They Never Know [1/15]

They Never Know.jpg

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Satu

Theodorick Kusuma Widjaja

[Dirke]

 

“Jadi kesimpulannya, perempuan mempunyai hak untuk menentukan masa depannya, Pak. Termasuk ketika harus memutuskan apakah ingin menikah atau tidak.”

Pak John, dosen yang mengajar mata kuliah Kewarganegaraan itu, mengangguk tipis mendengar pernyataanku itu. Hanya saja, wajahnya belum cukup puas sepenuhnya dengan jawaban tersebut.

“Siapa namamu tadi?”

“Dirke,” jawabku tipis.

Pak John mencari namaku di daftar hadir dengan cepat.

“Enggak ada namamu di sini. Ini kelas Ilmu Komunikasi G, bukan? Ini jurusan Strategic Communication, ‘kan? Apa kamu salah kelas?”

“Oh, Theodorick Kusuma Widjaja,” ralatku buru-buru.

“Saya kasih dua poin atas jawabanmu. Sudah lumayan baik, tetapi contoh kasusnya kurang jelas. Ada yang punya jawaban lain?”

“Lumayan, Dir, dua poin,” bisik Eleanor, mahasiswi di sampingku, sambil mengangkat alisnya padaku. “Meski jawaban lo sebenarnya gak terlalu jelas, sih.”

“Bodo amat. Yang penting tambahan nilainya, El.”

“Saya, Pak,” seru seseorang, membuat semua mata di kelas menoleh padanya.

“Oke. Siapa namamu?”

“Jozka Raymond Meyer, Pak.”

“Jozka,” Pak John memberi tanda pada nama Jozka di daftar hadirnya. Lantas, ia mengangguk tipis dan menyuruh Jozka mengutarakan pendapatnya.

“Menurut saya, Pak, tidak ada yang berhak untuk menentukan apakah saya harus menikah atau tidak. Tidak ada yang berhak untuk menentukan orang yang harus saya nikahi. Saya yakin, perempuan mempunyai hak untuk menolak pernikahan yang tidak diinginkannya. Apalagi kalau dasar pernikahan tersebut adalah budaya dan tradisi. Itu alasan yang paling tidak masuk akal yang pernah saya dengar.”

“Maksudmu, meski orangtua kamu yang meminta, kamu tidak akan menikah dengan orang yang dipilihkan mereka?”

“Orangtua saya tidak berhak untuk memilihkan masa depan saya, Pak. Saya yang berhak untuk menentukan masa depan saya.”

“Tapi mereka bisa saja menganggap kamu harus melunasi hutangmu pada mereka selama ini. Mereka sudah membesarkanmu, merawatmu, dan menjadikanmu seorang mahasiswa di sini. Itu adalah hutang yang harus kamu bayar.”

“Kata siapa, Pak?” Jozka tersenyum kecil. “Memangnya selama ini mereka pernah mencatat hal-hal tersebut? Kalau iya, saya ingin lihat bonnya.”

Hampir separuh isi kelas menahan tawa akibat kata-kata Jozka barusan. Tetapi aku tidak bisa tertawa karena kupikir kata-kata itu masuk akal. Dapat kulihat, Pak John pun serius memerhatikan kata-kata Jozka itu dan mencoba mencernanya baik-baik.

“Menarik,” kata Pak John. “Selama sepuluh tahun saya jadi dosen, saya baru pertama kali mendengar jawaban seperti itu. Kenapa kamu bisa mikir begitu?”

Jozka tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia sempat meringis kecil sambil menghela napas pelan-pelan. Aku yakin, lebih dari semua alasan yang ia punya, budaya keluarga Jozka adalah satu-satunya alasan perempuan itu mempunyai pemikiran yang sedikit aneh dan tidak sesuai dengan pemikiran pada umumnya.

“Yang terpenting sekarang, menurut saya, alasan berbakti pada orangtua tidak bisa dijadikan alasan untuk menikah dengan orang yang dipilihkan mereka. Jika orangtua benar-benar sayang pada anak mereka, mereka tidak bisa menghancurkan masa depan anak mereka dengan pernikahan yang dipaksakan,” tutup Jozka akhirnya tanpa menjawab pertanyaan Pak John.

“Oke, saya bisa memahami alasanmu. Untuk Jozka, saya kasih empat poin. Alasannya lebih masuk akal dan cukup real,” kata Pak John.

“Dia kedengeran rada nyolot, gak, sih?” Eleanor bisik-bisik dengan teman sebelahnya.

“Enggak, ah. Menurut gue, Jozka sebenarnya pintar. Cuma cara ngomongnya emang galak,” balas Fahru yang dari tadi mengobrol dengan Eleanor. “Tapi ini baru mendekati pertengahan semester dua. Kita belum terlalu kenal sama anak-anak lain di kelas ini. Jadi menurut gue, kita gak bisa cepat ambil kesimpulan.”

“Gue setuju sama Fahru,” potongku tiba-tiba tanpa aba-aba.

“Gak nanya. Tapi kalau dibandingin sama elo, jelas jawaban dia lebih berbobot. Jawaban lo tadi gak jelas banget, sumpah,” balas Fahru padaku.

Eleanor sudah siap tertawa keras karena ucapan Fahru barusan. Tetapi, buru-buru kusikut dia agar diam dan tidak meledekku terus. Aku meniup poniku sendiri sambil mencuri pandang pada Jozka yang duduk di barisan paling kiri. Ia terlihat santai, tengah bercanda dengan teman di sekelilingnya sendiri. Tiba-tiba, ia menoleh ke arahku dan pandangan kami pun bertemu. Saat itulah, aku mengangguk kecil padanya. Jozka mengangkat alisnya sejenak sebelum membalasku dengan anggukan kecil juga.

“Barusan lo sapa-sapaan sama Jozka, ya?” Fahru bertanya tiba-tiba. “Gue liat, tadi dia ngangguk ke elo, Dir.”

“Hah?” aku pura-pura bodoh. “Oh, itu. Mungkin karena kami gak sengaja saling lihat aja tadi,” kataku cepat.

“Mana mungkin Jozka nyapa Dirke. Gak level,” sahut Eleanor cepat. “Jozka cuma mau gaul sama anak-anak pinter kayak Lana, Wanda, Sadewa, dan Danil.”

-=-

Aku memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Jam di tembok depan kelas sudah memperlihatkan pukul empat sore. Pak John sudah meninggalkan kelas, dan sebagian besar mahasiswa pun sudah meninggalkan kelas. Hanya sisa beberapa orang yang mulai satu demi satu pulang, meninggalkan dua orang di kelas itu.

“Dir, balik dulu, ya,” Eleanor menepuk bahuku singkat sebelum pulang bersama Fahru.

“Sampai besok,” balasku sambil tersenyum.

Sedikit, kulirik Jozka yang masih membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ada Sadewa, laki-laki kurus tinggi yang merupakan teman tapi musuhnya Jozka. Sering, kulihat mereka bertengkar mulut ketika berdua. Ada saja yang diributkan, entah apa. Tetapi, kalau sudah berada dalam satu tim, mereka lebih kompak dari segalanya di dunia ini.

“Ci Joz,” panggil Sadewa pada Jozka, membuatku cepat-cepat membuang muka karena tidak ingin terlihat sedang memerhatikan mereka.

“Ya?”

“Abis ini pada mau main di kosan gue. Si Flora juga ikut. Nakula juga ikut. Kelas mereka udah bubar dari satu jam lalu. Lo ikut gak?”

Setahuku, Nakula dan Flora adalah teman dekat mereka sejak semester satu. Nakula bukan saudara kembar Sadewa. Mereka hanya kebetulan mempunyai nama yang berarti kembar.

“Flora ikut? Lana sama Wanda juga?”

“Iya. Kenapa?”

“Soalnya mereka bertiga janji mau makan sama gue jam enam nanti di ruko apartment.”

“Ya elah. Masih jam empat ini, Ci. Masih ada dua jam lagi. Main dulu di kosan gue, abis itu kalian berempat bareng ke apartment Cici.”

“Kayaknya enggak bisa, deh. Gue mau beresin kamar,” Jozka menggaruk kepalanya sebentar sambil membuat alasan.

“Ya udah. Gue duluan, ya. Mau bareng sama Lana, Wanda, dan Danil.”

“Oke.”

Sadewa meninggalkan kelas sambil melambai kecil pada Jozka. Akhirnya, hanya ada aku dan Jozka di kelas. Jozka menatapku dengan senyum kecil dan mengangkat alisnya jahil.

“Pasti lo merinding, deh,” katanya iseng. “Tadi lo ditepuk sama cewek seseksi Eleanor pasti rasanya luar biasa.”

“Wah, lo gak tahu aja. Udah mau sinting gue tadi.”

Jozka tertawa keras, ingin menghina joke kotorku barusan meski tidak dilakukan. Ia memakai tas ransel birunya dan bersiap keluar kelas.

“Udah kosong, tuh. Turun, yuk,” kata Jozka.

Kami keluar kelas, melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa koridor sudah kosong. Lalu, sambil mengobrol tentang banyak hal, kami berjalan ke arah lift.

“Lo mau makan malam sama gue, gak? Jam delapan nanti. Ada CD yang mau gue pinjemin ke elo. Lo pasti suka, deh,” kataku pada Jozka sembari menunggu lift.

“Oh iya,” Jozka tersadar. “CD lo masih ada di apartment gue.”

“CD yang mana?”

“CD musik yang waktu itu gue pinjem.”

“Oh, gue kirain CD gue yang warna biru.”

“Hah?” Jozka berpikir sejenak. “Anjrit, joke bokep lagi, deh,” dia memukul bahuku gemas. “Dasar otak kotor. Ngeri, deh.”

“Anjir sakit, sakit, sakit. Sakit, Ci.”

“Ci? Umur juga lebih tua elo. Tapi kelakuan lo kayak bocah, Ko.”

“Haha, kata-kata favorit, ya?” balasku. “Seenggaknya, kita sama-sama udah tua, Ci. Kita berdua yang paling tua di kelas.”

“Tapi kelakuan gue lebih dewasa dari lo,” katanya bersamaan dengan bunyi pintu lift yang membuka.

Kami berjalan beriringan, hendak pulang ke apartment. Tempat tinggal kami memang sama, hanya beda tower saja. Apartment tempat tinggal kami itu berjarak sepuluh menit dari universitas tempat kami kuliah.

“Jadi, nanti jam delapan mau?” tanyaku lagi.

“Boleh. Tapi jam delapan, Ko. Gue mau ketemu anak-anak dulu jam enam. Abis itu gue ketemu elo, deh.”

“Sip, Ci,” kataku. “Oh ya. Gue mau nanya sesuatu sama elo. Tadi gue baru inget.”

“Apaan?”

“Kenapa lo gak ikut main di kosan Sadewa? Ada teman-teman dekat lo di sana.”

“Males. Gue belum bikin tugas yang tadi pagi dikasih sama dosen matkul pagi.”

“Itu tugas buat minggu depan, Ci. Teman-teman lo bakal curiga kalau lo udah jarang ikut ngumpul sama geng lo itu.”

“Biarin aja. Gue masuk duluan, ya. Bye, Ko.”

“Oke bye.”

Di depan tower D, langkah kami berhenti. Jozka masuk ke lobi, melambaikan tangannya padaku sebelum berbalik meninggalkanku. Aku tersenyum sekilas pada receptionist wanita yang selalu menjaga tower D dengan setia. Sementara Jozka menghilang, aku melanjutkan perjalanan singkatku ke tower A, tempat tinggalku sendiri.

Begitulah hubunganku dan Jozka, tertutup dan hanya kami yang mengetahuinya. Kami menikmati ini bukan untuk konsumsi luar, tetapi hanya untuk kepuasan kami.

Orang lain tidak pernah tahu.

Mereka tidak pernah tahu.

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “They Never Know [1/15]

  1. Jen2000neth says:

    Menyenangkan untuk dibaca, ringan, gak perlu banyak mikir, tapi fresh dan pembawaannya asik buat dibaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s