They Never Know [2/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Dua

Jozka Raymond Meyer

[Jozka]

 

“Yang jadi masalah adalah sampai kapan elo akan terus melanjutkan hubungan gak berfaedah ini dengan Om Adi? Gue tahu dia kaya, pinter, mapan, dan siap membuat lo bahagia sampai mati. Tapi ortu lo gak setuju sama dia.”

Sudah hampir sepuluh kali kata-kata itu meluncur dari mulutku, mencoba meyakinkan Flora kalau ia memang sudah selayaknya merelakan hubungannya kandas di tengah jalan karena terhalang restu keluarganya. Tetapi, Flora tidak langsung memberikan tanggapan dan malah asyik menyedot minuman hadapannya.

“Kalau gue jadi elo, gue bakal lebih khawatir masalah Ko Harry. Jelas-jelas Ko Harry lebih muda dari Om Adi, Ra. Koko lo itu bakal bingung harus manggil Om Adi sebagai adik ipar atau gimana,” tambah Lana yang duduk di sampingku.

“Tuh, kan. Ci Jozka dan Lana juga ngomong gitu. Sumpah, gue gak nyuruh mereka ngomong gitu, Ra,” Wanda, yang dari tadi hanya memerhatikanku bicara, kini angkat bicara.

“Aduh, kalian semua kenapa harus pusing masalah gue, deh? Kalian gak tahu kenapa gue lebih suka Om Adi dibanding semua mantan-mantan pacar gue. Kalian gak tahu bagaimana rasanya dianggap spesial sampai pengen terbang ke langit saking senangnya.”

“Tahu!” Lana, Wanda, dan aku berseru kompak, membuat semua mata pengunjung restoran tempat kami berada pun menuju pada kami.

Aku berdesis, menyuruh teman-teman dekatku itu diam sambil menempelkan telunjuk di bibir. Lana dan Wanda malah tertawa, merasa konyol akan tingkah laku kami barusan.

“Pernah, kok,” ulang Wanda akhirnya. “Dan setelah itu, gue agak menyesal juga. Ryan bukan cowok yang baik. Gue pikir dia memberikan segalanya buat gue supaya gue bahagia. Ujung-ujungnya, ada maunya juga.”

“Hubungan lo dan Ryan itu hanya hubungan anak SMA yang biasanya gak tahan lama, Wanda. Ga usah disesali karena lo pasti bakal dapat yang lebih baik,” hiburku cepat.

“Gimana dengan hubungan gue dan Steve?” Lana tiba-tiba menambahkan. “Gue juga pernah mengira bahwa Steve adalah satu-satunya yang bisa bikin gue bahagia. Tapi ternyata, sama aja dengan Ryan.”

“Hubungan lo dan Steve itu hanya hubungan anak SMA yang biasanya gak tahan lama, Lana. Ga usah disesali karena lo pasti bakal dapat yang lebih baik,” hiburku, kali ini pada Lana.

“Ci Joz, sadar, gak? Cici baru aja mengutarakan kalimat yang sama persis ke Wanda dan Lana,” kata Flora sambil tertawa keras.

Kami berempat tertawa lagi, kali ini cukup keras dan bisa jadi membuat semua pengunjung restoran kecil itu mengira kami adalah empat perempuan gila yang sedang membicarakan masalah laki-laki.

“Kita baru semester dua, friends,” kataku akhirnya. “Kalian jauh lebih beruntung karena umur kalian lebih muda dari gue. Gue udah dua puluh, masih single, dan gak pernah punya record pacaran. Kalian jauh lebih berpengalaman dibanding gue. Sekarang, semua orang nanya kenapa gue bisa dua puluh tahun single dan kenapa gue bisa baru masuk semester dua di umur ini. Bosen, sumpah.”

“Cici tinggal bilang kalau cowok-cowok yang selama ini ngedeketin Cici gak ada yang berbobot dan gak ada yang lebih pintar dari Cici,” balas Lana.

“Tapi, Ci Joz,” potong Wanda. “Kalau gue bisa muter balik waktu, gue mau gak usah pacaran dulu kayak yang Cici lakuin. Galau pas abis putus itu parahnya setengah mati. Gara-gara putus, gue gak pengen sekolah, gak pengen makan, gak pengen belajar. Pokoknya rusak.”

“Iya. Tapi lo gak pernah tahu galaunya naksir cowok tanpa dia tahu gue cinta mati sama dia,” balasku lagi. “Itu juga parah.”

Aku menyudahi kalimatku dengan satu tarikan napas panjang. Lana, Wanda, dan Flora sudah tahu betul kalau aku masih menyesali topik ini dan tak akan pernah berhenti menyesalinya sampai waktu berhenti pun. Tanganku mengambil gelas teh di depanku, meneguk sisanya hingga habis. Keheningan di antara kami berempat musnah saat suara handphone dalam tasku berbunyi.

“Ci, hapenya bunyi, tuh,” Flora mengingatkan.

Buru-buru kukeluarkan benda itu dari tas, melihat ada pesan masuk tertera di layar. Aku membaca pesan itu dengan cepat, membalasnya sekilas, dan menyimpan benda itu lagi.

Sorry, ya. Gue harus balik duluan,” kataku.

“Cici balik duluan? Rumah Cici di atas, loh. Dan Cici mau balik duluan?” Flora heboh sendiri. “Emang ada apa, Ci?”

“Ada urusan,” aku menjawab asal-asalan.

“Siapa itu tadi yang nge-chat?” Wanda bertanya curiga.

“Tetangga. Katanya mau minta tolong sesuatu.”

Ketiga temanku itu menatapku dengan aneh, seolah alasanku tadi tidak masuk akal. Aku jadi berpikir apakah alasanku barusan memang tidak masuk akal atau bagaimana. Tapi, sudahlah, ini bukan waktu yang tepat.

“Ci, lain kali, kalau kami main ke apartment Cici, usahain Cici gak pergi duluan kayak gini, ya,”  kata Lana. “Soalnya aneh kalau kami bertiga makan di sini tanpa Cici.”

Sorry, Lan. Gue beneran ada urusan. Gue minta maaf, ya.”

Aku mengambil tasku dan menuju kasir untuk membayar semua pesananku. Sambil melambai pada ketiga temanku, aku meninggalkan restoran tersebut terburu-buru. Restoran kecil itu berada di ruko-ruko yang terletak di bawah tower apartment tempat tinggalku selama hampir satu tahun terakhir. Aku tidak membuang waktu, masuk ke lobi tower A, tempat tinggal Dirke.

“Malam,” sapa satpam di sana. “Nunggu temannya, ya?”

“Iya,” kataku.

“Palingan juga telat,” imbuh receptionist wanita yang duduk manis di samping satpam tadi. “Kayaknya dia telat melulu, ya? Duduk aja dulu di sofa.”

“Hahaha, iya,” ringisku pelan.

“Emang kamu kenal sama temannya, Jan?”

Mbak Jana, receptionist wanita yang selalu jaga shift di tower Dirke itu, tersenyum kecil sambil mengangguk. Ia lanjut mengobrol dengan satpam di sampingnya. Topiknya tidak jauh-jauh dari hubungan Dirke dan aku yang memang sudah top di kalangan penjaga tower A dan D.

“Itu tiap pagi ceweknya nungguin cowoknya. Beuh, kalau mau kuliah, udah sampe kusut nunggunya. Gemes banget lihatnya,” Mbak Jana bercerita. “Terus, kalau janjian makan malam, pasti ceweknya yang nungguin. Gak pernah cowoknya yang nungguin. Udah gitu, itu cowoknya, kalau tidur, susah banget dibangunin. Kayak orang pingsan.”

Astaga, seterkenal itukah kami?

“Pacaran mereka?” tanya si satpam penasaran.

“Tanya aja. Itu anaknya di situ,” balas Mbak Jana.

Baru saja aku ingin kabur dari sana, bunyi pintu lift membubarkan acara gossip itu. Dirke muncul, dengan santainya tersenyum sopan pada Mbak Jana.

“Malam, Mbak, Mas,” katanya sopan.

“Malam. Udah ditunggu, tuh,” ujar Mbak Jana. “Udah lima belas menit,” dan Mbak Jana menunjukku dengan dagunya.

Dirke melihatku duduk di sofa lobi. Aku melipat tangan di dada dengan raut mengerikan.

“Ci,” katanya mencoba ramah.

“Ko, lo beneran mau bikin gue marah, ya? Gue bela-belain ninggalin anak-anak demi elo. Tapi lo malah telat kayak gini.”

Sorry, Ci. Serius, sorry. Gue tadi ada keperluan buat nelpon nyokap gue. Ini perkara kamar yang gue mau pindah itu. Lo tahu, gue mau pindah ke tower yang sama dengan elo. Makanya gue bujuk dia supaya kasih gue pindah ke tower D. Gini, deh. Kita makan dulu. Nanti gue cerita di tempat makan,” putusnya. “Kita makan di Bola Dunia aja, ya?”

Please jangan!” seruku panik. “Anak-anak lagi di sana. Gue gak bilang ke mereka kalau gue mau ketemu elo. Gue bilangnya, ada urusan sama tetangga gue.”

“Ya lo gak sepenuhnya bohong, sih. Gue technically tetangga lo. Kita sama-sama tinggal di Apartment Reinhard. Cuma beda tower aja.”

“Tapi please jangan di Bola Dunia. Gue takut anak-anak belum kelar makan di sana dan mereka lihat kita berdua kayak gini. Mereka bisa jealous habis-habisan ke elo,” aku berkata sambil berdiri. “Di Western aja. Gue pengen kentang gorengnya.”

Dirke tertawa karena jawabanku itu. Aku memang selalu khawatir kalau teman-teman dekatku iri dengan kedekatan aku dan Dirke.

“Gue kadang bingung,” kata Dirke sembari membuka pintu dan mempersilahkanku keluar lebih dulu dari lobi. “Kenapa orang-orang bisa jealous dengan hubungan kita. Padahal kita cuma teman dekat yang gak sengaja akrab gara-gara tetanggaan. Gue mikir, seandainya lo punya pacar nanti, apakah Flora dan teman lo lainnya bakal jealous sama pacar lo?”

“Flora punya pacar. Dan gue lebih jealous karena dia punya pacar. Sementara gue yang lebih tua, malah gak punya pacar.”

“Tapi pacarnya di Bandung. Dan lo gak perlu jealous karena lo punya gue.”

Kami melanjutkan obrolan itu sambil berjalan santai di depan ruko-ruko Apartment Reinhard. Kebanyakan, ruko-ruko tersebut tengah berada dalam jam ramai. Mungkin karena ini baru jam delapan. Ruko Western ada tepat di bawah tower C, menjual makanan-makanan ala Barat dengan harga yang relatif murah.

“Lo mungkin gak tahu. Tapi, kadang, orang bisa merasa jealous untuk alasan yang gak perlu. Flora mungkin memang punya pacar. Tapi dia gak tahu rasanya menghabiskan malam dengan ngobrol di lobi tower apartment gue sambil tertawa keras-keras seperti yang kita lakuin tiap malam,” kataku akhirnya.

“Emang Flora tahu dari siapa kalau kita sering kayak gitu?” Dirke membalas sambil memilih tempat duduk untuk kami.

“Lo inget, gak, dua hari lalu, waktu kita ngobrol di lobi, Lana nge-gap-in kita lagi di sana,” kataku, membuat Dirke mencoba mengingat-ingat hari itu.

“Inget, inget. Lana abis ke tempat temannya di tower yang sama dengan lo dan turun ke lobi, nangkep basah kita lagi bareng.”

“Iya,” anggukku. “Ternyata, dia iseng ngambil foto kita ngobrol berdua dan ngirim foto itu ke grup kami berempat.”

“Astaga. Cepu banget, ya?”

“Iseng plus cepu, sih.”

Obrolan kami terhenti karena salah seorang pegawai Western memberikan kami buku menu dan selembar kertas untuk mencatat pesanan.

“Lo mau makan apa?” tawar Dirke sambil memberikan buku menu.

“Kentang goreng satu.”

“Satu biji, ya?”

“Haha, lucu. Tambah burger satu, yang besar. Dagingnya sapi. Sama ekstra saosnya. Gue mau pura-pura gak dengar joke garing lo barusan.”

Dirke tertawa atas reaksiku terhadap candaan tak bermanfaatnya. Ia menulis pesananku di kertas kecil yang diberikan pegawai Western. Dirke menambahkan pesanan yang menurut kami sama-sama penting, seperti teh panas yang kusuka, dan es teh manis yang selalu dia pilih.

“Kalau misalnya teman-teman lo selalu nangkep basah kita kayak gini, lo merasa malu, gak?” tanyanya setelah memberikan pesanan pada pegawai Western.

“Gue lebih malu kalau anak sekelas yang nge-gap-in kita, sih,” jawabku jujur. “Soalnya image lo di kelas rada jelek gitu. Tukang telat, tukan bohong, tukang jayus, gak ada teman, sama hobi berantem. Image gue ikut rusak kalau main sama elo.”

“Lo punya hak untuk ninggalin gue kapan pun yang elo mau, Ci.”

“Tapi gue belum punya keinginan untuk ninggalin pertemanan ini, Ko.”

Setiap kali kami mulai memakai panggilan konyol itu, aku ingin tertawa rasanya. Usia kami sebenarnya sama. Tetapi, selain aku, tidak ada orang yang memanggil Dirke dengan sebutan ‘Koko’. Bahkan, dua adik laki-lakinya enggan memanggilnya dengan sebutan sopan itu. Atau mungkin, mereka enggan mempunyai seorang kakak yang buruk perangainya seperti Dirke.

“Adik gue bakal berangkat ke Jepang beberapa bulan lagi. Gue somehow sedih, sering keinget sama waktu kami kecil. Kayaknya, masa-masa itu masa yang paling bahagia sebelum gue menghancurkannya,” kenang Dirke.

“Kalau gue boleh jujur, itu bukan salah elo, kok. Kalau emang lo merasa bersalah, ada banyak waktu buat benerinnya. At least, sampai sebelum adik lo ke Jepang.”

“Iya, iya, gue tahu. Mending ganti topik, deh, Ci. Yang gak terlalu depresif begini.”

“Tadi gue denger Mbak Jana sama satpam di lobi ngobrol. Mereka kepo, pengen tahu hubungan kita apaan. Kayaknya gue harus cepet-cepet cari pacar, deh. Kalau enggak, semua orang bakal ngira elo pacar gue.”

“Dih, gila. Elo bukan tipe gue.”

“Apalagi elo!” balasku sengit. “Lo tahu sendiri tipe cowok gue. Pinter, cakep, keren, cerdas, berwibawa, punya tanggung jawab, kayak Alvin.”

“Alvin lagi, Alvin lagi. Udahlah. Dia udah jauh. Dia udah di negara lain. Lo sudah kehilangan kesempatan lo. Kalau lo emang suka dia, harusnya dari dulu lo bilang.”

“Gue juga pengen gitu, Ko. Tapi dulu, keadaannya beda.”

Tak terasa, kami menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Pesanan yang begitu banyak pun jadi tidak terlalu berarti ketika kami mengonsumsinya dalam obrolan yang selalu fantastis. Tiap waktu yang kuhabiskan dengan Dirke terasa berjalan cepat, dan aku menikmati tiap momennya. Termasuk masa-masa paling menyebalkan saat kami berebut untuk membayar hingga kasirnya bingung.

Hubungan seperti ini, entah harus dipertahankan atau tidak, tetap saja menyenangkan untuk dijalani. Orang lain, teman-temanku, keluargaku, dan anak-anak di kampus tidak perlu tahu. Kami hanya ingin membagi kesenangan ini untuk diri kami sendiri.

Orang lain tidak pernah tahu.

Mereka tidak pernah tahu.

-To be continued-

Advertisements

5 thoughts on “They Never Know [2/15]

  1. Jen2000neth says:

    Tema ‘cowok kacau balau gak punya aturan dan cewek pintar yang terorganisir’ sebenarnya gak terlalu asing. Tapi cara mereka menjalin hubungan yang luar biasa rahasia itu bikin ceritanya jadi berbeda. Awalnya aku mikir ceweknya lebay sekali, milih untuk mentingin citranya drpd hubungannya. Tapi emang society sekarang sering ngejudge tanpa tahu alasan seseorang milih melakukan sesuatu.

    “Iya. Tapi lo gak pernah tahu galaunya naksir cowok tanpa dia tahu gue cinta mati sama dia”
    Bagian ini entah kenapa jleb hahaha…

    • Memang tema yang diangkat itu dr kehidupan sehari-hari hehehe… iya, justru itu sebenarnya pengen menunjukkan ironisnya cewek ini (Jozka) yg katanya pemberani dan pede tapi malah takut sama pandangan orang lain pada dirinya..

  2. Nisa says:

    Kak, you know what, I read all your mini-series before this one (Reunion and Chasing Diamond). Dibanding Chasing Diamond, of course They Never Know terasa lebih drama Indonesia karena Chasing Diamond adalah ff yang setting nya di Korea sana. Nah, kalau dibanding Reunion sendiri nih, meski sama-sama drama Indonesia, taste dan feeling yang ditawarkan itu beda banget. Reunion lebih labil, penuh emosi, dan menggebu-gebu. Kalau They Never Know lebih dewasa, tenang tapi menghanyutkan.
    Menurutku They Never Know agaknya merupakan penggambaran tersendiri bagi lagu EXO yg judulnya sama.

    Oya btw salam kenal ya Kak

    • Hai Nisa salam kenal juga.. wah kamu seperti abis bikin resensi ya hehehhe… terimakasih banyak udh baca smua mini series yang aku buat dan masih inget sama ceritanya.. aku terharu nih..
      Soal lagu exo yg They Never Know itu memang aku selama proses bikin seri ini sambil sesekali denger lagu tsb karena emang isinya mirip hehehe…

      • Nisa says:

        Iya Kak aku masih inget isi cerita2 yang kakak bikin soalnya enak dibaca dan gampang dimengerti. Maaf banget aku ga komen di cerita lain dan baru komen di sini. Semangat ya Kak ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s