Love Around the World: Frankfurt

Frankfurt

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Life, Love, Romance, Travel |

-=-

Jam di lobi hotel Frankfurt telah menunjuk pukul delapan malam. Sekalipun telah memasuki musim panas, Jerman tetap saja dingin bagi para penduduknya. Tak terkecuali malam ini, di hotel ini.

Pintu lift berbunyi sekali, lalu terbuka. Jo keluar dari lift memakai jaket tebal berlambangkan nama sekolahnya di Indonesia. Ia merapatkan jaketnya akibat tiupan angin masuk dari sela-sela pintu lobi yang terbuka ketika orang melewatinya. Continue reading

She’s Gone

She's Gone

| Ficlet |

| Marcus, Jo |

| Angst, Life, Tragedy, Love, Romance |

-=-

Apa yang akan kau lakukan bila esok hari kau akan melupakan segala sesuatu yang terjadi hari ini?

-=-

Jo menatap bingung pada seorang laki-laki yang berdiri di ambang pintu ruang rawat inapnya. Laki-laki itu nampak lebih heran lagi menatap Jo yang ada di ruangan itu.

“Maaf, siapa yang kau cari?” tanya Jo mengungkapkan keherannya. Continue reading

Eternally Love

Eternally Love

| Drabble |

| Jo, Marcus |

| Life, Love, Tragedy, Angst |

-=-

Jo menatap Marcus yang tengah berlari kecil ke arahnya. Gadis itu telah menunggu sahabatnya hampir sejam, dan pria itu akhirnya datang. “Kau telat satu jam,” ujar Jo.

“Maafkan aku Jo. Tapi dengarkan aku karena ini penting. Aku takut aku tidak sempat mengatakannya. Kau harus tau bahwa aku menyukaimu sejak lama,” sahut Marcus terburu-buru dengan napas berlari. Tanpa jeda dan intonasi yang jelas.

“Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Ah, bukan, tepatnya aku mencintaimu selama ini, Jo. Aku mencintaimu. Untuk selamanya.” Continue reading

Invulnerable

Invulnerable

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Seperti biasa, seperti seharusnya, dan seperti hari-hari lalu. Café tersebut tak begitu ramai, meski tak begitu sepi. Cahaya lampu yang memang selalu tak begitu terang membuat suasana cukup hangat sore itu. Nada-nada ballad terdengar di sepenjuru café, membuat pengunjung menikmati rasa tenang yang tersaji.

Di antara kursi-kursi yang terisi, posisi paling sudut dekat kaca dengan jalanan sebagai pemandangannya adalah kesukaan Jo. Ditambah seorang pria tampan yang duduk di hadapannya dengan begitu manis, semestinya lengkap sudah akhir pekan Jo kali ini.

Meski demikian, tak seutuhnya Jo merasa bahagia dengan segala suasana yang ada saat ini. Wajah gadis itu tak terlihat senang. Setidaknya untuk Marcus, pria yang ada di hadapan Jo. Bagi Marcus, wajah Jo tak lebih dari seorang wanita putus asa yang merasa hidupnya tak berharga. Continue reading

Haven’t Forgotten

Haven't Forgotten

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Marcus menyetir mobilnya sembari tersenyum kecil. Ia menambah volume musik yang mengalun di mobilnya sembari bergumam mengikuti irama musik. Di kursi sampingnya, seorang gadis cantik dengan dress biru laut tak henti-hentinya menatap Marcus dalam-dalam. Ia ikut tersenyum melihat tingkah laku Marcus.

Tak ada setengah jam, Marcus menepikan mobilnya di depan sebuah toko kue. Ia turun dari mobil, diikuti gadis itu di belakangnya. Mata Marcus melihat-lihat aneka kue yang menarik minatnya di sana. Semua terlihat menarik sampai ia tak tau harus memilih yang mana.

“Coklat… atau keju?” gumam Marcus sendiri.

Gadis yang sejak tadi bersamanya ikut melihat Marcus yang merenung. Ia berinisiatif menunjuk kue yang coklat. Continue reading

Miracles In December

Fotor1219153147

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Songfic, Friendship, Love, Romance, Christmas |

-=-

“Bagaimana?” tanya Jo sambil menatapku penasaran.

Aku menghela napas malas dan mengatupkan kedua telapak tanganku di badan cangkir berisi coklat hangat yang tengah kunikmati. Sementara gadis di hadapanku ini terus mendesak diriku untuk berbicara mengenai proses pernyataan perasaan yang nekat aku lakukan beberapa hari lalu.

Hasilnya nihil. Gadis targetku itu menolakku. Habis-habisan. Continue reading

Just Once

Just Once.jpg

| Ficlet |

| Marcus, Jo |

| Songfic, Friendship, Love, Romance |

-=-

“Aku menyukaimu.”

Nyaris saja aku mati tersedak begitu kalimat tersebut keluar dari mulut Marcus. Aku menatap pria itu dengan mulut ternganga dan menuntut penjelasan sejelas mungkin darinya. “Apa maksudmu?”

“Kau tidak memerhatikanku, hah?”

Tunggu dulu. Sampai di mana percakapan ini tadi? Continue reading