They Never Know [10/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sepuluh

Rahasia Lainnya

[Jozka]

Dirke dan aku akhirnya menjauh tanpa kata-kata dan ucapan perpisahan. Semua rahasia yang kubagi bersamanya menjadi investasi dan asuransi di saat bersamaan. Kalau-kalau ia membocorkan salah satu rahasiaku, aku juga bisa melakukan hal yang sama padanya. Kini, pertemanan singkat kami yang terjalin selama beberapa bulan pun tak membekas.

“Ci,” panggil Sadewa, membangunkanku dari lamunanku. “Kenapa Cici gak pernah cerita tentang masalah Cici ke gue?”

“Karena gue gak mau menambah masalah lo dengan masalah gue.”

Sadewa mengedip beberapa kali sebelum menyuap nasinya lagi. Kantin masih sepi karena waktu baru memperlihatkan pukul tujuh pagi. Sadewa dan aku hendak mengerjakan tugas kelompok yang belum selesai, bertemu di kampus pada pagi hari.

“Yang gue gak ngerti adalah lo lebih milih curhat ke Dirke yang jelas-jelas baru-baru ini dekat sama lo ketimbang gue, Ci.”

“Sadewa, lo itu konservatif. Lo susah memahami tanpa mengadili. Sementara Dirke itu pendengar yang baik. Dan dia selalu punya waktu untuk gue.”

“Ci, sorry kalau gue gak ada waktu buat lo. Tapi itu bukan berarti lo gak bisa cerita sama gue,” balas Sadewa lagi.

“Gue gak mau bahas itu sekarang.”

Aku pura-pura tidak peduli, fokus kepada laptop di hadapanku dan mengerjakan presentasi yang akan kami tampilkan siang nanti. Sadewa, yang sejak tadi duduk di hadapanku, memanggilku beberapa kali. Tapi kuabaikan dia terus tanpa menoleh sedikit pun.

“Ci,” Sadewa agak mengeraskan suaranya, menarik laptop dari hadapanku dengan cepat, dan mengesampingkannya. “Kalau kita gak bahas ini sekarang, kapan lagi? Sebentar lagi semester dua akan habis. Udah gak ada kesempatan lagi untuk jujur. Kelas kita akan beda nanti. Kita gak ada waktu untuk ketemu lagi.”

“Jadi gue harus bilang apa?”

“Yang sebenarnya. Tentang Clover, Nakula, tentang-”

“Sebentar,” potongku. “Apa Dirke cerita sesuatu pada lo?”

“Ya,” angguk Sadewa. “Dan gue bersyukur Dirke cerita.”

“Brengsek,” desisku. “Gue gak tahu kalau dia cepu.”

“Ci,” tegur Sadewa kemudian. “Gak usah mengubah arah pembicaraan. Kasih tahu gue sekarang juga tentang apa yang terjadi pada Clover.”

“Dalam Clover, Wanda adalah satu-satunya yang teknik vokalnya masih kurang. Flora sama Lana terus menekan dia, membuat dia semakin tertekan dalam grup. Wanda pengen keluar dari grup. Udah.”

“Itu aja?”

“Ya enggak. Tapi itu intinya.”

“Terus, masalah Nakula sama Flora gimana? Setahu gue, mereka berantem juga.”

“Bukan berantem,” balasku singkat. “Tapi Flora kesal karena Nakula selalu cari dia kalau lagi butuh doang. Misalnya butuh dibuatin PR, butuh dibantuin tugasnya, sama butuh …” kucoba menemukan kata yang tepat sejenak, “… keuntungan lainnya. Mereka udah enggak ada omongan sejak sebelum UTS. Makanya sejak itu, Nakula sering main sama elo lagi.”

“Terus, lo sama Dirke?”

“Kalau itu, itu di luar masalah lo. Jadi lo gak perlu tahu.”

“Apa lo gak mau cerita tentang lo sama Dirke? Kayaknya, cuma gue yang gak tahu seberapa dalam hubungan kalian.”

“Dirke dan gue sudah gak saling membutuhkan lagi. Dia udah bisa hidup mandiri tanpa gue. Dan gue, kalau dilihat-lihat, gue emang gak butuh keberadaan dia sejak awal.”

“Apa lo bahagia tanpa dia?”

“Lumayan. Seenggaknya, itu mengurangi beban pikiran gue. Gue bisa lebih fokus sama kuliah gue dan mendapatkan nilai yang tinggi.”

“Terakhir kali gue lihat lo seambisius ini adalah sebelum lo main sama Dirke,” kata Sadewa. “Mungkin harusnya anak-anak membiarkan lo tetap main sama Dirke supaya sifat jelek lo hilang, Ci.”

“Gue gak mau dibilang naksir sama dia atau suka sama dia,” jawabku. “Kalau nanti ada cowok yang gue suka, gue berharap cowok itu gak melihat kedekatan gue dengan Dirke sebagai sesuatu yang penting.”

Sadewa mengangkat alisnya tinggi-tinggi, mungkin kaget akan pengakuan mendadakku barusan. Aku belum pernah cerita ini pada siapa-siapa. Tapi mungkin, Dirke bisa menebak ini dari obrolan kami sehari-hari dulu.

“Lo lagi suka seseorang?”

“Enggak, kok. Sekarang kita fokus masalah ini aja,” tunjukku pada laptopku.

“Ci, gue gak pernah tahu kalau lo ternyata punya banyak rahasia. Gue pikir, pertemanan lo dengan Dirke adalah satu-satunya rahasia di sini. Tapi ternyata lo lebih misterius dari itu.”

Aku kecewa pada Sadewa. Bukan karena dia terlalu ingin tahu, tetapi karena dia tidak mengetahui titik terpentingnya di sini. Sadewa pernah merasa lelah dengan pertemanan ini dan bukan dia sendiri yang berpikir demikian. Aku juga lelah karena Lana dan Flora yang terus menekan Wanda. Aku juga lelah karena kini Nakula sering meninggalkan chat tak berbalas di kontakku, berharap aku mau mengerjakan PR dan tugasnya. Aku juga lelah karena Danil kini tidak mau ambil pusing masalah kami semua. Dan terkahir, aku lelah karena Sadewa tidak pernah peka terhadap perasaanku.

-=-

Hujan rintik turun di sore hari saat aku sudah kembali ke apartment. Presentasiku bersama Sadewa tadi baik-baik saja karena kami memang tidak mungkin tidak baik-baik saja saat berada dalam satu tim. Yang tidak baik-baik saja di sini adalah aku, dan mungkin hanya aku. Aku hanya bisa merenung, menatap kolam renang apartment dari jendela kamar studioku.

“Jadi, Cici dan Dirke udah putus?” Wanda, satu-satunya anak gengku yang paling dekat denganku sedang berada di apartment, menemaniku merenung.

“Putus?” aku terkekeh, lalu duduk di lantai kamarku bersama Wanda. “Jadian aja enggak pernah. Gimana mau putus? Intinya gue sama dia memang tidak saling butuh lagi, Wanda.”

“Gue sedih, Ci. Lo sama dia sangat cocok. Gak ada yang bisa maafin kegaringan joke receh lo kecuali dia. Dan gak ada yang bisa lebih garing dari lo selain dia.”

“Kenapa lo sedih?” aku tertawa lagi. “Gue sama dia pisah itu karena keputusan bersama. Dia udah jauh lebih baik sekarang. Tanpa gue, dia bisa jalanin UTS sendirian dan sekarang, dia bisa selalu datang pagi tanpa diminta.”

“Apa dia pernah bilang ke Cici kalau dia gak butuh Cici lagi?”

“Pernah,” kataku. “Tapi tersirat, sih,” ralatku buru-buru. “Mungkin lo berpikir itu salah paham. Tapi bagi gue, benar kalau dia meminta gue untuk menjauh. Segalanya sudah baik-baik aja, Wanda. Jadi, kesimpulannya, dia gak butuh gue lagi.”

“Terus, plan kalian ke Jerman tahun depan itu gimana?”

“Gak tahu,” aku angkat bahu. “Plan buatan gue masih ada, kok,” tunjukku pada kertas di atas meja. “Kalau dia gak mau ke Jerman sama gue tahun depan, gue bisa pergi sendiri. Gue mau ke Polandia, Budapest, dan of course, Praha, tempat nyokap gue.”

“Kalian kayak pasangan yang udah punya rencana pernikahan dan rencana honeymoon tapi batal nikah di tengah jalan.”

“Gue lebih baik batal nikah ketimbang menikah dengan orang yang salah.”

Wanda terkekeh mendengar jawabanku. Ia mengangguk kecil, mungkin setuju dengan pendapatku barusan.

“Mungkin ini yang terbaik buat kalian,” kata Wanda akhirnya. “Gue pernah nyesel karena mendorong elo ke pertemanan ini, Ci. Dulu Dirke mendekati lo karena lo kelihatan gak berbahaya sama sekali buat dia. Tapi ternyata, lo berhasil mengubah dia menjadi orang yang lebih baik. Itu udah lebih dari cukup.”

“Gue tidak pernah menyalahkan elo, kok. Gue malah bersyukur karena lo gak membenci dia dan mendukung dia meski diam-diam.”

“Ci, gue tahu bahwa lo dan dia gak mungkin baper satu sama lain. Jadi, kalau kalian pisah baik-baik begini, gue harap lo gak sedih berkepanjangan kayak orang putus.”

“Gue gak sedih sama sekali. Cuma rasanya aneh. Biasanya ada yang selalu ajak gue makan malam dan maksa duduk di sebelah gue kalau di kelas. Tapi kali ini, udah gak ada lagi orang yang kayak gitu. Gue menjauh dan dia pun sama.”

“Orang berubah. Cici sudah sering ngomong begitu ke gue. Dia berubah, Cici pun berubah. Cici naksir orang lain, ‘kan?”

“Siapa?”

“Sadewa.”

“Apa-apaan, sih, Wanda?” aku tertawa keras-keras, diikuti tawa Wanda yang juga meledak. “Gue sempat panik tadi. Gue mikir kalau lo serius.”

Wanda tertawa keras, membuatku harus berdesis sekali agar dia berhenti tertawa. Kami saling berpandangan satu sama lain dan kemudian tertawa lagi.

“Tapi Ci, kalau Cici memang naksir Sadewa, gue gak akan merasa aneh.”

“Wanda,” kusebut namanya pelan. “Sadewa itu udah kayak adik gue sendiri. Gue naksir dia dalam artian dia itu tipe ideal gue. Tapi gue gak akan ngejar-ngejar dia dan mencintai dia lebih dari sekadar teman.”

“Apa Dirke punya kesempatan untuk jadi lebih dari sekadar teman buat lo?” tanya Wanda lagi. “Dirke sekarang jauh lebih baik, Ci. Meski dia menjauh dari Cici.”

Ucapan Wanda barusan membuatku mengenang hari-hariku bersama Dirke. Ada tawa di sana, tepat ketika aku dan Dirke berkelahi satu sama lain karena berebut CD yang diangkat Dirke tinggi-tinggi ke atas. Lalu, candaan-candaan garing yang kami lontarkan satu sama lain pun membuatku sedikit tersenyum. Ada pula malam-malam hangat yang kami habiskan berdua, entah itu menonton video artis Korea favoritku atau sekadar berbicara tentang masalah kami.

Rasanya sangat aneh. Seperti kerinduan.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s