They Never Know [13/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tiga Belas

Ucapan Selamat Tinggal

 

[Dirke]

Saat UAS sudah tinggal esok, aku tahu bahwa ini adalah waktunya Jozka dan aku untuk saling meninggalkan. Mengingat nilai-nilai UTS Jozka tidak sebagus harapannya, ia berjuang keras agar UAS ini bisa meningkatkan hasil akhirnya. Sementara aku hanya menemaninya dengan setia, menjaganya agar tidak sakit dan tidak lupa makan.

“Alat tulis udah lengkap?”

“Udah, Joz.” Continue reading

They Never Know [12/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Dua Belas

Minggu-minggu Akhir

 

[Jozka]

Hal pertama yang kulihat saat aku terbangun adalah kamar Dirke dengan kasur luasnya dan gelap yang luar biasa karena Dirke selalu menutup tirai jendela kalau tidur. Untung ini Hari Sabtu dan tidak ada kuliah sama sekali. Aku hanya melirik Dirke yang masih lelap, memeluk tubuhku yang tergulung selimut. Telunjukku usil, menyentuh lekuk hidung Dirke dan turun ke bibirnya pelan-pelan. Dirke sempat menekuk alisnya sebentar sebelum membuka mata. Continue reading

They Never Know [11/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sebelas

Mengembalikan yang Tertinggal

[Dirke]

Meski belum pernah berpacaran, sekarang aku tahu artinya putus dengan kekasih. Jozka bukan kekasihku. Dia hanya teman dekatku yang pernah menjalin beberapa bulan penuh rahasia denganku. Sampai akhir semester, kami tidak pernah kontak satu sama lain lagi. Bertemu di kelas pun hanya menjadi formalitas semata. Aku punya banyak teman baru sejak aku menjadi lebih baik. Jozka sendiri kembali pada kawan-kawan lamanya, menyelesaikan penampilannya bersama Clover, dan dekat lagi dengan Sadewa seperti hubungan mereka dulu. Continue reading

They Never Know [10/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sepuluh

Rahasia Lainnya

[Jozka]

Dirke dan aku akhirnya menjauh tanpa kata-kata dan ucapan perpisahan. Semua rahasia yang kubagi bersamanya menjadi investasi dan asuransi di saat bersamaan. Kalau-kalau ia membocorkan salah satu rahasiaku, aku juga bisa melakukan hal yang sama padanya. Kini, pertemanan singkat kami yang terjalin selama beberapa bulan pun tak membekas.

“Ci,” panggil Sadewa, membangunkanku dari lamunanku. “Kenapa Cici gak pernah cerita tentang masalah Cici ke gue?” Continue reading

They Never Know [9/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Sembilan

Menuju Akhir

[Dirke]

 

Jozka benar.

Sebuah hubungan yang terlalu cepat terjalin tanpa melalui proses panjang biasanya akan cepat berakhir juga. Selama UTS, kami jarang menghabiskan waktu bersama dan bisa jadi itu karena banyak hal. Aku merasa Jozka seperti berusaha menenggelamkanku ke dalam materi kuliah. Aku tahu bahwa ia berbuat demikian karena ingin nilaiku bagus. Tapi di sisi lain, seperti ada rasa tidak puas dari dirinya padaku. Continue reading

They Never Know [8/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Delapan

Cepat Berjalan

[Jozka]

Sejak cerita Flora waktu itu, aku kehilangan rasa hormatku pada Nakula. Hanya aku yang tahu hal ini. Anak-anak lain tidak tahu. Bahkan, Sadewa yang seharusnya cukup dekat dengan Nakula dan Flora pun tidak mengetahui hal ini. Aku ingin menjauh dari semua orang, terutama tentu saja Nakula.

“Jozka, abis ini lo ke mana?” Continue reading

They Never Know [7/15]

They Never Know

| Continue |

| Dirke X Jozka |

| Friendship, Romance, Life, Love |

Tujuh

Banyak Pikiran

[Dirke]

 

Sepanjang aku mengenal Jozka, baru kali ini aku melihatnya agak kusut. Biasanya dia sudah stand by di lobi saat jam delapan malam, menungguku untuk makan malam bersama. Tapi kali ini, aku harus menghubunginya dengan telepon dari lobi agar dia turun ke bawah.

“Tumben, ceweknya gak nunggu di bawah,” kata Mbak Wulan yang lagi jaga di sana. “Lagi berantem, ya?” tanyanya sok tahu. Continue reading