They Never Know [11/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sebelas

Mengembalikan yang Tertinggal

[Dirke]

Meski belum pernah berpacaran, sekarang aku tahu artinya putus dengan kekasih. Jozka bukan kekasihku. Dia hanya teman dekatku yang pernah menjalin beberapa bulan penuh rahasia denganku. Sampai akhir semester, kami tidak pernah kontak satu sama lain lagi. Bertemu di kelas pun hanya menjadi formalitas semata. Aku punya banyak teman baru sejak aku menjadi lebih baik. Jozka sendiri kembali pada kawan-kawan lamanya, menyelesaikan penampilannya bersama Clover, dan dekat lagi dengan Sadewa seperti hubungan mereka dulu.

“Dir, abis ini pada mau makan di kantin. Lo ikut, gak?” tawar Valentino saat kelas usai.

Valentino dan teman-temannya kini bergaul denganku. Ia sudah tidak brengsek seperti dulu meski dulu dialah yang pertama kali mengatakan bahwa kelakuanku seperti bocah meski aku sudah tua. Kata-kata itu sering dipakai Jozka entah untuk meledekku atau serius memarahiku. Kisahku bersama Jozka sendiri seperti mimpi singkat yang tidak ada artinya lagi. Mungkin kami berdua sudah terbangun dari tidur panjang yang melelahkan itu.

“Boleh, boleh. Siapa aja yang ikut?”

“Gue, Rafael, Bram, sama Andi. Lo mau ajak siapa lagi?”

“Gue ajak Gading, ya?” tanyaku pada Valentino.

“Boleh, ajak aja. Lo kalau mau ajak Jozka pun gak apa-apa.”

“Enggak usah,” aku menggeleng. “Gak perlu, kok.”

“Lo udah putus sama Jozka?”

Pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Valentino. Aku tahu, bukan hanya dia yang penasaran tentang hal itu. Seluruh kelas ini ingin tahu cerita diriku dan seorang perempuan pemberani bernama Jozka Raymond Meyer yang pernah dekat denganku itu. Kini kami memang terlihat jauh, tidak pernah bersama lagi. Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Valentino, tampak Rafael, Bram, Andi, dan Gading langsung mengelilingiku dengan muka penasaran.

“Eh, iya. Itu gimana, sih?” kata Bram. “Lo dulu jadian sama Jozka atau gimana, Dir?”

“Gue gak pernah jadian sama dia, kok.”

“Oalah, ditolak sebelum ditembak, ya?” Andi menambahkan, membuatku melongo tidak mengerti. “Lo kurang keren kali, ya?”

“Ih, apaan, sih?” aku berdecak. “Gue sama dia cuma kenal aja. Kayak Bram sama Wanda gitu. Cuma kenal doang. Dekat pun enggak,” bohongku.

“Kenal tapi mesra?” Andi bertanya lagi, membuatku malas.

“Enggak, Di. Si Dirke itu gak pernah ngapa-ngapain sama Jozka. Jozka itu gak butuh cowok. Dia butuhnya nilai tinggi,” kata Rafael yang dari tadi diam. “Gue pernah nanya sama Wanda pas sebelum UTS. Kata dia, Jozka itu males jalin hubungan sama cowok buat pacaran. Jozka emang tipe yang baik sama semua orang.”

“Wah, lo dikasih harapan palsu, ya?” Andi, lagi-lagi, membuatku lelah.

“Terserah lo, deh,” Gading menimpali. “Sekarang kita makan aja mendingan.”

-=-

Di apartment, aku menemukan segala kenanganku akan Jozka. Masih ada baju-bajunya di lemariku, kotak makanannya di kulkasku, dan masih ada pakaianku yang berantakan di kamar, menunggu Jozka untuk merapikannya. UAS sudah di depan mata, pertanda aku tidak akan melihat Jozka lagi kalau UAS berlangsung. Ini adalah minggu-minggu terakhir sebelum UAS.Ia kembali menjadi gadis ambisius yang tak peduli pada sekitarnya, membuatku tidak dapat menyentuhnya lagi.

“Gila, Dir, kamar lo berantakan banget,” ujar Valentino saat ia dan kawan-kawannya main ke kamarku. “Ini punya siapa?” tunjuknya pada kaos-kaos di atas meja yang terlipat rapi.

“Punya gue,” jawabku.

“Lo demen kaos-kaos boyband, Dir?” ujar Gading heran.

Aku cukup kehilangan konsentrasi saat Andi dan Bram mengangkat kaos itu. Ada gambar grup-grup Korea seperti EXO, Super Junior, hingga NCT di kaos-kaos itu. Tentu saja aku bukan penggemar mereka. Jozka menitipkan kaos sehari-harinya di kamarku agar mudah mencarinya kalau ia mandi di tempatku.

“Itu punya Cici gue,” aku membalas asal.

“Lo punya Cici?” Andi menimpali. “Oh, maksud lo Jozka?”

Aduh, mati, deh!

“Bukan. Cici sepupu gue,” kutambahkan wajah serius di akhir kalimatku agar mereka percaya. “Waktu itu dia main dari Semarang. Gue aslinya orang Semarang.”

“Iya, tahu,” Rafael menyudahi percakapan itu karena ia membaca gestur dan ekspresiku yang tidak nyaman di sana.

Suara telepon kamar apartment membuatku dan lima temanku terkejut. Aku langsung melesat ke dekat pintu, menjawab telepon itu. Dari sana, dapat kudengar komentar pelan Valentino tentang suara dering telepon kamar yang cukup mengagetkan itu.

“Halo,” kataku.

Selamat sore. Ada tamu untuk Bapak di lobi sekarang.

“Tamu?”

Atas nama Ibu Meyer, Pak.

“Oh, iya, iya. Saya ke sana sekarang. Terima kasih, Pak.”

Kututup telepon dengan cepat dan kuhampiri teman-temanku yang sudah mulai mengacak-acak kasurku. Mereka belum cuci kaki dan tidak tahu kalau aku paling anti menyentuh kasur jika belum cuci kaki.

“Siapa, Dir?” tanya Valentino.

“Gue ada urusan di lobi sebentar. Kalian kalau mau ngacak-ngacak kasur gue, please cuci kaki dulu.”

-=-

Jozka tidak seperti biasanya yang selalu membawa handphone tiap kali meninggalkan kamarnya. Sebaliknya, akulah yang selalu tidak membawa handphone dan selalu harus menghubungi Jozka lewat telepon apartment di lobi. Tapi kali ini, setelah beberapa bulan tidak pernah saling kontak, Jozka menghubungiku lewat telepon di lobi.

“Hai, Ci,” kataku sambil tersenyum semampunya.

“Hai, Ko,” angguknya kecil sambil tersenyum. “Ini barang-barang lo di kamar gue. Gue mau balikin dari jauh-jauh hari, tapi enggak enak kalau balikinnya di kampus. Soalnya, kalau kelihatan anak lain, mereka bakal ngira yang aneh-aneh,” ia tertawa kecil.

Ada pakaian-pakaianku, alat mandiku dalam satu plastik, dan sekotak CD yang pernah ia pinjam dariku. Aku menghela napas, tidak tahu cara untuk membawa semua barang itu dan tidak mungkin mengajak Jozka ke atas karena ada teman-temanku.

“Ci, sorry, nih. Tapi gue dalam keadaan gak memungkinkan untuk bawa elo ke atas. Ada teman-teman gue soalnya.”

“Oh, ya ampun. Gue gak tahu, Ko. Sorry banget,” katanya merasa bersalah. “Jadi, enaknya gimana?” katanya, dan dia, entah kenapa, mendadak sangat formal padaku. “Sebaiknya, sebelum UAS, gue udah balikin ini ke elo.”

Aku tahu alasannya ingin mengembalikan benda-benda itu padaku sebelum UAS. Ia pasti khawatir bahwa setelah UAS, kemungkinan kami untuk terus bertemu akan semakin menipis. Benda-bendaku akan memenuhi kamarnya, membuatnya kesulitan membersihkannya.

“Gini, deh,” putusku akhirnya. “Nanti malam, jam tujuh atau setengah delapan gitu, lo ada urusan atau free?”

“Ada, sih. Bikin summary buat UAS. Tapi kalau lo bisa gak telat, gue bisa spare waktu buat lo setengah jam atau satu jam.”

“Jangan spare waktu,” pintaku. “Lo kosongin jadwal malam ini. Kita makan bareng. Abis itu lo main di kamar gue aja sampai larut. Nginep kalau perlu. Besok Sabtu dan kita gak kuliah. Minggu depan itu minggu terakhir sebelum UAS. Mending kita pake buat main sepuasnya.”

Jozka melongo bingung, menatapku seolah aku ini orang paling aneh di dunia ini. Tapi aku malah tersenyum dan menepuk kepalanya seperti yang dulu biasa kulakukan kalau ia sedang berada di dunianya dan pikirannya sendiri.

“Oh, ya udah. Gak masalah.”

“Bagus,” jawabku. “Nanti, gue chat elo.”

-=-

Jozka sudah tidak lagi menungguku di lobi dengan raut jengkel. Ia seperti ada di dunianya, entah membuat summary untuk UAS atau mengurus hal lain selain aku. Seperti dunia terbalik, Mbak Wulan menatapku prihatin saat aku harus menghubungi Jozka di lobi tower tempat tinggalnya. Kali ini, menghindari amarah Jozka yang selalu meledak tiap kali aku tidak bawa handphone, aku membawa benda kecil itu dan mengirim chat pada Jozka saat aku di lobi.

“Tumben kalian jarang bareng,” kata Mbak Wulan tiba-tiba.

“Iya, soalnya sama-sama sibuk,” balasku pelan.

“Meski sibuk, harus tetap sempat ketemuan. Kalau enggak, nanti ceweknya diambil orang lain. Akhir-akhir ini, ada cowok kurus sering main ke sini, minta dibukain pintu. Kayaknya cuma mau pakai kolam renang aja. Tapi kalau main di atas bisa sampai malam.”

“Cowoknya kayak gimana?” tanyaku penasaran.

“Dari kampus kalian juga. Dulu, kalau datang, ramai-ramai datangnya sama teman-teman cewek mereka. Tapi sekarang selalu sendirian kalau datang.”

Aku diam, apalagi ketika Jozka sudah muncul dari lift. Kutatap Jozka dengan senyum kecil. Ia tampak rapi dengan kaos kuning dan celana panjang hitamnya.

“Hai,” kataku.

Jozka hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk sopan pada Mbak Wulan sebelum kami berdua meninggalkan lobi. Ia hanya menurut ketika aku mengajaknya makan malam di Bola Dunia, ruko tempat makan yang menjual alat tulis di lantai tiganya.

“Mau pesen apa?” tanyanya akhirnya.

Jozka mengambil kertas pesanan dan menuliskan makanan yang ia mau. Setelahnya, ia memberikan kertas itu padaku, memintaku menuliskan pesanan. Sesudah memesan, aku menatap Jozka kembali dan ingin menagih cerita darinya.

“Sadewa sering ke apartment lo, ya? Makanya lo mau balikin barang-barang gue sekarang. Lo takut Sadewa tahu kalau gue sering ke sana, kan? Harusnya, kalau dia sering ke apartment lo, dia sadar kalau dia bukan cowok pertama yang lo ajak ke sana.”

“Lo ngomong apaan, sih?” Jozka bertanya tak paham. “Gue gak mengerti sama sekali. Gue mau balikin barang-barang lo karena gue takut lo butuh.”

“Ternyata, lo juga udah gak jujur lagi sama gue. Gue pikir, kita berjanji buat selalu jujur dan ngomong apa adanya. Tapi lo udah berubah. Kalau lo marah sama gue, harusnya lo teriak-teriak sekarang, maki-maki gue seperti yang dulu lo sering lakuin kalau gue salah. Tapi sekarang, lo diam aja.”

“Karena gue gak marah sama lo. Kalau gue marah pun, gue gak punya hak maki-maki elo. Gue bukan ibu lo, gue bukan istri lo, gue bukan adik lo, gue bukan pacar lo, gue bukan siapa-siapa lo.”

“Gue pikir, lo teman baik gue, Ci.”

“Ko,” katanya melunak. “Apa lo masih butuh gue?” tanyanya akhirnya. “Kalau lo memang masih butuh gue untuk membimbing elo dan mencarikan jalan yang benar buat lo, gue akan stay di samping lo. Tapi lo udah gak butuh itu lagi. Gue bisa lepas lo untuk jalan sendiri.”

“Gue butuh elo bukan untuk membimbing gue doang. Gue butuh elo buat nemenin gue, ngajak main gue, jadi tempat cerita gue, dan ngisi hari-hari gue.”

“Gue gak bisa, Ko. Gue ini cewek normal juga. Gue mau dapat cowok normal yang sesuai sama tipe gue. Kalau kita selalu bareng, cowok-cowok akan enggan deketin gue,” jawabnya. “Dan itu pun berlaku sama lo. Lo bilang, lo pengen semester tiga nanti dapat pacar. Kalau lo selalu main sama gue, gimana lo bisa dapat pacar?”

Kata-kata Jozka benar. Ia butuh waktu kosong untuk mengisi hatinya dengan laki-laki lain. Begitu pula aku, aku harus mulai mencari perempuan yang benar-benar kucintai. Masalahnya, separuh dari diriku tidak rela. Apalagi setelah menyadari bahwa Sadewa adalah laki-laki yang dekat dengan Jozka, aku makin tidak rela.

Sorry, Ci, gue agak maksa elo.”

“Enggak,” ia tersenyum kecil. “Gue juga salah karena gak tahu batas. Harusnya dari awal gue gak pernah ngajak lo main ke kamar gue atau main ke kamar lo.”

Makanan yang kami pesan datang, seperti menyelamatkan Jozka dari kondisi yang agak tidak nyaman ini. Aku terus memerhatikan Jozka, berharap ia kembali seperti dirinya yang dulu. Tapi harapan itu hilang bersama pandangan mata Jozka yang selalu fokus ke handphone miliknya, membalas chat yang entah dari siapa.

-=-

“Kita ambil barang lo sebentar di kamar gue. Abis itu, gue antar ke kamar lo,” kata Jozka sambil menekan tombol lift.

Aku menurut saja ketika mengikutinya ke kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Kertas-kertas materi kuliah berserakan di meja belajar Jozka, membuatku yakin bahwa ia benar-benar belajar kali ini untuk UAS. Jozka sibuk mengeluarkan baju-bajuku dari lemari. Ia juga mengambil alat mandiku dan CD yang dulu ia pinjam dariku. Sementara itu, aku menatap tas ransel yang tergeletak di samping lemari Jozka. Tas itu terlihat asing di mataku. Karena terbuka, aku bisa melihat barang-barang yang seharusnya tidak ada di kamar Jozka.

“Ini punya siapa?” tunjukku pada tas ransel itu.

“Bukan punya siapa-siapa.”

“Ci, lo punya pacar, ya?” aku berseru. “Itu isinya celana renang cowok, alat mandi cowok, dan baju cowok.”

“Ya terus kenapa?” ia membalas singkat.

“Lo serius sama Sadewa?”

“Gue udah bilang, gue sama dia cuma temenan. Lo sendiri juga menitipkan barang-barang lo di kamar gue. Kenapa Sadewa gak boleh melakukan hal yang sama?”

Dia benar. Aku bukan siapa-siapa. Kenapa aku harus ambil pusing masalahnya dengan Sadewa. Itu hak mereka. Itu hak Jozka.

“Ci,” kataku pelan. “Gue bukan marah masalah lo dan Sadewa sering bareng atau apa. Tapi gue marah karena lo gak jujur dan nutupin masalah itu.”

“Itu hak gue. Gue tidak harus melaporkan segalanya ke elo.”

“Oke, lo benar. Tapi kenapa lo gak bilang sama gue kalau lo lagi dekat sama Sadewa. Lo bisa curhat ke gue masalah kalian. Kenapa lo selalu pengen menutupi semuanya dari luar?”

“Ko, lo gak tahu bahwa gue sama Sadewa itu ada dalam masa yang sulit. Ini gak ada bedanya sama hubungan Flora dan Nakula. Kalau teman-teman lain tahu, rasanya gak enak.”

“Kalian udah sejauh apa?”

“Cuma berenang bareng dan pergi makan bareng berdua. Kadang gue main ke kosannya sendiri. Tapi kosan Sadewa kecil banget. Makanya dia yang main di sini, sekalian berenang dan nginep kalau udah malam.”

“Pantes, gue sering liat kalian datang bareng ke kelas,” jawabku cepat. “Sadewa ternyata gak sekonservatif itu. Dia juga sering nginep di sini.”

“Nginep dan tidur-tiduran berdua sambil ngomongin seks adalah dua hal yang beda. Dia tidur di kasur lipat dan dia gak pernah ngapa-ngapain yang aneh-aneh. Sebelah kosannya Sadewa itu café dan club malam. Kadang berisik setengah mati, bikin gak bisa tidur.”

Aku hanya mendengarkan alasannya yang entah masuk akal atau tidak itu.

“Ya udah, sekarang kita ke tempat gue, yuk,” kataku mengalah. “Kalau lo mau cerita tentang masalah Sadewa ke gue, gue bisa dengerin di sana.”

-=-

Sadewa dan Jozka mulai dekat sejak selesai UTS. Mungkin ini adalah efek dari Sadewa yang mulai menyadari bahwa Jozka menyimpan terlalu banyak rahasia. Mereka kerap makan di kantin berdua, entah apa yang mereka ceritakan tanpa Wanda dan Lana. Aku kadang menatap mereka dari jauh, mengetahui betul betapa menyenangkannya berada di posisi Sadewa.

“Gue bukannya naksir Sadewa,” buka Jozka akhirnya. “Gue merasa nyaman sama dia akhir-akhir ini karena gue bisa cerita ke dia tentang perasaan gue yang lelah jadi jomblo selama dua puluh tahun. Gue pengen pacaran di semester tiga nanti dengan cowok yang pantas buat gue. Makanya gue minta saran dari dia supaya bisa dekat sama cowok yang gue suka.”

“Apa dia menyarankan untuk menjauh dari gue?”

“Enggak. Dia cuma bilang agar gue jaga jarak sama lo. Ini untuk mencegah cowok lain salah paham sama hubungan kita, Ko.”

“Ci,” kataku pelan sambil menatap Jozka yang duduk di kasur. “Gue kayaknya kangen kebersamaan kita, deh. Kangen buat ngobrol-ngobrol sama lo, cerita-cerita sama lo, sampai tidur-tiduran dan pelukan sama lo.”

Jozka menghela napas, tidak menjawab ucapanku barusan. Ia tiduran di kasurku, dengan bantalku sebagai alasnya. Aku pun naik ke kasur, tiduran di sampingnya sambil menatap langit-langit kamar.

“Ko, semester tiga nanti, apa kita akan masih bisa kayak gini? Lo mungkin ketemu cewek yang cocok sama lo. Dan gue bisa jadi ketemu cowok yang cocok buat gue. Apa itu artinya pertemanan kita akan berlalu?” ujar Jozka sambil menatapku sendu. “Gue juga kangen kebersamaan kita, Ko.”

Kupeluk tubuh Jozka dengan hangat, merasakan waktu seperti berhenti berputar ketika kami bertukar aroma tubuh. Dengan manis, Jozka menjenjangkan lehernya dan mencium lembut daguku. Aku seperti disengat listrik, merinding ketika ia melakukannya lagi di leherku.

“Ci, gue udah puasa seks sejak sebelum UTS. Lo jangan mancing gue, please,” kataku takut. “Yang barusan lo lakukan itu kesalahan besar.”

“Gue tahu,” Jozka tersenyum dan masih menatapku dalam.

Tangan Jozka menyentuh sudut bawah kaosku, meremasnya lembut sebelum ia kembali mencium telingaku. Aku menyerah dengan segala inisiatifnya yang berhasil mematahkan pertahanan lemahku. Dengan mudah, kuarahkan wajahnya ke wajahku dan kucium mesra bibirnya. Kami bertukar lumatan, memberikanku rasa senang yang sudah lama tak kurasakan.

“Lo benar-benar perempuan gak benar, Ci,” kataku setelah melepaskan bibirnya. “Gue gak nyangka, anak baik-baik dan paling berprestasi di kelas kita ternyata cewek nakal.”

Jozka berpindah dan kini menindihku. Tubuh kami bertemu, dengan sisa-sisa pakaian kami yang sudah tak ada artinya sebentar lagi. Jozka menarik kaosku, melemparnya asal-asalan ke lantai. Ia belum pernah make out dengan laki-laki lain sebelumnya. Tetapi tangannya sudah lebih lancar dari perempuan-perempuan yang kutemui di tempat-tempat kotor itu.

“Lo tahu bahwa gue gak sehebat itu,” katanya pelan sambil memainkan pipiku dengan jemarinya. “Gue pengen lo bimbing gue supaya momen-momen ini gak terlupakan.”

Aku mengangguk tipis, hilang akal sehat dan kesadaran. Kuraih tangannya dan kulingkarkan di leherku. Aku bisa merasakan kaos Jozka di kulit telanjangku. Kami berciuman lagi, merasakan kehangatan yang kami bagikan di tubuh kami. Kutarik kaos Jozka agar lepas dari tubuhnya. Tanganku sedikit mendorong Jozka, membuat Jozka terjatuh ke atas kasur. Sebelum menerjang tubuh Jozka, aku membuka laci di samping kasur dan mengambil kondom.

“Sekarang, gue tahu bahwa ini ada gunanya,” aku tertawa, teringat insiden pembelian kondom yang tidak sengaja itu.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s