku di tempat semacam ini. Anak kecil sepertimu harusnya lebih suka bubble tea ketimbang kopi.”

“Aku bukan anak kecil, Iris Nuna,” Haechan pura-pura merajuk. “Aku sudah besar.”

“Baiklah, baiklah,” Iris menepuk rambut tebal Haechan beberapa kali. “Kau sudah besar. Sebentar lagi kau ujian masuk universitas. Kau harus rajin belajar, oke? Saat di universitas nanti, aku tidak bisa menjadi guru les untukmu lagi. Kau harus belajar sendiri.”

“Nuna, aku akan masuk ke universitas tempat Nuna kuliah.”

“Tes masuknya sulit. Kau tahu itu, ‘kan?” Iris berkata sambil menaruh buku menunya.

“Aku tahu. Karena itu aku akan rajin belajar dan masuk ke universitas yang sama denganmu, Nuna. Nuna jangan khawatir. Aku pasti bisa melakukannya.”

“Kenapa kau tidak memilih universitas lain yang lebih mudah, Heachan?”

“Universitas lain tidak menyenangkan karena tidak ada Iris Nuna.”

Iris berdecak sambil tersenyum manis. Ia, lagi-lagi, mengusap kepala Haechan seolah Haechan adalah adik kandungnya. Tetapi tangan Haechan menghentikan tangan Iris tepat di atas kepalanya.

“Kenapa, Haechan?”

“Aku tidak ingin kau anggap sebagai anak kecil terus. Aku akan kuliah sebentar lagi.”

“Tapi, bagi Nuna, kau akan tetap seperti adik Nuna sendiri.”

“Mulai saat ini, berhentilah menganggapku sebagai adik. Aku ingin dianggap sebagai laki-laki dewasa yang bisa melindungi Nuna dan bisa dibanggakan olehmu. Apa sulitnya, Nuna?”

“Maaf, Haechan. Kau masih terlalu kecil untuk hal-hal seperti itu. Kalau kau sudah dewasa, kau akan mengerti alasan Nuna-”

“Aku menyukaimu, Iris Geraldine.”

“Hei, kau tidak bisa memanggil namaku seperti itu.”

“Iris Geraldine,” ujar Haechan lagi.

“Haechan!” Iris menaikkan suaranya, membuat semua mata menatapnya tak mengerti.

Iris berdesis saat beradu pandang dengan seorang pria di balik meja barista. Pria itu tengah mengeringkan cangkir putih dengan selembar kain.

“Sepertinya pemilik Aeternum bisa mengusir Nuna kalau Nuna berteriak lebih keras,” Haechan tertawa.

“Berhenti menyakiti perasaanmu sendiri, Haechan. Kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menganggapmu lebih dari sekadar adik.”

“Nuna,” Haechan tiba-tiba menatap Iris dengan serius. “Jika Nuna menolakku sekarang, Nuna akan menyesal. Percayalah, Nuna tidak akan bisa hidup tanpaku.”

Tiba-tiba saja, bayangan akan sebuah kehidupan tanpa Haechan terlintas di kepala Iris. Ia membayangkan waktu-waktu tanpa tingkah konyol Haechan dan jahilnya anak itu. Entah kenapa, rasanya sepi dan mengerikan.

“Mungkin kau benar,” sesal Iris akhirnya. “Aku sepertinya tidak bisa hidup tanpamu.”

“Nah, ‘kan,” Haechan tertawa. “Aku sudah mengatakannya.”

Akhirnya Iris ikut tertawa, merasakan betapa konyol dirinya yang ingin menyingkirkan kebahagiaannya sendiri. Bahkan, Iris tak bersedia hidup dalam aeternum jika tanpa Haechan. Tidak ada gunanya hidup dalam jangka waktu yang lama tanpa kebahagiaan di sekitarnya. Itu semua sia-sia.

Iris pun mengerti bahwa hidupnya bermakna hanya dengan bersama Haechan.

-=-

[5] The Last Story

Jemari Taeil bergerak lincah ketika menyiapkan secangkir kopi dengan art latte di atasnya. Sebagai barista sekaligus pemilik Aeternum, sudah merupakan kegiatan rutinnya untuk menyiapkan minuman yang dipesan pelanggannya.

“Jadi, ada cerita menarik hari ini?” tanya seseorang wanita berkemeja biru yang duduk di depan meja barista.

“Banyak,” kata Taeil sambil menaruh cangkir kopi.

Jisun, lawan bicara Taeil, tersenyum dan mengeluarkan catatan kecil dari tasnya. Dengan antusias, Jisun siap menulis apa pun yang akan Taeil ceritakan.

“Ceritakan padaku.”

“Pertama, ada sepasang sahabat yang berteman sejak kecil. Yang laki-laki jatuh cinta pada sahabat perempuannya. Mereka berbicara tentang sebuah penantian yang melibatkan jangka waktu nan panjang, yakni selamanya. Laki-laki itu berjanji untuk menunggu sampai selamanya.”

“Baiklah,” Jisun mengangguk. “Lalu, cerita kedua?”

“Tentang cinta pertama yang berakhir sedih. “

“Apa dia… meninggal?”

“Tidak,” geleng Taeil. “Tetapi, tidak berakhir dengan kematian bukan berarti happy ending. Kadang, ada orang yang merasa lebih baik mati ketimbang merasakan sakit luar biasa. Dan ini tentang cinta pertama. Hanya ada satu cinta pertama dalam hidup tiap orang.”

“Menarik,” Jisun menulis di catatannya.

“Oh ya, sebagai informasi, pelangganku membaca First Love Never Dies karyamu. Kalau kau datang tiga jam lebih awal, kalian bisa bertemu di sini.”

“Sungguh?” Jisun tertawa. “Selain itu, apa kau punya cerita lain?”

“Astaga, kau akan memaksaku menceritakan semuanya, ya?”

“Aku ini penulis novel yang butuh inspirasi.”

“Baiklah,” Taeil mengalah. “Ada seorang mahasiswa dari Tiongkok dan mahasiswi dari Jepang yang mengambil kursus bahasa bersama. Bahasa mereka berantakan dan harus membuka kamus berulang kali. Ketika kata-kata tidak bisa menerangkan sebuah perasaan, tatapan mereka berbicara. Tatapan mereka jelas menuju ke arah yang pasti. Ada perasaan yang kuat di dalamnya.”

“Mereka saling jatuh cinta. Begitu?” Jisun bertanya dan Taeil mengangguk. “Ada ide lain?”

“Aku hampir mengusir seorang wanita dari Aeternum. Hanya saja, tidak kulakukan karena dia cantik. Wanita itu bertengkar dengan laki-laki yang lebih muda darinya. Sepertinya, laki-laki itu tak senang karena selalu dianggap adik oleh sang Nuna.”

“Aku sering mendengar premis ini dalam drama televisi.”

“Kalau begitu, apa kau ingin tahu alasan tempat ini kunamakan Aeternum? Akan kuceritakan agar ini bisa menjadi bagian dari ceritamu.”

“Oke, ceritakan,” Jisun menjawab cepat.

Aeternum artinya keabadian, kekekalan, selamanya. Sigmund Freud mengatakan bahwa energi psikis sifatnya kekal.”

“Setidaknya, pengalamanmu sebagai psikolog ada gunanya. Kau tidak tahu betapa hancurnya ibumu saat kau menyerahkan ijazah psikologimu dan menjadi barista.”

“Ibuku menitipkan mimpinya padaku dan tugasku sebagai anak adalah menggapai mimpi itu untuknya. Setelah tugasku selesai, aku bisa mendapatkan hakku.”

“Dasar aneh.”

“Kau mengatakan aku aneh. Tapi, sekadar informasi, aku adalah pusat inspirasimu. Kalau bukan karena Aeternum, kau tidak akan sukses menulis novel-novelmu. Kau bahagia dengan keberhasilanmu itu. Dan akulah yang paling mengharapkan kebahagiaanmu.”

Jisun terdiam karena Taeil mengatakan sesuatu yang tidak ia duga. Tangan Jisun meraih cangkir kopi di dekatnya dan meminumnya sampai tandas.

“Kenapa kau membahas ini lagi, Taeil?”

“Aku memutuskan untuk mengubah masa depan kita. Aku tahu, masa lalu tidak bisa diubah. Kita pernah menjalin hubungan dan itu berakhir dua tahun lalu. Tapi kau harus tahu bahwa aku tidak pernah bahagia ketika kau tidak ada.”

“Kau mengakhiri hubungan kita dulu. Saat berpisah, kau meminta agar aku memperlakukanmu seperti teman dan aku bersikap seperti itu. Sekarang kau ingin mengembalikan semuanya seperti dulu. Kenapa kau main-main dengan hatiku?!”

Jisun sudah siap-siap untuk beranjak pergi kalau Taeil tidak menarik tangannya dengan cepat.

“Maaf,” bisik Taeil. “Maafkan aku dan kita ulang semua dari awal. Aku tidak akan melepaskanmu sampai jangka waktu aeternum. Aeternum ada karena kau, karena kenangan akan kita. Dalam jangka waktu selamanya, aku akan terus mencintai segala yang ada dalam dirimu.”

Saat itu pula, waktu terasa berhenti antara mereka. Jisun, yang selama ini pura-pura baik-baik saja setelah berpisah dari Taeil, sesungguhnya sangat sakit dan ingin mati saja. Alasan ingin mencari ide untuk novel hanya sebuah basa-basi semata agar ia bisa melihat Taeil tiap hari. Semua tegukan kopi pahit di lidahnya seperti berkisah tentang percintaannya sendiri yang menyedihkan.

Jawaban pun tertunda dari mulut Jisun, menolak untuk memberikan kepastian bagi seseorang yang telah melukainya seperti Taeil.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s