They Never Know [4/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Empat

Menghindari Hubungan

 

[Jozka]

Ada berbagai alasan aku menghindari relationship dengan laki-laki. Secara gampang, aku akan bilang bahwa aku terlalu sibuk. Sisanya, aku tinggal bilang kalau aku tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda dariku. Padahal, ini semua karena Alvin, siswa yang dulu sekelas denganku di masa SMA.

“Alvin itu pintar, banyak talenta, jago musik, dan calon dokter. Kalian bisa bayangkan betapa hebatnya dia di mata gue,” ceritaku pada Flora, Lana, dan Wanda saat mereka menginap di apartment milikku. “Guru kelas gue sengaja naruh gue di sebelah Alvin supaya pinternya nular. Guru gue gak tahu kalau gue sebenarnya lebih pintar dari Alvin. Cuma gue malas aja.”

“Kenapa dulu Cici males sekolah?” tanya Lana sambil memerhatikan gue serius.

“Gue ngerasa gak punya masa depan. Gue ngerasa menjalankan cita-cita yang bukan milik gue. Ortu gue selalu ingin gue sekolah di Berlin. Sementara gue gak suka di sana dan lebih suka di Indonesia. Tapi, sejak duduk sama Alvin, gue mulai punya motivasi untuk selalu datang ke sekolah cuma buat liat dia.”

“Cinta emang bisa mengubah banyak hal, Ci,” Flora mengomentari.

“Iya, emang,” akuku jujur. “Tapi cinta yang tak terkatakan juga sama. Itu bisa mengubah banyak hal. Gue, karena gue gak punya percaya diri untuk deketin Alvin, gue stick jadi temennya dia di kala susah dan senang. Setiap dia kesulitan, gue selalu bantu dia. Setiap dia sedih karena masalah percintaannya dengan salah satu cewek di kelas kami, gue selalu hibur dia.”

“Ci, gue mau tanya. Kalau kita bahagia hanya dengan lihat orang yang kita sayang bahagia, menurut Cici, apa itu kebahagiaan?” ganti Wanda yang bertanya padaku.

“Bukan. Itu bukan kebahagiaan. Itu cuma cinta. Cinta bikin semua orang mikir kayak gitu. Makanya, hati-hati sama cinta. Hati-hati sama kebahagiaan.”

“Kalau hubungan Cici sama Dirke gimana? Apa itu cinta?” Wanda bertanya lagi, membuatku tersedak di sela keseriusanku.

“Kok lo tiba-tiba nanyain Dirke, sih?” seruku setelah berhasil menenangkan diri.

“Gue kemarin lihat Cici sama Dirke di kantin kampus, makan siang berdua. Jadi itu alasan Cici enggak ikut kami ke Downtown?”

“Downtown?” aku pura-pura bodoh. “Downtown apa?”

“Halah, pura-pura lupa,” Flora mengambil handphone miliknya. “Nih, kemarin Sadewa ngajak geng kita ke Mall Downtown naik taksi online. Soalnya kemarin kelas kalian sama kelas gue kelarnya cepat, jam sebelasan. Eh, terus Cici bilang, Cici gak bisa ikut karena mau beresin kamar. Jadi kami pergi tanpa Cici. Terus, pas nunggu taksi online datang, Danil liat Cici sama Dirke di kantin kampus.”

“Oh, itu,” aku mengangguk kecil. “Tapi gue emang mau beresin kamar beneran. Tanya aja sama Nakula kalau gak percaya. Nakula tahu kalau gue mau beresin apartment. Sebelum gue pulang, Dirke sama gue makan siang dulu di kampus. Kalian sendiri tahu kalau dia tinggal di Apartment Reinhard juga, cuma beda tower.”

“Nakula bilang gitu karena Cici yang suruh, kan?” Lana ikut angkat bicara. “Lagian, ngapain Cici rajin banget beresin apartment? Cici bisa bersihin seminggu dua kali cukup.”

Mana mungkin aku mengatakan pada mereka kalau aku rajin membersihkan apartment karena Dirke sering main ke sini? Bisa gila mereka.

“Ya emang gak boleh?” balasku cepat.

“Tapi masalahnya Cici bohong ke kami. Cici malah makan siang sama Dirke.”

“Sebenarnya, sebelum Sadewa ngajak kita ke Downtown, gue udah janji duluan sama Dirke. Makanya gak mungkin gue ikut kalian ke sana.”

“Terus, kenapa Cici gak bilang alasan yang sebenarnya ke kami?” Lana bertanya lagi, ingin mendengar jawaban jujur dariku.

“Itu sebenarnya hak gue, kan?” aku tertawa santai. “Yang jelas, semua alasan yang gue kasih ke kalian sudah cukup untuk membiarkan gue gak ikut kalian ke Downtown.”

“Jadi sekarang Cici lebih suka Dirke dibanding Alvin?” tanya Wanda.

“Suka dalam hal apa? Suka dalam hal cinta atau teman? Kalau teman, jelas Dirke adalah orang yang jauh lebih menyenangkan dari Alvin. Seenggaknya, buat gue begitu.”

“Padahal, bisa dibilang, Dirke adalah public enemy kelas kita, Ci. Cici gak takut temenan sama dia?” kali ini Lana bertanya. “Dirke selalu telat datang ke kampus, gak pernah bikin tugas, dan tukang berantem. Terkahir kali, dia hampir adu jotos sama Valentino. Untung ada beberapa anak yang menengahi. Sadewa sama Danil juga ada di sana waktu itu.”

“Gue tahu. Tapi, bukan berarti gue gak boleh temenan sama dia, kan?” aku membela diri.

“Lagian, Cici dan Dirke juga temenannya diam-diam. Gak ada yang banyak tahu. Meski sekarang banyak yang mulai curiga soalnya Dirke ngedeketin Cici mulu kalau di kelas,” Wanda, entah iya atau tidak, rasanya seperti membelaku.

“Ci,” kata Lana. “Menurut pengalaman gue, udah ada sepuluh orang yang nanya ke gue, apakah elo dan Dirke pacaran. Apa itu namanya rahasia? Udah gak ada rahasia lagi, Ci. Kalian termasuk sering duduk sebelahan. Misalnya, dalam satu hari ada dua mata kuliah, paling enggak di salah satu mata kuliah itu kalian duduk sebelahan. Dan kalau dalam satu hari ada satu mata kuliah, kalian pasti duduk sebelahan dan pulang bareng pula.”

“Mungkin Cici sama Dirke nunggu kelas kosong sebelum pulang berdua. Tapi itu bukan berarti enggak ada yang lihat Cici sama dia berdua,” tambah Flora. “Bahkan, Nakula yang enggak sekelas sama Cici pun pernah nge-gap-in Cici berdua Dirke di tempat makan dekat sini.”

Aku meringis, tidak mengiyakan meski sudah jelas bahwa itu benar. Saat Dirke dan aku menyeberang jalan, hendak makan di salah satu rumah makan kecil dekat apartment kami, sebuah mobil hitam membunyikan klaksonnya berkali-kali dan membuatku menoleh. Ternyata Nakula yang menyetir mobil itu, meledekku dengan senyuman jahilnya. Tak kusangka, dia mengadukan hal ini pada Flora.

“Iya,” balas Flora. “Dan selain Lana, gue juga sering ditanya-tanyain hal itu. Banyak yang nanya, cowok tinggi yang selalu bareng Cici itu siapa.”

“Ya kalian tinggal jawab aja ‘gak tahu’. Kenapa ribet?” Wanda membalas sebelum aku sempat membuka mulut.

Wow, aku berhasil membuat ketiga temanku ribut tidak jelas karena masalah yang jelas-jelas bukan masalah mereka.

“Ya ribet dong, Wanda,” ujar Lana. “Kita berempat sekarang udah tergabung dalam Clover. Clover bakal sering tampil buat ngisi acara di kampus dan di tempat-tempat lain. Gimana kita mau latihan kalau tiap kali jam tujuh malam ke atas Dirke pasti ngajak Cici makan malam?”

“Seingat gue, latihan kita gak pernah terganggu karena itu,” aku menjawab tegas. “Tapi elo,” kutunjuk Lana, “selalu main hape kalau latihan. Dan elo,” kutunjuk Flora, “selalu chat dan pacaran kalau latihan. Dan elo,” terakhir, kutunjuk Wanda, “gak pernah ada perubahan dari teknik nyanyi lo. Gue di sini bekerja dua kali lipat dibanding kalian. Gue aransemen lagu, main gitar atau main keyboard, dan harus marahin kalian satu per satu.”

Mereka bertiga diam, tidak bersuara lagi. Aku menghela napas, langsung mengambil posisi untuk tidur. Dibandingkan bertengkar dengan mereka, aku lebih suka tidak usah banyak berbicara dan hanya menengaskan segala yang kurasakan. Sembari tiduran di kasur, aku memainkan handphone dan membalas chat yang masuk. Kulihat, ketiga anak itu juga sudah mengambil posisi tidur sedemikian rupa, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Sejak hari itu, ketiga temanku selalu berhati-hati tiap kali berbicara tentang Dirke. Begitu pula aku, semakin rapat kusimpan rahasiaku tentang Dirke untuk aku seorang. Kalau mereka mengetahui tentang kami, mereka akan lebih cemburu lagi.

-=-

Aku mendorong pintu kelas dengan wajah mengantuk karena ini baru pukul setengah delapan dan kelas baru akan dimulai setengah jam lagi. Seperti kebiasaan lamaku, aku selalu duduk di kursi nomor dua paling pinggir dan menaruh barang-barangku di kursi kosong yang paling pinggir. Sejak dulu, kebiasaan ini kulakukan agar tas biru kesayanganku tidak kotor.

“Pagi, Jozka,” aku menoleh ke pintu, melihat Ibu Kayla, dosen mata kuliah Bahasa Inggris yang masih muda dan sangat cantik itu.

“Pagi, Ibu.”

“Saya dengar, Lana gak masuk hari ini karena sakit.”

“Oh, iya, Bu. Lana sakit demam sejak kemarin sore. Keujanan pas pulang ke kosannya kemarin,” jawabku seadanya.

“Oke,” angguknya. “Nanti tolong kamu yang kumpulkan tugas minggu lalu, Jozka.”

Pintu kelas terbuka lagi, membuat Ibu Kayla dan aku menoleh ke sana. Wanda muncul, dengan baju serba pink, warna kesukaannya. Ia menunduk sopan pada Ibu Kayla sebelum melangkah menuju arahku. Mata Wanda melirik kursi pojok di sebelah kiriku, tempat aku menaruh tasku.

“Udah, di sini aja,” tunjukku pada kursi sebelah kananku. “Ini buat tas gue.”

Wanda, yang memang pada dasarnya malas buka mulut untuk menolak, duduk di sebelah kananku dengan wajah mengantuk. Satu demi satu anak-anak kelas kami berdatangan, termasuk Danil dan Sadewa. Karena mereka teman sepermainan aku dan Wanda, Danil dan Sadewa cenderung memilih tempat duduk dekat kami.

“Eh, Lana gak masuk, ya?” Sadewa bertanya pada Wanda.

“Iya,” jawab Wanda. “Sakit dia. Kebanyakan main ujan.”

“Main ujan,” aku tertawa mendengarnya.

Kelas dimulai, dan Dirke, seperti biasa, telat. Ia muncul sekitar setengah jam setelah kelas dimulai. Ia membuka pintu dengan cukup heboh, membuatku mengernyit ngeri karena tingkahnya. Apalagi, dia langsung mencari tempatku duduk dan tersenyum melihatku. Buru-buru, kubuang pandanganku dan melihat ke arah catatanku.

“Kurang siang, Dir, datangnya,” ledek seseorang di barisan lain.

“Ga usah datang aja sekalian.”

“Emang gak mungkin ada yang bisa lebih telat dari dia.”

“Ngapain kuliah, sih, itu orang?”

“Ngapain hidup, sih, itu orang?”

Yang terkahir, aku tahu itu suara Valentino, musuh terbesar Dirke. Dirke tidak menanggapi dan langsung meminta maaf pada Ibu Kayla. Aku tahu, Dirke paling jago membuat alasan, mulai dari yang paling masuk akal sampai yang paling tidak masuk akal seperti dibuat-buat. Aku bisa melihat bayangannya mendekatiku dan sampai di depanku.

“Sebelah lo kosong, kan?”

Kutelan ludah sebelum mengangguk kecil dan membereskan tasku buru-buru. Dirke yang masih berdiri di depanku menjadi pusat perhatian semua anggota kelas, termasuk Ibu Kayla yang sejak tadi terhenti kegiatan mengajarnya karena Dirke.

“Buruan, Ci,” bisik Wanda, membuatku tambah grogi.

Dirke melihat kegugupan dalam diriku dan membantuku memindahkan tas itu ke bawah mejaku sendiri. Ia, dengan santai, menaruh tasnya di lantai dan duduk di sampingku. Ibu Kayla pun bisa melanjutkan pelajaran yang tengah berlangsung. Tetapi, berbeda dengan tatapan separuh isi kelas yang masih menuju ke arahku atau Dirke.

Sorry, Ci, gue telat lagi. Tadi gue-”

Don’t,” aku menggeleng mendengar bisikan Dirke. “Gue lagi gak pengen dengar excuse apapun dari elo.

“Enggak, lo musti dengar, Ci. Ini penting. Tadi gue-”

“Ko, jangan berisik. Ini lagi kelas,” tegasku separuh berdesis.

“Nanti, pas kelar kelas, gue mau ngomong sama elo.”

-=-

Dirke adalah rajanya alasan. Dia bisa membuat alasan dari seratus kali keterlambatannya. Tiap kali aku menegurnya karena kedatangannya yang tidak pernah tepat waktu, ia selalu beralasan bahwa yang terpenting adalah kehadirannya. Memang, universitas kami termasuk ketat masalah kehadiran. Jika absen tanpa alasan yang penting seperti dirawat di rumah sakit atau ada anggota keluarga yang meninggal, absen tidak akan diputihkan.

“Ci Joz, makan, yuk. Dari pagi belum makan, nih,” kata Danil saat kelas usai.

Aku baru saja hendak mengangguk kalau tangan kiriku tidak ditahan oleh Dirke yang sejak tadi berdiri di sana. Kuhela napas pelan sebelum melepaskan tangan Dirke pelan-pelan. Kutatap Danil, Wanda, dan Sadewa yang menanti jawabanku.

Sorry, gue gak ikut makan sama kalian,” ujarku akhirnya.

Wanda melihat ke arah Dirke selama beberapa detik sebelum mengedip dan mengangguk padaku. Berbeda dengan Wanda, Sadewa dan Danil malah menatapku bingung, tidak memahami apa yang sedang terjadi di antara aku, Dirke, dan juga Wanda.

“Oke. Nanti kelas lagi jam tiga, ‘kan? Sampai ketemu jam tiga, Ci,” kata Wanda sambil tersenyum semampunya.

Sepeninggal ketiganya, aku langsung menghadap Dirke dengan tangan di pinggang. Wajah kesalku langsung muncul tanpa bisa kutahan lagi.

“Mana yang katanya gak bakal telat lagi?” kataku kesal.

Sorry, Ci. Sorry, gue kesiangan beneran. Yang penting gue datang kelas dan udah dikasih absen.”

“Oke, Ko. Gue tahu buat elo kehadiran itu penting. Tapi bukan berarti lo bisa bebas telat-telat aja kayak gitu.”

Dirke sudah menyiapkan sederet kata sebelum matanya melirik bagian belakangku. Kukerutkan alis sejenak dan menoleh ke belakang. Ada Valentino dan beberapa teman lainnya masih di kelas. Mereka memandang kami seolah kami ini sinetron gratis di layar tancap.

“Kita makan siang di luar, yuk. Masuk lagi masih jam tiga. Ini baru jam sebelas.”

“Terserah,” balasku singkat.

Ia tersenyum maklum, tahu alasanku bertingkah seperti ini. Kubiarkan dia berjalan duluan menuju lift. Tepat saat ia menekan tombol lift, aku memutuskan untuk turun lewat tangga. Tanpa menunggu lift, Dirke langsung berlari mengejarku ke arah tangga.

“Mau kurus banget, ya?” Dirke mencoba membuatku tertawa meski tak berhasil. “Ci, jawab dong. Ci, jangan marah. I know, gue salah. Ci, Ci, Ci Joz.”

“Elo itu udah tua. Tapi kelakuan lo-”

“Kayak anak kecil. Gue tahu, kok,” katanya cepat.

Kuhela napas malas sambil berjalan ke arah pintu keluar universitas.

“Mau makan di mana?” aku bertanya akhirnya, dan ia tersenyum senang.

“Ayo, ayo, di apartment gue. Gue masak deh. Lo pasti suka, Ci.”

“Simpen untuk entar malam aja, Ko.”

No, no, no, no. Malam nanti, gue ajak lo makan di Bola Dunia. Makanya, siang ini makan di kamar gue. Malam nanti di Bola Dunia.”

“Terserah.”

Kuputar mataku sebelum menuruti permintaannya. Ia menarikku ke jalan raya dan mengajakku menyeberang. Ada minimarket di perjalanan menuju apartment tempat tinggal kami. Dirke membeli beberapa bahan makanan yang mudah dibawa seperti sosis dan telor.

“Gue yakin, elo sering beli bahan-bahan kayak gini di Berlin,” kata Dirke. “Oh ya, lo suka pisang, ‘kan?” Dirke berkata sambil mengambil pisang dan menaruhnya di keranjang belanja. “Terus, apa lagi, ya? Lo mau apa lagi, Ci?”

“Apa aja,” kataku cepat.

Pintu minimarket terbuka dan mimpi burukku rasanya lengkap. Astaga, kenapa Mbak Jana dan Mbak Wulan harus muncul di saat-saat seperti ini, sih?

“Eh, kalian udah kelar kuliah?” Mbak Jana langsung melihat kami dan menyapa kami.

“Eh, Mbak Jana, Mbak Wulan,” Dirke langsung basa-basi. “Nanti lanjut lagi jam tiga, Mbak. Sekarang mau makan dulu.”

“Mau masak ya?” ganti Mbak Wulan yang berbasa-basi.

“Iya, mau masak di apartment,” jawab Dirke lagi.

“Awwww, so sweet banget, sih, kalian ini,” goda mereka pada kami.

“Enggak, Mbak,” aku tertawa canggung karena suasana ini tambah tidak menyenangkan. “Ehm, duluan ya,” kataku cepat. “Mau bayar soalnya.”

“Oh iya, iya, silahkan,” Mbak Jana langsung menyingkir bersama Mbak Wulan, entah apa yang hendak mereka beli.

Dirke menaruh keranjang belanjaan di kasir, mengeluarkan isinya, dan memerhatikan barang-barang di sekitar kasir. Sementara aku sudah siap mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaan itu.

“Gak sekalian beli ini?” tunjuk Dirke pada kotak kondom warna-warni yang dipajang di meja kasir.

“Buat?”

Terkekeh, Dirke mengambil kotak kondom berwarna jingga yang berdiri kokoh di depan matanya. Sementara aku hanya berdecak kecil, tak menanggapi candaannya yang kadang-kadang suka lupa lokasi.

“Beli dong! Biar aman.”

Dirke dan aku tersentak kaget akan suara wanita itu sampai kotak kondom di tangan Dirke jatuh ke meja kasir. Kami berdua menoleh, melihat Mbak Wulan dan Mbak Jana sudah muncul lagi di belakang kami dengan sekeranjang belanjaan yang isinya kripik kentang semua seperti orang mau nonton bola. Rupanya, tadi itu suara mereka.

“Hahaha, enggak kok, Mbak. Si Dirke cuma bercanda tadi,” aku tertawa panik, hampir menangis malu di sana.

“Hahaha, iya, cuma bercanda tadi,” tambah Dirke sambil menoleh ke kasir.

Tapi sayangnya, waktu tidak bisa diputar ulang. Kotak kondom itu sudah melalui proses scan barcode karena kasir itu mengira kami ingin membelinya. Dengan sesuka hati, kasir tersebut memasukkan benda jahanam itu ke dalam plastik belanja.

“Totalnya lima puluh tujuh ribu.”

Dirke dan aku melongo seperti orang tolol. Saat tersadar, Dirke buru-buru mengambil uang dari dalam dompetku dan memberikan dengan muka bodohnya.

“Heh! Kok pake duit gue?!” seruku saat tersadar.

“N-n-nanti gue ganti.”

Masih terburu-buru, Dirke mengambil dua plastik belanja di atas meja kasir dan segera mengucapkan terima kasih. Kami berdua pamit pada Mbak Jana dan Mbak Wulan sebelum cepat-cepat kabur dari sana karena malu.

Benar-benar memalukan.

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s