They Never Know [6/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Enam

Sumber Masalah

[Jozka]

Laki-laki memang sumber masalah. Setidaknya, menurutku, untuk saat ini dan hingga beberapa saat ke depan, laki-laki akan menjadi sumber masalah kalau aku tidak menyortirnya dengan baik. Tapi, sumber masalah yang lebih hebat lagi adalah cinta. Maka, jika laki-laki dan cinta dibaur menjadi satu, akan banyak hal-hal konyol yang terjadi di pertengahannya.

“Nil, cewek lo tadi masuk klinik kampus. Dia jatuh di tangga gara-gara main hape sambil turun tangga,” kata Wanda pada Danil suatu siang.

Heboh, Danil yang kini menyandang status sebagai budak cinta, langsung berlari ke lantai satu dari kelas kami tanpa peduli fakta bahwa sepuluh menit lagi kelas akan dimulai. Itu adalah salah satu contoh permasalahan yang timbul ketika laki-laki dan cinta sudah bertemu.

“Anak kecil kayak dia udah lebih heboh dari pada elo, Ci,” ledek Sadewa padaku. “Lo pacaran aja gak pernah.”

“Kenapa tiba-tiba nyasar ke gue? Lo mau mulai keributan sama gue atau apa, sih?”

Kalau Danil adalah masalah setelah dia punya pacar, maka Sadewa selalu menjadi masalah yang tidak terselesaikan denganku. Kami dekat saat awal semester satu, ketika mengerjakan tugas fotografi berdua dan mulai saling membuka diri satu sama lain. Aku mulai mengetahui background kehidupannya. Begitu pula dia yang mulai mengenalku dengan baik.

“Canda, Ci. Canda,” Sadewa berusaha menurunkan tingkat emosiku.

Waktu masuk kelas tinggal lima menit lagi. Dirke belum datang dan bisa jadi dia terlambat meski hari ini kuliah siang. Aku bosan dengan segala alasannya dan berjanji kalau hari ini dia datang terlambat, aku tidak akan bicara dengannya lagi. Ketika kupikir hal itu akan benar-benar terjadi, Dirke muncul di depan pintu sambil melihat ke seluruh penjuru kelas.

Guys, gila! Theodorick Kusuma Widjaja datang sebelum dosennya datang! Besok mau kiamat kayaknya, guys!”

Aku tahu suara itu. Suara Valentino yang badannya besar dan volume suaranya juga besar. Ada sedikit rasa khawatir bahwa Dirke akan terpancing dan langsung menonjok wajah Valentino karena kesal. Tapi ternyata, itu sama sekali tidak terjadi karena Dirke langsung menemukanku di tempat dudukku saat ini.

“Hai Ci!” Dirke langsung menyapaku dengan wajah cerianya. “Gue gak telat hari ini. Gue mau duduk di sebelah lo dong.”

Aku hanya bisa melongo karena dia sudah berani memerintahku hanya karena tidak telat satu kali. Ini baru satu kali. Kalau dia tidak telat setiap hari, bisa-bisa dia memintaku membelikannya mobil balap. Aku tidak punya uang untuk itu. Dirke sendiri menatapku dengan wajah senang yang berlebihan.

“Oh, iya,” aku, separuh terpaksa, menurunkan tasku dari tempat duduk di sampingku.

Untung saja, dosen mata kuliah siang itu datang tepat waktu, membebaskanku dari tatapan senang Dirke yang berlebihan. Danil baru kembali lima menit setelah dosen datang, berbohong dengan mengatakan bahwa dia dari kamar kecil.

“Selamat siang semuanya,” kata Pak Hadi, guru mata kuliah Public Relations sambil menaruh semua buku-bukunya di atas meja dosen. “Minggu lalu ada tugas, ‘kan? Saya cek sebentar, ya,” Pak Hadi menyalakan komputer dosen. “Kalian kumpulin ke email saya, ‘kan?”

“Iya, Pak,” kali ini sekelas menjawab kompak.

Pak Hadi membuka emailnya di komputer yang tersambung dengan layar proyektor. Seluruh isi kelas itu bisa melihat daftar nama mahasiswa-mahasiswi yang mengumpulkan tugas lewat email. Namaku ada, tertera sebagai orang pertama yang mengumpulkan tugas.

“Gila, Jozka ngumpulin di hari saat tugas dikasih,” bisik-bisik terdengar dari belakangku yang kurasa adalah suaranya Eleanor.

Nama Wanda ada di layar. Begitu pula dengan nama Lana, Danil, dan Sadewa. Hampir di urutan terakhir, muncul nama Theodorick Kusuma Widjaja, nama lengkap Dirke di layar. Ia mengumpulkan tugas itu di menit-menit terakhir sebelum batas waktu pengumpulan.

“Theodorick Kusuma Widjaja ngumpulin! Gila, gue bahkan gak ngumpulin,” bisik-bisik terdengar lagi dari barisan lain yang tak kuketahui.

“Astaga, gue juga gak bikin. Gue pikir, Dirke bakal gak bikin.”

“Iya, woy. Gue pun sama. Dirke ternyata udah gak sama lagi.”

“Dan dia juga ngumpulinnya tepat waktu.”

Aku berdeham, lalu melirik Dirke yang duduk di sampingku. Ia tersenyum kecil, tapi pura-pura tidak melihatku dan tetap memerhatikan meja tulisnya sendiri. Kusenggol lengannya dengan siku sambil tersenyum.

“Yang tidak mengumpulkan tugas kali ini, nilai UTS dikurangi setengah poin,” kata Pak Hadi tiba-tiba. “Ini tugasnya sangat penting dan sangat mudah. Kalau kalian tidak mengerjakan, nilai kalian saya potong setengah poin di UTS.”

“Untung lo ngerjain,” bisikku pelan, tentu saja pada Dirke. “Coba lo lihat, banyak hal positif yang lo dapat dari datang lebih pagi. Lo bisa mendapatkan tatapan gak percaya dari orang-orang. Dan lo bahkan ngumpulin tugas di saat orang lain gak ngumpulin.”

“Gue gak peduli masalah itu. Yang gue pedulikan sekarang adalah elo gak marah sama gue dan elo mau ngobrol sama gue kayak gini. Menyenangkan banget buat gue.”

-=-

Yang aku tidak pernah tahu adalah Nakula, teman dekatku sejak semester satu, akan menjadi sumber masalah. Aku tahu, Nakula memang sosok yang bermasalah. Ia pernah berkuliah di salah satu universitas di Jakarta sebelum pindah ke tempat kami berkuliah saat ini. Di sana, salah pergaulan menjebaknya menjadi laki-laki berandalan yang sering berbuat buruk.

“Nakula dan Sadewa punya daya tarik yang berbeda,” itu kata Flora saat aku dan dia duduk berdua di kantin demi menunggu kelas. “Sadewa alim, ganteng, berprestasi, dan tahu diri. Buat cewek yang suka cowok baik-baik, Sadewa adalah pilihan yang tepat.”

“Sementara Nakula pemberontak, berani, agak nakal, dan berandalan. Cocok buat cewek yang suka tipe bad boy,” sahutku kemudian. “Emang sulit kalau berteman sama dua cowok paling keren di kampus. Semua orang pada sirik sama kedekatan kita.”

Sejarah pertemanan kami tidak mudah di semester satu. Mulai dari Nakula, Flora, Lana, Wanda, Danil, Sadewa, sampai aku. Kami bertujuh membentuk kelompok main di semester satu, menjadikan kosan Sadewa sebagai basecamp dan tempat berkumpul sehari-hari. Latar belakang kami berbeda-beda. Tetapi, pernah ada satu titik, di mana kami semua punya sudut pandang dan cara berpikir yang sama, membuat kami bertujuh dekat satu dengan lain.

“Sayang banget, kita bertujuh gak sekelas semester dua ini,” keluh Flora. “Gue sekelas sama Nakula yang kerjaannya main-main doang. Dan Cici sekelas dengan sisanya.”

Sumber masalah bisa jadi sebuah sebutan yang cocok untuk Nakula. Mulai dari tidak mengerjakan tugas, sampai selalu kesiangan di hari-hari tertentu. Karena tidak mengerti cara hidup yang baik, Flora adalah satu-satunya orang yang selalu dikorbankan oleh Nakula.

“Elo jangan mau disuruh-suruh sama dia, Flora,” kataku pada Flora. “Dia harus mandiri. Kalau elo bikini PR dia terus dan ngasih dia jawaban ujian terus, dia bakal semakin kacau.”

“Ya gue kasihan sama dia, Ci.”

“Lo bukan kasihan. Lo ada rasa sama dia. Itu yang jadi masalah.”

Flora terdiam, menatapku dengan takut-takut. Ia pasti merasa bahwa rahasianya mulai dibuka satu demi satu.

“Cici tahu dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa. Gue tahu dengan sendirinya. Gue udah cukup tua untuk melihat itu dari gelagat lo. Gue yakin, dari hati lo yang terdalam, ada rasa senang karena lo dan Nakula sekelas. Paling enggak, Nakula akan lebih membutuhkan lo dibanding dia membutuhkan kami.”

“Cici jangan kasih tahu siapa-siapa soal itu, ya.”

“Soal elo ada rasa sama Nakula?”

“Iya,” kata Flora pelan.

“Berarti gue bener, ‘kan? Lo ada rasa sama dia,” ulangku lembut. “Gak masalah, sih. Dalam berteman pasti ada kemungkinan kayak gitu. Lo juga tahu, gue dulu pernah ngerasain yang sama waktu bareng Alvin.”

“Iya, Ci. Gue ada rasa sama Nakula. Maafin gue, Ci.”

“Kenapa lo minta maaf?”

“Soalnya, kalau sampai Nakula tahu tentang hal ini, bisa-bisa pertemanan kita semua rusak dan berantakan. Gue gak mau itu terjadi.”

“Tapi lo harus tahu juga bahwa di dunia ini, gak ada rahasia yang abadi. Pasti bakal ada waktunya rahasia itu terbongkar dengan sendirinya.”

“Iya, kayak rahasia hubungan Cici dengan Dirke, ‘kan? Sekarang, semua orang udah tahu tentang hal itu.”

“Seenggaknya, yang orang-orang tahu di luar sana cuma ‘Jozka sering duduk berdua sama Dirke di kelas’ atau ‘Jozka sering terlihat bareng Dirke di kampus’. Udah, itu aja.”

“Iya. Mereka gak tahu kalau Ci Jozka date sama Dirke dan-”

“Heh!” kupotong kata-katanya. “Gak ada buktinya.”

“Iya, nanti deh. Kalau misalnya gue lihat Cici sama dia berdua, gue foto dan gue tempel fotonya di mading kampus.”

Kami tertawa sejenak sebelum dari kejauhan, kulihat Sadewa muncul bersama Nakula. Kulihat cara berpakaian mereka berdua yang sangat berlawanan arah. Sadewa memakai kemeja hitam yang begitu rapi, dipadu celana panjang yang membungkus kaki panjangnya dengan apik. Sementara Nakula selalu memilih kaos polos dan memakai kemeja flannel tak dikancing di luarnya. Jeans biru mudanya pun terlihat cocok dengan atasanya itu.

“Si kembar datang,” bisikku pada Flora, dan kami langsung sunyi senyap.

“Hai,” sapa Nakula duluan. “Hai Flora. Hai Jozka,” dan dia adalah satu-satunya temanku yang tidak memanggilku dengan sebutan ‘Cici’ karena kami berasal dari angkatan yang sama.

“Hai,” balasku singkat sambil tersenyum.

Nakula, yang kini rambutnya panjang hampir sebahu, menawarkan tangannya pada aku dan Flora untuk di-high-five. Sadewa melakukan hal yang sama dengan kami berdua, lalu gabung dan duduk di kursi kantin samping kami yang kosong. Seperti sudah diatur, Nakula akan memilih tempat duduk di samping Flora dan Sadewa pasti duduk di sampingku.

“Gimana rumah tangga kalian?” tanya Nakula pada Sadewa dan aku.

Otomatis, Sadewa dan aku saling melihat satu sama lain dan mengangkat alis. Sambil memutar mata, kulepaskan tawa sinisku pada Nakula yang masih menatapku dengan penasaran. Bukan cerita baru kalau Sadewa dan aku diibaratkan dua orang yang membangun rumah tangga, dengan Lana, Wanda, dan Danil sebagai anak-anaknya. Ini karena Sadewa dan aku sering adu argumen untuk hal-hal yang tidak perlu sejak semester satu, layaknya suami istri yang masuk ke dalam masa-masa sulit rumah tangga.

“Hancur,” sahut Flora tiba-tiba. “Mau cerai kayaknya,” imbuhnya membuatku melipat tangan di dada dan kusandarkan bahuku di sandaran kursi.

“Urusin rumah tangga kalian aja deh,” Sadewa menyahut kecil. “Kayaknya Nakula udah mulai lirik-lirik cewek lain di kelas kalian.”

“Sekarang Nakula dekat sama Rania, cewek paling seksi di kelas gue,” kata Flora. “Gue ditinggal mulu. Tiap hari, Nakula diantar Rania pulang naik mobil mahalnya cewek itu.”

“Wah, gila,” balasku cepat. “Di mobil ngapain aja?”

“Menurut lo aja,” Nakula menjawab sambil terkekeh. “Tadi gue nanya duluan tentang kalian. Kenapa kalian jadi bahas tentang gue? Anak-anak kalian mana?”

“Anak-anak lagi berunding,” kata Sadewa. “Seandainya gue dan Ci Jozka pisah, mereka mau ikut siapa. Cuma, gue udah kasih tahu mereka, kalau mereka ikut Ci Jozka, mereka bakal punya ayah baru.”

“Dirke?” tanya Nakula.

“Siapa lagi?” Sadewa angkat bahu.

“Lo benar-benar pengen berantem sama gue setelah sepuluh menit bareng gue, ya?” kataku pada Sadewa.

“Ampun, Nyonya. Ampun, ampun, ampun,” Sadewa menggosok-gosok kedua telapak tangannya satu sama lain seperti orang minta maaf.

“Tuh kan,” kata Nakula. “Rumah tangga emang sulit. Belum lagi kalau anak-anaknya ada. Bukannya didamaikan, malah ditontonin. Iya, ‘kan, Flora?” Nakula, dengan santainya, mengeluarkan tangan untuk merangkul bahu Flora.

Aku terdiam, lupa dengan pertengkaran tak pentingku bersama Sadewa. Kulihat Flora mengontrol ekspresinya, tampak santai meski gestur Nakula jelas-jelas bukan pertanda baik.

“Udah mau jam sepuluh. Gue naik duluan, ya,” kataku akhirnya.

“Loh, cepet banget, Jozka,” Nakula menarik tangannya dari bahu Flora dan menatapku heran. “Ini masih setengah jam lagi.”

Kuhela napas lega karena Nakula berhenti bertindak seenaknya pada Flora. Kulihat, Flora juga tersenyum lega akan tindakan itu. Yang jadi masalah sekarang adalah Sadewa ikut-ikutan protes karena ini masih terlalu pagi untuk ke kelas.

“Abis di kantin panas. Enak di kelas,” aku beralasan. “Kalian di kelas mana?” kutanya Flora dan Nakula.

“Kami di lantai lima, Joz. Lo dan Sadewa di lantai sepuluh, kan? Bareng aja, naik lift,” Nakula berinisiatif mengajak Sadewa dan aku.

Kami berempat berjalan menuju lift. Sambil menunggu lift, kami mengobrol ringan tentang banyak hal. Di antaranya tentang UTS yang sudah mulai di depan mata, sampai tentang Flora dan Lana yang akan pindah tempat tinggal ke apartment yang sama denganku. Mereka rencananya akan menyewa kamar studio, sama seperti kamarku, di tower D dan tinggal berdua di kamar tersebut.

-=-

Aku pikir, masalah Flora dan Nakula akan berhenti sampai di cinta sepihak. Tetapi, masalah ternyata tidak pernah ada habisnya. Flora sudah menjadi bodoh karena cinta, dan ini bukan pertama kalinya. Om Adi, pacar terdahulu Flora yang untungnya sudah berpisah darinya, adalah salah satu contoh kekonyolan Flora karena cinta. Kini, seperti tidak kapok, ia bermain-main dengan perasaannya sendiri.

“Cici, tapi Cici jangan marah dan jangan bocorin ini ke siapa-siapa. Termasuk Lana, Wanda, Danil. Apalagi-”

“Sadewa,” potongku. “Gue tahu.”

Flora membuang napas kecil, menatapku dengan ketakutan.

“Ci, gue cuma bisa cerita ke Cici karena Cici open minded. Sadewa dan Wanda bisa dibilang paling konservatif dan gak bisa membuka diri sama budaya lain. Tapi karena Cici pernah sekolah di Berlin, gue rasa Cici bisa mengerti.”

“Terus?”

Flora menelan ludahnya dan malah menatap pintu balkon kamar apartment milikku. Ia seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat sebelum membuat keputusan untuk bercerita. Padahal, hanya ada aku di sini. Tidak ada orang lain di sini. Tetapi, sepertinya cerita tersebut sangat sulit untuk dibuka.

“Gue sama Nakula udah ngelakuin yang gak bener waktu jalan ke Puncak.”

“Hah?!”

“Gue sama Nakula menginjak garis batas pertemanan kami, Ci. Garis batas yang harusnya gak pernah diinjak.”

Memang, laki-laki bisa menjadi sumber masalah ketika mereka terbawa keinginan dan napsu. Tetapi, perempuan yang ujung-ujungnya harus ketakutan dan merasa bersalah. Laki-laki santai saja, tidak pikir panjang akan akibat dari keputusan yang telah diambil. Sementara perempuan, memegang teguh perasaan dan emosinya, akan terbawa dalam sebuah ketakutan dan penyesalan yang tiada habisnya.

Benar-benar masalah.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s