They Never Know [8/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Delapan

Cepat Berjalan

[Jozka]

Sejak cerita Flora waktu itu, aku kehilangan rasa hormatku pada Nakula. Hanya aku yang tahu hal ini. Anak-anak lain tidak tahu. Bahkan, Sadewa yang seharusnya cukup dekat dengan Nakula dan Flora pun tidak mengetahui hal ini. Aku ingin menjauh dari semua orang, terutama tentu saja Nakula.

“Jozka, abis ini lo ke mana?”

Aku ingin berteriak pada Nakula agar dia jauh-jauh dariku dan tidak perlu peduli tempat yang akan kukunjungi setelah ini. Tapi, entah kenapa, aku tidak sanggup melakukannya. Hanya aku yang tahu perbuatannya di sini. Hanya aku, dan hanya aku. Seandainya mereka semua tahu, tidak mungkin mereka masih berada di sekitar Nakula sekarang.

“Abis ini gue mau pulang.”

Memang, kuliah sudah selesai jam dua siang dan kebetulan kelas Flora pun sudah bubar sejak dua jam lalu. Kami kumpul di kantin, merencanakan keberangkatan ke basecamp kami yang tak lain dan tak bukan adalah kosan Sadewa. Tetapi, aku seperti belum bisa menerima Nakula kembali setelah cerita yang kudengar dari Flora. Ada rasa malas untuk menghirup oksigen dan berbagi ruang serta waktu bersama Nakula.

“Elah,” Nakula berdecak. “Paling lo mau jalan sama cowok baru lo itu. Ya, ‘kan?” ia mencari pembelaan dari Flora, Lana, Wanda, dan Sadewa.

“Emang napa?” aku tiba-tiba sengit. “Elo diam saja pas Danil lebih milih menghabiskan waktu dengan ceweknya. Kenapa elo ribut sendiri pas gue mau pergi sama teman gue?”

“Santai, Joz,” kata Nakula kaget. “Gue cuma bercanda.”

Aku tahu, bukan hanya Nakula yang terkejut dengan sikapku barusan. Sadewa bahkan mengangkat alisnya, menatapku tidak percaya. Lana dan Wanda pun sama, melihat perubahan sikapku sebagai pertanda aneh. Hanya Flora yang tidak bereaksi akan sikapku barusan.

“Lo kenapa, Ci?” Sadewa menatapku bingung. “Lo aneh.”

Sorry,” aku meringis pelan. “Sumpah, sorry, gue gak sengaja. Tadi gue lagi mikirin hal lain yang bikin gue sinting gak jelas.”

“Cici beneran mau pergi sama Dirke?” Lana bertanya.

“Iya,” dan kusadari, untuk pertama kalinya aku berani mengatakan pada mereka bahwa aku akan pergi dengan Dirke, musuh berbuyutan mereka.

“Oh, ya udah, Ci. Ngumpulnya lain kali aja. Tapi lain kali Cici harus ikut, ya,” kata Wanda sambil tersenyum manis padaku.

“Iya, lain kali,” balasku semampunya. “Sorry soal yang tadi. Gue pulang duluan.”

-=-

“Tumben elo gak ngumpul di kosan Sadewa,” kata Dirke begitu mendapatiku duduk di lobi tower tempat tinggalnya. “Perang dinginnya masih lanjut?”

“Siapa yang perang dingin?” aku berujar cepat. “Biasa aja. Gue gak punya alasan untuk marah sama siapa-siapa. Tapi gue emang agak bingung untuk menghadapi anak-anak saat ini.”

“Main di atas aja, yuk,” katanya sambil menunjuk langit-langit lobi.

“Ya udah. Gue juga ga jelas mau ngapain. Besok Sabtu dan kita libur.”

Aku mengangguk, mengikuti Dirke melewati meja Mbak Jana sambil tersenyum sopan pada penjaga lobi itu. Setelah proses melewati lift dan menanti Dirke membuka pintu, aku langsung melompat ke kasurnya dan lupa mencuci kakiku.

“Ci! Cuci kaki dulu! Dasar jorok!” Dirke berteriak keras.

My God, gue lupa!”

“Turun buruan!”

Tergopoh-gopoh, aku turun dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi. Kucuci kakiku bersih-bersih agar tuan rumah tidak protes lagi.

“Tuh, udah,” kataku cepat.

“Sini, naik,” tepuknya beberapa kali pada kasurnya sendiri.

Dirke tiduran di kasur, membiarkanku memeluk perutnya saat tiduran di sampingnya. Ia memainkan rambutku dengan lembut, sesekali iseng memainkan telingaku dengan jemarinya.

“Gue gak nyangka kita akan sedekat ini dalam waktu beberapa minggu,” kataku tanpa sadar. “Kalau enggak salah, kita baru dekat sejak bulan kedua semester dua. Sekarang ini kita baru masuk bulan keempat. Entah lo sadar atau gak, progress hubungan kita itu cepet banget.”

Mengangguk, Dirke memindahkan jemarinya ke daguku. Ia meraba lembut area di bawah mulutku itu dan menyentuh bibirku dengan jempolnya. Hatiku sedikit berdebar, merasa bahwa ini adalah pertama kalinya ada laki-laki yang melakukan ini padaku.

“Gue pegang bibir lo, ya,” katanya singkat, meminta ijin dariku dengan cara yang tidak tepat sama sekali. “Soalnya bibir lo kelihatan soft banget. Kayak kapas.”

“Gue pernah dengar kalau bibir gue mirip permen kapas.”

“Iya,” angguknya. “Dan gue jadi pengen nyicip.”

Sementara ia menyentuh bibirku dengan jemarinya, pikiranku melayang ke waktu-waktu awal kedekatan kami di semester dua. Aku, yang bergaul dengan semua anak di kelas dan selalu membuka diri, merasa bahwa Dirke mempunyai maksud tersendiri untuk mendekatiku. Di salah satu mata kuliah, ketika dosen belum datang, kebetulan Dirke sudah datang dan bertanya padaku apakah kursi di sampingku kosong. Kursi yang biasanya kupakai sebagai tempat menaruh tasku terpaksa kurelakan dipakai Dirke. Itu adalah interaksi pertamaku dengan Dirke di kelas.

“Kenapa waktu itu lo pengen tahu tentang gue?” tanyaku tiba-tiba, membuat Dirke menatapku tak mengerti. “Maksud gue, saat kita pertama kali ngobrol di kelas, lo bilang bahwa lo pengen dengar cerita pengalaman gue di Jerman. Kenapa lo pengen tahu tentang itu?”

“Gue pernah bilang kalau gue pengen banget tinggal di sana. Makanya, pas gue tahu dari Sadewa dan teman-teman lo yang lain bahwa lo pernah tinggal di Jerman, gue langsung deketin elo dan pengen dengar cerita langsung dari elo.”

“Gak ada maksud lain?”

“Kayak?”

“Nyari korban, maybe?”

Dirke terkekeh, lalu menepuk kepalaku dengan bercanda.

“Ada maksud lain, sih. Tapi bukan maksud buruk,” akunya akhirnya. “Gue, waktu lihat lo pertama kali, lo kayak sosok perempuan yang ambisius dan gak terjamah. Cara lo berbicara, cara lo memberikan argumen, cara lo memerhatikan dosen, sampai cara lo berjalan pun terasa beda di mata gue. Tapi, yang penting, gue merasa lo adalah orang baik. Gue mikir, kalau gue bisa berteman dengan lo, mungkin gue bisa lebih baik dalam hidup gue. Masa lalu gue jelek dan gue salah pergaulan. Gue pengen gantiin itu dengan berteman sama orang kayak lo.”

“Jadi, intinya, lo pengen mengubah masa depan lo?”

“Iya, bisa dibilang gitu. Tadinya gue takut mau deketin lo karena kata anak-anak sekitar gue, lo dan Sadewa itu punya hubungan spesial.”

“Hubungan spesial? Musuh abadi kali maksudnya.”

“Serius,” jawab Dirke. “Meski kalian bilang kalau kalian hanya teman, gue sempat percaya kalau hubungan kalian lebih dari itu. Gue pernah lihat kalian berdua pulang bareng dan benar-benar cuma berdua. Gue juga lihat kalian sering duduk sebelahan, ngobrol banyak hal, sampai makan bakso bagi dua. Terus, lo suapin dia makan waktu itu.”

“Astaga, lo nge-stalk gue, ya?”

“Enggak,” dia menggeleng. “Gue gak sengaja lihat. Intinya, gue ngira kalau gue udah gak bakal bisa deketin lo lagi karena Sadewa pasti menghalangi lo buat main sama gue.”

“Lo mungkin belum tahu ini, tapi dia punya banyak kesamaan sama adik gue. Sadewa sendiri punya banyak kakak perempuan. Dan dia menemukan salah satu sosok kakak perempuannya dalam diri gue.”

Kulihat, Dirke menghela napas sejenak. Mungkin ia memang baru pertama kali mendengar alasan tersebut dan mencoba mencernanya dengan baik-baik. Dia pun mengangguk kecil, merasa paham dengan kata-kataku barusan. Tetapi, cara ia memandang hubunganku dengan Sadewa membuatku cukup berpikir. Jika Dirke bisa mengira aku dan Sadewa punya hubungan khusus, bukan tidak mungkin orang-orang lain berpikir sama.

“Tapi lo benar-benar gak naksir Sadewa, kan?” tanya Dirke lagi, membuatku berdecak tanpa sadar. “Benar-benar gak naksir dia, kan?”

“Serius?” tanyaku balik. “Elo nanya itu sampai dua kali? Kenapa orang selalu mengira bahwa gue yang punya perasaan ke Sadewa? Kenapa orang gak mengira bahwa bisa jadi Sadewa yang suka sama gue?”

“Maksudnya?”

“Maksud gue, gue gak suka kalau gue disebut dekat dengan seorang cowok karena gue suka atau naksir sama cowok itu. Sama seperti yang terjadi pada kita. Banyak orang membuat kabar gak benar, yakni gue suka sama elo. Kenapa gak dibalik? Kenapa mereka gak mengira lo suka sama gue? Apa menurut mereka gue pantas suka sama elo?”

“Logikanya, sih, enggak.”

See?” balasku cepat. “Gue pun berpikir gitu. Gue perempuan yang punya harga diri tinggi. Gue gak suka disebut naksir laki-laki yang gak gue taksir. Misalnya Sadewa dan elo.”

“Sabar, ya. Berteman sama gue memang gak gampang,” Dirke mengacak rambutku.

“Sebaliknya, berteman dengan gue pun gak gampang. Jadi, gue bisa maklum kalau lo lelah dengan sifat menyebalkan gue dan pengen kabur dari gue. Suatu saat, lo bakal lakuin itu.”

“Mungkin lo belum pernah mendapatkan teman yang sejati, yang bisa terima lo apa adanya dan bukan hanya mengambil keuntungan dari lo.”

“Gue kadang khawatir. Hubungan yang terjalin cepat kayak kita akan cepat berakhir juga,” kataku akhirnya.

“Kenapa lo mikir gitu?”

“Karena, ketika lo gak butuh gue lagi, dan gue mungkin juga sama, kita akan berpisah. Kita akan jadi strangers yang gak saling kenal satu sama lain lagi. Di kelas bakal cuma saling diam dan gak even saling mengangguk kalau ketemu mata.”

Ada satu mata kuliah yang disebut Teori Komunikasi. Di mata kuliah itu, ada satu teori yang mengatakan bahwa hubungan perkembangan hubungan dimulai dari komunikasi yang sifanya general sampai komunikasi yang intim. Ibarat mengupas bawang, mengenali seseorang lebih dalam harus dilakukan dari tiap lapisan ke lapisan. Lapisan yang paling luar adalah biotada diri seseorang seperti nama, umur, tempat tinggal, dan hal-hal lainnya yang biasa tertulis di KTP. Sementara lapisan paling dalam adalah konsep diri orang itu.

Dirke dan aku terlalu cepat mengupas kulit bawang tersebut. Dalam waktu beberapa minggu, kami sudah mengetahui segalanya satu dengan lain. Progress ini terlalu cepat jika melihat waktu kedekatan kami. Aku jadi takut bahwa sesuatu yang dimulai dengan cepat akan cepat berlalu juga.

Seperti waktu.

-=-

Bersamaan dengan perjalanan hubunganku bersama Dirke, waktu berlalu tanpa bisa kuhentikan. UTS di depan mata, membuatku mulai tak peduli dengan hal-hal lain selain mempersiapkan diri dengan baik. Meski aku malas belajar, UTS tetap saja menjadi momen penting yang membuatku harus tetap membuka buku.

“Aduh, malas banget, nih,” keluhku sambil membalik kertas HVS putih di hadapanku. “Gue males banget bikin summary begini. Cuma, kalau gue gak bikin, nanti gue gak belajar.”

“Ci, itu printer lo itu bisa buat fotokopi, ‘kan?” Dirke menunjuk printer di atas meja belajarku.” Fotokopiin summary lo, dong. Terus, abis itu, ajarin gue.”

Dirke juga pusing sendiri, berusaha mencerna tulisan-tulisan slide yang terpapar di layal laptopnya. Ia hanya berusaha mempelajari slide presentasi yang diberikan dosen. Sementara aku masih sedikit lebih bermodal, membuat summary sendiri.

“Ya udah, nanti gue ajari elo.”

By the way, Ci, itu galon air minum lo udah kosong. Lo gak mau beli?” tanyanya lagi.

Aku, yang akhir-akhir ini sibuk membuat summary untuk UTS, tidak ingat kapan terakhir kali membeli galon air minum. Benar kata Dirke, benda itu sekarang sudah kosong tanpa setetes air pun di dalamnya.

“Gue lupa beli,” kataku sambil buru-buru turun dari kursi dan mengambil troli galon yang kutaruh di bawah kasur. “Gue beli dulu, ya. Lo tunggu di sini. Jangan tinggalin kamar.”

“Elah, gue ikut aja, Ci,” Dirke melompat turun dari kasurku dan memakai sandal jepit merah milikku. “Sendal lo kecil banget.”

“Pakai yang biru, please. Biasa lo pakai yang biru, kan?” kataku sambil memutar mata.

Ia terkekeh, mengganti sandal merahku dengan sandal biru cadangan kalau-kalau terjadi kerusakan tak terduga pada sandal merah itu. Dirke memindahkan galon kosong ke atas troli galon dan menariknya keluar dari kamar. Di ruko bawah Apartment Reinhard, ada minimarket tempat kami selalu membeli segala sesuatu kebutuhan kami.

“Mas, air galonan ada?” tanya Dirke pada mas-mas yang menjaga kasir.

“Ada, Pak. Bentar, ya,” kata mas-mas itu sambil menekan tombol di layar kasir sejenak. “Lima belas ribu,” katanya lagi, kini padaku.

Setelah menukar galon kosong dan menaruh galon yang baru di troli, Dirke dan aku pun keluar dari minimarket. Entah sedang ada takdir dan nasib yang tak sesuai atau apa, ada dua orang yang mengenali kami di depan minimarket itu.

“Dirke?!” kata Eleanor kaget, lalu bertukar pandang dengan Fahru.

“Eh, kalian,” Dirke terkekeh.

Eleanor dan Fahru menatap aku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Begitu pula Dirke, ia juga ditatap habis-habisan oleh dua teman sekelas kami itu. Mungkin kami terlihat terlalu mencurigakan dengan kaos rumah dan celana pendek, ditambah sandal jepit dan galon air minum di troli yang ditarik Dirke.

“Kalian tinggal bareng?” Fahru bertanya pada kami.

“Ya enggaklah!” Dirke dan aku berteriak spontan.

“Oh, kirain. Soalnya Jozka biasa tinggal di Jerman dulu. Bisa aja kalian tinggal berdua, ‘kan?” Eleanor menambahkan.

“Itu enggak mungkin,” aku terkekeh canggung.

“Pantesan gue pernah ketemu kalian berdua datang bareng pas kuliah siang. Ternyata kalian tinggal bareng,” tambah Fahru.

“Emang pernah?” Eleanor membalas.

“Pernah dulu,” ujar Fahru.

Aku mengingat-ingat hari itu, hari pertama kalinya Dirke dan aku janjian ke kampus bersama karena aku harus membawa gitar. Karena malas, aku meminta tolong Dirke untuk membawakan gitarku. Di lift kampus, kami berdua bertemu Fahru yang langsung bertanya kenapa kami bisa datang bersama. Dengan segala alasan konyol, kami berkata bahwa kami bertemu tanpa sengaja di depan apartment dan memutuskan ke kampus bersama.

“Itu cerita lama, deh,” kata Dirke cepat-cepat. “Sorry, nih, tapi galonnya mau dibawa ke atas dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya,” imbuhnya.

“Oh, iya, iya. Sorry, ya, jadi ganggu kalian berdua,” kata Eleanor buru-buru.

Dirke dan aku pamit, langsung ke lobi dan melangkah ke lift. Di lift, saat pintu lift menutup, kami berdua saling pandang satu sama lain. Tanpa ada kata-kata meluncur keluar, kekehan pelan meluncur di mulut kami. Mungkin kami sama-sama menganggap konyol segala kebetulan yang terjadi hari ini.

“Semoga mereka gak cepu,” ujar Dirke sambil tertawa.

Ya. Semoga.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s