They Never Know [10/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sepuluh

Rahasia Lainnya

[Jozka]

Dirke dan aku akhirnya menjauh tanpa kata-kata dan ucapan perpisahan. Semua rahasia yang kubagi bersamanya menjadi investasi dan asuransi di saat bersamaan. Kalau-kalau ia membocorkan salah satu rahasiaku, aku juga bisa melakukan hal yang sama padanya. Kini, pertemanan singkat kami yang terjalin selama beberapa bulan pun tak membekas.

“Ci,” panggil Sadewa, membangunkanku dari lamunanku. “Kenapa Cici gak pernah cerita tentang masalah Cici ke gue?” Continue reading

They Never Know [9/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sembilan

Menuju Akhir

[Dirke]

 

Jozka benar.

Sebuah hubungan yang terlalu cepat terjalin tanpa melalui proses panjang biasanya akan cepat berakhir juga. Selama UTS, kami jarang menghabiskan waktu bersama dan bisa jadi itu karena banyak hal. Aku merasa Jozka seperti berusaha menenggelamkanku ke dalam materi kuliah. Aku tahu bahwa ia berbuat demikian karena ingin nilaiku bagus. Tapi di sisi lain, seperti ada rasa tidak puas dari dirinya padaku. Continue reading

They Never Know [8/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Delapan

Cepat Berjalan

[Jozka]

Sejak cerita Flora waktu itu, aku kehilangan rasa hormatku pada Nakula. Hanya aku yang tahu hal ini. Anak-anak lain tidak tahu. Bahkan, Sadewa yang seharusnya cukup dekat dengan Nakula dan Flora pun tidak mengetahui hal ini. Aku ingin menjauh dari semua orang, terutama tentu saja Nakula.

“Jozka, abis ini lo ke mana?” Continue reading

They Never Know [7/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tujuh

Banyak Pikiran

[Dirke]

 

Sepanjang aku mengenal Jozka, baru kali ini aku melihatnya agak kusut. Biasanya dia sudah stand by di lobi saat jam delapan malam, menungguku untuk makan malam bersama. Tapi kali ini, aku harus menghubunginya dengan telepon dari lobi agar dia turun ke bawah.

“Tumben, ceweknya gak nunggu di bawah,” kata Mbak Wulan yang lagi jaga di sana. “Lagi berantem, ya?” tanyanya sok tahu. Continue reading

They Never Know [6/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Enam

Sumber Masalah

[Jozka]

Laki-laki memang sumber masalah. Setidaknya, menurutku, untuk saat ini dan hingga beberapa saat ke depan, laki-laki akan menjadi sumber masalah kalau aku tidak menyortirnya dengan baik. Tapi, sumber masalah yang lebih hebat lagi adalah cinta. Maka, jika laki-laki dan cinta dibaur menjadi satu, akan banyak hal-hal konyol yang terjadi di pertengahannya.

“Nil, cewek lo tadi masuk klinik kampus. Dia jatuh di tangga gara-gara main hape sambil turun tangga,” kata Wanda pada Danil suatu siang. Continue reading

They Never Know [5/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Lima

Garis Batas

[Dirke]

Otakku sudah hilang, mungkin ditelan oleh rasa kantuk yang berlebihan. Jam kecil di atas meja belajarku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi aku belum bisa memejamkan mataku karena tugas dari dosen mata kuliah Public Relations yang harus selesai malam ini juga. Seandainya ketua kelas mata kuliah itu tidak terlambat mengingatkan tentang tugas tersebut, mungkin aku sudah mengerjakannya sejak tadi pagi. Continue reading

They Never Know [4/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Empat

Menghindari Hubungan

 

[Jozka]

Ada berbagai alasan aku menghindari relationship dengan laki-laki. Secara gampang, aku akan bilang bahwa aku terlalu sibuk. Sisanya, aku tinggal bilang kalau aku tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda dariku. Padahal, ini semua karena Alvin, siswa yang dulu sekelas denganku di masa SMA.

“Alvin itu pintar, banyak talenta, jago musik, dan calon dokter. Kalian bisa bayangkan betapa hebatnya dia di mata gue,” ceritaku pada Flora, Lana, dan Wanda saat mereka menginap di apartment milikku. “Guru kelas gue sengaja naruh gue di sebelah Alvin supaya pinternya nular. Guru gue gak tahu kalau gue sebenarnya lebih pintar dari Alvin. Cuma gue malas aja.” Continue reading