Selflessly [5/10]

Selflessly

Lima

Hubungan yang Lebih Jauh

Kejadian waktu itu hanya awal dari hubungan tanpa nama yang dijalani Randy dan Johara. Malam-malam lainnya, Randy membuat berbagai alasan agar bisa menginap di tempat Johara. Alasan-alasan asal-asalan itu diterima Johara dengan senang hati karena dia juga berkenan kalau Randy menginap di apartment kecilnya.

“Halo, Ko?” Randy menjawab telepon kakaknya. “Oh, begitu. Gue lagi sama temen gue, dosen yang waktu itu. Iya, Ibu Johara,” katanya sambil mengangguk. “Ya kebetulan gue juga mau ke kampus. Gue bisa jemput Adit dulu. Oke, Ko.”

Setelah selesai menelepon, Randy menghela napas panjang. Ia menatap Johara yang sedang menguncir rambutnya dengan rapi.

“Kenapa, Randy? Koko lo kenapa?”

“Dia dan istrinya gak bisa antar Adit ke acara kampus hari ini. Mereka ada kerjaan di luar kota dan harus pergi ke sana. Mereka gak bisa nonton Adit juga.”

“Oh ya? Sayang banget. Gue dengar, Adit tampil main drum kalau gak salah.”

“Iya, makanya Koko gue nyuruh gue jemput Adit biar dia gak ngambek lagi.”

“Adit ngambek?” Johara tersenyum tipis. “Wajar, sih. Soalnya dia udah seneng banget bisa tampil di depan mama papanya. Tapi mereka malah gak bisa hadir.”

Randy pun menjemput Adit di rumahnya dengan sedan hitamnya bersama Johara. Adit cukup terhibur dengan kehadiran Randy dan Johara. Ia bisa melupakan rasa kesalnya pada kedua orangtuanya yang sibuk dan melupakan anak mereka satu-satunya demi pekerjaan di luar kota. Padahal, sudah dari jauh hari Adit mengatakan pada orangtuanya bahwa ia akan tampil bermain drum di acara universitas.

“Halo Adit,” sapa Randy saat Adit membuka pintu belakang sedannya.

“Halo Om, halo Bu Johara,” balas Adit sambil membawa serta tas ranselnya.

“Udah makan, belum?” Johara ganti bertanya.

“Sudah, Bu,” jawab remaja itu lagi. “Bu, karena hari ini Ibu datang sama Om Randy, saya panggil ‘Tante’ aja, ya. Tante Johara,” tambah Adit. “Gak apa-apa, ‘kan?”

“Tumben,” sahut Randy cepat. “Giliran sama Silvi, kamu gak mau manggil dia ‘Tante’.”

“Soalnya dia gak terlalu cocok sama Om Randy. Selain itu, Adit lebih dekat sama Tante Johara dibanding Silvi.”

“Kamu itu…,” gerutu Randy pelan, “…selalu seenaknya aja.”

Adit malah tertawa melihat keluhan Randy. Ia tidak tahu kalau candaannya tadi ditanggapi cukup serius oleh Randy. Bukan karena apa-apa, tetapi karena Randy tidak mendengar hal itu satu atau dua kali. Kerap kali, orang-orang di sekitarnya yang mengenal Silvi dan Johara, lebih memilih Johara dibanding kekasih Randy itu.

-=-

Sesampainya di universitas, Johara langsung menjadi pusat perhatian. Pertama, dari wujudnya yang terlihat seperti orang asing, orang-orang yang tak kenal Johara atau tidak kuliah di sana itu mengira ada bule tersesat di acara universitas. Kedua, bagi yang mengenal Johara, terutama para mahasiswanya, langsung mempertanyakan status Randy yang datang bersamanya.

“Bu, itu pacar Ibu, ya?” Wawan langsung bertanya tanpa basa-basi seperti ketika ia menanyakan akun Instagram Johara di pertemuan pertama dulu.

“Bukan, Wawan. Dia temennya Ibu.”

“Oh, gitu,” jawab Wawan sembari menatap Randy yang sedang membayar gelang rajutan warna biru. “Dia keren, sih, Bu. Wawan juga sering lihat dia di kampus.”

Obrolan mereka terhenti karena bahan pembicaraan mereka mulai mendekat. Randy menatap Wawan sambil tersenyum, tahu bahwa Wawan adalah mahasiswa yang diajar Johara.

“Halo,” kata Randy. “Johara, ini gue beliin buat lo. Lo suka warna biru, ‘kan? Dipakai, ya. Gue beli sepasang. Yang merah untuk gue.”

Thank you, Randy,” balas Johara sembari menerima gelang itu.

“Bu, Pak, saya duluan, ya. Ditunggu teman saya,” sela Wawan berpamitan.

“Oke, Wawan. Sampai ketemu Senin besok, ya,” balas Johara sambil melambai.

Seusai melambai, tiba-tiba Randy langsung menarik tangan kanan Johara. Dipakaikannya gelang biru Johara di tangan kanan wanita itu.

“Bagus. Cocok banget di lo,” puji Randy sebelum ia sendiri memakai gelangnya. “Eh, ngomong-ngomong, lo suka thai tea gak? Ada booth thai tea di deket sana,” tunjuk Randy ke area yang ramai. Antrinya panjang, sih. Tapi kelihatannya enak.”

“Mau, mau,” Johara semangat. “Gue suka banget thai tea. Apalagi yang rasa green tea.”

Randy memegang pergelangan tangan Johara, mengajak Johara menembus kerumunan demi mencapai booth thai tea itu. Karena sangat ramai, Randy khawatir Johara akan menghilang atau lepas dari dirinya. Akhirnya Randy memegang erat jemari Johara, menyelipkan jemari-jemarinya di antara jemari wanita itu. Mereka pun berhasil menembus kerumunan itu berdua.

“Nih, lo mau pesan apa?” Randy bertanya sambil masih memegang tangan Johara.

“Yang green tea.”

Green tea dua, ya,” kata Randy pada penjaga booth.

Bersamaan, Johara dan Randy mengeluarkan uang dari saku mereka. Tangan mereka terulur, membuat gelang kembar mereka bersinggungan satu sama lain. Hal ini langsung menjadi daya tarik bagi penjual minuman di depan mereka.

“Biar gue yang bayar,” kata Johara cepat. “Lo udah bayar gelang ini.”

“Tapi gue yang ngajak elo minum thai tea.”

“Gak adil kalau yang bayar elo terus,” ucap Johara sambil menyodorkan uang pada penjual thai tea di hadapan mereka. “Tolong, ya,” kata Johara lagi dengan senyuman manis.

“Johara!”

Belum selesai minumannya dibuat, Johara mendengar seruan beberapa wanita memanggil namanya. Ia, serta Randy, langsung mencari-cari sosok yang memanggil nama itu. Dari jauh, Johara melihat tiga wanita datang mendekatinya dengan wajah gembira. Tiga wanita itu memakai baju kerja rapi dan kartu tanda pengenal yang terkalung di leher mereka.

“Hai,” kata Johara pada tiga wanita itu.

“Oh, jadi ini cowok baru lo,” ujar Wendy, teman Johara, sambil tersenyum. “Kok gak dikenalin ke kami, sih?” Wendy menambahkan lagi sambil menyikut Johara.

“Kenalin, dong,” kata Alya, teman lainnya, tak mau kalah.

“Iya, gimana, sih?” Violet, yang tubuhnya paling tinggi di antara tiga teman Johara, menambahkan. “Nanti, waktu nikahan gue, datang, ya.”

“Elah, lo pada aja gak kenal dia, ‘kan?” Johara membalas. “Kenalan dulu. Ini Randy. Keponakannya itu mahasiswa gue,” cerita Johara. “Nah, ini Wendy, marketing universitas paling top. Ini Alya, dari bagian kemahasiswaan. Dan ini, dosen calon pengantin, Violet.”

“Oh, hai, gue Randy,” kata pria itu sambil menjabat satu demi satu teman-teman Johara. “Selamat, ya, Violet. Semoga langgeng,” tambahnya saat bersalaman dengan Violet.

“Lo musti datang, ya. Temenin Johara. Dia mau nyanyi di nikahan gue. Tadinya gue mau dia jadi pengiring pengantin. Tapi dia bubar sama cowoknya. Jadi gak jadi, deh,” kata Violet.

“Wah gila, lo gak berperasaan banget ngomongin gue di depan gue,” jawab Johara sambil tertawa. “Untung gue gak baperan. Kalau enggak, gue udah nangis darah di sini.”

“Iyalah,” sahut Wendy. “Dewa justru yang nangis darah, kehilangan separuh jiwanya. Gue kadang lihat dia di snapgram temen-temennya. Kayak gak niat hidup lagi dia.”

“Lebay lo. Dia gak apa-apa. Terakhir gue lihat, dia sibuk sama kerjaannya,” kata Johara.

“Dia pura-pura sibuk biar gak kangen elo,” jawab Alya.

Sontak, jawaban Alya membuat Randy terkekeh kecil. Ia mengingat kisah Johara yang selalu menyibukkan diri demi melupakan mantan pacarnya. Mungkin, semua orang memang begitu, suka mengambil jalan pintas sesukanya sendiri.

“Mas,” panggil penjual thai tea tiba-tiba. “Ini pesenannya udah jadi.”

Panggilan itu berhasil membuat Johara menemukan celah untuk kabur dari segala tuduhan teman-temannya tentang dirinya yang tak berperasaan seusai putus dari Dewa. Terburu-buru, ia mengambil minuman yang tadi dipesannya bersama Randy.

Friends, gue mau temenin Randy lihat-lihat lagi. Gue duluan, ya,” kata Johara akhirnya pada teman-temannya.

“Oh iya, sebelum lupa, keponakan gue mau main drum nanti di acara band. Nonton, ya,” tambah Randy pada teman-teman Johara. “Thank you semuanya.”

-=-

Hari sudah gelap ketika Randy mengantar Johara pulang ke apartment. Mereka baru saja mengantar Adit pulang ke rumah sebelum akhirnya Randy memutuskan untuk menginap lagi di apartment Johara karena malam sudah larut.

“Johara,” panggil Randy pelan.

Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk di kepala. Ia menoleh, menatap Randy yang agak kesempitan meski memakai kaos besar milik Johara.

“Ya?” Johara menyahut. “Lo mau ganti kaos?”

“Iya. Itu satu hal. Tapi ada hal lain yang mau gue omongin.”

“Bentar, ya,” Johara menyahut singkat. “Rambut gue basah banget ini. Aduh, mana hairdryer gue, ya?”

“Di laci bawah lemari, Johara. Gimana, sih? Lo yang tinggal di sini, malah lo yang gak tahu,” kata Randy sambil tertawa kecil. “Sini, gue bantu lo keringin rambut lo.”

Randy menepuk kasur di dekatnya, menyuruh Johara duduk di dekatnya. Menurut, Johara duduk di dekat Randy dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya.

“Tadi lo mau ngomong apa?” Johara bertanya.

Hening sejenak di antara mereka. Hanya ada suara hairdryer Johara yang masih berbunyi berisik. Akhirnya, Randy mematikan hairdryer itu dan menatap Johara yang duduk di membelakanginya. Mau tak mau, Johara pun menoleh.

“Kayaknya gue suka sama lo, Johara,” kata Randy. “Gue cium elo, ya?”

Itu adalah kata-kata terakhir Randy sebelum pria itu mencium bibir Johara tanpa menunggu jawaban. Mata Johara membesar, masih bingung dan kaget dengan apa yang dilakukan pria itu padanya. Tetapi, dengan cepat, Johara menguasai diri dan membalas ciuman Randy yang menghangat. Hampir dua menit, mereka pun melepaskan diri satu sama lain.

“Lo barusan ngapain?” Johara bertanya kecil.

“Jemur baju,” sahut Randy asal-asalan. “Ya nyium elo lah!”

Mereka tertawa bersama sejenak karena candaan itu. Sejenak, Randy tergoda untuk mencium Johara lagi berulang kali. Dan ia tak bisa menahan godaan itu. Mereka terus berciuman hingga lupa diri. Johara lupa kalau besok dirinya harus mengajar. Randy juga lupa kalau besok dia harus ke kantor.

“Gue lupa kapan terakhir kalinya gue merasa excited kayak gini cuma gara-gara ciuman,” kata Johara kemudian. “Kayaknya udah lama banget, deh.”

Senang dengan kata-kata Johara, Randy pun mulai memberanikan diri untuk memberikan lebih. Ia membantu Johara untuk berbaring hati-hati di atas kasur sebelum menyelimutinya dengan tubuhnya sendiri. Johara benar-benar seperti anak kecil yang kegirangan, merasa ingin tahu tentang Randy.

“Gue baru sadar, mata lo cantik banget,” bisik Randy sembari menyelipkan jemarinya di jemari Johara. “Dan wajah lo adalah wajah paling cantik yang pernah gue lihat dalam hidup gue, Johara. Lo benar-benar pengen gue bikin dosa, ya.”

“Apa lo selalu ngomong kayak gitu ke semua cewek yang lo tindih?” Johara tertawa.

“Enggak. Sumpah. Lo lebih ke special case, sih.”

Randy menunduk, menciumi dagu Johara hati-hati seakan Johara adalah pajangan yang mudah pecah. Tangan kiri Randy membelai rambut Johara lembut, merapikan bagian depannya yang dibasahi oleh tetes keringat.

“Gue suka banget kalau rambut gue dibenerin kayak gitu,” aku Johara. “Dulu, cowok gue sering ngelakuin hal itu. Tapi lama-lama enggak lagi.”

“Lo suka apa lagi? Lo pengen apa lagi?” Randy bertanya. “Bilang ke gue semuanya. Akan gue turutin semua untuk lo, Johara.”

“Gue pengen buka baju lo.”

“Oke.”

Mendengar keinginan itu, Randy hendak membuka kancing teratas kemejanya. Tapi Johara malah menghentikannya, meminta Randy untuk lebih dekat dengannya. Saat pria itu hanya berjarak satu jengkal dari Johara, jemari Johara pun menyentuh kancing baju Randy.

“Gue bilang, gue yang pengen buka baju lo,” ulang Johara. “Gue bukain, ya.”

Randy melihat Johara yang sangat ekspresif, menyentuh satu demi satu kancing baju pria itu sambil menggigit bibirnya sendiri yang kering. Setelahnya, Johara melepaskan kemeja Randy dari tubuh berotot pria itu. Langsung saja, wangi tubuh Randy menerjang Johara.

“Lo mau gue buka celana, gak?” Randy menawarkan.

Johara menjawabnya dengan angguk tipis. Jemari Randy pun bergerak menuju kancing celana panjangnya sendiri. Sambil menghitung detik demi detik dalam hatinya, Randy membuka kancing celana itu dan melepaskan celana panjangnya.

“Wah,” bisik Johara tanpa sadar. “Gila, gue dapat jackpot.”

“Selamat berpesta, Johara.”

-=-

Randy masih tidur-tiduran di kasur seusai beberapa jam menyenangkan yang dilaluinya bersama Johara. Mereka menghadap langit-langit, merasakan hawa panas di antara mereka memenuhi kamar apartment itu.

“Gue mau putus sama cewek gue,” kata Randy tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Gue mau putusin dia dan lebih fokus ke elo, Johara.”

Hening menerpa sejenak di antara mereka. Johara masih termenung dalam pemikirannya sendiri selagi Randy turun dari kasur dan memunguti pakaian-pakaian di lantai. Dibiarkannya saja ketika Randy menaruh pakaiannya sendiri ke tempat baju kotor milik Johara.

“Sebenarnya, tanpa komitmen, menjalin hubungan seperti dengan lo pun gue gak masalah,” kata Johara akhirnya, memecah keheningan. “Bahkan, kalau gue hanya menjadi tempat persinggahan ketika lo bosan, gue juga puas.”

“Kenapa lo puas dengan hubungan kayak gitu? Harusnya lo kecewa.”

“Ya karena gue gak mau pamrih,” jawab Johara lagi. “Gak munafik, gue suka sama lo. Gue suka cara lo memperlakukan gue. Terlepas dari status lo yang udah punya cewek, gue suka sama lo itu bukan kesalahan, ‘kan?” Johara tertawa kecil.

“Iya, sih. Tapi sekarang, hati gue udah mantap. Gue mau lebih serius sama lo.”

“Lebih serius gimana maksudnya? Pacaran gitu?”

“Kayaknya, usia kita udah bukan usia yang tepat buat tembak-tembakan kayak anak SMA, deh. Jadi, apapun lo mau sebut hubungan kita, gue pengen lebih serius sama lo. Udah, gitu aja,” kata Randy akhirnya.

“Ini bukan karena lo kebawa suasana abis seks kita barusan, ‘kan?”

“Enggak, Johara. Gue… kayaknya udah suka elo sejak kita ketemu di pesawat pertama kali,” jawab Randy sambil tersenyum kecil. “Waktu itu, lo beda dari cewek lain di mata gue. Lo unik, lo menarik, lo aneh, dan lo berkesan,” jelas Randy.

“Jadi kita gimana?”

“Ya gimana menurut lo? Lo mau coba sama gue atau gak? Gue udah jujur tadi, gue suka sama lo dan gue pengen sama lo.”

Johara tersenyum kecil ketika Randy balik ke kasur, tiduran sambil menatap wajah Johara yang agak dibasahi keringat. Sebagai jawaban, Johara mengangguk tipis dan mencium bibir Randy hangat.

-=-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s