They Never Know [15/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Epilog

Kehidupan Selanjutnya

 

[Dirke]

Sebenarnya, rencana melanjutkan pendidikan tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Tapi ternyata hubungan singkatku dengan Jozka mengubah diriku dan hidupku. Melanjutkan cita-cita yang pernah disusun Jozka, aku berada di Berlin, mengerjakan thesis di usiaku yang menginjak dua puluh delapan tahun.

“Ingin tambah teh?” tawar seorang pelayan café padaku.

Saat ini aku berada di sebuah café di area Westend, Berlin. Sudah dua kali aku melihat jam tangan tiap kali pelayan menawarkan tambahan teh. Dulu, aku anti memakai jam tangan, membuat Jozka emosi karena aku sering terlambat. Kini, aku mengerti rasanya menunggu. Apalagi, tiap kali melihat jam tanganku, aku melihat gelang kulit biru dari Jozka. Sekarang, aku sedang menunggu pengganti Jozka. Semoga Ray tidak mengecewakanku dengan pilihannya.

Bitte,” anggukku, membiarkan pelayan itu mengisi gelasku.

Ingatanku melayang pada Ray, teman yang kukenal di Kedutaan Besar Republik Indonesia setahun yang lalu. Percakapan terkahir kami adalah alasanku di sini sekarang.

“Dirke, menurut gue, itu udah jalan terbaik. Lo pulang ketika pendidikan lo kelar. Bokap lo sangat berharap lo bisa terusin perusahaan dia. Bukankah ini yang lo inginkan? Dari dulu, lo ingin dianggap penting oleh bokap lo.”

“Tapi, Ray, gue tiba-tiba gak pengen pulang. Indonesia kayak mimpi buruk gue. Hal-hal yang gue gak ingin ingat ada di sana semua.”

“Udah hampir lima tahun, Dir. Lo harus move on. Gue yakin cewek itu udah move on.”

Jozka sudah move on adalah fakta yang menyakitkan. Ia menjalin hubungan dengan Sadewa setelah lulus. Aku beberapa kali melihat foto-foto mereka di profil aplikasi chat mereka.

“Tapi gue belum. Gue masih merindukan dia.”

“Itu cuma rindu, Dir. Menurut gue, kalau emang lo harus pulang, ya pulang. Gak usah mikir masalah cewek. Cewek banyak, Dir. Gue punya kenalan cewek cakep. Lo udah kelamaan single, ‘kan? Gue punya kenalan yang pinter ngajar.”

“Mantap. Gue belum pernah pacaran sama guru.”

“Hati-hati sama fantasi lo, Dir. Gue tahu, lo sering liat bokep yang roleplay jadi guru dan murid. Sekadar informasi, cewek itu asisten dosen, bukan guru. Sorry udah ngerusak fantasi lo. Dan dia orang Praha, Ceko.”

Waktu itu, aku langsung berhenti tertawa saat mendengar kalimat terakhir Ray. Kata Praha, menyimpan kenangan yang sangat penting, yaitu Jozka.

“Praha, Ray?”

“Iya. Lo gak pernah berfantasi tentang cewek Praha, ‘kan?”

Aku tak perlu berfantasi tentang perempuan Praha untuk mengetahui mereka lebih dalam. Secara teknis, Jozka orang Praha, dan aku tahu segala sesuatu tentang perempuan itu. Jozka bukan sekadar fantasi. Ia pernah menjadi kenyataan paling indah sekaligus paling menyakitkan dalam hidupku. Kehadirannya seperti tetes hujan di jendela, menyejukkan sekaligus singkat.

“Belum pernah.”

“Kalau gitu, nanti gue atur janji sama dia. Biar lo kenalan sama dia dan jalin hubungan sama dia. Kalau cocok ya lumayan. Lo bisa ajak ke Indonesia.”

Separuh dari hatiku berharap perempuan itu adalah Jozka. Sisanya aku hanya bisa berharap, bila perempuan itu benar-benar orang Praha, setidaknya ia seperti Jozka. Dengan harapan itulah aku menunggu di sini, menanti perempuan itu.

Entschuldigung,” suara seorang perempuan terdengar dari arah belakangku. “Es tut mir sehr leid. Maaf aku terlambat. Jalanan macet dan bus yang kukendarai tidak bisa bergerak sama sekali,” kalimat panjang dalam Bahasa Jerman itu menerjang telingaku.

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil berdiri dan berbalik.

Mata kami bertemu dan jantungku seperti berhenti. Ada seorang perempuan dengan coat biru tua berdiri di depanku. Tubuhnya kurus, ditopang heels boots hitamnya yang membuatnya tambah tinggi. Perempuan itu tampak kaget ketika melihatku dan mengedip berkali-kali.

“Dirke?”

Saat namaku keluar dari mulut perempuan itu, aku merasakan sengatan listrik yang luar biasa di tubuhku. Aku merasa lemas, ingin jatuh ke lantai jika saat itu bukan di tempat umum.

“Jozka,” panggilku pelan. “Apa kabar?”

-=-

[Jozka]

 

Aku masih terkejut karena Ray ternyata membawakan Dirke untukku, teman laki-lakiku di masa kuliah dulu. Kami berdua, masih merasa canggung atas keadaan yang tidak sengaja ini, hanya bisa mengobrol tentang hal-hal basa-basi.

“Teman-teman lo yang lain gimana?”

Well,” aku menghela napas. “Lana kerja di radio sebagai penyiar. Wanda pacaran sama Gading, salah satu teman lo di kampus dulu. Dia gak lanjut sama Bram. Flora sempat berhubungan sama Nakula sebelum memutuskan untuk gak lanjut karena Nakula pindah tugas ke kota lain. Flora balik sama Om Adi, pacarnya dulu. Danil masih sama pacarnya yang dulu.”

“Sadewa?”

“Dia balik ke Lampung, tempat kelahirannya. Mamanya udah nyiapin cewek yang mau dijodohin dengan dia. Sadewa mau menikah beberapa bulan lagi. Undangan udah jadi. Tapi gue gak yakin bahwa gue akan datang,” kataku menutup cerita pahit itu.

“Sayang banget, ya. Padahal dia cocok sama lo.”

“Tapi gue belum siap nikah. Gue butuh waktu sebelum memutuskan stay di rumah dan besarin anak. Sementara dia minta agar gue gak lanjut sekolah dan tinggal sama dia. Gue gak enak bikin dia menunggu. Jadi gue putuskan untuk gak lanjut sama dia.”

“Dia pasti patah hati banget gara-gara elo.”

“Gue juga menyesal bikin dia patah hati. Tapi gue akan lebih menyesal kalau gue nikah dan gak lanjut sekolah,” tutupku. “Lo sendiri gimana? Dari tadi gue doang yang bawel.”

“Gue sibuk kerja, sibuk belajar, sibuk apa lagi, ya?” Dirke tertawa. “Sibuk lupain lo, mungkin? Lo susah banget dilupain, Joz. Gue yakin, Sadewa belum lupain lo sampai sekarang.”

“Apa susahnya lupain gue? Lo tinggal hangout sama cewek-cewek cantik di sini dan voilà, lo udah lupa sama gue.”

“Gak ada cewek yang mau hangout sama gue,” katanya.

“Oh ya?” aku kaget. “Padahal lo terlihat menjanjikan, loh, Dir. Lo punya pekerjaan, kan?” dia mengangguk. “See? Lo kerja, lo udah mau master di sini, dan lo not bad, kok. Gue yakin lo cowok baik-baik, gak narkoba dan gue rasa lo gak ngerokok karena lo gak bau rokok.”

Yang aku sebutkan tadi adalah ciri-ciri laki-laki menjanjikan dalam kamusku. Aku mencari laki-laki yang bekerja, tidak perlu kekayaannya tujuh turunan. Aku juga suka laki-laki pintar, mirip Sadewa. Sisanya, aku tak terlalu pemilih. Cukup tidak narkoba dan tidak merokok karena aku alergi rokok. Tambahan terakhir, secara fisik not bad sudah cukup.

“Ada banyak hal, Joz,” katanya. “Ternyata gue gak nemu cewek yang lebih baik dari elo. Itu masalahnya,” jawab Dirke jujur. “Ngegantiin lo gak semudah ngegantiin temen tidur.”

Hatiku terasa perih ketika Dirke mengatakan hal itu. Kilasan kenangan terlintas di kepalaku, tentang hari-hari kebersamaan kami di kampus dan kasur yang rasanya baru kemarin terjadi. Juga tawa dan tangisan kami yang ternyata sangat indah kalau diingat lagi.

“Sebenarnya, menggantikan lo juga susah,” kataku akhirnya. “Gue butuh perjuangan ekstra bersama Sadewa untuk menghapus lo. Pada akhirnya, Sadewa kalah dan gak bisa menggantikan elo. Bisa dibilang, itu alasan sebenarnya gue pisah dari dia.”

Harapan seperti mengembang di wajah Dirke. Ia menelan ludahnya, menatapku serius. Tangan kanannya memainkan gelang kulit biru yang dulu kuberikan padanya sebelum berpisah.

“Kalau gitu, lo mulai lagi dari awal sama gue aja. Mau gak?” kata Dirke.

Tawaran itu seperti sebuah jalan keluar yang bisa memecahkan semua masalahku. Mungkin ini adalah sebuah kejujuran yang kutunggu sejak dulu. Bukan sebuah pengakuan pengecut yang disiarkan radio kampus karena hubungan penuh rahasia yang kami jalani, tetapi sebuah kenyataan yang benar-benar ia tawarkan untukku.

“Di sini? Di Berlin, Dir? Kita?”

“Iya, kita. Cuma lo dan gue. Kita gak perlu pikirin orang lain dan gak perlu sembunyi-sembunyi. Berlin ada untuk kita dan Berlin bisa jadi dunianya kita. Orang lain gak perlu tahu dan mereka memang gak perlu tahu sama sekali urusan kita. Terserah kita sekarang. Pertanyaannya, lo mau ambil kesempatan itu atau gak?”

Aku menatap Dirke serius. Ini sebuah penantian panjang yang akhirnya menemukan jawaban. Dirke benar kali ini. Tidak ada yang perlu dipusingkan. Seandainya sejak dulu begitu, mungkin ia dan aku sudah bahagia sekarang. Seandainya dia dan aku tidak mencari yang lebih baik, mungkin kami sudah menatap masa depan dengan penuh harapan saat ini. Tetapi, kalau kami tidak berpisah, kami mungkin tidak akan menyadari rasa rindu itu.

“Selama bertahun-tahun, gue mikir apakah lo dan gue memang punya takdir atau enggak. Gue mau ambil kesempatan itu, Dir. Punya takdir atau enggak, gue gak peduli. Gue pengen coba jalin hubungan lagi sama lo.”

Dirke tersenyum, memegang tanganku hangat sebelum mengusapnya lembut. Sorot mata Dirke sangat berbeda dengan yang dulu. Kali ini ia punya masa depan, punya mimpi, dan punya cita-cita. Aku tidak merasa takut lagi untuk terus berjalan bersamanya. Yang terpenting, aku tidak takut lagi akan anggapan buruk orang tentang kami.

Thank you, Joz. Gue sangat bersyukur akan adanya lo di dunia ini. Orang lain gak pernah tahu betapa bahagianya gue bersama lo.”

Dan harapanku terwujud. Di kehidupan selanjutnya, kami bisa bertemu dan memulai segalanya dari awal lagi. Lagi-lagi hanya kami, tanpa perlu dicampuri urusan orang lain. Mereka tidak perlu tahu. Cukup kami yang mempunyai dunia ini.

-=-

This is a story that no one knows

Even ourselves

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s