They Never Know [14/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Empat Belas

Kehidupan Sekarang

 

[Jozka]

Keadaan membaik di semester tiga. Aku tak pernah berharap banyak pada pertemananku dengan enam sahabat dekatku sejak semester satu. Ternyata, manusia memang berubah.

“Ci, tolong titip pesan buat pengurus UKM, ya,” kata Flora padaku saat ia, Lana, Wanda, dan aku sedang bersiap-siap ke kampus dari apartment. “Gue ada janji sama Nakula, nih. Jam lima dia jemput di kampus. Gue gak bisa ikut UKM.”

Flora menjalin hubungan dengan Nakula, laki-laki yang sempat memilih menjadikan Flroa sebagai teman saja.

“Oh, iya, gak masalah. Gue nanti sampaikan ke pengurusnya,” jawabku sambil memakai sepatu. “Lo bawa kartu apartment, ‘kan?”

“Bawa, Ci. Gue sama Lana duluan, ya.”

Lana tinggal bersama Flora sejak semester tiga, menyewa kamar apartment ukuran studio di tower yang sama denganku. Bedanya, mereka menyewa di lantai enam, sementara aku menyewa di lantai sembilan sejak awal tinggal di apartment. Tadi malam, mereka dan Wanda bermain di kamarku hingga larut dan tertidur di tempatku.

“Gue pergi bareng Cici aja, ya,” kata Wanda padaku saat Flora dan Lana sudah keluar.

“Lo gak dicariin sama Bram?” tanyaku balik.

“Enggak, kok,” ia terkekeh sesudahnya.

Wanda menjalin hubungan baik dengan Bram, salah satu teman Dirke yang lucu dan menyenangkan. Mereka sering mengerjakan tugas bersama. Bram mengambil beberapa mata kuliah dalam jam dan kelas yang sama dengan Wanda. Kadang aku juga melihat mereka bersama di jam makan siang.

“Gue berangkat lima belas menit lagi,” kataku sambil melihat jam. “Lima belas menit lagi, kalau lo gak siap, gue tinggal,” ancamku, membuatnya tertawa.

“Udah siap, kok,” Wanda berdiri dari posisi duduknya. “Berangkat sekarang juga gak apa-apa, Ci,” tambahnya sembari merapikan baju.

“Oke,” jawabku cepat.

Kami keluar dari kamarku, membawa tas kami dan menuju lift. Aku menekan tombol turun, menanti beberapa menit. Sekitar tiga menit kemudian, pintu salah satu lift terbuka disertai bunyi dentingan. Ada laki-laki berdiri di sisi kanan dalam lift, membuatku tertegun sejenak.

“Dirke?” Wanda menyapa laki-laki itu dengan sopan.

“Hai kalian,” Dirke tersenyum pada Wanda dan aku.

Dirke menekan tombol buka di dekat pintu lift untuk menahan pintu. Wanda dan aku masuk, berdiri di sisi kiri lift sambil menunggu pintu lift.

“Gimana rasanya tinggal di kamar yang baru?” tanya Wanda pada Dirke. “Udah betah di kamar yang baru?” tanya Wanda lagi.

“Lumayan,” Dirke tertawa kecil. “Di D ternyata enak juga. Ke minimarket lebih dekat dan ke kampus pun lebih dekat.”

Dirke dan Wanda membahas Danil dan Nakula yang kini sekelas dengan Dirke. Dirke tidak mengisi KRS bersamaku agar bisa menghindariku. Nakula memutuskan untuk sekelas dengan Flora. Sementara Danil butuh untuk terus bersama pacarnya di kelas itu. Tak heran, Danil dan Flora sangat tahu berita terkini tentang Nakula. Lift pun sampai di lantai dasar. Aku tersenyum kecil pada Dirke sambil mengangkat alisku.

“Duluan, ya,” kataku.

“Kalian mau ke kampus, kan?” Dirke bertanya pada Wanda dan aku. “Gue juga akan ke kampus, kok. Barengan boleh, gak?”

“Boleh,” anggukku kecil. “Tumben lo bawa tas ke kampus. Tepat waktu pula datangnya.”

Aku hendak membentak diriku sendiri yang terlalu ramah pada Dirke. Padahal aku sudah berjanji pada diriku agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang terlalu berlebihan pada Dirke.

“Gue takut ada yang kecewa sama gue kalau gue belum berubah.”

Jawaban Dirke membuat Wanda batuk beberapa kali. Wanda menatapku khawatir, mungkin takut kalau aku jatuh lemas tak berdaya di lantai dan menangis tersedu-sedu. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku hanya mengangkat alis santai dan tersenyum menanggapi Dirke.

“Mungkin ortu lo akan kecewa kalau lo masih kayak dulu.”

Kami bertiga berjalan kaki menuju kampus dalam keheningan. Hanya Wanda yang berusaha memecahkan keheningan dengan Dirke. Aku hanya menjawab kalau ditanya dan tidak menanya balik karena masih menyesali kebiasaan bawelku tadi.

“Jozka!”

Suara itu membuat kami bertiga menoleh. Sadewa, yang tidak memanggilku Cici lagi sejak semester tiga, melambai padaku dengan senyum manisnya. Hubunganku dengan Sadewa membaik, malah semakin dekat.

“Hai,” aku tersenyum. “Mau bareng?”

“Iya dong,” ia memegang pergelangan tanganku.

Guys, gue duluan, ya,” kata Dirke pada Wanda, Sadewa, dan aku.

“Oh, iya, iya, Dir,” Wanda melambai semampunya pada Dirke. “Ci, Sadewa, gue juga duluan, ya. Gue mau ngambil tempat duduk yang enak.”

Sadewa dan aku mengangguk kecil. Ketika kami tinggal berdua, Sadewa menatapku dengan sangat khawatir.

“Lo gak apa-apa, Joz?”

“Aneh rasanya dengar lo manggil gue pakai nama,” jawabku.

“Jangan mengalihkan obrolan, deh. Muka lo udah kayak mau nangis tadi.”

“Kenapa gue harus nangis?”

“Kangen Dirke, mungkin? Kalian gak ubahnya sepasang kekasih yang harus putus karena sesuatu yang gak bisa didefinisikan hingga saat ini.”

“Kami menjauh karena gue pengen dapat cowok yang baik dan pas buat gue. Dan dia mungkin ingin mendapatkan cewek yang bisa memuaskan segala fantasi dia tentang wanita. Gue bukan tipe dia dan dia bukan tipe gue.”

“Barusan itu penyangkalan paling konyol dan gak punya argumen yang tepat sama sekali, Joz,” tegas Sadewa. “Siaran radio waktu itu, itu surat Dirke untuk lo, ‘kan?” kata Sadewa tiba-tiba. “Waktu di kosan gue, hari terakhir UAS semester lalu, Wanda maksa kita dengerin siaran radio sekolah dari hapenya tanpa alasan yang jelas. Sekarang gue tahu alasannya.”

“Lo gak tahu apa-apa, Sadewa,” kutinggikan suaraku.

Tanpa kata-kata lagi dan tanpa menunggu balasan Sadewa, aku meninggalkan laki-laki itu. Buru-buru, aku melangkah menuju lift dan menekan tombol lift. Pintu lift terbuka, dan aku melangkah masuk sebelum Sadewa sempat mengejarku.

-=-

Ingatanku kadang terlempar ke hari terakhir UAS. Hari itu, kami bertujuh berkumpul di kosan Sadewa dan bermain kartu. Wanda tidak konsentrasi sama sekali saat bermain kartu. Kebanyakan, ia bermain handphone, entah membalas chat dari siapa.

“Teman-temanku, dengerin radio kampus bentar, yuk,” tiba-tiba Wanda heboh sendiri. “Kata Bram, ada surat pemenang event terakhir radio bakal dibacain. Kali-kali gue menang.”

“Hah?” Nakula melongo. “Emang lo ikutan?”

“I-iya,” Wanda tertawa datar.

“Tumben,” Flora menggeleng-geleng tak percaya. “Haus poin banget, ya?”

“Lumayanlah. Dapat dua poin satuan kredit mahasiswa kalau terpilih,” balas Wanda lagi sambil mengacungkan jempol.

Mengalah, kami menghentikan permainan dan mendengar siaran radio lewat handphone Wanda.

Untuk lo, yang banyak kecewa karena gue. Ada banyak hal yang ingin gue sampaikan di perpisahan kita. Tapi, semua itu gak terucap sampai detik ini. Gue sempat merasa bahagia sama lo. Di saat bersamaan, gue dengan bodohnya berusaha meninggalkan lo.’

Ketika kalimat itu dibacakan, aku langsung membeku tanpa alasan. Kupikir, tak mungkin Dirke serajin itu dan menulis surat kepada radio kampus hanya demi poin satuan kredit mahasiswa. Aku masih mengira bahwa itu milik orang lain.

“Wow, itu punya lo, Wan?” tanya Sadewa pada Wanda dan dijawab gelengan Wanda.

‘Ada terlalu banyak dosa yang gue buat dalam hidup. Kalau gue daftar semua dosa itu, neraka gak bakal cukup untuk nampung gue. Jangankan neraka, ortu gue pasti udah gak mau nampung gue. Mereka bakal nyoret gue dari kartu keluarga. Saat itu, gue selalu merasa diri gue adalah korban dari keluarga gue yang perfeksionis. Sampai akhirnya gue ketemu elo.

Awalnya gue deketin lo karena penasaran. Kata orang-orang, lo itu baik dan pintar. Gue belum pernah berurusan sama cewek baik-baik. Jadi gue penasaran. Lo terlihat cerdas dan susah disentuh. Tapi ternyata, lo gak seperti bayangan gue selama ini.’

“Gimana kalau kita matiin aja?” kata Nakula akhirnya. “Itu bukan punya Wanda.”

“Jangan!” Wanda berseru. “Please, please, please. Dengerin dulu ini,” mohon Wanda dengan wajah memelas.

“Biarin aja, guys. Wanda mau dengar ini bentar,” bela Lana akhirnya.

Aku, masih separuh tidak percaya bahwa surat itu memang milik Dirke, akhirnya bertemu mata dengan Wanda. Tubuhku rasanya lemas, seolah mendapatkan konfirmasi dari kedipan mata Wanda yang tertuju padaku. Kata-kata demi kata-kata pun mengalir dari siaran radio itu. Aku mendengarkannya sambil menahan tangis.

‘Lucu rasanya. Seperti kutipan di novel kesukaan lo, The Little Prince, kita selamanya bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kita jinakkan. Lo sudah menjinakkan gue, dan gue sudah menjinakkan elo. Apakah ini artinya gue dan elo akan selamanya bertanggung jawab tentang kita? Kalau iya, gue senang. Itu artinya, gue bisa selamanya sama lo.’

Sebenarnya, aku senang ketika melihat Dirke memakai gelang biru yang kuberikan padanya. Ada quote favoritku di sana, dan Dirke ternyata tahu quote itu.

‘Tapi kalau memang lo bukan ditakdirkan untuk gue, gue udah cukup bahagia dengan waktu beberapa minggu yang kita habiskan bersama. Gue akan selalu mengingat dunia kecil kita, di mana kita bahagia dan hanya kita yang ada di sana.

Gue akan selalu mengingat lo.’

Tanganku terkepal kuat agar tangisku tidak jatuh saat surat itu berakhir. Kuhela napas dan kutatap Wanda dari tempat dudukku. Enam teman baikku itu saling menatap tak mengerti, entah berbicara dengan telepati atau dalam hati. Berdiri, aku melihat satu demi satu temanku itu.

“Gue ke toilet bentar, ya,” kataku.

Di toilet, aku menangis sebisanya. Aku mengingat segalanya dengan baik. Kutangisi segala perpisahanku dengan Dirke yang menyakitkan. Dan mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku akan menangis karena masalah laki-laki. Ini yang terbaik untuk Dirke dan aku. Ini yang terbaik untuk kami.

Semoga kami baik-baik saja dengan keputusan itu. Aku harap, Dirke baik-baik saja. Aku harap, di kehidupan selanjutnya, kami bisa bertemu dan memulai segalanya dari awal lagi.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s