Segreto

Segreto.jpg

| Oneshot |

| Yuta Nakamoto (NCT) |

| Horror, Mystery |

Yuta mengipasi dirinya, mencoba menghalau rasa panas menyengat dari terik matahari yang bersinar di atas Basilika Santo Petrus. Matanya menatap kumpulan turis yang memadati alun-alun tersebut, mengamati kegiatan mereka yang beragam.

“Selamat siang, Profesor Nakamoto,” ujar seseorang membuat Yuta menoleh.

Satu meter darinya, dua orang laki-laki berdiri dengan wajah serius menatap Yuta. Salah satu laki-laki, tampak sopan dengan kemeja putih dan celana panjangnya. Sementara laki-laki lain di belakangnya mengenakan pakaian khas Swiss Guard warna biru jingga.

“Selamat siang, Frater,” Yuta tersenyum.

“Saya Matthew Taeil,” kata laki-laki di hadapan Yuta. “Kami mencoba mencari seorang penerjemah yang bisa berbahasa Jepang. Sayangnya, tidak ada yang bisa melakukan pertemuan ini sekarang. Kami sangat bersyukur ketika mendengar bahwa Anda bisa berbahasa Korea dengan baik. Setidaknya, saya bisa menemani Anda selama berada di Vatikan.”

“Tidak masalah,” Yuta tersenyum sopan lagi, menampilkan deretan giginya yang begitu rapi. “Sebuah kehormatan bagi saya bahwa Vatikan memutuskan untuk memanggil saya ke sini.”

“Ini sebuah kasus yang tidak masuk akal, Profesor. Seorang Swiss Guard yang telah disumpah untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun tentang Vatikan malah membuat pernyataan mengenai ritual penyegelan iblis. Saat akan ditangkap, ia malah dibunuh oleh orang tidak dikenal,” Taeil bercerita panjang. “Paus langsung jatuh sakit ketika mendengar berita itu,” tambah Taeil sambil berbisik.

“Ya, saya sudah mendengar tentang hal itu sebelumnya, Frater. Apakah orang tersebut benar-benar seorang Swiss Guard dari Vatikan?”

“Ya,” jawab Swiss Guard yang berdiri di belakang Taeil. “Dia salah seorang senior saya yang bernama Joseph Taeyong.”

Perhatian Yuta dan Taeil langsung beralih ke arah Swiss Guard yang berbicara barusan. Yuta menatap Taeil dengan wajah bertanya-tanya, ingin tahu tentang Swiss Guard di belakang Taeil tersebut.

“Astaga, saya sampai lupa mengenalkannya pada Anda. Nicholas Doyoung adalah salah satu Swiss Guard termuda di sini. Sama seperti saya, Doyoung bisa berbahasa Korea dengan baik. Ia akan membantu Anda dalam menyelesaikan kasus ini. Doyoung adalah Swiss Guard yang paling dekat dengan Taeyong. Bisa jadi, ia mampu membantu kita semua.”

Yuta tersenyum sopan pada Doyoung, dan dijawab dengan angguk kepala oleh Doyoung. Mereka bertiga berjalan bersama, membelah lautan manusia yang memenuhi Basilika Santo Petrus menuju ruang pertemuan khusus di Vatikan. Setelah melewati pemeriksaan ketat, mereka bisa masuk ke dalam ruang pertemuan khusus yang terdiri dari meja dan beberapa kursi duduk.

“Arsip Rahasia Vatikan bukan sembarang dokumen yang bisa dibuka dan dilihat oleh semua orang. Selain itu, penyegelan iblis adalah hal yang tidak masuk akal di masa kini. Maksud saya, ini sudah dunia maju. Tidak ada lagi ritual-ritual semacam itu,” cerita Taeil lagi. “Bagaimana pendapat Profesor?”

“Apakah Paus-paus terdahulu pernah melakukan ritual penyegelan iblis?” tanya Yuta akhirnya. “Apakah ritual itu benar-benar ada?”

“Itu bukan ritual. Pada masa dahulu, banyak orang-orang kerasukan setan yang dibawa kepada Paus untuk dibersihkan. Dengan kuasa Tuhan, Paus mengusir setan-setan itu dan membersihkan orang-orang yang kerasukan,” jawab Doyoung cepat.

“Apa saya boleh melihat buku-buku arsip tentang hal itu?” pinta Yuta. “Mengingat Taeyong mengatakan tentang hal-hal berbau ritual penyegelan iblis, mungkin ada informasi mengenal penyegelan iblis tersebut di arsip rahasia.”

Taeil dan Doyoung saling berpandangan sejenak, tidak langsung menjawab Yuta. Akhirnya, Taeil duluan yang angkat bicara.

“Begini, Profesor,” kata Taeil. “Sebenarnya, buku-buku arsip tentang itu ada di Arsip Rahasia Vatikan. Seperti yang Profesor tahu, Arsip Rahasia Vatikan tidak bisa sembarangan dilihat oleh orang lain. Banyak rahasia-rahasia negara kami di dalamnya.”

“Tidak masalah. Kalau begitu, saya akan cari jalan lain untuk mencari jawabannya,” kata Yuta sambil tersenyum ramah. “Saya tidak akan memaksa jika itu melanggar aturan di negara ini. Selain itu, Paus juga sedang sakit akibat berita tak menyenangkan yang menyerang Vatikan.”

“Tapi, Frater,” sela Doyoung. “Frater bisa meminta pada Camerlengo untuk memberikan ijin bagi kita agar kita bisa masuk ke tempat penyimpanan Arsip Rahasia Vatikan.”

“Ia benar, Frater,” senyum cerah muncul di wajah Yuta. “Jika Anda bisa meminta Camerlengo untuk memberikan ijin, mungkin kita bisa melihat Arsip Rahasia Vatikan. Camerlengo sendiri adalah kepala rumah tangga Tahta Suci. Jadi, saya rasa, tidak masalah untuk meminta ijin dari Camerlengo.”

Terbujuk ucapan Yuta, Taeil pun mengangguk kecil dan menjadi setuju dengan profesor muda itu. Ia meminta Yuta untuk menunggu sebentar di ruang pertemuan sementara Taeil menghubungi ruang Camerlengo. Tak butuh waktu lama, Taeil kembali dan menemui Yuta.

“Selamat, Profesor. Anda mendapat ijin untuk masuk ke Ruang Arsip Rahasia Vatikan,” kata Taeil. “Saya tidak menyangka, seseorang dari luar seperti Anda bisa mendapatkan ijin itu.”

“Ini untuk keperluan mendesak. Jadi saya rasa, tidak aneh kalau kita diperbolehkan masuk ke ruangan tersebut,” balas Yuta.

“Apa aku juga boleh ikut ke sana?” Doyoung bertanya sopan pada Taeil.

“Tentu. Hanya kita bertiga yang boleh masuk ke sana,” balas Taeil sambil tersenyum. “Tetapi, kita harus bersumpah bahwa apa yang kita lihat, baca, dan dengar di sana, tidak boleh keluar dari mulut kita tentang satu pun rahasia itu.”

-=-

Ruang Arsip Rahasia Vatikan adalah pusat penyimpanan semua tindak resmi Tahta Suci. Arsip-arsip ini menyimpan surat-surat kenegaraan, korespondensi, buku-buku catatan para paus, dan banyak dokumen lainnya yang telah dikumpulkan oleh Gereja selama berabad-abad. Tempat tersebut sangat tertutup dan tak heran, menimbulkan banyak prasangka aneh dari dunia luar.

“Astaga, banyak sekali rak-rak di ruangan ini,” gumam Taeil tak percaya. “Selama bertahun-tahun tinggal di sini, saya belum pernah melihat rak sebanyak ini.”

“Tentu saja,” kata Yuta sambil tersenyum. “Panjang rak-rak di sini, jika ditotal, adalah lebih dari delapan puluh kilometer. Terdapat lebih dari tiga puluh lima ribu volume di dalam katalog pilihan. Selain itu, dokumen tertuanya diperkirakan berasal dari abad kedelapan. Anda bisa membayangkan sendiri tentang jumlah arsipnya.”

“Berapa lama Profesor mempelajari Vatikan?” tanya Doyoung penasaran.

“Sejak remaja,” jawab Yuta. “Rahasia-rahasia Vatikan begitu misterius, menarik, dan memukau di saat bersamaan.”

Yuta berjalan, mencari buku daftar isi di Ruang Arsip Rahasia Vatikan. Buku tersebut memakai Bahasa Latin yang sulit. Tetapi, tak tampak sedikit pun kesulitan di wajah Yuta saat membacanya. Ketika Yuta membalik halaman buku daftar isi, tiba-tiba listrik di Ruang Arsip Rahasia Vatikan padam.

“Ya Tuhan!” Taeil terkejut. “Mati lampu?!”

“Ya Tuhan!” Doyoung mengulangi lagi. “Ini masalah, Frater. Ruang Arsip Rahasia Vatikan memiliki kandungan oksigen yang rendah untuk menjaga kualitas kertas-kertas arsipnya. Jika listrik padam, kita semua akan mati!”

“Apa kalian tidak bisa menghubungi seseorang di luar?” Yuta bertanya dengan panik.

“Tidak, Profesor. Jaringan telepon di ruangan ini sengaja dimatikan,” geleng Doyoung. “Satu-satunya jalan adalah menunggu listrik kembali menyala.”

“Dan mati kehabisan oksigen di sini?!” Yuta berseru. “Jangan konyol, Doyoung.”

Tangan Yuta membalik halaman daftar isi dan menemukan tulisan latin yang sangat kecil di halaman berikutnya. Ia menatap kedua orang Vatikan yang ada di depannya dengan wajah yang tak bisa dibaca.

“Apa yang ingin Profesor lakukan?” Taeil bertanya.

“Kalian berdua tunggu di sini. Pikirkan cara untuk melepaskan diri dari ruangan ini. Atau kita semua akan mati.”

Yuta meninggalkan dua orang itu di depan buku daftar isi. Kondisi gelap tidak menghalangi Yuta untuk berjalan dari satu rak ke rak lainnya dan mencari buku yang diinginkannya. Yuta berusaha menghemat napasnya lewat berjalan tenang hingga menemukan rak yang dicarinya. Tangan Yuta mengusap punggung buku yang ada di rak itu, mencoba membacanya dalam keadaan gelap.

-=-

“Apa kita bisa mempercayai Profesor Yuta?” Doyoung bertanya pada Taeil di tempat buku daftar isi. “Rahasia kita dalam ancaman, Frater,” bisiknya lagi.

“Tidak ada pilihan lain, Doyoung.”

“Bagaimana kalau Profesor Yuta ternyata orang jahat? Bagaimana kalau ia membiarkan kita mati sendirian di sini?”

“Maka kita hanya bisa menyerahkan segalanya pada Tuhan.”

Jawaban terakhir Taeil seperti sebuah kepasrahan yang teramat dalam. Taeil bisa melihat wajah takut Doyoung dan tangan Doyoung yang gemetar. Oksigen di ruangan itu makin menipis. Napas Doyoung dan Taeil pun juga semakin berat. Di tengah kekalutan itu, Taeil melihat sesosok orang di antara rak-rak Ruang Arsip Rahasia Vatikan.

“Profesor?” Taeil memanggil sosok itu.

Tetapi, tak ada jawaban untuk panggilan Taeil. Di tengah gelap itu, Taeil bisa mendengar suara langkah yang begitu aneh mendekati dirinya dan Doyoung. Semakin dekat, Taeil bisa melihat sosok itu membawa sebuah buku besar di tangannya. Mata sosok itu berwarna merah, seperti api yang menyala-nyala.

“P-prof-fesor …,” panggil Doyoung takut-takut. “S-siapa k-kau sebenarnya?”

Sosok itu bergerak maju, mendekati Taeil dan Doyoung yang masih membeku di tempat mereka. Semakin dekat, ketakutan mencekam Taeil dan Doyoung, mengunci tatapan mereka pada mata kemerahan itu.

“Anak-anak manusia yang bodoh,” ujar sebuah suara yang menggema di ruangan itu. “Apa kalian pikir, kalian bisa melenyapkan kami begitu saja?”

“Iblis,” Taeil berujar sembari gemetar. “Apa yang dilakukan seorang Iblis kotor sepertimu di sini?” Taeil berkata-kata lagi.

“Iblis kotor?” ulang suara itu sambil terbahak-bahak. “Kurang ajar!”

Ketika sosok itu maju selangkah, Taeil dan Doyoung membesarkan mata mereka ketakutan. Profesor Yuta bukan lagi sesosok manusia dengan senyum manisnya. Ia lebih mirip iblis dengan mata merahnya dan taring tajam ketika tertawa.

“Profesor, kau … selama ini … kau …”

Doyoung tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia hanya bisa ketakutan, menatap Yuta yang semakin mendekat. Dalam hitungan detik, tangan Yuta memegang lengan Taeil kuat-kuat sebelum mematahkannya dengan mudah. Taeil berteriak kesakitan, melihat darah menetes jatuh ke lantai. Yuta melumpuhkan Taeil. Membuat Frater itu jatuh berlutut di lantai sebelum kembali menatap Doyoung dengan wajah menakutkannya.

“Maaf, Doyoung. Sepertinya, kau memang masih jauh dari posisi yang kau inginkan. Seorang Swiss Guard sepertimu tidak ada gunanya. Kau bahkan tidak bisa membedakan iblis dan manusia. Temanmu, Joseph Taeyong, memutuskan untuk menjadi pengikutku. Dia sudah memilih jalan yang tepat, Doyoung.”

Perlahan, Yuta memperlihatkan wajah aslinya. Matanya makin memerah, seperti darah pekat yang memenuhi bagian bola matanya. Senyum di wajah Yuta sangat mengerikan, terutama ketika ia menginjak kaki Taeil dan mematahkan tulang-tulang Taeil dalam satu langkah. Suara patahan tulang pun menggema di telinga Doyoung.

“B-b-bagaimana bisa … k-k-kau … melakukan ini, Profesor?” Taeil meringis kesakitan.

“Bisa, tentu saja,” Yuta menjawab ringan sebelum melangkah lebih jauh, mengambil lembaran-lembaran dalam buku yang dipegangnya. “Kalian, orang-orang yang merasa diri kalian suci, telah mengunci saudara-saudaraku dan memisahkan mereka dariku. Sebagai balasan, aku harus melakukan ini pada kalian.”

Yuta berhenti di samping salah satu rak penyimpanan arsip rahasia. Jemari Yuta mengambil sebuah map tua yang tampak tebal. Ia menaruh map itu di lantai dan menyusunnya dengan buku yang ia bawa dari rak lain.

“A-apa yang dia … lakukan?” Doyoung berbisik ketakutan pada Taeil.

“Ritual pelepasan tahanan,” bisik Taeil sambil menahan sakit. “Ia ingin melepaskan iblis-iblis yang telah disegel dalam ritual Paus terdahulu.”

“A-apa?!”

Belum sempat Doyoung melepaskan rasa takutnya, Yuta sudah kembali lagi. Yuta berjongkok di samping Doyoung dan menyentuh leher Doyoung dengan jemarinya yang berlumuran darah. Yuta mencekik leher Doyoung, mendorong Doyoung hingga bahunya menabrak kaca anti peluru di belakangnya. Doyoung berteriak kesakitan, berusaha melepaskan tangan Yuta. Tapi dengan cepat, Yuta menarik kalung salib yang tergantung di leher Doyoung.

“Terima kasih untuk bantuan kalian,” kata Yuta sambil memegang kalung salib itu.

Kalung tersebut dibawanya ke tumpukan buku yang Yuta susun, dilemparnya dengan sepenuh tenaga hingga mengeluarkan api, membakar buku-buku itu. Yuta menyebutkan deretan-deretan kalimat dalam Bahasa Latin, lalu memejamkan matanya dan menarik napas kuat-kuat.

“Kupersembahkan pada kalian, proses pembukaan segel iblis,” kata Yuta sambil tertawa seram. “Keluarlah kalian!”

Seperti pasukan iblis yang dikomando, satu demi satu iblis keluar memperlihatkan dirinya seperti api yang membakar rak-rak di ruangan itu. Oksigen semakin menipis bagi paru-paru Taeil dan Doyoung. Mereka hanya bisa menatap ketakutan ketika api melalap satu demi satu arsip, melepaskan iblis-iblis yang pernah tertangkap di sana.

“Ketakutanlah kalian, wahai manusia,” Yuta berseru dengan tawa menggelegar. “Malam ini, akan kuperlihatkan pada kalian, kekuatan kami yang sebenarnya.”

Api melahap tubuh Taeil dan Doyoung tanpa sempat mereka mengucapkan doa. Iblis memakan jiwa mereka, mengirim mereka ke tempat paling menyakitkan di neraka sana. Sementara itu, iblis-iblis yang berhasil melepaskan diri langsung masuk dalam jiwa-jiwa orang di luaran sana, mengajarkan mereka kejahatan yang sesungguhnya.

Langit malam Vatikan tidak pernah sekelam itu. Rahasia demi rahasia terungkap, tentang orang-orang yang konon katanya suci itu ternyata tidak sesuci itu. Di tengah kegelapan malam, tawa Yuta Nakamoto terdengar sayup-sayup, menemukan kembali para teman-teman iblisnya.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s