They Never Know [3/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tiga

Dunia Kecil

 

[Dirke]

 

“Gila kenyang,” ujar Jozka sambil mengeluarkan kartu akses apartment miliknya.

“Lo makan sebanyak itu, Ci. Jelas kenyang,” balasku sembari membuka pintu lobi tower D, tempat Jozka tinggal.

“Aduh, berdua mulu, nih. Pagi mau kuliah berdua, siang pulang kuliah berdua, malam abis makan pun berdua,” sapa receptionist di lobi.

“Malam, Mbak Wulan,” sapa Jozka sopan.

“Tadi kata Mbak Jana, kalian berdua di tower sana. Kok, sekarang, pindah ke sini?”

“Gak apa-apa, kok,” Jozka tertawa canggung. “Mau ganti suasana. Naik dulu ya, Mbak.”

Aku mengangguk sekilas pada Mbak Wulan, lalu mengekori Jozka masuk ke lift yang sensornya sudah ditempeli kartu akses Jozka.

“Astaga, Mbak Jana tukang gosip juga, ya,” kataku akhirnya. “Bisa-bisanya ngomong ke Mbak Wulan tentang kita.”

“Gue terlihat seperti cewek gak bener, bawa lo ke kamar malam-malam,” gerutu Jozka.

“Emang lo cewek gak bener,” ledekku. “Cewek bener gak bakal main sama gue. Lo liat Flora, Lana, dan Wanda. Mereka berusaha jauhin gue dari lo. Itu baru cewek yang bener.”

“Hahaha, dasar hina.”

Pintu lift terbuka, dan lagi-lagi aku hanya mengikuti langkah Jozka untuk mencapai kamar studio miliknya. Orangtua Jozka pasti tidak ada di apartment. Kalau ada, tidak mungkin ia berani membawaku ke sana.

“Ortu lo gak di Jakarta?”

“Iya,” katanya sambil membuka kunci. “Masuk, Ko.”

Kutekan saklar lampu, membuat penerangan di kamar studio itu sempurna. Sebenarnya, kamar milikku punya ukuran yang sama dengannya. Tapi, karena aku berantakan, kamar Jozka terlihat lebih luas dan lega.

So, ada cerita apa aja?” tanyaku setelah membuka sepatu dan melompat ke kasurnya.

“Banyak, Ko. Terutama anak-anak udah mulai curiga tentang kita,” Jozka bercerita sambil mengganti celana panjangnya ke celana rumah di kamar mandi.

“Iya, sih. Sering gak sengaja ke-gap, kan?” aku tertawa.

Kasur Jozka tidak terlalu luas. Jika dua orang tiduran di atasnya, bisa dijamin jarak di antaranya hanyalah sepuluh sampai dua puluh sentimeter. Tapi, sejak beberapa minggu terakhir, kami sudah terbiasa dengan jarak yang kecil itu.

“Gitu deh,” balas Jozka setelah keluar dari kamar mandi dan tiduran di sampingku untuk memainkan rambutku. “By the way, tadi kenapa lo telat masuk kuliah?”

“Gue kesiangan,” akuku jujur. “Gue pijat sampai malam. Lo tahu itulah.”

“Nah kan!” Jozka sudah siap berteriak kalau aku tidak menahannya. “Gue udah bilang, berhenti ke tempat kotor kayak gitu! Tapi elo masih aja ngelakuin! Lo gak ada kapoknya, ya?”

Sorry, sorry,” potongku cepat. “Kemarin gue kepengen banget dan gak tahan. Lo tahu sendiri, gue bisa gila kalau-”

“Ko,” potong Jozka tegas. “Lo gak kapok? Lo pernah ngelakuin seks tanpa pengaman dan sampai saat ini lo gak tahu apakah lo bersih atau enggak. Tempat-tempat kayak gitu bisa nularin penyakit yang lo gak pernah sadari.”

“Gue gak seks, Ci. Cuma handjob. Paling jauh pun blowjob.”

“Apapun!” Jozka berteriak. “Kalau lo gak tahan, ujung-ujungnya lo bisa lakuin itu sama mereka-mereka yang gak jelas itu.”

“Apa lo marah sama gue karena gue menjijikan?”

“Enggak! Lo tahu gue. Gue orangnya sangat open minded. Tapi, kalau seks yang gak aman, gue juga gak sarankan! Gue gak peduli lo mau tidur sama siapa aja asal lo kenal betul orangnya, dia bersih, dan lo pakai pengaman. Apa lo paham?”

Aku teringat waktu pertama kali kuceritakan pada Jozka tentang pengalaman seksku dulu sekali. Jozka bisa mengerti aku, mengingat latar belakang budayanya yang tidak biasa. Jozka dibesarkan oleh ayahnya yang merupakan orang Indonesia yang bersekolah Jerman dan ibunya orang Praha. Itu juga menjadi alasan dari nama Jozka yang terasa aneh bagi orang lain. Jozka adalah kata dalam Bahasa Ceko yang artinya ‘Pangeran’.

“Paham, Ci,” anggukku kecil. “Seenggaknya, elo gak jijik sama gue pun sudah bagus.”

“Gue gak bakal jijik sama lo. Tapi gue khawatir kalau lo ketularan penyakit menular seksual. Gimana lo mau punya istri? Cewek-cewek bakal kabur, Ko. Lagian, gue kasih tahu ya, lo itu kuliah gak beres, muka biasa aja, pinter pun kagak. Satu-satunya aset lo itu kelamin lo. Kalau aset lo rusak, lo gak bakal punya modal buat nikah.”

“Anjir, vulgar banget dah.”

“Lo udah tua, Ko. Kelakuan lo jangan kayak bocah. Lo kalau emang mau pijat, mending cari gue aja. Kata bokap gue, gue lumayan jago mijet.”

“Serius?”

“Iya.”

Jozka benar-benar mengangkat tangannya dan memijat lengan kiriku di bagian atas. Saat itu juga, aku merasakan sengatan yang luar biasa dan mengagetkanku. Buru-buru, kutepis tangan Jozka dengan tangan kiriku.

“Stop, Ci,” kataku panik. “Parah, parah. Stop, Ci.”

“Kenapa, Ko?”

“Kaget, sumpah. Gue kaget banget. Gue ngerasa ada yang aneh gitu. Beda banget, anjir. Gue kaget banget sumpah, Ci. Tadi, pas lo pegang gue, kayak ada sengatan listrik gitu. Gue sampe sempet baper, anjir.”

Jozka juga tampak panik dengan pengakuanku barusan. Ia terlonjak bangun dan buru-buru menjauhiku. Matanya membesar, menatapku dengan sangat serius seolah kami ini tengah membicarakan keselamatan dunia.

“Lo serius, Ko?”

“I-iya, Ci. Gue serius,” kataku akhirnya. “Lo mau dengar cerita gue, gak? Kalau sama cewek-cewek gampangan itu, gue susah banget buat kepancing atau kebawa napsu. Mereka musti pegang bagian bawah gue dulu. Baru setelah itu gue pengen. Tapi barusan, pas lo pegang gue, gue langsung kepancing, Ci. Makanya gue panik dan nyuruh lo berhenti.”

“Kok bisa?!” Jozka tambah panik. “Sumpah, Ko. Gue gak bermaksud. Gue megang elo barusan hanya sebentar. Dan gue gak bermaksud apa-apa, sumpah.”

I know. Yang ngagetin adalah betapa gampangnya lo bikin gue kepancing.”

“Ini pertama kalinya gue dengar komentar begitu tentang diri gue. Dan gue gak tahu harus menganggap ini hinaan atau malah pujian.”

“Tapi, Ci, beneran, apapun yang terjadi, jangan pernah tidur sama orang yang lo gak kenal. Sesudahnya pasti nyesel. Lo kalau emang mau coba seks, mending sama teman lo. Si Sadewa misalnya. Kalian dekat, dan kalian kenal.”

“Lo udah gila, Ko? Sadewa itu udah kayak adik gue sendiri, anjir. Dan dia super duper konservatif. Seks di luar nikah gak ada dalam kamusnya.”

Aku tertawa mendengar jawaban itu, sudah menduga bahwa Jozka akan berkomentar semacam itu. Sejak pertama kali melihat Jozka dan Sadewa, kupikir mereka menjalin hubungan khusus. Tapi ternyata, Sadewa lebih muda dua tahun dari Jozka dan mereka sudah nyaman menjadi kakak adik buatan.

“Kenapa lo gak mau sama yang lebih muda, Ci?”

“Lebih tepatnya, itu cuma alasan gue untuk menangkis pertanyaan ‘kenapa Jozka belum punya pacar sampai saat ini’,” katanya cepat. “Sebenarnya kalau sekarang pertanyaan itu disampaikan ke gue, gue pengen bilang bahwa gue gak butuh pacar karena gue punya elo. Tapi gue gak berani. Dan elo pun bukan pacar gue.”

“Sampai kapan lo akan menutupi pertemanan kita dari publik, Ci? Gue pengen bisa ngobrol sama elo di kelas, duduk di samping elo, dan makan siang sama elo.”

Wajah bersalah Jozka langsung terbentuk saat kalimat itu keluar dari mulutku tanpa disaring. Ia menunduk sesaat sebelum menelan ludahnya dan menatapku hati-hati.

“Elo marah sama gue?”

“Iya, gue marah. Gue merasa lo nyari gue kalau lagi butuh aja. Butuh teman ngobrol, butuh teman curhat, butuh kehangatan, dan lainnya. Gue pengen lo nyapa gue. Tapi, tiap kali gue sapa lo di kelas, lo cuma ngangguk dan pura-pura gak liat gue. Gue pengen lo ngajak gue main kayak lo ngajak anak-anak lain main. Gue marah sama elo, Ci.”

“Ko, lo boleh percaya atau enggak, tapi bagi gue, elo adalah orang paling penting saat ini. Anak-anak gak pernah tahu. Gue sering bohong tentang banyak hal ke mereka. Tapi gue gak pernah bohong ke elo, Ko. Gue percaya sama elo.”

Jozka mengangkat tangannya, mengusap lembut rambut halus yang baru tumbuh di daguku. Kuturunkan kepalaku agar sudut bibirku menyentuh jemarinya lembut. Jozka hendak menarik tangannya ketika kutahan tangan itu dan kusentuh telapak tangannya dengan jemariku.

“Kalau lo emang percaya sama gue, kenapa lo masih nutup-nutupin pertemanan kita?”

“Soalnya, keadaannya gak memungkinkan. Hampir separuh dari isi kelas kita itu enggak suka sama lo, Ko. Teman-teman gue, yang perempuan terutama, gak suka sama lo. Mereka takut lo membawa dampak buruk buat gue. Mereka takut gue terjun bebas dari orang yang gak pedulian, jadi orang yang rapuh dan mudah terluka.”

Aku teringat masa lalu Jozka dengan Alvin, orang yang mengubah Jozka hampir seratus persen. Cerita ini sudah sering Jozka sampaikan padaku, tentang bagaimana Alvin, teman SMA Jozka di sebuah sekolah swasta di Jakarta, membuat Jozka menjadi orang yang tidak sama lagi.

“Apa lo selama ini menjadi orang yang gak pedulian, cuek, dan ambisius sama nilai masih karena Alvin? Apa lo gak mencari motivasi lain?”

Diam, Jozka memainkan ujung-ujung jariku dengan tangannya. Ia memikirkan jawaban dari pertanyaan yang agak random tersebut dengan hati-hati, mungkin takut kalau isi pikirannya terbaca olehku atau terbongkar begitu saja.

“Gue pernah cerita tentang ini sama lo. Gue dulu beda banget. Nilai gue jelek, sekolah berantakan karena gue malas, dan gue gak percaya diri. Gue merasa gak berhak naksir Alvin sama sekali. Tapi, karena gue cinta banget sama dia, gue kasih semua hal yang dia butuhkan sebagai teman. Akhirnya, gue menderita dan kehilangan semuanya. Dia bahagia, dan gue hanya bahagia karena dia bahagia. Bukan karena gue bahagia.”

“Itu yang salah, Ci. Itu bukan kebahagiaan. Itu cuma cinta.”

“Gue tahu,” balasnya pelan, masih sambil memainkan jemari gue. “Cinta bikin gue bego. Makanya, saat gue berangkat ke Berlin, gue janji sama diri gue untuk menjadi orang yang baru dan lupain dia. Selama di Berlin, gue sering ingat dia karena gue kesepian. Setelah pulang ke Jakarta dan kuliah di tempat kita sekarang, gue jauh lebih bahagia karena ada Flora, Lana, Wanda, Sadewa, dan Danil. Mereka keajaiban yang gue terima di semester pertama.”

Ini cerita lama sebenarnya. Jozka pernah kuliah di Berlin, ambil jurusan musik. Hanya bertahan beberapa semester awal, ia kembali ke Jakarta karena penyakit homesick yang luar biasa. Sementara aku pernah berkuliah di universitas lain dan merasa kesulitan dengan jurusan yang kuambil di universitas itu. Kami pindah, sama-sama memulai semester baru di universitas kami yang sekarang.

“Kenapa kita jadi bahas ini, sih?” putusku tiba-tiba. “Kita selalu begitu. Kalau lagi ngobrol tentang A, bisa pindah tiba-tiba ke B. Aneh banget, ya.”

“Iya. Lagian elo ngapain nanya-nanya soal Alvin lagi?”

“Besok kuliah jam berapa, sih?”

“Delapan. Lo gak pernah inget jadwal, ya?”

“Besok, duduk di sebelah gue, lo mau gak?”

Hening menyelimuti kami berdua. Jozka hanya mengangguk kecil, membuatku menepuk kepalanya pelan. Ia, seperti biasa, membuat ekspresi menahan sakit yang berlebihan. Padahal tepukanku barusan sangat ringan dan santai.

“Tapi lo jangan kesiangan. Datang tepat waktu. Bisa gak?”

Aku mengangguk, lalu membelai rambutnya hati-hati. Beberapa helai rambut Jozka jatuh ke lenganku, membuatku diselimuti beribu keinginan jahat.

“Ci, gue boleh nanya sesuatu gak?”

“Boleh. Apaan?”

“Tapi lo jangan baper, ya. Gue mau nanya, lo sebenarnya suka gue atau enggak?”

Jozka nyaris melompat dari posisi tidurannya. Ia buru-buru mendelik kesal padaku dan menarik rambut pendekku dengan sangat gemas.

“Lo gila, Ko?! Atas dasar apa lo berani ngomong gitu? Gue bakal marah beneran kalau lo nanya kayak gitu lagi. Gue gak mungkin suka elo sementara gue sendiri banyak dirugikan dari hubungan kita, Ko.”

“Astaga, Ci. Sebegitu gak relanya elo temenan sama gue?”

“Banyak anak ngegosipin kita di kelas. Mayoritas orang mikir kalau gue naksir elo, suka elo, cinta elo, dan sebagainya. Kenapa harus gue yang dikira begitu? Kenapa gak ada yang ngira kalau bisa jadi elo yang suka gue?” Jozka menambahkan panjang lebar. “Itulah alasannya gue benci pemikiran patriaki di negara ini. Perempuan selalu menjadi korban.”

“Buset, kayaknya lo punya sentimen tersendiri tentang laki-laki, ya?”

“Iya,” aku Jozka. “Dan karena itu gue gak pengen menjalin hubungan dengan cowok sampai gue udah cukup kuat dan bisa menguasai diri gue sepenuhnya.”

Jozka selalu seperti itu. Ia perempuan yang tangguh, kuat, sekaligus keras kepala. Bukan baru satu atau dua kali aku mengatakan padanya untuk tidak main pukul rata. Rasa sakit hatinya pada Alvin masih membekas, dan ia tak mampu menghapusnya. Itu pula yang menjadikannya seperti saat ini, keras dan kuat seperti batu karang.

Seperti Jozka.

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s