They Never Know [5/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Lima

Garis Batas

[Dirke]

Otakku sudah hilang, mungkin ditelan oleh rasa kantuk yang berlebihan. Jam kecil di atas meja belajarku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi aku belum bisa memejamkan mataku karena tugas dari dosen mata kuliah Public Relations yang harus selesai malam ini juga. Seandainya ketua kelas mata kuliah itu tidak terlambat mengingatkan tentang tugas tersebut, mungkin aku sudah mengerjakannya sejak tadi pagi.

“Aaaahhhhhhh sialaaaannnnnnnn,” gerutuku sambil merenggangkan badan. “Untung besok masuk jam sepuluh. Kalau enggak, gue pasti telaaaatttttttt.”

“Berisik, Ko.”

Aku langsung menutup mulutku, menoleh pada Jozka yang sedang tiduran di kasurku. Dia santai saja, membaca koleksi buku komik dewasa milikku di sana.

“Elo udah kelar nugas?”

“Udah dari minggu lalu,” jawabnya santai. “Lagian, elo kenapa gak pernah nyicil tugas?”

“Gue gak even tahu kalau besok ada tugas. Ketua kelasnya baru ngomong tadi.”

“Itu artinya lo harus lebih rajin dengerin guru ngomong.”

“Sssttt,” desisku, menyuruh Jozka diam. “Gue laper anjir.”

Delivery aja, gih,” ide Jozka kemudian. “Ada ruko yang jual nasi campur enak banget. Dia buka sampe subuh.”

“Astaga,” kataku. “Itu toko nasi campur atau red light district?”

“Gak lucu,” kata Jozka sambil mengambil handphone di atas meja dan masuk ke aplikasi ojek online yang menyediakan jasa delivery. “Nih, gue pesenin, ya. Lo mau apa?”

“Nasi campur satu porsi. Elo?”

“Gue gak mau pesan apa-apa. Udah malam. Takut gendut.”

“Halah, masih kurus itu.”

“Enak aja, Ko. Sejak sering makan malam sama elo, berat gue naik dua kilo. Gawat gak?” Jozka heboh sendiri sambil menyelesaikan proses pemesanannya.

“Gak keliatan, Ci. Santai aja.”

“Pesanan lo bakal datang satu jam lagi.”

“Oke,” sahutku.

Jozka menaruh handphone miliknya di atas meja lagi. Ia kembali membaca komik milikku yang isinya tidak berguna dan tidak bermanfaat sama sekali.

“Lo suka banget komik ginian, Ko?”

“Itu gue beli di Jepang, waktu liburan sama adik-adik gue dua tahun lalu. Konsumsi bokep di Jepang itu tinggi, Ci. Jadi, gak salah kalau gue beli itu buat kenang-kenangan. Bahasanya pake Inggris. Lumayan, bisa buat nambah vocabulary.”

Vocabulary kata-kata bokep,” semprot Jozka membuatku tertawa. “Mungkin lo harus ikut gue kalau gue pergi ke Eropa. Gue bakal ajak lo ke Belanda buat lihat red light disctrict.”

“Kapan lo bakal pergi lagi?”

“Tahun depan mungkin.”

“Ikut dong.”

“Astaga,” Jozka menggeleng tak percaya. “Gue mau ke Eropa, Ko. Bukan ke Bandung. Lo ngomong ‘ikut dong’ seolah-olah gue cuma mau ke Bandung.”

“Gak masalah. Tahun depan masih banyak waktu. Gue bisa persiapin hal-hal yang dibutuhkan mulai dari sekarang. Musim panas, ‘kan?” tanyaku dan Jozka mengangguk. “Then, santai,” kataku akhirnya. “Selama itu bukan musim dingin, gue gak masalah.”

“Lanjutin tugas lo, gih. Ngimpi doang.”

Aku tertawa kecil dan membiarkan Jozka larut dalam komik dewasa itu lagi. Kubuat tugasku sambil sesekali mencuri pandang pada Jozka yang mengernyit ketika membaca komikku. Sekitar setengah jam berlalu, aku mulai bosan lagi dengan tugasku. Kuhampiri Jozka dan kurebut komik di tangannya dengan cepat.

“Baca apa sih?” kataku akhirnya.

“Ah! Jangan, Ko! Lagi seru anjir!”

Ia berteriak dan berusaha merebut komik itu lagi. Aku langsung berdiri, tahu bahwa tinggiku jauh melampaui batas tingginya. Tapi Jozka memang pintar. Setahuku, IQ Jozka di atas rata-rata. Ia melompat dan berdiri di atas kasur, mencoba meraih tanganku yang tergantung di udara. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh bersamanya ke atas kasur. Kami tertawa, berguling-guling seperti anak TK sedang bermain.

“Balikin, please,” katanya memohon. “Please, Ko. Please.”

“Enggak boleh. Anak kecil gak boleh baca ginian.”

“Anak kecil?” Jozka tertawa dan berusaha meraih buku komik itu lagi.

Kepala Jozka dan helaian rambutnya pun jatuh di bahuku. Aku melempar komik itu ke arah lain, entah ke mana pun aku tak peduli. Kupeluk Jozka dengan tanganku yang bebas, membuat kepalanya ada di dadaku.

“Kapan terakhir kali kita kayak gini?” tanyaku sambil memainkan helaian rambut Jozka. “Seminggu yang lalu?”

“Kayaknya,” gumamnya. “Akhir-akhir ini, gue dipenuhi kekhawatiran untuk cuddling sama elo. Gue takut lo baper, Ko.”

“Sama. Gue juga takut gue sendiri baper sama lo. Padahal gue suka cuddling sama elo.”

Hanya dalam beberapa menit, pikiran-pikiran gila bermunculan di kepalaku. Mungkin Jozka benar bahwa laki-laki sulit mengendalikan napsunya. Menurutku, tidak salah. Maksudku, lihat saja, Jozka yang bukan tipeku dan tak ada seksi-seksinya sama sekali itu malah berhasil memancingku. Ia jauh lebih hebat dibanding perempuan-perempuan tidak kukenal yang kutiduri.

“Lo gak lagi mikir yang aneh-aneh, kan?” Jozka bertanya padaku. “Seks misalnya?”

“Gila,” aku terbatuk. “Gue cuma lagi capek.”

Jozka mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut pipiku. Matanya memerhatikan leherku dan ia menyentuh bekas luka kecil di sana.

“Lo abis seks sama siapa?”

Sialan. Kenapa dia tahu? Bagaimana aku harus menjawabnya?

“Itu kena kuku gue sendiri,” aku berbohong, tidak berani bilang pada Jozka kalau aku baru saja ke tempat terlarang itu lagi sehari yang lalu.

“Lo pikir gue goblok?” mata Jozka mulai berkaca-kaca. “Lo masih gak kapok juga? Apa lo harus tunggu sampai kena penyakit dulu baru lo berhenti?”

Sorry.”

No! Jangan minta maaf ke gue, Ko. Gak ada gunanya.”

I know.”

Jemari mungil itu mengusap tulang selangkaku dengan lembut. Jozka menunduk, membuatku tahu bahwa ia menangisi cara hidupku yang salah.

“Ko,” bisiknya serak. “Kalau lo butuh, gue bisa bantu lo tiap kali lo lagi pengen. Lo tahu tempat tinggal gue, lo tahu ID Line gue. Lo bisa chat gue kapan aja dan gue akan datang.”

“Lo bukan wanita panggilan.”

“Gue tahu. Tapi, seenggaknya, gue bersih. Mungkin pelayanan gue bakal jelek di awal. Tapi gue cukup jago kalau lo ajarin terus.”

“Lo gila? Itu namanya nginjek garis, Ci. Lo sendiri tahu, kalau kita udah melangkah ngelewatin garis itu, udah gak ada cara untuk kembali lagi. Yang ada penyesalan doang. Gue gak mau kehilangan elo, Ci. Lo satu-satunya teman gue saat ini.”

Kupegang tangan Jozka yang ada di tulang selangkaku dan kugenggam dengan selembut mungkin, takut dia terluka karena sifat kerasku.

“Ko, lo harus berhenti ngeutamain napsu lo. Itu sia-sia. Itu gak ada gunanya.”

“Hei,” kupanggil ia pelan. “Lo lihat gue, Ci? Hei,” kucari-cari wajahnya yang ia sembunyikan di dadaku. “Ci, kita ini teman dekat. Bahkan bisa dibilang sangat dekat. Tapi, seenggaknya, kita gak menginjak garis. Lo tahu sendiri apa akibatnya kalau ada salah satu di antara kita yang menginjak garis itu.”

Jozka mengangguk kecil, memahami kata-kataku barusan. Aku lega karena ia tidak memaksakan diri untuk menginjak garis kami demi aku. Jelas, Jozka bukan orang yang mudah terbawa perasaan. Aku tahu, jika melakukan segala sesuatu dengannya tidak akan membawa dampak yang terlalu buruk bagi kami. Tapi, manusia berubah. Dan bisa saja, setelah melewati garis itu, akan ada yang berubah di antara kami.

-=-

Jozka tidak mudah terbawa perasaan. Itu sudah diungkapkannya berkali-kali dan aku juga menyadarinya. Kalau tidak, ia pasti sudah jatuh cinta pada Sadewa, tipe idealnya. Entah bagaimana, Jozka selalu menemukan celah dari semua laki-laki yang ditemuinya. Mungkin, pengalaman cinta pahitnya dengan Alvin telah memberinya pelajaran yang terlalu keras.

“Sadewa itu terlalu konservatif. Bisa celaka gue kalau jadi pacarnya,” kata Jozka waktu kutanyakan alasannya tidak pernah jatuh cinta pada Sadewa. “Selain itu, lebih dari segala alasan yang bisa gue berikan, gue punya komitmen untuk gak jatuh cinta sama teman dekat sendiri.”

Kali ini, Jozka dan aku mengobrol di kamarnya lagi. Obrolan random kami selalu tentang percintaan dan kuliah. Paling jauh dan berbahaya, kami kadang membicarakan topik dewasa yang menyangkut masalah fantasi seks mulai dari tipe normal hingga tipe Fifty Shades of Grey. Khusus yang terakhir, itu sifatnya optional.

Well, ternyata Alvin tetap menjadi sumber masalah bagi elo meski dia sekarang ada di Tiongkok dan berada jauh dari elo,” balasku semampunya.

“Tapi ada bagusnya juga. Kalau bukan karena Alvin, gue tidak akan menjadi anak yang punya nilai bagus, lumayan cantik, dan punya percaya diri.”

“Kata siapa lo lumayan cantik?” tawaku meledak.

“Seenggaknya, gue gak sejelek dulu.”

“Mungkin itu bisa ditoleransi. Dan nilai lo juga sangat bagus. Lo bisa jadi lulusan terbaik kalau gini caranya.”

“Gue pengen lanjut master, pengen ke Korea Selatan, negara impian gue.”

“Kenapa gak di Jerman aja? Kapok?”

“Bukan. Gue merasa, udah cukup adik gue yang di sana.”

Jozka punya adik laki-laki yang tinggi, tampan, pintar, dan cerdas. Namanya Bartolomej, disingkat Barto. Meski Jozka tidak mau mengakuinya, ia punya banyak kesamaan denganku. Salah satunya adalah nama adik kami. Adik bungsuku juga dinamai Barto. Bedanya, adikku itu bernama lengkap Bartholomew. Sementara nama adik Jozka adalah variasi Bahasa Ceko.

“Adik lo itu pasti pintar sekali, ya. Kuliah di universitas terbaik di Berlin.”

“Wow,” Jozka bertepuk tangan dengan wajah dibuat-buat. “Elo orang nomor sejuta yang bilang begitu. Congratulations!

Aku memahami Jozka lebih dari siapa pun di dunia ini. Adik laki-laki pertamaku yang bernama Reyner akan sekolah di Jepang sementara aku, di usia dua puluh tahun, baru masuk semester dua karena pindah kuliah. Untung saja, di semester ini, aku sekelas dengan Jozka yang umurnya sama denganku.

“Apa karena lo terlalu suka sama boybandboyband Korea itu makanya lo mau ke sana?”

“Iya, salah satunya. Tapi, kalau gue dapat kesempatan untuk sekolah di Berlin pun gue gak keberatan sama sekali.”

“Gue pengen ikut lo ke Berlin, Ci, dan tinggal sama lo di sana. Boleh enggak?”

“Ga bakal bisa. Soalnya hidup di sana susah.”

“Aduh, Ci, lo tahu, gue pengen banget tinggal di luar negeri. Menurut gue, tinggal di sana itu cita-cita yang keren banget. Makanya, pas kita baru awal-awal sekelas, gue gencar banget deketin elo demi nanya-nanya masalah itu.”

“Sampai lo dikatain modus sama anak-anak lain.”

“Iya,” aku terkekeh. “Tapi emang waktu itu tujuan gue adalah ngedeketin elo. Terus, waktu elo dan Sadewa presentasi matkul Kewarganegaraan, gue sengaja bikin pertanyaan yang bisa dijawab cuma sama elo supaya Sadewa gak bisa jawab. Sejak pertama lihat elo memperkenalkan diri sebagai Jozka Raymond Meyer di hari pertama semester kedua, gue udah tahu bahwa gue harus deketin lo. Lo bikin penasaran.”

“Sadewa pernah bilang gitu. Waktu hari pertama semester satu, dia merasa ada yang aneh dari gue dan bikin penasaran. Mulai dari cara bicara gue, tone ngomong gue, sampai nama gue pun bisa bikin dia pengen tahu.”

“Untung lo gak jadian sama dia. Menurut gue, lo gak cocok sama dia. Dia mirip Alvin, terlalu sempurna. Lo pasti juga sering ngerasa kalau Sadewa mirip Alvin, deh.”

“Bener,” angguk Jozka. “Kita tadi, by the way, lagi ngomongin masalah sekolah di Jerman. Kenapa tiba-tiba bahas Sadewa dan Alvin?”

“Sadewa itu terlalu perfeksionis. Elo pun demikian. Kalau kalian jalin hubungan, bakal bencana buat kalian,” aku mengabaikan komentar Jozka barusan. “Sadewa emang sebaiknya jadi adik lo. Itu jauh lebih baik.”

“Menurut gue, lo agak gak demen sama Sadewa.”

“Iya, gue gak menyangkal. Gue iri sama dia. Tapi di sisi lain, gue merasa dia terlalu keras kepala dan perfeksionis.”

“Gue sering berantem sama Sadewa karena itu. Di saat bersamaan, gue orangnya juga keras kepala. Tapi, yang gue suka dari dia adalah dia pintar. Dan gue suka tipe pria yang pintar.”

Begitulah, tiap kali nama Sadewa muncul dalam pembicaraan kami, Jozka seperti menarik garis yang jelas antara laki-laki tipe idealnya dan aku. Ia seperti ingin menarik garis dan mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir akan perasaannya karena aku sama sekali bukan tipenya. Tipe tersebut jelas. Laki-laki itu harus pintar, cerdas, sopan, berwibawa, dan mempunyai kepribadian yang baik.

Seperti Sadewa.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s