They Never Know [7/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tujuh

Banyak Pikiran

[Dirke]

 

Sepanjang aku mengenal Jozka, baru kali ini aku melihatnya agak kusut. Biasanya dia sudah stand by di lobi saat jam delapan malam, menungguku untuk makan malam bersama. Tapi kali ini, aku harus menghubunginya dengan telepon dari lobi agar dia turun ke bawah.

“Tumben, ceweknya gak nunggu di bawah,” kata Mbak Wulan yang lagi jaga di sana. “Lagi berantem, ya?” tanyanya sok tahu.

“Hah? Enggak, kok. Mungkin lagi nonton. Kalau nonton, dia suka lupa waktu,” kataku.

Sekitar lima menit kemudian, Jozka muncul dengan kaos biru dan celana pendek warna hitam. Aku sebenarnya ingin protes karena dia selalu memakai warna biru. Pernah, satu kali, aku melihat isi lemari Jozka. Dan aku pikir, dia sudah gila karena dominasi warnanya adalah biru, hitam, putih, dan abu-abu.

“Hei, Ci,” sapaku. “Are you okay?

“Hei, Ko,” wajahnya terlihat tak ada semangat. “Lumayan. Mau makan apa?”

“Makan di Aseng aja mau gak? Gue pengen nasi campurnya.”

“Waduh, lo mau makan Aseng? Kalau gitu gue ganti celana panjang dulu. Dingin,” katanya cepat-cepat sambil mengeluarkan kartu aksesnya.

Aku mengikuti Jozka masuk ke lift lagi dan menemaninya ke kamar studionya. Sambil menutup pintu kamar, aku memerhatikan Jozka yang buru-buru membuka lemari dan mengambil celana panjang warna hitam.

“Lo ganti di sini?” tanyaku kaget. “Di kamar mandi, gih!”

“Bentar, bentar. Elah, lo putar balik, deh. Jangan ngintip. Ribet kalau ganti di kamar mandi. Gue udah cukup ribet akhir-akhir ini.”

Aku berbalik, menghadap pintu selama Jozka mengganti celananya. Setelah satu menit, ia membiarkanku menoleh dan melihatnya kembali.

“Emang kenapa akhir-akhir ini?” tanyaku penasaran.

“Panjang, Ko. Nanti aja ceritanya,” kata Jozka datar. “Pesan taksi online dong, tolong,” katanya sambil memberikan handphone miliknya padaku.

Sama sepertiku, handphone Jozka tidak pernah dilindungi password. Itu adalah alasan kami tidak pernah membuat foto berdua. Kami takut kalau ada orang iseng membuka handphone kami dan menemukan foto kami.

“Udah, ya,” kataku setelah memesan sebuah mobil taksi online dan mengingat nomor kendaraannya. “Turun sekarang, yuk. Tiga menit lagi sampai.”

“Oke.”

-=-

“Jadi, lo ada masalah dengan teman-teman lo yang ngiri sama gue?”

Jozka tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia masih memainkan buku menu sambil menatap tetesan air hujan yang meluncur dari atas tenda tempat makan kami sekarang.

“Bukan itu masalahnya sekarang,” gumamnya pelan tetapi cukup terdengar olehku.

Pesanan kami datang. Dua porsi nasi, satu porsi bebek, satu es teh manis untukku, dan satu teh panas untuk Jozka. Jozka, mengambil alat makan, menaruhnya di piring nasiku seperti biasanya. Dan aku pasti akan mengambilkan alat makan untuknya dan menaruhnya di piring nasinya. Satu lagi kebiasaan Jozka setiap makan denganku, ia akan mengambilkan lauk untukku lebih dulu sebelum mengambil untuknya sendiri.

“Jadi apa?”

“Tentang hubungan di luar batas,” kata Jozka. “Lo tahu geng gue, ‘kan?”

“Geng besar atau geng kecil?”

Geng besar isinya tujuh orang, termasuk Sadewa, Danil, dan laki-laki bernama Nakula dari kelas sebelah. Sementara geng kecil isinya hanya yang perempuan, yaitu Flora, Lana, Wanda, dan tentu saja Jozka.

“Geng besar.”

“Tahu. Siapa yang gak tahu geng kalian? Isinya anak-anak pinter dan aktif di organisasi semua,” jawabku. “Terus, ada apa sama teman-teman lo itu?”

“Ada dua orang yang menginjak batas. Mereka melakukan hal yang gak seharusnya mereka lakukan.”

“Oh,” aku mengunyah sebentar sebelum menjawab. “Apa yang mereka lakuin?”

“Hal-hal yang gak boleh mereka lakuin.”

“Seperti?”

“Pergi berdua, ke sebuah tempat yang jauh, naik mobil, dan,” Jozka mengangkat alisnya selama beberapa detik, “ya begitulah.”

“Oh, kayaknya gue ngerti. Dan kayaknya gue tahu orangnya.”

“Gue gak akan bilang siapa orangnya. Tapi intinya, gue udah gak suka sama cowoknya. Gue kehilangan respek sama dia dan gue rasanya gak mau berteman lagi sama dia. Tapi, saat ini, cuma gue yang tahu masalah ini. Gue gak tahu sama sekali harus bersikap kayak apa.”

Wait, wait, kalau teman lo itu tahu bahwa lo cerita sama gue, lo bakal kena masalah.”

“Gue akan kena masalah kalau lo cepu dan ngomongin hal ini ke orang lain, which is gak mungkin karena elo gak punya teman lain selain gue.”

Aku tertawa, membenarkan ucapan Jozka. Tidak ada orang lain yang rela membuang waktu bersamaku kecuali Jozka. Jadi, kemungkinan untuk rahasia bocor dari mulutku sangat kecil. Atau malah, bisa dibilang, tidak ada kemungkinan sama sekali untukku mengatakan rahasia apa pun pada siapa pun.

“Kenapa Flora cerita masalah ini ke elo?” aku bertanya akhirnya.

“Lo tahu dari mana orangnya Flora?” tanya Jozka balik.

“Pastilah,” anggukku sok tahu. “Siapa lagi? Gak mungkin Lana. Apalagi Wanda. Pasti orang itu Flora sama Nakula. Iya, kan? Apa Nakula maksa Flora?”

“Menurut ceritanya Flora, Nakula minta tolong sama dia. Tadinya cuma minta tolong yang pake tangan doang.”

“Pake tangan?”

“Lo tahulah, yang sering lo lakuin di tempat gak beres itu,” Jozka berujar sambil mengepalkan tangan dan membuat gerak naik turun, seolah mengocok sesuatu.

“Oh, tahu,” aku memahami. “Terus mereka kebablasan?”

“Awalnya gak. Terus, lama-lama cowoknya ketagihan. Emang ngelakuin begituan sama orang yang lo kenal itu jauh lebih nagih ketimbang lo lakuin sama orang yang lo gak kenal.”

“Ketagihan?” aku melongo. “Dasar bego. Harusnya, kalau mau ketagihan, pergi ke tempat yang dulu gue sering datang aja. Ketagihan itu napsu. Dan napsu itu gak pakai perasaan. Sementara Flora, karena dia perempuan, dia pasti pakai perasaan.”

“Itu dia masalahnya, Ko.”

“Perempuan itu gak mungkin gak pake perasaan. Kecuali lo. Gue yakin, kalau si Nakula minta tolong lo, lo bisa lakuin itu tanpa ngerasa sakit hati sama dia karena lo gak baper.”

“Yang gue sesali adalah, kenapa Nakula harus minta tolong sama Flora. Di antara kami berempat, Flora itu yang paling gampang kebawa emosi dan perasaan. Dia labil. Labil banget malah,” cerita Jozka. “Flora itu bisa gampang jatuh cinta dan gampang dicintai. Dia cantik, manis, dan pandai mengambil hati orang lain. Tapi di sisi lain, dia gampang terluka.”

“Ci, sekarang lo paham alasan gue gak pernah mau menginap di tempat lo meski lo udah berkali-kali menawarkan hal itu,” kataku akhirnya. “Laki-laki itu bahaya, Ci. Mungkin logika kita bakal melarang kita buat melakukan seks. Tapi, bisa aja gue kelewatan dan merusak elo.”

Jozka pun diam, memahamiku. Aku pun bisa memahami alasan Jozka, yang setahuku open minded, mati-matian mengutuk tingkah laku Nakula yang menurutnya tidak sopan. Di kesempatan lain, Jozka mengatakan bahwa Flora bodoh, mau-maunya menjadi budak dari napsu orang lain.

-=-

Jam sebelas malam, kami sampai di apartment Jozka. Aku selalu mengutamakan cuci kaki sebelum naik ke kasur. Berbeda dengan Jozka yang langsung mengganti kaosnya dengan tank top hitam dan menukar celana panjangnya dengan hot pants biru. Di setiap kesempatan, ia selalu berusaha memakai warna biru di tubuhnya. Sepertinya itu menjadi obsesinya.

“Ci, pinjem celana pendek, dong,” ujarku sambil mengeringkan kaki. “Celana gue kotor bekas duduk-duduk di tempat makan tadi. Gak enak mau naik kasur lo.”

“Ambil aja di lemari.”

Kubuka lemari Jozka, mengambil satu celana pendek dan satu kaos yang lumayan besar. Tanpa meminta pendapat Jozka, aku membuka kaosku sendiri dan melemparnya ke lantai.

“Ci, kayaknya gue harus makan lebih banyak, deh. Gue kurus banget,” komentarku.

Jozka, yang tadinya sibuk dengan handphone miliknya di kasur, menoleh dan menatapku dengan teliti. Ia memperhatikan tubuhku yang terlalu kurus untuk ukuran laki-laki.

“Elo kayaknya kebanyakan begadang dan tidur lo gak teratur. Menurut gue begitu,” kata Jozka akhirnya. “Mungkin, kalau hidup lo teratur, lo bakal lebih berisi.”

“Menurut lo, badan kayak si Sadewa itu ideal atau enggak?”

“Enggaklah!” Jozka tertawa. “Kekurusan dia! Kakinya kayak tiang, panjang kurus. Kalau ditiban Wanda, bisa bengap dia,” ujarnya dan aku tertawa mendengar jawaban itu.

“Kalau Nakula gimana?”

“Kalau Nakula,” Jozka berpikir sejenak. “Meski gak setinggi Sadewa, menurut gue, ukuran badan Nakula udah ideal. Gak terlalu tinggi, tapi gak terlalu kurus juga.”

“Lo lebih suka tipe badan Nakula atau Sadewa?” tanyaku sambil memakai kaos hijau yang sangat besar milik Jozka. “Astaga, kaos lo ini besar banget, Ci. Bisa muat di gue!”

“Gue gak perlu pakai celana kalau pake kaos itu,” jawab Jozka. “Oh, terus, kalau dibandingin, gue lebih suka tipe badan Nakula, sih. Soalnnya Sadewa kurus banget.”

“Wow, gue jadi pengen lihat kalau elo gak pake celana.”

Please, gue tidak meladeni lelucon bokep,” Jozka memutar matanya. “Dan perhatian, kalau mau ganti celana, tolong ganti di kamar mandi. Bisa trauma gue kalau liat barang lo.”

Sambil tertawa, aku berlalu dan masuk ke kamar mandi. Setelah melepaskan semua celanaku, aku menggantinya dengan celana pendek milik Jozka yang kuambil di lemari.

“Eh, Ci, baju kotor lo udah di laundry? Kalau belum, gue titip, ya?”

“Boleh,” angguknya. “Taruh aja di ember baju kotor.”

Kutaruh baju kotorku di wadah milih Jozka bersamaan dengan setumpuk baju kotor miliknya yang lain. Setelah itu, aku gabung dengan Jozka di atas kasur.

“Ci, dari tadi sibuk amat kayaknya. Chat sama siapa, sih?”

“Flora. Pusing gue. Dia yang salah langkah, gue yang pusing.”

Kutepuk pelan kepala Jozka beberapa kali sampai akhirnya ia menoleh padaku. Dengan mata separuh mengantuk, ia bersandar di bahuku.

“Udahlah, ngapain dipusingin, sih?”

“Pusing soalnya si Flora chat gue, curhat panjang tentang relationship sama Nakula. Nakula datang ke Flora kalau ada butuhnya. Sekarang, Nakula dekat sama Rania, anak cewek paling seksi di kelas mereka. Gue beneran gak tahu cara menghadapi Nakula lagi setelah ini.”

Jozka berpindah posisi, kali ini tiduran di kasurnya. Aku ikut berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar Jozka yang agak silau karena lampu.

“Silau,” gumamku.

Jozka turun dari kasur dan mematikan lampu. Ia menyalakan lampu balkon, menjadikannya satu-satunya sumber cahaya di ruang kamar ini. Kembali, ia tiduran di sampingku dan menatap langit-langit kamar yang kini gelap.

“Menurut gue, lo bilang sama Flora untuk berhenti ngeladenin Nakula. Flora sebenarnya gak salah. Dia cuma mengikuti perasaan dia doang. Tapi, Nakula juga gak bisa disalahin.”

“Iya, karena Nakula itu laki-laki. Laki-laki gak pernah salah.”

“Lo memang selalu mempunyai pandangan yang beda dari orang lain. Seingat gue, yang gak pernah salah itu perempuan. Tapi, lo malah mempunyai pendapat yang berbeda.”

“Buktinya udah banyak,” sahut Jozka. “Coba lo lihat kasus kekerasan terhadap istri. Orang-orang membenarkannya karena menurut mereka, istri memang harus menuruti kata-kata suaminya. Lalu, kalau ada kasus pemerkosaan wanita, pasti yang disalahkan adalah wanitanya. Mereka bilang, wanita gak boleh memakai pakaian terlalu terbuka. Itu bodoh! Laki-laki tidak boleh memerkosa wanita. Itu yang benar!”

Aku tahu Jozka memang pintar dan berpengetahuan luas. Tetapi, aku tak menyangka bahwa kepeduliannya terhadap wanita sangatlah luar biasa. Jozka adalah satu-satunya perempuan modern yang kukenal, yang berani menentang anggapan-anggapan kuno tentang jenis kelamin mereka. Sisanya, perempuan-perempuan modern hanya tahu menghabiskan uang dengan belanja dan make up tanpa mengetahui alasan mereka melakukan itu.

“Sekarang gue ngerti kenapa Wanda selalu menjadikan elo sebagai role model. Kalau gue perempuan, gue akan melakukan hal yang sama dengan dia.”

“Gue pernah bilang ke nyokap gue kalau gue mungkin tidak akan menikah. Atau kalau pun gue akan menikah, mungkin di usia tiga puluh tahun gue akan melakukannya. Dia, karena dia orang Ceko, dia gak masalah dengan pemikiran gue itu. Yang merasa itu bodoh adalah tante gue, adik dari bokap gue. Dia orang Indonesia yang pemikiriannya masih kuno banget.”

“Tante lo bilang apa?”

“Dia bilang, kalau perempuan terlalu independent dan mandiri kayak gue, biasanya cowok bakal takut dan gak mau sama gue. Gue pun membuat kesimpulan bahwa cowok-cowok jaman sekarang payah banget. Ngeliat cewek mandiri dan hebat bisa takut begitu mudah.”

“Lo emang pinter banget, ya?” aku berdecak tak percaya. “Yang lo bilang barusan itu benar banget. Dan menurut gue, gak ada salahnya menjadi wanita yang mandiri dan kuat kayak elo. Itu malah bikin gue suka.”

“Hah? Lo suka gue?!” Jozka berseru heboh.

“Anjir, bukan begitu,” aku menjawab tak kalah heboh, membuatnya tertawa.

“Gue bercanda, Ko. Gue ngerti maksud lo.”

“Perempuan-perempuan kayak elo itu susah ditaklukin. Rasanya menantang banget buat mengalahkan elo, baik itu dalam bidang nilai kuliah atau bidang dominan di ranjang. Gue selalu punya fantasi tersendiri tentang hal itu.”

“Otak lo itu emang gak pernah jauh-jauh dari fantasi yang kotor-kotor.”

“Laki-laki cenderung mengikuti napsu. Perempuan cenderung mengikuti perasaan. Nakula itu cuma mengikuti napsunya aja. Dan sama halnya dengan Flora, dia hanya mengikuti perasaannya. Lo paham, Ci?”

“Lebih dari siapa pun, gue paham itu. Dengar, Ko,” katanya sambil menepuk bahuku sekali. “Seandainya di antara kita sekarang ada yang mengikuti napsu, pasti kita udah sama-sama telanjang dan saling tindih satu sama lain. Kita pasti udah lakuin itu. Tapi karena kita ikutin logika kita, kita gak pernah menuju ke arah sana.”

Jozka sangat betul. Satu-satunya yang membatasi kami saat ini adalah logika. Kalau aku tidak memakai logika, dalam keadaan gelap, di atas kasur, dan bersama seorang perempuan berpakaian minim, aku pasti sudah mengajak Jozka melakukan hal yang salah.

“Ci,” kataku akhirnya. “Gue tahu bahwa lo sangat open minded. Jadi gue pengen bahas tentang hal ini sama lo. Jangan pernah tidur sama orang yang lo gak kenal. Jangan pernah ngorbanin apa-apa demi orang yang lo cinta. Terutama kalau orang itu gak cinta balik ke elo.”

Harusnya, Jozka tahu hal itu sebelum gue mengatakannya. Dia pernah mengorbankan banyak hal demi Alvin. Tetapi Alvin menghempaskannya setelah mendapatkan popularitas dan nama baik di sekolah mereka dulu.

“Gue tahu, Ko. Lo jangan khawatir karena gue tahu itu lebih dari siapa pun.”

“Oke. Bagus kalau memang begitu.”

Dan aku tidak ingin melanjutkan perkataan atau pembicaraan tentang ini. Aku kasihan pada Jozka yang menurutku sudah terlalu banyak pikiran dan pusing memikirkan teman-temannya. Semua masalah, semua kesulitan, dan semua penderitaannya adalah beban terberatnya sekarang. Aku tidak ingin menambah itu lagi sekarang.

Sungguh banyak pikiran.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s