They Never Know [12/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Dua Belas

Minggu-minggu Akhir

 

[Jozka]

Hal pertama yang kulihat saat aku terbangun adalah kamar Dirke dengan kasur luasnya dan gelap yang luar biasa karena Dirke selalu menutup tirai jendela kalau tidur. Untung ini Hari Sabtu dan tidak ada kuliah sama sekali. Aku hanya melirik Dirke yang masih lelap, memeluk tubuhku yang tergulung selimut. Telunjukku usil, menyentuh lekuk hidung Dirke dan turun ke bibirnya pelan-pelan. Dirke sempat menekuk alisnya sebentar sebelum membuka mata.

“Hei, Ci,” panggilnya serak.

“Hei, Ko.”

Tanpa kata, ia mengeratkan pelukannya padaku. Aku tertawa kecil ketika ia menciumi leherku dan telingaku dengan manis.

“Bisa tidur, Ci?” tanyanya.

“Bisa, kok. Kamar lo hangat banget.”

“Mungkin karena gue peluk elo semalaman.”

Aku mengabaikan kata-katanya dan malah melirik jam tangan biru di tanganku yang mengatakan bahwa saat ini sudah pukul sepuluh pagi.

“Bangun, Ko. Gue mau mandi. Udah jam sepuluh.”

Dirke membuka selimut, melepaskan aku dari dekapannya. Aku turun dari kasurnya, mengambil pakaianku yang berserakan di lantai kamarnya.

“Lo gak ada baju bersih, ‘kan?” tanyanya sambil turun.

Aku mengangguk kecil, membiarkan Dirke mengambil baju-baju kotor di tanganku dan menaruhnya di keranjang cucian. Setelah itu, Dirke menarik handuk dari tumpukan baju yang sudah dilipat dan memberikannya padaku.

Thank you,” aku beranjak ke kamar mandi dan hendak menutup pintu kamar mandi.

“Eh, bentar,” Dirke menahan pintu kamar mandi. “Gue ikut.”

Kuputar mataku sesaat sebelum membiarkan Dirke menerobos kamar mandi. Ia tertawa puas ketika berhasil mengurungku bersamanya di ruangan sempit itu. Tanpa basa-basi, Dirke menyalakan pancuran air dan mengatur suhunya.

“Yang panas, dong,” pintaku. “Gue gak suka air dingin.”

“Gue juga sama. Tenang aja.”

Kami berdiri di bawah air panas, membiarkan dari ujung kepala hingga ujung kaki kami dibasahi air. Sesekali Dirke memeluk tubuhku tanpa kata-kata, mungkin ingin menyimpan ingatan lebih banyak tentang kami. Aku sendiri tidak bersuara, menempelkan pipiku di dada Dirke sambil mengosongkan pikiran.

“Gue banyak mengingat hal-hal gak penting tentang kita,” kataku tiba-tiba. “Tentang gimana gue membenci pergaulan kita karena orang-orang langsung merendahkan image gue sampai tentang kita yang udah tidur bareng tadi malam.”

Dirke menggumam, lantas membelai rambutku sebelum mencium puncak kepalaku. Ia mendorongku pelan ke tembok kamar mandi agar punggungku bisa bersandar di sana. Sambil memegang kedua bahuku, Dirke menciumi wajahku dengan sabar.

“Lo selalu peduli tentang image,” katanya pelan. “Lo selalu minta gue mengubah sikap gue supaya orang lain lebih memandang gue. Padahal, gue gak butuh itu semua. Gue cuma butuh lo melihat gue apa adanya gue cuma butuh lo dalam kehidupan gue.”

“Tapi, setelah lo hidup dengan baik, lo punya banyak hal yang belum pernah lo punya sebelumnya. Hubungan lo dan keluarga lo membaik. Lo sudah minta maaf ke nyokap lo atas kata-kata kasar lo dulu. Lo sekarang punya banyak teman dan nilai lo bagus. Lo udah cukup baik-baik aja sekarang.”

“Gue gak tahu apakah gue baik-baik saja setelah kita berpisah nanti atau gimana,” katanya pelan.

Kami berdiam seperti itu di bawah pancuran air. Hari ini Sabtu, dan besok Minggu. Kemungkinan besar, kami akan menghabiskan waktu di atas kasur terus seperti orang konyol.

-=-

Di Senin pagi, aku masih menginap di kamar Dirke. Jam enam pagi, aku sudah bangun, memaksa Dirke untuk bangun dan mandi bersamaku. Tadi malam, kami tidur cepat agar tidak terlambat kelas pagi ini. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk membuat Dirke bersiap, memilihkan pakaian yang baik untuknya, dan memintanya untuk membawa tas ke kampus.

“Ini minggu terakhir kita di kelas, Ko,” kataku saat mengancingkan kemeja Dirke satu demi satu. “Lo belum pernah pakai kemeja dan celana yang rapi selama di kelas kita.”

“Setelah minggu ini, kita gak akan bisa kayak gini lagi, ya?”

“Apa yang bisa kita harapkan, Ko?” tanyaku balik. “Gue butuh dapat pacar di semester tiga. Cowok yang sesuai harapan gue dan mimpi gue. Cowok yang kira-kira kayak Sadewa. Dan lo pun juga pengen punya pacar, kan?”

“Iya, gue pengen.”

“Kalau gitu, keputusan kita untuk saling menjauh satu sama lain udah tepat.”

Dirke menghela napasnya pelan, meraih tanganku yang masih tergantung di kancing kemejanya. Ia mengusapkan tanganku ke bibirnya, membuatku hampir jatuh lemas.

“Gue akan merindukan elo, Ci.”

Ia mencium bibirku serakah, buru-buru, dan penuh napsu. Aku membalasnya dengan ritme yang sama, merasa haus dan membutuhkan Dirke lebih dari segalanya. Tanganku mulai membuka kancing bajunya lagi. Sementara jemari Dirke merusak rambutku yang sudah tertata.

“Stop, Ko. Stop,” kataku tiba-tiba melepaskan diri. “Kita harus ke kampus,” aku tersenyum kecil padanya.

Sorry, Ci. Tadi gue kelewatan.”

“Enggak, kok,” tertawa, aku merapikan kancing bajunya lagi. “Gue juga tadi kelewatan dan main asal serang aja.”

Dirke merapikan rambutku kembali dan mengambil tas kuliahnya. Ia memegang pergelangan tanganku sejenak sebelum akhirnya mengajakku keluar dari kamarnya.

-=-

Kami kembali duduk bersebelahan di kampus. Menyadari bahwa ini adalah minggu-minggu terakhir kami bersama, Dirke tidak pernah membuat kesalahan, mengumpulkan tugasnya dengan baik dan selalu hadir di tiap kelas. Ia juga sering mengajakku makan siang bersama di kantin, mengabaikan tatapan aneh dan curiga yang kembali mengejar kami berdua. Kami juga selalu pulang bersama tanpa menunggu kelas kosong.

“Ci, abis ini mau ke tempat lo atau tempat gue?” Dirke bertanya padaku yang sibuk membereskan alat tulisku.

“Tempat gue?” tawarku balik.

“Oke,” dia tertawa.

“Ini perasaan gue doang atau sekarang kalian udah baikkan?”

Wanda berkomentar sambil tersenyum karena kedekatan Dirke dan aku. Aku sendiri hanya tersenyum, entah bagaimana harus menjawab Wanda. Bukan hanya dia yang penasaran. Lana, Sadewa, Danil, dan beberapa anak kelas kami lainnya juga menyaksikan adegan itu.

“Emang gak boleh?” Dirke merangkulku pelan.

“Kalian udah jadian, ya?” tanya Danil pada Dirke dan aku.

“Menurut lo?” balasku cepat sambil tertawa.

Selalu seperti itu, kami membiarkan jawaban menggantung di udara dan tidak pernah memberikan klarifikasi tentang hubungan kami. Ini menyenangkan, membuat hati berdebar, dan sungguh membuat ketagihan. Hal-hal kecil seperti ketika Dirke memegang tanganku erat saat pulang ke apartment atau ketika kami berebut untuk saling membayar belanjaan di minimarket telah menjadi kebiasaan akhir-akhir ini.

“Lo mau rasa sapi panggang atau rasa rumput laut, nih?” tanya Dirke saat kami di minimarket. “Atau dua-duanya aja?” Dirke menambahkan sambil tertawa.

“Lo mau rasa jeruk atau rasa stroberi, nih?” balasku meledek. “Atau dua-duanya aja?”

Tangan Dirke langsung tegang sejenak. Ia menatapku dengan senyum yang tak bisa dibaca dan mata yang berbinar-binar. Jemari Dirke mengambil dua kotak kondom di hadapan kami dan menaruhnya di keranjang belanja.

“Dua-duanya aja, Ci.”

Aku mengeluarkan dompet, hendak membayar belanjaan kami. Tapi Dirke menahan tanganku dan hendak mengeluarkan uangnya sendiri. Kami saling berebut di depan kasir, hendak menyodorkan uang kami masing-masing.

“Kali ini, please biarin gue yang bayar,” kataku.

“Enggak, Ci. Gue yang bayar,” ujarnya tegas sebelum berbisik pelan di telingaku. “Biarkan gue yang bayar. Kalau enggak, gue akan cium elo di sini, Ci.”

Membeku, tanganku tidak bisa bergerak sama sekali. Saat itulah, Dirke berhasil memberikan uangnya pada kasir. Aku berdecak, tak percaya bahwa ancaman tak masuk akal itu sukses membuatku takut.

-=-

Aku membuka mata, merasakan sinar matahari menusuk pelan kelopak mataku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa sehangat ini ketika bangun tidur. Biasanya, dingin menusuk kulitku meski pendingin ruangan tidak pernah dinyalakan saat aku terlelap. Di lantai sembilan, cukup membuka jendela dan pintu balkon untuk merasakan sensasi dingin.

“Lo udah bangun?” suara Dirke terdengar di telingaku.

Menoleh, aku melihat Dirke di sampingku dengan wajah senangnya. Mungkin, kemarin dan tadi malam, ia mendapatkan kesenangan yang tak ada habisnya. Dirke langsung memeluk tubuhku lagi dan mencium leherku.

“Ko, hari ini kita kuliah jam dua,” kataku. “Jangan ninggalin jejak yang kelihatan orang.”

“Gue tahu, Ci.”

Kasurku tidak terlalu besar, membuat tempat tidur kami tidak terlalu besar tadi malam. Tapi Dirke sangat senang dengan keterbatasan tempat itu, merasa bahwa hal tersebut adalah kesempatan yang menyenangkan untuk kami.

“Kesalahan kita adalah terlalu banyak menyimpan memori, Ko,” kataku pelan. “Gue takut, memori indah itu gak bisa dilupakan.”

Dirke berhenti menciumi tubuhku. Ia beralih ke wajahku dan mencium bibirku lagi. Rasa sesak di dadaku seperti ingin meledak. Mataku agak basah, tanpa alasan berkaca-kaca dan ingin menangis. Kutahan tangis itu, takut kalau Dirke melihatnya dan menanyakan hal itu. Sementara aku hanya takut. Takut kehilangan dan takut merindukan.

“Ci,” bisik Dirke pelan. “Ada satu memori yang belum kita bikin sampai sekarang. Lo belum pernah manggil gue dengan nama gue. Dan gue pun belum pernah manggil elo dengan nama lo,” katanya dengan sangat pelan. “Gue pengen dengar lo panggil nama gue, Ci.”

Aku tersenyum tipis, mengusap wajahnya dengan lembut. Kubelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, merasakan helaian tipis itu di setiap sudut jariku.

“Dirke,” panggilku berbisik.

“Lagi, please,” pintanya pelan, membentuk senyum kecil dengan sudut bibirnya.

“Theodorick Kusuma Widjaja,” kataku lagi. “Dirke.”

“Ya, Jozka?” katanya balik, membuatku terkekeh geli.

“Cium gue, Dir. Di mana pun yang elo mau.”

Dirke tertawa senang, sangat senang dan mencium seluruh bagian tubuhku yang dapat dia temukan. Aku ikut terbawa kebahagiaan itu, menyebutkan nama Dirke tiap kali ia menyentuhku. Kami terus seperti itu hingga hampir terlambat datang ke kampus.

-To be continued-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s