Unstoppable [3]

Unstoppable

[3]

Irina berusaha setengah mati untuk menikmati sarapan pagi yang terhidang di area buffet hotel tempatnya menginap. Berbagai jenis menu sarapan yang enak tersedia di sana. Bahkan, kalau Irina ingin, ia bisa memesan menu di buku tanpa harus membayar karena itu semua termasuk dalam keuntungan yang dapat diraihnya lewat pertukaran ini. Tetapi, ia tidak bisa menikmati makanan tersebut karena otaknya terus teringat kejadian hari lalu bersama Suho.

“Ah, sialan,” gumam Irina dalam Bahasa Korea agar tak ada yang mendengarnya. “Kenapa orang tidak sopan seperti dirinya bisa seenaknya keluar masuk di pikiranku?”

Baru saja memikirkan Suho, orang yang dipikirkan itu lewat dan tertangkap oleh mata Irina. Suho tentu tidak punya waktu untuk sarapan di area buffet hotel atau harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Suho hanya melewati area sarapan tersebut, lalu berjalan menuju lobi hotel, dan hilang dari mata Irina.

“Di pagi yang indah ini, ada saja pemandangan yang membuatku kesal.”

Irina menghabiskan sarapannya terburu-buru dan meneguk teh yang ada di gelasnya. Ia berdiri, meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke kamarnya. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, pertanda Irina harus bersiap untuk seminar yang akan dihadirinya.

-=-

Szpital Uniwersytecki w Krakowie atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan The Krakow University Hospital adalah tempat Irina akan menjalani beberapa seminar. Ia dikirim oleh rumah sakit tempatnya bekerja di Seoul sebagai bagian dari pertukaran dokter dengan negara-negara Eropa. Sama sepertinya, Jo juga merupakan dokter yang dikirim ke Eropa dalam program serupa. Bedanya, Jo memilih Jerman, sementara Irina lebih memilih Polandia.

Dzień dobry,” kata Irina saat ia berhenti di depan pintu ruang seminar, bertatapan dengan seorang penyambut tamu seminar.

Dzień dobry. Selamat pagi, Nona. Apa Anda sudah tanda tangan daftar hadir?”

“Belum,” Irina menggeleng.

“Anda bisa tanda tangan daftar hadir di meja sebelah kiri,” tunjuk penyambut tamu itu pada meja yang terletak beberapa meter dari tempat Irina berdiri.

Irina mengangguk dan melangkah ke meja itu. Ia mencari namanya di daftar hadir sebelum membubuhkan tanda tangannya di samping namanya. Sesudahnya Irina kembali ke ruang seminar, masuk ke dalam, dan mencari tempat duduk kosong.

“Irina,” bisik seseorang, membuat Irina menoleh karena kaget.

“Astaga, Eligia,” Irina tertawa. “Kau membuatku kaget.”

Eligia mengajak Irina mencari bangku kosong dan duduk di sana. Lima belas menit kemudian, ada tanda-tanda bahwa seminar akan segera dimulai. Lampu ruang seminar mulai diredupkan. Bangku hampir seluruhnya terisi, dipenuhi oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran dari banyak negara. Seorang perempuan muncul di panggung ruang seminar, menyapa semua orang dalam Bahasa Inggris yang terdengar nyaman di telinga.

“Tanpa perlu berlama-lama lagi, kita sambut pembicara kita hari ini, Suho Kowalczyk.”

Seruan dari sang pembawa acara membuat mulut Irina menganga lebar. Kegelisahan dan rasa tidak nyaman yang ia rasakan sejak pagi tadi kini menjadi nyata. Suho benar-benar muncul di panggung, dengan kemeja biru langitnya dan celana panjang warna hitam yang membungkus kakinya dengan baik. Ia tersenyum sopan pada seluruh peserta seminar sebelum duduk di bangku yang disiapkan untuknya.

“Suho?” Irina berbisik sambil menoleh pada Eligia dengan tak percaya.

Tiba-tiba, kata-kata Eligia waktu itu terputar kembali di kenangan Irina.

‘Aku tahu betul wanita itu. Dia Tola Kowalczyk, aktris musical yang baru menyelesaikan tur terbarunya di Polandia. Dan pria di sebelahnya itu Seweryn Kowalczyk, suaminya. Kudengar suaminya salah satu pemegang saham di rumah sakit tempat seminar kita.’

“Kau lupa?” Eligia bertanya balik. “Suho adalah anak dari pemegang saham di rumah sakit ini. Otomatis, Suho adalah orang penting di Szpital Uniwersytecki w Krakowie.”

Irina terbatuk beberapa kali. Ia mendengarkan Suho memperkenalkan diri sebagai seorang pimpinan dalam bidang public relations dari rumah sakit tempatnya berada saat ini. Seingat Irina, Suho adalah orang yang kesulitan menjaga citra baik dirinya sendiri. Irina sudah berulang kali merasakan sikap dan sifat buruk Suho meski ia tidak mengenal orang itu dengan baik. Sekarang, Suho malah memberikan kejutan lain bagi Irina.

“Dia seorang pimpinan public relations?” Irina mendesis tak percaya.

“Kudengar barusan begitu,” Eligia tertawa. “Karena itu dia hadir hari ini, memberikan seminar tentang CSR yang sedang dilakukan Szpital Uniwersytecki w Krakowie.”

“CSR?” Irina mengulang. “Maksudnya Corporate Social Responsibility?”

“Iya,” angguk Eligia. “Szpital Uniwersytecki w Krakowie mengadakan seminar untuk dokter-dokter asing dari luar negeri dan mengajak mereka untuk bekerja bersama dalam meningkatkan taraf hidup bagi orang-orang yang tidak mampu di Polandia. Semacam kegiatan amal. Program ini dipimpin sendiri oleh Suho Kowalczyk.”

Entah berapa kali Irina sudah mengedip tak percaya. Ia berusaha mencerna semua penjelasan Suho di depan ruangan itu. Suho menceritakan tentang jumlah orang tidak mampu yang ada di Polandia saat ini dan mengisahkan tentang tantangan terberat mereka dalam menjalankan tugas CSR tersebut. Suho juga menyebutkan program-program bantuan untuk orang-orang yang tidak mampu sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan rumah sakit itu terhadap kehidupan sosial.

“Aku tidak menyangka bahwa Suho benar-benar orang penting di rumah sakit ini. Kupikir ia hanya orang kaya yang kebetulan terkenal,” kata Irina akhirnya.

“Tidak ada orang kaya yang tidak terkenal, Irina,” Eligia terkekeh. “Dan tidak ada orang yang kaya tanpa alasan. Suho kaya karena ia mengambil bagian penting dalam keberadaan rumah sakit ini. Ia adalah Prince Charming yang diidamkan semua wanita di Polandia.”

“Atau lebih tepatnya, semua wanita di Polandia berharap bahwa mereka adalah Cinderella dari sang Prince Charming,” balas Irina lagi. “Tapi sungguh, aku tidak berharap bahwa akulah Cinderella itu.”

“Sungguh?!” Eligia terkejut. “Kenapa? Maksudku, bahkan aku ingin menjadi Cinderella yang kita bicarakan dari tadi. Suho seseorang yang hebat.”

Saat itu pula Irina mengerti alasan Suho dijadikan pimpinan public relations dari rumah sakit itu. Szpital Uniwersytecki w Krakowie tidak salah karena telah memilih Suho untuk menjaga citra mereka. Suho berhasil membuktikan bahwa image dirinya sendiri benar-benar luar biasa di mata orang. Tapi, di mata Irina, citra baik itu sudah runtuh sejak lama.

-=-

Suho memijat keningnya, merasa tidak percaya saat melihat sebuah mobil sedan hitam keluaran Mercedes-Benz berhenti di lobi utama Szpital Uniwersytecki w Krakowie. Ia tidak perlu bertanya lagi tentang siapakah orang di kursi belakang sedan keluaran Jerman itu. Terbukti, saat pintu belakang terbuka, Suho bisa melihat seorang wanita anggun turun sambil mengenakan kacamata hitam.

“Suho,” panggil wanita itu.

“Apa yang Mama lakukan di sini?” Suho balik bertanya.

“Mama ingin menghabiskan waktu bersamamu selama Mama di Polandia, Sayang. Sudah lama Mama tidak menjemputmu seperti ini, ‘kan?”

Kehadiran Tola Kowalczyk, aktris musical yang terkenal itu, tentu menjadi penarik perhatian tersendiri. Tak heran, beberapa orang mulai melirik Suho dan Tola di sana, berbisik-bisik sambil menatap interaksi antara ibu dan anak itu. Suho tentu tidak mungkin membuat ibunya malu dengan menolak permintaan Tola. Ia menghela napas sebelum berjalan ke arah mobil.

“Khusus kali ini, aku tidak akan menolak,” bisik Suho sebelum masuk ke dalam mobil.

Tola tersenyum dan mengangguk tipis. Ia ikut masuk ke dalam mobil, duduk berdua Suho di kursi belakang sedan itu. Perlahan, sedan tersebut berjalan dan meninggalkan lobi utama rumah sakit. Tapi, baru sedikit berjalan, mobil hitam itu berhenti lagi. Kaca belakang mobil sedan itu turun perlahan-lahan, menampilkan wajah Suho.

“Hei, Irina Lee!” Suho berteriak dari mobil.

Ada dua sosok baru keluar dari lobi, berbicara satu sama lain dengan senyum dan tawa. Tetapi, setelah seruan Suho barusan, salah satu dari sosok itu tersentak kaget.

“Astaga,” bisik Irina pelan ketika melihat pemandangan di depannya.

Irina, yang tidak tahu apa-apa, mendapati sebuah sedan hitam keluaran Jerman itu berhenti dengan gagah di depan matanya. Dari logonya saja, mobil itu sudah berhasil membuat Irina merasa terintimidasi karena di negaranya sendiri pun, Irina tidak punya uang untuk membeli mobil tersebut.

“Hei, Irina Lee,” seru Suho lagi. “Kau sudah selesai? Kau ingin kembali ke hotel, ‘kan?”

Salah satu pintu mobil itu terbuka dan Suho turun, menghampiri Irina seolah mereka adalah pasangan Prince Charming dan Cinderella abad ini. Bedanya, Irina tidak kehilangan salah satu sepatunya. Ia kehilangan sepenggal keinginan untuk hidupnya gara-gara Suho.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Irina mendesis seolah-olah dengan begitu ia bisa tetap hidup.

“Menjemputmu dan ingin mengantarmu pulang.”

“Kau gila?”

Irina berdesis terus-menerus seperti ular berbisa. Hanya saja, jika ular menjulurkan lidahnya, Irina tidak melakukan itu. Lagipula, Irina juga tidak berbisa. Sudut mata Irina bisa menangkap bayangan orang lain di dalam mobil Suho, membuat Irina merinding bukan main.

“Ayolah, pulang denganku. Masih ada satu sisa kursi kosong di mobilku.”

“Kau ingin membunuhku? Kita tidak sedekat itu sampai-sampai kau harus mengantarku pulang segala. Ada orang lain di mobilmu,” desis Irina lagi.

“Masuk ke mobilku selagi aku memintanya dengan baik-baik, Dokter,” balas Suho sembari ikut  berdesis. “Kau akan menyesal bila tidak menuruti permintaanku.”

Ancaman Suho barusan membuat jantung Irina berhenti berdetak. Ada rasa takut, cemas, gusar, dan sedikit gemetar ringan yang berusaha disembunyikannya. Tetapi, apa daya, ia seperti orang yang terkena jurus hipnotis. Irina melangkah, membiarkan Suho menuntunya ke pintu depan mobil mahal itu. Tanpa ragu, Suho membukakan pintu depan untuk Irina.

“H-h-halo,” kata Irina gagap saat bertemu mata dengan wanita di kursi belakang.

Wanita itu, Tola Kowalczyk, menatap Irina dengan senyum tipis yang angkuh seolah senyumannya terlalu mahal untuk kaum yang bukan levelnya.

“Kau teman Suho?” Tola bertanya dalam Bahasa Polandia.

“I-i-iya,” balas Irina seperti robot rusak.

“Dia tinggal di hotel yang sama denganku,” kata Suho santai sambil masuk ke mobil, duduk di belakang tepat di samping ibunya. “Ini, perkenalkan, Tola Kowalczyk adalah ibuku. Dan Mama, ini Irina, temanku di Polandia.”

“Senang bertemu denganmu, Irina,” kata Tola dingin.

“S-s-senang bertemu Anda,” jawab Irina kaku sambil berbalik badan ke belakang.

Saat Irina hendak berbalik ke depan lagi, matanya sekilas bertemu mata dengan Suho. Beragam kata kasar dan makian ada di ujung lidahnya. Tetapi ia menahannya, mencoba untuk tetap hidup setidaknya saat ini.

-To be continued-

 

Advertisements

2 thoughts on “Unstoppable [3]

  1. Dorina says:

    UWOOOO ga sabar baca chapter selanjutnya. Semua ceritamu bikin penasaran sis, dan yg ini ga kalah bikin kepo. 너무 좋다!!! 화이팅 언니!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s