They Never Know [9/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sembilan

Menuju Akhir

[Dirke]

 

Jozka benar.

Sebuah hubungan yang terlalu cepat terjalin tanpa melalui proses panjang biasanya akan cepat berakhir juga. Selama UTS, kami jarang menghabiskan waktu bersama dan bisa jadi itu karena banyak hal. Aku merasa Jozka seperti berusaha menenggelamkanku ke dalam materi kuliah. Aku tahu bahwa ia berbuat demikian karena ingin nilaiku bagus. Tapi di sisi lain, seperti ada rasa tidak puas dari dirinya padaku.

“Gue udah jarang liat elo bareng Cici Jozka,” kata Sadewa suatu ketika.

Hari itu adalah minggu-minggu awal setelah UTS selesai. Mata kuliah Senin pagi langsung menghantam rasa kantukku karena aku tidak terlambat hari itu. Aku muncul jauh sebelum dosen mata kuliah tersebut muncul. Samping kiri dan kanan Jozka sudah diisi oleh Danil dan Lana. Aku pun duduk di belakangnya, di samping Sadewa.

“Bukannya itu bagus?” aku tertawa kecil. “Toh, kalian agak gimana gitu kalau gue bareng sama dia terus.”

Sudut mataku melirik Jozka yang masih asyik bercanda dengan Danil. Entah ia yang menjauhiku atau aku yang memang menjaga jarak dengannya, kami tidak lagi bertukar salam sapaan seperti dulu. Aku kadang bingung dengan isi pikiran Jozka. Meski ia terlihat seperti perempuan yang cuek dan tidak peduli tentang hal lain, bisa jadi ia tidak secuek itu.

“Perempuan memang jenis manusia yang gak gampang dipahami,” kata Sadewa tiba-tiba, seperti baru saja membaca pikiranku. “Di mulut bilang A, padahal dalam hati B.”

“Tapi Ci Jozka bukan cewek kayak gitu.”

“Kata siapa?” Sadewa tertawa kecil. “Apa lo mengenal dia dengan baik? Seingat gue, lo baru beberapa minggu dekat dengannya. Tapi sekarang, kayaknya udah gak ada kesempatan lagi untuk meluaskan pertemanan kalian.”

“Soalnya ada elo,” kataku akhirnya. “Atau, bisa jadi karena gue sudah hidup dengan lebih baik. Jadi kami udah gak saling membutuhkan lagi.”

“Bisa jadi,” angguk Sadewa sambil tertawa pelan. “Kalau lo belum hidup baik, gak mungkin gue mau ngobrol sama lo sekarang.”

Haruskah aku mengakui kehebatan Jozka sekarang? Dia bukan hanya mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik, tapi juga berhasil mencarikanku teman baru. Benar kata Jozka, menjadi orang yang selalu datang pagi dan mengerjakan tugas dengan baik akan membuat orang lain lebih menghargaiku.

“Jadi, Cici lo itu emang punya kemampuan mengubah orang, ya?” ujarku bercanda.

“Percaya atau enggak, Ci Jozka agaknya punya kemampuan supernatural buat mengubah orang lain. Mungkin karena dia gak suka kalau sesuatu bergerak gak sesuai aturannya.”

Jawaban Sadewa membuatku berpikir lagi. Aku menemukan sikap dan sifat itu di diri Jozka, sikap yang menunjukkan rasa tidak suka Jozka pada sesatu di luar kendalinya.

“Ngomongin gue, ya?” Jozka menoleh, melirik Sadewa.

Jozka tidak melirikku sama sekali. Ia seperti tidak melihatku, dan mungkin pura-pura tidak menyadari aku ada di sana.

“Nggak, kok,” Sadewa menepuk bahu Jozka sekali sebelum meremasnya pelan.

Jozka berbalik, dan Sadewa kembali mengobrol denganku.

“Emangnya gue beda banget, ya?” tanyaku lagi.

“Beda banget, sih, enggak. Cuma agak beda. Lo udah gak pernah telat lagi. Terus, lo bikin semua tugas lo dan ngumpulin tepat waktu. Kemarin, ada anak-anak cewek ngomongin elo. Kata mereka, mereka senang pas lihat perubahan elo yang drastis itu.”

“Oh ya?”

“Iya,” angguk Sadewa. “Intinya, mereka bilang, lo memang lebih baik berteman sama anak kayak Ci Jozka karena itu membawa pengaruh baik,” Sadewa menambahkan. “Di saat bersamaan, gue kaget karena kayaknya orang banyak yang menyadari pertemanan kalian. Padahal, kalian udah menyembunyikannya setengah mati.”

At least, kalau disembunyikan begini, orang-orang gak akan terlalu kepo.”

Sadewa mengatakan bahwa Jozka dan aku menyembunyikan pertemanan kami tanpa mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di balik pertemanan itu. Setahuku, Sadewa adalah orang yang konservatif, terutama tentang hubungan-hubungan yang melanggar batas norma dan kesopanan. Ia bisa marah kalau mengetahui hal-hal terlarang yang kecil-kecilan dilakukan Jozka dan aku. Di balik sikap menyebalkannya pada Jozka, Sadewa melindungi Jozka dengan baik.

“Faktanya, lo dan Cici itu gak mungkin gak bikin kepo orang lain. Dua orang strangers yang saling gak kenal tiba-tiba rajin ngobrol dan duduk bareng di kelas,” ujar Sadewa kemudian. “Meski awalnya kalian pura-pura saling gak kenal, pasti akan ada masa di mana kalian pengen mengumumkan kedekatan kalian itu.”

“Mungkin itu perkiraan lo aja.”

“Mungkin,” Sadewa mengangkat bahunya santai. “Tapi, setahu gue, Wanda adalah orang pertama yang menjuruskan kalian ke dalam hubungan ini.”

“Wanda? Kok bisa?”

“Iya bisa dong. Cici itu paling dengerin Wanda dibandingkan teman lainnya.”

“Gak ngerti,” kubalas singkat.

“Intinya, Wanda yang pertama kali membujuk Ci Joz supaya mau berteman sama lo dan mengubah lo jadi lebih baik. Lo mungkin gak tahu ini. Tapi, dari semua teman-teman Ci Joz, cuma Wanda yang gak terlalu banyak komentar tentang hubungan kalian. Setelah kuliah, kalau lo ada waktu, kita bisa ngobrol versi lengkapnya.”

-=-

Seperti tidak ada bedanya dengan Jozka, Sadewa hanya mengajak Danil saat berjumpa denganku. Ia tidak membawa Jozka, orang yang biasanya paling dekat denganku. Kami duduk bertiga di lobi tower A, berencana hanya berbincang-bincang sebentar.

“Cici udah gak pernah kontak elo lagi, ya?” tanya Danil tiba-tiba. “Kalian juga udah jarang bareng di kelas. Setelah UTS ini kelihatannya kalian menjauh.”

Memang, ada momen saat UTS berlangsung. Jozka, seperti biasa bawel mengingatkanku untuk belajar dan tidur jangan terlalu malam, serta mengingatkanku untuk terus memeriksa jadwal UTS dengan hati-hati, membuatku lelah. Aku tidak bisa terus didikte olehnya, dan aku menemukan titik jenuh itu. Aku mengatakan padanya bahwa aku bisa menjalani UTS sendiri dan kuminta, ia tidak perlu khawatir. Sejak itu, ia tidak menghubungiku lagi.

“Mungkin gue dan dia sama-sama udah gak saling membutuhkan lagi satu sama lain,” jawabanku membuat mata Sadewa menajam.

“Maksud lo?” Sadewa menuntut penjelasan.

“Maksud gue, mungkin dia menemukan teman yang lebih berfaedah dari gue dan dia pikir gue gak ada manfaatnya buat dia. Jadi, dia tinggalkan gue untuk baiknya kami berdua.”

“Gak mungkin,” Danil menyangkal. “Dia bukan orang kayak gitu. Cici gak bakal ninggalin seseorang sampai orang itu yang meninggalkan dia duluan.”

“Atau mungkin dia lagi banyak pikiran,” kuberi alternatif lain. “Dia, bisa jadi, banyak masalah sama tiga teman ceweknya yang hobi nyanyi itu. Gue rasa kalian tahu Clover. Dan akhir-akhir ini, menjelang penampilan mereka, Clover sering berantem.”

“Itu lebih gak mungkin lagi,” Sadewa menolak informasi yang kuberikan, seolah ia mengenal Clover lebih baik dariku.

“Terserah, sih, lo mau percaya atau gak. Tapi, kalau Clover ada masalah, mereka gak bakal ngomong ke kalian. Mereka gak pengen kalian ikut campur. Kalau kalian belum sadar, gue bakal kasih tahu hal penting. Pertemanan kalian bertujuh itu gak sesehat itu. Banyak masalah di dalamnya, tapi gak ada yang mau jujur.”

Kata-kataku barusan berhasil membuat Sadewa dan Danil melongo, mungkin tidak percaya bahwa aku bisa setahu itu, lebih dari mereka mengetahui pertemanan mereka sendiri.

“Siapa bermasalah?” tanya Sadewa, mungkin penasaran.

“Ya pertemanan kalian,” kataku kesal akhirnya. “Kalian, dalam artian Jozka, Flora, Lana, Wanda, Nakula, dan kalian berdua. Gue gak percaya kalau kalian gak tahu hal itu. Pertemanan kalian itu sedang menuju akhir. Berapa banyak waktu yang Jozka dan lainnya habiskan sama kalian? Gue yakin, dibanding masa semester satu dulu, gak ada seberapanya.”

“Salah satu alasannya adalah elo. Ci Jozka terlalu banyak habisin waktu sama lo,” Sadewa menjawab lagi, membuatku ingin membuka semua rahasia mereka satu demi satu.

“Apa lo yakin?” tanyaku balik. “Apa lo ingat bahwa dulu lo pernah bilang ke Jozka bahwa lo pengen melepaskan diri dari geng kalian karena lo merasa dihalang-halangi buat berteman sama anak-anak lain di luar geng?” tanyaku pada Sadewa. “Atau lo, apakah lo ingat sama teman-teman sejak semester satu lo kalau lo lagi sama cewek lo?” tanyaku pada Danil.

Sadewa tampak cukup kaget. Aku yakin, ia tidak pernah mengisahkan hal itu pada orang lain selain Jozka.

“Gue gak nyangka kalau dia sebawel itu sampe ngadu ke elo,” ujar Sadewa. “Walau lo dekat sama dia, lo itu orang luar.”

“Bukan ngadu. Tapi coba lo pikir lagi. Jozka bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas pertemanan kalian. Kalau dia cerita tentang lo ke anak lain, pertemanan kalian bisa rusak beneran,” aku menjawab balik. “Lo jauh lebih beruntung dari gue. Jozka sayang sama lo dan gue iri sama kalian karena kalian bisa berteman tanpa sembunyi-sembunyi. Jozka bangga punya teman kayak lo. Gak kayak gue yang bikin malu, lo selalu hebat dan keren di kelas.”

Aku bisa melihat Danil tampak tak percaya dengan perasaan Sadewa yang pernah sedangkal itu. Jozka selalu jujur padaku dan ia memang tidak pernah menceritakan masalahnya pada orang lain selain aku. Semua cerita-cerita Jozka membuatku mempunyai pandangan yang berbeda tentang dunia ini. Jozka membuatku berhenti menempatkan diriku sebagai korban dan mulai menerima kenyataan yang terjadi di dunia ini.

Sorry kalau gue tadi ngomong gak enak, Dir. Terutama, tentang Ci Joz,” kata Sadewa. “Gue gak bermaksud kayak gitu.”

“Gue tahu,” balasku. “Sekadar informasi, gue senang karena kalian membagi Ci Jozka untuk gue. Kalau gak ada dia, gue akan selamanya jadi cowok buruk yang berguna. Sekarang gue udah jauh lebih baik karena dia.”

Aku ingat, dulu ketika aku bertengkar dengan ibuku, aku mengirimkan chat berisi umpatan. Jozka marah besar saat itu, menyuruhku mengirimkan chat permintaan maaf dengan segera. Ia bilang, tidak ada gunanya aku mengikuti emosiku dan menyalurkan amarahku dengan tergesa-gesa. Jozka menambahkan bahwa permintaan maaf tidak selalu menyelesaikan masalah. Itu sama saja seperti aku membuat luka di tubuh orang lain dan memberikan obatnya. Sembuh mungkin, tapi bekasnya masih ada.

“Kami senang buat lo,” jawab Danil. “Dan jujur, gue sedih ketika lihat kalian gak bareng lagi. Ada yang kurang rasanya.”

Tertawa kecil, aku menghela napas sesudahnya dan menatap langit-langit lobi. Biasanya, di jam-jam sore menjelang malam begini, ada hal-hal absurd yang kulakukan bersama Jozka. Tetapi sekarang, kami tidak melakukannya lagi.

Itu aneh. Itu bisa jadi rindu.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s