They Never Know [13/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tiga Belas

Ucapan Selamat Tinggal

 

[Dirke]

Saat UAS sudah tinggal esok, aku tahu bahwa ini adalah waktunya Jozka dan aku untuk saling meninggalkan. Mengingat nilai-nilai UTS Jozka tidak sebagus harapannya, ia berjuang keras agar UAS ini bisa meningkatkan hasil akhirnya. Sementara aku hanya menemaninya dengan setia, menjaganya agar tidak sakit dan tidak lupa makan.

“Alat tulis udah lengkap?”

“Udah, Joz.”

“Nama lengkap dosen jangan lupa.”

“Iya, Joz. Pasti.”

“Jangan kebanyakan nonton bokep kalau lagi UAS.”

“Apa?! Elah,” aku tertawa keras sebentar. “Enggaklah!”

“Jangan mikirin gue terus.”

Aku menghela napas sebelum menatap Jozka. Ia duduk di samping diriku, di atas kasurku, dan memakai tank top serta celana pendek birunya.

“Joz,” panggilku akhirnya, membuatnya menoleh.

“Sekali ini aja, gue pengen hati gue berbicara. Gue pengen sentuh elo dengan perasaan, gak buru-buru, dan bukan karena napsu. Untuk malam ini aja, ada cinta di antara kita, Joz.”

Jozka tersentak karena kata-kataku barusan. Ia menelan ludahnya, membuang tatapannya ke jendela sebelum berdiri dan bersandar di jendela kamarku. Latar malam di jendela menjadi pemandangan yang menghias Jozka saat itu. Lampu-lampu bangunan lain dan bintang-bintang pun seperti memberi cahaya yang indah.

“Lo udah sinting karena kebanyakan belajar, Dir.”

Aku berdiri, mematikan lampu. Tak ada protes dari mulut Jozka ketika aku mendekatinya di jendela dan memeluknya erat. Kucium sudut bibirnya hati-hati, merasakan balasannya perlahan. Detak jantung Jozka terasa di tubuhku, mengalirkan debaran yang sama di jantungku.

“Gue sinting karena lo, karena hubungan gila kita, Joz,” ujarku. “Kita cuma beberapa minggu bersama. Tapi rasanya, gue seperti mempunyai seluruh dunia ini saat sama elo.”

Aku bisa melihat mata Jozka berkaca-kaca menahan tangis. Sesekali, ada cahaya kilat di langit malam. Langit mendung, tak ada bedanya dengan mendung dalam hati kami berdua.

“Besok, dunia itu udah bukan milik kita lagi, Dir.”

Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Jozka. Bersamaan dengan tangisnya, tetes hujan pertama pun jatuh dari langit dan mulai membasahi jendela.

“Besok, dunia ini cuma jadi kenangan kita, Joz. Hanya kita yang pernah menginjak dunia itu, dan hanya kita yang tahu tentang kisah itu.”

Bibir Jozka gemetar, saat ia menangis. Aku menciumnya, merasakan air matanya di sana. Tanpa kusadari, aku pun menangis saat tangan Jozka membelai rambutku lembut. Kenangan dari awal pertemanan kami hingga hari ini pun seperti terulang di kepalaku.

“Gue akan selalu mengingat lo sebagai cowok pertama yang ngajak gue kenalan lebih dulu,” kata Jozka pelan. “Dan selalu mencoba ngasih pertanyaan tiap kali gue presentasi.”

“Lo adalah cewek pertama yang bikin gue minta maaf sama nyokap gue waktu ngomong kasar sama dia. Lo juga gak jijik untuk ngomongin bokep sama gue dan ngeladenin fantasi gila gue. Lo satu-satunya yang bikin gue punya mimpi, punya cita-cita, dan punya teman.”

“Lo adalah hal-hal pertama gue, Dir. Date pertama gue, ciuman pertama gue, make out pertama gue, seks pertama gue, dan putus pertama gue,” ia tertawa di tengah tangisnya. “Gue gak nyangka bahwa lo akan jadi bagian penting dalam hidup gue. Kadang gue benci lo karena lo berani merusak tatanan hidup gue. Tapi di sisi lain, gue bahagia karena pernah mengenal lo.”

Air mata Jozka semakin deras. Ia terus menangis tanpa suara dan memelukku untuk menyembunyikan rasa sedih itu. Bahuku basah karena air matanya. Aku bukan hanya merindukan Jozka, tetapi juga merindukan kebahagiaan yang ia bagi bersamaku.

“Lo orang pertama yang bikin gue sadar kalau seks itu bukan cuma napsu. Gue lebih ngehargain wanita gara-gara elo. Gue lebih menghargai nyokap gue, dan gue juga menghargai teman-teman cewek. Pandangan gue tentang perempuan berubah gara-gara elo, Joz. Gue jatuh cinta sama semua sikap lo. Makasih udah nyelamatin gue dari dunia yang gelap ini, Joz.”

“Gue akan terus mengingat lo sebagai rahasia kecil gue, Dir.”

Hujan turun tanpa henti malam itu, menemani saat-saat aku melepaskan tiap helai pakaian Jozka. Juga ketika Jozka menyentuh tiap permukaan kulitku dengan jemarinya. Malam itu, aku memanggil nama Jozka dengan seluruh sel tubuhku dan menyimpan tiap memori tentangnya. Begitu pula Jozka, ia memanggil namaku dengan segala kesedihan yang tersisa.

“Sekarang, tiap hujan turun, gue akan teringat sama perpisahan kita, Joz.”

Jozka memeluk tubuhku dengan gemetar. Ia masih terus berusaha tersenyum di tengah kesedihan itu. Senyum getirnya membuatku ikut merasa sakit.

“Dan sekarang, gue mungkin sudah merindukan elo, Dir.”

-=-

Paginya, ketika aku membuka mata, Jozka sudah tidak ada di sampingku. Hanya ada sisa keberadaannya yang tertinggal di sana. Sebuah catatan kecil ditinggalkan Jozka di meja belajarku. Isinya sederhana, tidak seperti hubungan rumit yang kami bangun selama ini.

Selamat UAS, Dir. Good luck. Jangan telat. Thank you untuk segalanya.

Di samping catatan itu, ada gelang tali biru dari kulit. Kusentuh gelang itu perlahan sebelum memakainya di tangan kiriku. Ada tulisan ‘Tu deviens responsable pour toujours de ce que tu as apprivoisé’ di gelang itu. Itu quote favorit Jozka dari buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Artinya ‘You become responsible forever for what you have tamed’.

“Selamat UAS, Joz. Gue akan rindu elo,” jawabku, entah pada siapa.

Di kampus pun, Jozka hanya bisa mengangguk kecil saat ia bertemu pandang denganku. Aku juga membalasnya dengan cara yang sama sebelum berjalan ke tempat dudukku dan menyiapkan alat tulisku untuk ujian. Selesai ujian, Jozka kembali bersama teman-temannya, membicarakan soal-soal ujian yang menurut mereka sulit.

“Ci, lo gak bareng Dirke lagi?”

Aku merasakan namaku disebut oleh Wanda. Jozka dan teman-temannya hanya berjarak beberapa meter dariku. Aku bisa melihat Jozka dari tempatku berdiri, termenung mengingat tangisan kami tadi malam. Rasanya, Jozka begitu dekat dan begitu jauh di saat bersamaan.

“Dir, lo gak bareng Jozka?” Gading tiba-tiba bertanya, masih tersenyum jahil dan ingin meledekku agar menghampiri Jozka.

Tapi wajah murungku menjawab semuanya. Aku menggeleng kecil sambil tersenyum. Tanpa sadar, telunjuk kananku menyentuh gelang biru yang kupakai di tangan kiri.

“Gue bisa pulang sendiri,” aku berjalan melewati Jozka dan teman-temannya.

“Ci, itu si Dirke lewat. Kok gak nyapa, sih? Kalian berantem lagi, ya?”

Wanda, teman Jozka yang bawel itu, tentu bingung dengan perubahan sikap Jozka dan aku. Kami kembali seperti awal lagi, awal di mana kami tidak saling kenal dan hanya teman sekelas yang kebetulan saling mengetahui nama. Aku sempat berhenti berjalan, ingin tahu alasan yang akan Jozka sampaikan untuk Wanda.

“Lo gak perlu khawatir masalah gue dan dia. Banyak hal yang susah dijelaskan, Wanda. Kadang kala, dibanding menjelaskan itu semua, gue lebih suka menyimpannya sendirian.”

Jawaban Jozka benar. Sulit menjelaskan apa yang sudah terjadi pada kami selama beberapa minggu menjalin hubungan ini. Teman-teman Jozka tidak akan terima kalau mengetahui bahwa Jozka dan aku sudah lebih dari sekadar teman. Aku berjalan meninggalkan Jozka, tidak ingin mendengar pembicaraan mereka lagi tentang diriku. Hujan turun saat aku mencapai lobi kampus, hendak berjalan kaki pulang ke apartment. Jozka pasti bawa payung. Dan kalau kami masih berhubungan seperti dulu, pasti kami pulang berdua di bawah satu payung.

“Gue kangen elo, Joz,” bisikku pada diriku sendiri. “Gue senang hujan turun sekarang. Jadi gue bisa mengingat elo.”

Dan mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku akan menangis karena masalah perempuan. Ini yang terbaik untuk Jozka dan aku. Ini yang terbaik untuk kami.

Semoga kami baik-baik saja dengan keputusan itu. Aku harap, Jozka baik-baik saja.

-=-

“Jadi, ini acara terbarunya radio kampus,” cerita Bram sambil terkekeh. “Seru banget formatnya. Menjelang libur semester, bakal banyak anak-anak yang lulus dan gak kuliah di sini lagi. Intinya sebenarnya untuk ngirim pesan-pesan yang sulit diungkapin buat seseorang. Nanti pesan-pesan terbaik bakal dibacain di radio kampus.”

Valentino, Rafael, Gading, dan Andi sangat antusias mendengar cerita Bram. Sementara aku antara ada dan tiada, menunggu Bram menyudahi cerita kegiatan baru UKM radio kampus yang katanya seru itu.

“Tapi anak semester dua boleh ikutan, ‘kan?” tanya Rafael.

“Oh boleh dong!” Bram mengangguk. “Kalian bisa ambil formulirnya di gue. Tambahan lagi, ada hadiah buat yang terbaik.”

“Gue mau dong. Mau ngirim ke Bu Kayla,” kata Andi sambil menadahkan tangan.

Bram sibuk membuka tasnya, mengeluarkan formulir dan memberikannya pada Andi.

“Gue juga, Bram,” tambah Valentino, Rafael, dan Gading.

“Bentar, bentar,” Bram sibuk mengeluarkan kertas-kertas itu dari tasnya. “Lo gak mau, Dir?” tawarnya padaku. “Ambil satu, gih. Kali butuh.”

Malas-malasan, aku mengambil formulir itu, melipatnya sebelum menyelipkannya ke saku celana, bertumpuk dengan handphone dan dompetku.

-=-

Di hari terkahir UAS, Bram menemuiku sebelum aku pulang ke apartment. Kami baru saja menyelesaikan ujian kami dan waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang.

“Lo jangan pulang dulu, Dir,” kata Bram tiba-tiba, mencegatku saat aku sudah hendak turun tangga. “Ada siaran radio kampus bentar lagi. Surat lo buat Jozka kepilih.”

Aku terdiam, menatap Bram dalam-dalam sebelum melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang mendengar kata-kata itu.

“Gue gak paham maksud lo.”

“Dir,” kata Bram setelah menarik napas. “Gue ikut jadi panitia yang baca surat. Meski surat lo anonim, gue tahu itu tulisan lo. Dan gue tahu kalau lo tulis itu buat Jozka. Jadi gue suruh Wanda untuk bikin Jozka, entah gimana caranya, mendengar siaran radio kampus.”

“Jozka udah pulang. Hari terakhir UAS, Jozka dan gengnya mau main di kos Sadewa.”

“Lo gak percaya sama Wanda?” Bram tertawa kecil. “Dia punya seribu cara yang kita gak bakal pernah kira.”

Bersama Bram, aku turun tangga menuju kantin yang agak sepi. Di salah satu kursi kosong, aku duduk berhadapan dengan Bram. Bram juga cemas, duduk sambil melihat handphone berkali-kali. Siaran radio kampus sudah dimulai sejak sepuluh menit lalu.

‘Nah, listeners, sebentar lagi kami bakal bacain salah satu surat paling keren yang masuk ke radio kampus. Meski anonim, buat yang ngerasa nulis surat ini, boleh bawa kopinya ke tempat kami dan minta hadiahnya.’

“Surat lo, Dir,” bisik Bram sambil mengetik di aplikasi chat miliknya. “Gue kasih tahu Wanda dulu.”

Aku diam, mendengarkan siaran dari seluruh penjuru kantin. Suara salah satu penyiar laki-laki itu memulai membacakan suratku.

Untuk lo, yang banyak kecewa karena gue. Ada banyak hal yang ingin gue sampaikan di perpisahan kita. Tapi, semua itu gak terucap sampai detik ini. Gue sempat merasa bahagia sama lo. Di saat bersamaan, gue dengan bodohnya berusaha meninggalkan lo.

Ada terlalu banyak dosa yang gue buat dalam hidup. Kalau gue daftar semua dosa itu, neraka gak bakal cukup untuk nampung gue. Jangankan neraka, ortu gue pasti udah gak mau nampung gue. Mereka bakal nyoret gue dari kartu keluarga. Saat itu, gue selalu merasa diri gue adalah korban dari keluarga gue yang perfeksionis. Sampai akhirnya gue ketemu elo.

Awalnya gue deketin lo karena penasaran. Kata orang-orang, lo itu baik dan pintar. Gue belum pernah berurusan sama cewek baik-baik. Jadi gue penasaran. Lo terlihat cerdas dan susah disentuh. Tapi ternyata, lo gak seperti bayangan gue selama ini.

Lo gak membiarkan orang lain masuk ke backstage lo. Lo mengunci diri dibalik topeng lo dan mengutamakan image lo, membuat lo dibenci sekaligus dicintai. Gue kaget saat tahu bahwa image pintar dan baik itu cuma pura-pura. Lo sebenarnya gak ada bedanya sama gue, amburadul dan sesukanya sendiri. Yang bikin gue lebih kaget adalah lo membiarkan gue masuk ke backstage lo, di mana lo melepas topeng lo dan semua kepalsuan lo.

Lo ternyata cewek lemah juga, yang bisa nangis gara-gara kangen ortu lo yang tugas di negara lain. Lo bisa konyol, dengan segala jokes garing lo yang bikin gue gila. Lo marah-marah sama agen internet yang gak tepat janji. Terus, lo bisa pakai baju asal-asalan dan gak mikirin citra lo ketika cuma berdua gue. Dan ternyata, lo juga bisa galau gara-gara cowok.

Sementara gue sering bikin lo kecewa, sering telat, gak bikin tugas, dan berantem sama orang lain. Tapi gue mau berubah demi lihat lo senang, demi lihat tawa lo, demi dengar suara lo. Gue jadi lebih baik bukan untuk siapa-siapa kecuali lo. Gue cuma pengen lo bangga punya teman kayak gue, yang katanya gak ada gunanya. Lo kasih kesadaran kalau gue bukan korban. Lo kasih mimpi, cita-cita, dan harapan. Di saat bersamaan, lo kasih kebahagiaan.

Saat kebahagiaan itu jadi milik kita, kita emang gak pernah menyadarinya. Lo harus menemukan cowok yang lebih baik dari gue dan gue juga ingin menemukan cewek yang tipe gue, tapi bukan elo. Saat itulah kita memutuskan untuk menjauh dari pertemanan yang kita jalin. Gue, dengan tololnya, melepaskan elo. Padahal lo adalah kebahagiaan gue. Gue jadi berandai-andai kalau gue tidak membiarkan lo pergi.

Lucu rasanya. Seperti kutipan di novel kesukaan lo, The Little Prince, kita selamanya bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kita jinakkan. Lo sudah menjinakkan gue, dan gue sudah menjinakkan elo. Apakah ini artinya gue dan elo akan selamanya bertanggung jawab tentang kita? Kalau iya, gue senang. Itu artinya, gue bisa selamanya sama lo.

Tapi kalau memang lo bukan ditakdirkan untuk gue, gue udah cukup bahagia dengan waktu beberapa minggu yang kita habiskan bersama. Gue akan selalu mengingat dunia kecil kita, di mana kita bahagia dan hanya kita yang ada di sana.

Gue akan selalu mengingat lo.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s