Two Movies

Two Movies

Story by Jovani Derya Atalay

 

Our lives just like two movies.

 

The first one is a movie about our young days.

We easily fell in love and fool enough to broke hearts.

We were young and free.

We tought every dreams are possible.

 

The second one is a movie about adulthood.

Love is not easy anymore.

Time to sleep or laugh is only a daydream.

We face the reality that our childhood dreams are impossible.

Advertisements

Selflessly [10/10]

Selflessly

Sepuluh

Jika Kesempatan Kedua Sungguh Ada

Hari itu, Kota Seoul diliputi mendung. Semua orang berlalu-lalang sambil membawa payung, khawatir dengan ramalan cuaca yang mengatakan akan turun hujan di siang hari. Televisi besar di puncak sebuah gedung menayangkan berita tentang berakhirnya musim panas, pertanda bahwa musim gugur akan datang sebentar lagi dan siap menutup hari libur panjang. Continue reading Selflessly [10/10]

Selflessly [9/10]

Selflessly

Sembilan

Lima Tahun Tanpa Kebahagiaan

Tidak ada kebahagiaan tanpa orang yang dicintai. Hal yang sama terjadi pada Johara, melamun sepanjang waktu saat Dewa tak ada di rumah dan saat pekerjaannya tidak mengganggu. Seperti dulu, Johara mencari kesibukan dengan mengisi seminar dan menjadi pembicara. Tapi, ia tidak pernah bisa melupakan Randy meski ia berusaha setengah mati. Bulan dan tahun berlalu, dan Johara tidak pernah melihat Randy lagi selama itu. Continue reading Selflessly [9/10]

Selflessly [8/10]

Selflessly

Delapan

Pernikahan yang Seharusnya Dinantikan

Hanya perlu dua bulan untuk mempersiapkan pernikahan tanpa persiapan itu. Johara sudah mengenal hampir semua anggota keluarga Dewa sejak beberapa tahun lalu, begitu pula sebaliknya. Rencana pernikahan itu tidak tergolong aneh karena semua orang pun tahu bahwa Dewa dan Johara sudah menjalin hubungan sejak lama. Hanya sedikit orang di sekitar mereka yang tahu bahwa mereka pernah berpisah.

“Gue mau menikah sama Dewa lusa.”

Randy terkejut ketika Johara mengeluarkan undangan pernikahan dan memberikannya dengan wajah datar. Undangan indah itu didominasi warna biru muda. Randy tak mengira, setelah dua bulan tak berjumpa, Johara akan repot-repot mengendarai mobil sport putihnya ke parkiran kos Randy demi mengantar undangan.

Continue reading Selflessly [8/10]

Selflessly [7/10]

Selflessly

Tujuh

Berita Menyakitkan Bisa Membunuh Seseorang

Beberapa hari kemudian, hari pernikahan Violet pun datang. Johara sudah menyiapkan sebuah gaun biru yang sangat manis saat dipakai. Randy datang ke apartment wanita itu sejak siang, membantunya bersiap.

“Lo ngapain repot-repot begitu, Johara? Ke salon aja. Langsung kelar semua.”

“Gue gak demen sama dandanan salon,” balas Johara.

Randy menggeleng takjub melihat Johara usaha keras menggulung rambut kecokelatan itu jadi berombak. Wanita itu belum selesai menggunakan make up di wajahnya. Hanya foundation yang sudah digunakan Johara saat Randy datang.

“Lo mau gue bantu?” Randy bertanya.

Continue reading Selflessly [7/10]

Selflessly [6/10]

Selflessly

Enam

Cinta Tanpa Pamrih

Seperti kata-katanya, Randy menyelesaikan hubungannya dengan Silvi. Randy menjalin hubungan yang lebih romantis sekaligus berkomitmen dengan Johara. Mereka sepasang kekasih, tinggal bersama di apartment Johara yang tidak luas itu, dan tentu saja berada dalam masa-masa paling bahagia di hidup mereka.

“Pagi, Johara. Gue nyeduh air panas kalau lo mau bikin susu.”

Continue reading Selflessly [6/10]

Selflessly [5/10]

Selflessly

Lima

Hubungan yang Lebih Jauh

Kejadian waktu itu hanya awal dari hubungan tanpa nama yang dijalani Randy dan Johara. Malam-malam lainnya, Randy membuat berbagai alasan agar bisa menginap di tempat Johara. Alasan-alasan asal-asalan itu diterima Johara dengan senang hati karena dia juga berkenan kalau Randy menginap di apartment kecilnya.

“Halo, Ko?” Randy menjawab telepon kakaknya. “Oh, begitu. Gue lagi sama temen gue, dosen yang waktu itu. Iya, Ibu Johara,” katanya sambil mengangguk. “Ya kebetulan gue juga mau ke kampus. Gue bisa jemput Adit dulu. Oke, Ko.”

Continue reading Selflessly [5/10]