Selflessly [6]

Selflessly

 

Enam

Cinta Tanpa Pamrih

Seperti kata-katanya, Randy menyelesaikan hubungannya dengan Silvi. Randy menjalin hubungan yang lebih romantis sekaligus berkomitmen dengan Johara. Mereka sepasang kekasih, tinggal bersama di apartment Johara yang tidak luas itu, dan tentu saja berada dalam masa-masa paling bahagia di hidup mereka.

“Pagi, Johara. Gue nyeduh air panas kalau lo mau bikin susu.” Continue reading

Advertisements

Selflessly [5]

Selflessly

 

Lima

Hubungan yang Lebih Jauh

Kejadian waktu itu hanya awal dari hubungan tanpa nama yang dijalani Randy dan Johara. Malam-malam lainnya, Randy membuat berbagai alasan agar bisa menginap di tempat Johara. Alasan-alasan asal-asalan itu diterima Johara dengan senang hati karena dia juga berkenan kalau Randy menginap di apartment kecilnya.

“Halo, Ko?” Randy menjawab telepon kakaknya. “Oh, begitu. Gue lagi sama temen gue, dosen yang waktu itu. Iya, Ibu Johara,” katanya sambil mengangguk. “Ya kebetulan gue juga mau ke kampus. Gue bisa jemput Adit dulu. Oke, Ko.” Continue reading

Selflessly [4]

Selflessly

Empat

Berbagi Potongan Cerita Masa Lalu

 

Di satu hari lain, sesudah les, turun hujan di seluruh area kota. Masuk ke musim hujan, Jakarta seperti diterjang air bah tiap hari. Payung menjadi atribut wajib yang harus ada di tas Johara. Kecuali kalau ia membuat kesalahan, meninggalkannya di meja ruang dosen sebelum pergi ke ruang les Bahasa Korea. Johara pun tertahan di lobi, menatap hujan yang begitu deras.

“Lo belum pulang?”

Johara menoleh, mendapati Randy yang tengah berjalan bersama Sonny dan Arif. Kedua mahasiswa itu mengangguk sopan pada Johara, menyadari bahwa Johara adalah dosen di universitas itu meski tidak mengajar di jurusan mereka. Selain itu, selama beberapa minggu terakhir, Johara juga merupakan rekan sekelas mereka di kelas les.

“Payung gue ketinggalan di ruang dosen. Ruang dosen udah dikunci jam segini,” jawab Johara. “Kalian pulangnya gimana?” Johara beralih pada Sonny dan Arif.

“Saya nebeng Sonny, Bu,” kata Arif. “Rumah saya sejalan sama rumah Sonny.”

“Iya, Bu. Saya bawa mobil,” sambung Sonny. “Ibu gimana? Mau ikut saya aja?”

“Ga usah, Sonny. Biar gue yang antar dia,” kata Randy tiba-tiba. “Kalian pulang duluan aja. Udah malam soalnya. Hati-hati nyetirnya, ya.”

“Oke, Ko,” jawab Sonny. “Kami pulang duluan, Bu.”

Johara mengangguk tipis, melihat kedua mahasiswa itu berjalan menuju parkiran yang terletak tidak jauh dari lobi. Sementara itu, Randy tersenyum sambil menatap Johara, seolah-olah Johara adalah obyek yang menyenangkan untuk dilihat.

“Kenapa?” Johara bertanya. “Lo ngapain senyum-senyum gitu?”

“Gak apa-apa. Lucu aja gitu. Lo lucu banget kalau lagi jadi dosen. Kayak gak cocok, tapi lucu,” jelas Randy. “Lo masih muda banget untuk jadi dosen. Lebih cocok jadi kakak tingkat.”

“Astaga,” decak Johara. “Cuma gara-gara itu, toh. Lo jadi mau antar gue pulang, gak?”

“Ada syaratnya. Lo harus nemenin gue nge-bir dulu.”

“Males, ah. Gue gak suka nge-bir kalau di deket-deket sini. Takut papasan sama orang kampus. Bisa hilang harkat dan martabat gue. Gue kalau nge-bir biasanya di apartment.”

“Ya udah, gue ke apartment lo, deh. Boleh, gak? Gue malas banget balik ke kosan.”

Akhirnya, mereka jalan kaki ke apartment Johara, menggunakan lift untuk mencapai lantai tempat unit kamar Johara berada. Di koridor lantai itu, mereka berpapasan dengan seorang pria yang tengah menutup pintu dan mengunci pintunya.

“Hai,” kata Johara pelan pada pria tersebut.

“Hai juga,” ujar pria itu sambil menatap Johara, lalu menatap Randy. “Cowok kamu?”

“Bukan. Temen,” balas Johara.

“Oh, begitu. Gue pergi dulu, ya,” katanya sambil menarik kunci dari pintu.

Johara mengangguk, lalu berjalan ke unit kamar di samping pria tadi. Ia memasukkan kunci dan memutarnya dua kali sebelum mendorong pintu kamarnya. Tempat tinggal Johara adalah sebuah unit apartment tipe studio. Seperti kebanyakan tipe serupa, hanya ada dapur kecil, kamar mandi, dan perabotan layaknya kasur, meja dan kursi kerja, lemari, televisi, dan kulkas, serta balkon. Kecil, tetapi cukup bagi seseorang yang tinggal sendiri.

“Lo mau bir, ‘kan?” Johara bertanya sembari membuka kulkas. “Duduknya di kasur aja. Gak apa-apa, ‘kan? Nanti bantalnya disingkirin aja.”

“Iya, tenang,” Randy mengangguk sambil mengambil bir di tangan Johara. “Thank you, ya. Gue dari kemarin pengen banget nge-bir. Tapi temen gue gak ada yang bisa temenin gue.”

Randy naik ke kasur Johara dan merapikan bantal-bantal wanita itu. Ia mencari posisi yang nyaman, bersandar pada tembok. Johara pun melakukan hal yang sama dan duduk di samping Randy sembari berusaha membuka kaleng birnya.

Cheers, Randy.”

Cheers, Johara.”

Mereka meneguk bir itu sejenak sebelum melanjutkan obrolan ringan. Mata Randy tertuju pada sebuah amplop berwarna merah muda yang tergeletak di meja Johara. Hati-hati, Randy menyentuh benda itu dan menatap Johara, mempertanyakan benda itu.

“Itu undangan pernikahan sahabat gue, Violet. Gue punya tiga teman dekat dan kami berempat nge-band bareng di kampus. Violet, Wendy, Alya, sama gue, kami sama-sama suka musik. Wendy dan Alya udah menikah. Wendy aktif di marketing kampus. Alya kerja di bagian kemahasiswaan kampus. Violet dan gue dosen di kampus. Violet ngajar fotografi.”

“Kalian masih aktif semua di tempat kuliah kalian dulu, ya,” Randy tertawa. “Tapi di undangannya ditulis ‘Untuk Dewa dan Johara’. Apa Violet gak tahu kalau lo udah putus?”

“Undangan itu dikasih pas kami masih pacaran. Mereka tahu waktu gue putus dari Dewa. Tapi Dewa memang gak bisa datang ke pernikahan Violet karena ada kerjaan di luar kota.”

“Enggak, Johara. Gue rasa dia gak mau datang karena gak mau ketemu elo.”

“Halah,” Johara terkekeh. “Gue hampir tiap hari ketemu Dewa. Dia biasa aja selama ini.”

“Ketemu dia? Ngapain?”

“Lah…,” Johara sudah siap tertawa. “Cowok yang tadi kita ketemu di depan pintu itu Dewa. Dia tetangga gue. Gue sering papasan di lift, atau di pintu bawah, atau kayak tadi.”

Melongo, Randy hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Randy mengamati Johara seolah Johara adalah manusia teraneh di dunia dan harus masuk dalam keajaiban dunia.

“Kalian tetanggaan?” Randy tersedak sendiri. “Gue agak gak paham aja.”

“Ini apartment punya gue. Dan yang sebelah itu punya dia. Seandainya kami menikah, tembok apartment kami bisa dibongkar dan jadi satu kamar.”

“Kalian udah mau menikah waktu itu?” Randy bertanya tak percaya. “Kenapa akhirnya lo gak menikah sama dia? Apa lo gak mau menikah?”

“Lo pikir, gue gak mau nikah?” Johara tertawa. “Gue menghadiri pernikahan teman dekat gue tiap tahunnya dan bertanya-tanya, kapan gue akan nikah juga. Tapi gue belum mencintai Dewa tanpa pamrih. Gue terlalu egois saat gue bersama Dewa. Saat itulah gue sadar, Dewa bukan orang yang tepat untuk gue dan sama sebaliknya.”

“Alasan lo aneh. Tapi cukup make sense,” jawab Randy akhirnya. “Pernah, gak, Dewa selingkuh? Atau pernah, gak, dia melukai lo balik?”

“Enggak. Dewa orang yang baik, mencintai gue tanpa berharap gue mencintai dia balik. Kami udah lima tahun sama-sama dan guelah yang selalu menyakiti dia.”

“Hubungan model apa yang lo inginkan saat ini?”

“Ketimbang hubungan, gue menginginkan seseorang yang bisa gue cintai lebih dari ego gue. Gue ingin jatuh cinta sepenuh hati gue, gue ingin mencintai tanpa ada keinginan untuk dicintai balik, dan gue ingin mencintai tanpa pamrih.”

“Mencintai tanpa pamrih itu sakit, loh,” kata Randy. “Lo bakal cuma dimanfaatkan. Lo bakal disakiti pada akhirnya. Lo akan menyesali cinta yang lo pikir sempurna itu.”

“Gak ada yang sempurna di dunia ini, Randy. Bahkan cinta pun banyak negatifnya. Tapi, gue rasa, gue belum merasakan hidup kalau gue belum jatuh cinta sedalam-dalamnya. Selama ini, yang gue rasakan ke Dewa itu cuma seperti kebahagiaan karena dia baik sama gue.”

“Gimana lo tahu kalau lo ternyata gak cinta sama dia?”

“Gue lebih banyak menerima dibanding memberi. Gue rasa, cinta itu tentang memberi. Yang bisa dilakukan oleh cinta, satu-satunya, adalah memberi. Kalau lo belum bisa memberi dengan sepenuh hati, berarti lo belum mencintai dengan sepenuhnya.”

“Lo aneh, ya. Ada laki-laki yang sangat baik kayak Dewa, malah lo sia-siakan.”

“Gue bukannya sia-siakan dia. Gue kasih dia kesempatan untuk berhenti sia-sia demi gue. Apa gue salah?” Johara membalas dengan cukup jeli. “Justru gue mau berhenti menerima dan mulai belajar memberi. Apa gue salah?”

“Jadi sekarang lo memenuhi semua jadwal kerja lo biar lo move on?”

“Gue gak mau jujur, sih. Tapi, karena gue lagi cerita sama lo, mending gue jujur aja. Gue sebenarnya masih belum move on. Meski gue terdengar gak cinta sama Dewa, dia pernah mengisi hari-hari gue. Shit, gue terdengar plin-plan abis sekarang.”

“Menyibukkan diri gak membantu move on. Karena sesibuk-sibukknya manusia, pasti akan ada waktu ketika lo gak sibuk. Pada saat itulah, kenangan lama bakal muncul lagi.”

Randy menatap Johara seusai menandaskan kalimatnya. Ia melihat Johara yang meneguk semua cairan di dalam kaleng minumannya, menghabiskan tetes terakhirnya. Randy pun melakukan hal yang sama dengan Johara, menghabiskan seluruh isi kalengnya.

“Sumpah, gue malas banget mau ambil mobil di kampus. Besok pagi gue mesti ke sini lagi, ada urusan kantor di kampus. Gue harus datang. Males banget,” kata Randy.

“Mobil boleh nginep di kampus, kok,” jawab Johara. “Udah, lo tidur sini aja. Udah jam dua belas. Besok lo ada urusan di kampus gue, ‘kan? Lagian hujan, udah malam, dan lo udah minum lumayan banyak. Mending jangan nyetir, deh.”

“Lah, lo gak apa-apa kalau gue nginep? Ajaib juga,” kata Randy heran.

“Kalau gue merasa kenapa-kenapa, gak mungkin gue tawarin lo tidur di sini.”

Then, gue akan beneran tidur di sini, ya. Lo siap-siap aja denger suara ngorok gue.”

Johara memutar matanya ke atas, meledek Randy. Ia pun memberikan bantal dan selimut untuk Randy sebelum mengambil kaleng minuman yang sudah kosong.

“Kasur lo enak juga,” komentar Randy. “Pasti dulu Dewa sering tidur di sini.”

“Iyalah. Dia suka banget di kamar gue,” balas wanita itu sambil tertawa. “By the way, lo suka tidur gelap-gelapan atau enggak? Lampunya dimatiin semua gak apa-apa, ‘kan?”

“Matiin aja semuanya. Gak apa-apa, kok. Gue ngikutin yang punya kamar aja,” ujar Randy membuat Johara mematikan semua lampu kamarnya sebelum naik ke kasur.

            “Gue seneng banget waktu nerima undangannya Violet,” cerita Johara saat tidak ada yang bertanya. “Waktu kuliah, Violet punya pacar namanya Christian. Dia ganteng, tajir, dan super baik. Tapi akhirnya cowok itu bikin kesalahan besar. Dia ngehamilin cewek lain.”

“Hah?!” Randy berseru, hampir bangun dari posisi tidurannya. “Kok bisa?”

“Gak ada cowok yang sempurna di dunia ini. Termasuk Christian. Akhirnya Christian harus nikahin cewek lain itu. Tamat.”

“Violet patah hati?”

“Enggak, sih. Dia udah duga, pasti ada celah dari Christian yang gak termaafkan. Eh, bener,” ucap Johara terkekeh. “Akhirnya, Violet seminggu gak ke kampus. Keadaannya parah banget. Padahal dia dosen baru waktu itu. Akhirnya gue gantiin dia ngajar fotografi seminggu.”

“Parah,” geleng Randy. “Ada aja orang kayak gitu.”

“Ya ada,” sahut Johara. “Di dunia ini, orang banyak macamnya.”

“Kalau gue peluk elo, boleh gak?” Randy tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat aneh. “Gak boleh, ya? Sorry kalau tadi gue barusan nanyanya kurang ajar, Johara.”

“Gak kurang ajar, sih. Tapi aneh,” kata Johara cepat. “Mau modus lo?”

“Iya,” jawab Randy jujur. “Gue pengen modusin lo.”

“Ya udah. Karena lo jujur, gue gak keberatan, sih.”

Randy tertawa mendengar jawaban itu, terutama ketika Johara berbalik dan tidur membelakangi Randy. Kesempatan itu pun dipakai Randy untuk memeluk Johara dari belakang. Tanpa adanya penolakan lebih lanjut dari Johara, Randy menganggap itu sebagai bentuk persetujuan wanita tersebut.

-=-

Selflessly [3]

Selflessly

Tiga

Kisah Milik Randy

 

Lahir di Yogyakarta hanyalah sebuah insiden kecil yang mengawali hidup Ranjuni Diviera Santo, akrab disapa Randy. Ia ‘numpang lahir’ di kota tersebut karena orangtuanya sedang menghadiri acara keluarga di sana dua puluh lima tahun lalu. Insiden lainnya adalah kesalahan dokter yang memperkirakan jenis kelamin Randy perempuan. Mungkin di masa itu, teknologi kedokteran belum secanggih sekarang. Kesalahan itu, meski tak fatal, memberikan dampak tersendiri bagi Randy karena orangtuanya telah menyiapkan nama perempuan. Continue reading

Selflessly [2]

Selflessly

Dua

Cerita Tentang Johara

            Ia lahir di Doha, Negara Qatar, dua puluh lima tahun yang lalu dengan nama lengkap Johara Hannah Maurer. Ayahnya, Max Maurer, adalah pilot Jerman yang berkarir di perusahaan penerbangan Qatar. Di salah satu perjalanan yang dipimpin Max, ia bertemu Regine, dokter gigi yang aktif dalam organisasi kemanusiaan internasional. Johara adalah anak mereka satu-satunya sebelum akhirnya mereka bercerai. Regine menikah lagi dengan Adi Tan, arsitek Indonesia, dan akhirnya pindah ke Jakarta bersama Johara.

“Pagi, Non. Tuan sama Nyonya ngajak sarapan, Non.” Continue reading

Selflessly [1]

Selflessly

 

Satu

Perjumpaan Pertama Disebut Kebetulan

 

‘Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi akan dibagikan makan malam oleh awak kabin pesawat. Saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Doha, waktu di tempat keberangkatan. Diperkirakan, kita akan mencapai Jakarta dalam sepuluh jam. Terima kasih sudah memilih terbang bersama Qatar Air.’

Johara menatap pramugari berseragam biru tua yang tersenyum sopan padanya sambil mendorong cart berisi makan malam. Pramugari itu menuangkan segelas apple juice yang diminta Johara sebelum bertanya lagi pada wanita itu. Continue reading

Love Around the World: London

London

a 1500-words 100-years love story by Joanne Andante

with K and J

-happy reading-

 

London, 1940, Masa Perang Dunia II

“Apa kau bisa tidur tadi malam? Kau tidak takut mati, ya?” Kay mendengus. “Suara dengkuranmu bahkan mengalahkan suara ledakan bom tadi malam. Aku tidak pernah mendengar perempuan mendengkur sekeras itu.”

Candaan sinis tentang kematian dari mulut Kay itu terdengar biasa saja di telingaku. Sudah beberapa minggu ini, berita kematian datang berkunjung ke rumahku, mengabarkan kepergian orang-orang yang kukenal untuk selamanya. Mulai dari anak laki-laki tetangga di ujung sana yang maju ke medan perang, hingga teman sekolah yang dulu cukup akrab denganku. Continue reading